DALAM PELUKAN TUJUH BIDADARI

DALAM PELUKAN TUJUH BIDADARI
Keanehan


__ADS_3

Empat pria yang tergabung dalam kelompok tengkorak iblis begitu terlihat heran saat mereka diam diam kembali mendatangi rumah yang di huni para wanita cantik bersama seorang pemuda yang berteman dengan seekor Singa. Mereka berempat terlihat kebingungan karena mereka sama sekali kehilangan jejak rumah yang mereka cari.


Dua pria yang tadi siang mendatangi lokasi tersebut, sangat yakin kalau tempat dirinya berada saat ini adalah tempat yang sama seperti tadi siang. Sedangkan jarak rumah, seharusnya berada tepat di hadapan mereka. Sedangkan dua pria lainnya, justru meragukan keyakinan rekan mereka karena di sana memang tidak ada bekas berdirinya rumah.


"Mungkin rumahnya masih agak jauh kali," kata salah satu anak buah. Anggap saja dia anak buah pertama dari empat pria itu. "Bukan di sini tempatnya, tapi masih ke sana lagi."


"Agak jauh bagaimana? Orang aku yakin sekali kalau rumahnya itu di situ, menghadap ke arah sini," penjahat kedua yang kebetulan tadi pagi ikut datang, tetap teguh pada keyakinannya.


"Lalu buktinya mana? Bahkan tanda tanda bekas bangunan rumah pun tidak ada," penjahat pertama kembali bersuara. Kali ini dia cukup geram karena rekannya sedari tadi terlalu yakin dengan pendapatnya sendiri meski bukti tentang kebenarannya sama sekali tidak ada.


"Udah lah, jangan pada berdebat," penjahat ketiga mencoba bersikap netral. Dia tidak mau kalau rekannya malah bersitegang hanya gara gara soal rumah orang lain.


"Mending kita coba cari lagi ke sana. Kalau kita tetap tidak menemukan apapun, besok kita kembali lagi, gimana?"


Untuk beberapa saat ketiga rekan pria itu saling pandang. Tak lama setelahnya, satu persatu setuju dengan usualan penjahat ketiga. Mereka pun akhirnya melangkah menuju ke area yang lebih jauh dari tempat yang tadi.


Selang beberapa lama kemudian, keempat pria itu kembalii harus menelan rasa kecewa. Sepanjang kaki melangkah, mereka sangat dibuat lelah dan juga kesal karena mereka sama sekali tidak menemukan rumah satupun di sepanjang kaki melangkah.

__ADS_1


Lagi lagi perdebatan terjadi satu sama lain. Agar perdebatan tidak semakin parah, mereka memutuskan pulang ke markas untuk segera melaporkan kejadian aneh ini kepada pimpinan mereka.


"Apa! Rumahnya menghilang?" ketua tengkorak iblis terperangah begitu mendengar laporan salah satu anak buahnya. Tatapan matanya yang cukup tajam seakan mengandung arti kalau pemimpin itu butuh pejelasan yang lebih lengkap dengan berita yang menurutnya sangat aneh.


"Benar, ketua, rumahnya sama sekali tidak ada. Kita sudah cek beberapa lokasi, namun tidak menemukan rumah satupun. Padahal menurut penduduk sekitar, rumah itu ibaratnya rumah terakhir yang menuju ke perpatasan wilayah tetangga dan hutan," terang sang anak buah dengan sikap setenang mungkin.


"Astaga! Apa anak muda yang tinggal di sana, bisa memiliki kesaktian sehebat itu? Mana ada kekuatan yang bisa memindahkan rumah dengan segala isinya tanpa ada jejak satupun yang tertinggal?" ketua tengkorak iblis sangat tidak percaya dengan kabar yang baru saja dia dengar.


"Kalau itu saya kurang tahu, Ketua. Tapi menurut warga sekitar, rumah itu sebenarnya hanya dihuni oleh sepasang Nenek dan Kakek. Anak muda itu hanya pendatang yang kebetulan singgah di sana. Dia datang dengan para wanita cantik itu."


Sang ketua bergumam lirih sambil menganggukan kepalanya beberapa kali. Meski masih diliputi rasa tidak percaya, tapi informasi yang baru saja dia terima, cukup mengusik benak sang ketua.


"Baik, ketua."


Sementara itu di tempat lain. Tepatnya dari dalam kerajaan, kabar tentang tindakan tengkorak iblis yang menyerang warga telah sampai di telinga sang raja. Tentu saja Raja sangat murka atas tindakan kelompok itu. Apalagi berdasarkan informasi, tengkorak iblis menyerang warga atas permintaan juragan yang menjadi pemimpin kampung tersebut.


"Aku tidak mau tahu. Sekarang, datangi Juragan Suloyo dan kasih peringatan yang keras terhadapnya!" titah Raja dengan segala amarah yang terliihat jelas pada wajahnya.

__ADS_1


"Baik, Yang mulia," jawab sang panglima. "Lalu apa ada tugas lagi yang harus hamba lakukan?"


"Datangi rumah warga yang diserang kelompok tengkorak iblis dan cari tahu apa yang sebenarnya terjadi."


"Baik, Yang mulia. Kalau begitu saya permisi."


Raja langsung mempersilahkan. Begitu sang panglima hilang dari pandangan, Raja itu terdiam dengan pikiran yang cukup berkecamuk. "Dimana aku harus mencari pemilik bulu Angsa Emas? Kenapa sampai sekarang belum ada kabar sama sekali dari orang orangku??"


****


Masih di malam yang sama, namun di tempat yang berbeda juga, terlihat seseorang yang sedari tadi terlelap nampak membuka matanya secara perlahan. Awalnya orang itu hanya melenguh biasa. Namun saat telinganya secara tidak sengaja mendengar sesuatu, kening orang itu langsung berkerut dan perlahan dia membuka matanya yang terpejam.


"Suara apa itu?" gumamnya lirih.


Karena penasaran, orang itu bangkit dari tidurnya dan memilih turun dar atas ranjang dan mengendap menuju ke arah sumber suara. Orang itu memperhatikan tempat sekitar yang suasananya memang sangat sepi. Dengan segala rasa penasaran dan juga rasa takut yang bersarang dalam benaknya, orang itu terus melangkah perlahan menuju ke sumber suara.


"Kok penerangnya masih nyala?" gumamnya lagi yang merasa heran begitu orang itu sampai di tempat yang dia tuju. Karena rasa penasaran yang semakin mendera, orang itu langsung melongokan kepalanya ke dalam ruangan tersebut.

__ADS_1


Mata orang itu seketika membulat begitu melihat apa yang sedang terjadi di sana sampai mengeluarkan suara berisik.


__ADS_2