
"Eughh~"
Terdengar lenguhan panjang dari dalam sebuah kamar. Lenguhan panjang dengan suara bariton, menandakan kalau pemilik suara itu adalah seorang pria dan dia baru saja terbangun dari lelapnya. Entah sudah berapa lama pria itu tertidur, tetapi yang pasti pria itu bangun saat hari sudah berganti petang.
Saat mata pria itu perlahan terbuka, tiba tiba dirinya merasa kesal kerena sosok wanita yang menemaninya sebelum tidur, sudah tidak terlihat di atas ranjang bersamanya. Pria bernama Wira itu lantas mendengus, lalu dia segera bangkit dari berbaringnya. Setelah melakukan peregangan sejenak sembari menstabilkan kondisi tubuhnya, Wira bangkit dari atas ranjang dan melangkah keluar kamar.
Sementara itu di luar kamar, suasana ramai sedang terjadi. Para wanita yang tinggal di rumah itu, nampak sedang bercerita sembari diiringi gelak tawa, bersama pemilik rumah. Entah obrolan ringan apa yang sedang mereka bicarakan, yang jelas yang mereka bicarakan terdengar begitu seru.
"Eh, Kang Wira sudah bangun," seru Dewi hijau saat matanya menangkap sosok Wira, yang keluar dari kamar dengan muka kusut khas orang bangun tidur. "Kang Wira langsung mau makan, atau mandi dulu?"
Wira tidak langsung menjawab. Dia memilih duduk diantara para wanita lalu tak lama setelahnya, dia merebahkan kepalanya pada paha salah satu wanita. "Gampanglah, aku belum lapar," jawabnya dengan suara yang masih agak berat.
Nenek, Kakek dan para bidadari hanya menggelengkan kepalanya beberapa kali sembari tersenyum, melihat tingkah Wira yang tidak seperti biasanya. Dewi merah yang pahanya dijadikan bantal oleh Wira hanya bisa pasrah saja.
"Bagaimana tubuh kamu? Apa masih pada sakit?" tanya Nenek yang kebetulan duduk di sebelah kanan Dewi merah.
"Masih agak pegal, Nek. Kalau dipijat pasti bakalan enak banget nih," jawab Wira.
"Ya sudah, nanti dipijat aja, tadi Nenek udah beliin minyak buat pijet, biar badan kamu lekas enakan."
"Oh, iya, Nek, Makasih," jawab Wira. "Apa si Leo jadi dibelikan kambing?"
__ADS_1
"Jadi," jawab Dewi Jingga. "Tadi kami beli dua. Yang satu sudah dimakan mungkin. Soalnya tadi Kakek taruh kambingnya di hutan. Kalau yang satu ekor lagi buat makan besok, jadi kambingnya ditaruh di belakang.
Mendengar hal itu, Wira pun menjadi merasa lebih lega. Obrolan pun berlanjut ke pembahasan lainnya. Dari membicarakan hal yang serius sampai obrolan yang bersifat bercanda. Disela sela obrolan itu juga, Wira sembari menimati hidangan yang sudah disiapkan untuknya.
Beberapa lama kemudian, di saat malam semakin larut dan juga mereka kehabisan bahan obrolan, satu persatu dari penghuni rumah itu pamit undur diri menuju kamar mereka. Begitu juga dengan Wira, pemuda itu terpaksa kembali masuk ke kamar karena memang tidak ada kegiatan lagi harus dia lakukan.
Wira tidak sendiri, ada Dewi Jingga yang menemaninya. Apa lagi Wira juga tahu tubuhnya akan dipijat, jadi dia memang harus melakukan pemijatan di dalam kamar.
"Kang Wira, bajunya dillepas," titah Dewi Jingga begitu dia masuk ke kamar sambil memegang wadah berisi ramuan minyak untuk memijat. Dengan senang hati, Wira langsung melepas apa saja yang menempel pada tubuhnya. "Astaga! Kenapa celananya ikut dilepas juga, Kang?"
"Hehehe..." Wira langsung cengengesan. "Biar lebih mudah mijatnya. Kenapa? Kamu nggak suka?" dengan santainya. Wira kembali merebahkan tubuhnya. Matanya fokus memperhatkan gerak gerik Dewi Jingga yang masih menunjukan sikap heran.
"Bukannya nggak suka, cuma ya Kang Wira ada ada aja gitu loh. Orang paling yang dipijat tubuh bagian atas, ngapain celana pakai dilepas segala," balas Dewi Jingga sembari mendekat dan duduk di tepi ranjang, tepat di sebelah Wira terbaring.
Dewi Jingga hanya mendengus, lalu dia meminta Wira untuk tengkurap. Tak lama setelah itu pemijatan pun dimulai. Dengan lembut dewi Jingga menyentuh tiap jengkal tubuh Wira sambil megolesinya dengan minyak.
"Dek, tadi kalian serius, menemukan kembali bulu Angsa emas?" tanya Wira saat punggungnya sedang dipijat. "Gimana ceritanya? Kok bisa kalian melihat bulu Angsa pada pedagang kambing?"
"Ya nggak sengaja, Kang. Itu aja Nenek yang melihatnya. Tadinya pedagang kambing itu tidak mau ngasih karena bulu itu dijadikan mainan buat anaknya. Eh, pas kita ngomongin tentang tengkorak iblis, pedagang kambing langsung takut."
Wira sedikit terkekeh. "Ya syukurulah. Berarti tinggal nyari tiga lagi ya? Kira kira dimana itu yang tiga?"
__ADS_1
"Nggak tahu, Kang. Tapi kemungkinan, salah satunya berada di tangan tengkorak iblis."
"Benar juga," sahut Wira. "Kemungkinan besar, mereka pasti akan kembali lagi ke sini. Otomatis, kita harus secepatnya melakukan sesuatu, Dek."
"Iya, Kang. KIta juga tadi sudah membahasnya. Untuk sementara, kita sudah melakukan sesuatu kok, Kang."
"Melakukan sesuatu? Apa itu?" Wira terlihat heran.
"Apa ya? Susah untuk dijelaskan dengan kata kata, Kang."
"Hemm, ya syukurlah, kalau kalian sudah mengambil tindakan."
Dewi Jingga hanya tersenyum tanpa ada niat untuk menanggapi ucapan Wira kembali. Tangannya terus memijat pemuda yang terbaring di depannya.
"Tegang banget, Kang," seru dewi Jingga begitu Wira telentang dan matanya menangkap bagian tubuh Wira yang dpenuh dengan bulu tebal.
Wira langsung cengengesan. "Iya, Dek. Lagi pengin masuk itu," jawab Wira asal. "Oh iya, Dek, daripada lubang kamu nanti dipaksa untuk dimasukin oleh orang orang tengkorak iblis, bagaimana kalau punya aku aja yang masuk ke dalam lubang kamu?"
"Hah!"
...@@@@@...
__ADS_1
Hy reader, apa kabar? Maaf ya baru sempat update lagi setelah satu minggu lebih ngilang. Karena kesehatan yang sedang terganggu sampai harus dirawat di rumah sakit. Semoga mulai hari ini, bisa update rutin lagi. Terima kasih yang sudah menunggu.