
"Siapa yang tadi berteriak?" gumam Wira dengan mata yang berkeliling, mencari sosok yang baru saja berteriak. Bahkan langkah kaki pemuda itu berhenti beberapa saat untuk memastikan dari arah mana suara teriakan itu berasal. Namun, setelah diam dan mencari, suara teriakan itu tidak lagi terdengar.
"Apa itu tadi suara setan?" gumam pemuda itu lagi. Dia langsung mendengus kemudian bergidig, begitu sadar kalau di tempat berdirinya saat ini memang terlihat sangat sepi. Wira langsung saja melanjutkan langkah kakinya menuju rumah yang jaraknya memang tinggal beberapa meter lagi.
"Loh, apa di rumah ada orang?" Wira kembali bergumam begitu sampai pintu rumah, dia seperti mendengar suara orang yang sedang ngobrol. Wira pun langsung saja membuka pintu untuk segera melihat keadaan di dalam rumah. Begitu melihat keadaan di dalam rumah, kening Wira langsung berkerut.
"Kang Wira!" pekik dua bidadari yang saat ini sedang duduk di ruang tengah dengan posisi berhadapan. Keduanya terkejut saat melihat kedatangan Wira yang tiba tiba.
"Kalian di rumah?" tanya Wira sembari memperhatikan sesuatu yang sedang dilakukan oleh dua bidadari itu. "Itu kaki Dewi merah kenapa? Sampai dipijitin gitu?" Wira pun ikut duduk di lantai kayu bersama dua bidadari tersebut.
"Kaki aku terkilir, Kang, tadi saat keluar dari kamar mandi," jawab Dewi merah.
"Owalah, pantes, aku mendengar suara teriakan kencang banget. Kirain hantu. Tapi nggak parah kan?" Kedua bidadari tersebut hampir serentak menggeleng bersama. "Ya syukurlah."
"Kang Wira kenapa cepat pulang? Emang singanya sudah selesai makan?" tanya Dewi hijau sembari melepas kaki kanan Dewi merah yang tadi dipijat.
"Leo masih makan waktu aku pulang. Nggak tega aku lihat kambing itu diterkam hidup hidup. Mending pulang," jawab Wira sembari meraih gelas yang terbuat dari batang bambu dan mengisinya dengan air minum yang berada di dalam wadah dan terbuat dari tanah liat, berada tak jauh dari sisi kanannya.
__ADS_1
"Oh begitu," balas Dewi hijau. kemudian di saat Wira hendak menenggak air minum, kedua bidadari itu saling lirik dan nampak sedang saling memberi kode. Sepertinya mereka berunding untuk menginterogasi Wira, selagi ada kesempatan mereka saat ini hanya bertiga.
"Kalian kenapa? Kok saling lirik gitu?" pertanyaan yang keluar dari mulut Wira tentu saja membuat dua wanita itu sedikit terkejut. Ternyata yang dilakukan bidadari itu tak lepas dari perhatian Wira. "Kenapa? Apa ada masalah?" Wira menatap keduanya dengan tatapan penuh selidik.
Untuk beberapa saat, kedua bidadari itu kembali saling melirik satu sama lain. Wira sendiri masih memperhatikan keduanya dan dari sikap yang terlihat, sepertinya memang ada sesuatu yang menjadi masalah sampai kedua bidadari bersikap seperti itu.
"Begini, Kang. Semalam, kita tidak sengaja melihat Kang Wira dengan Dewi Jingga berhubungan badan," ucap Dewi merah dengan wajah sedikit agak menunduk karena malu. Begitu juga dengan Dewi hijau yang tidak berani menatap pemuda di hadapannya.
Wira sendiri terlihat terkejut mendengarnya, tapi tak lama setelahnya, pemuda itu malah tersenyum gemas. "Terus?" tanya Wira dengan sikap yang dibuat setenang mungkin. "Apa kalian pengin juga?"
Kedua bidadari serentak mendongak dan menatap Wira. Mereka nampak terkejut dengan pertanyaan pemuda itu. Tapi tak lama setelahnya, keduanya kembali mengalihkan pandangannya. Sedangkan Wira masih senyum senyum sendiri dengan pikiran nakal yang sudah mulai bermunculan.
Mata Wira menyipit beberapa saat, kemudian dia kembali tersenyum yang diiringi dengan dengusan kasar dari hidungnya. "Tahu. Emangnya kenapa? Apa ada masalah lagi?"
"Kang Wira mengetahuinya?" tanya dewi hijau dengan raut wajah kembali terkejut. "Kalau Kang Wira tahu, kenapa Kang Wira melakukannya? Apa Kang Wira sengaja, agar kita tetap di hukum?"
Wira kembali menunjukan senyum tipisnya. Sikapnya sangat tenang meski kedua bidadari di hadapannya terlihat cukup geram yang menyaksikan Wira bisa bersikap setenang itu.
__ADS_1
"Kalau kalian berpikir aku melakukan hubungan badan dengan Dewi jingga agar kalian dihukum, itu salah. Justru aku berhubungan bedan dengan Dewi jingga karena aku berniat menolongnya."
"Menolongnya? Maksud, Kang Wira?"
Wira mendengus kasar, lalu tak lama setelahnya diapun menjelaskan tentang tujuannya bercinta dengan Dewi jingga. Kedua bidadari yang ada di sana nampak terdiam dengan pikiran yang terus mencerna setiap kata yang keluar dari mulut Wira.
"Bagaimana? Apa menurut kalian, tindakanku salah?" tanya Wira begitu dia selesai menjelaskan sebuah alasan dibalik hubungan badan yang dia lakukan semalam. Lagi-lagi kedua bidadari itu hanya saling pandang tanpa membalas dengan segera, -pertanyaan yang terlontar untuk keduanya.
"Mungkin saat ini kita masih aman karena orang orang dari tengkorak iblis tidak datang lagi ke rumah ini. Tapi kita tidak tahu, apa yang akan mereka lakukan ke depannya. Nggak mungkin kan? Mereka melepaskan kalian begitu saja? Apa lagi jika mereka tahu kalau kalian bidadari, bisa jadi kalian akan dikejar kemanapun kalian pergi."
Dua bidadari masih terbungkam. Tentu saja apa yang dikatakan Wira memang ada benarnya menurut mereka.
"Apa yang dikatakan Kang Wira memang benar," ucap Dewi hijau pelan. "Bahkan semalam, kita menyaksikan ada dua pria berdiri tidak jauh dari rumah ini."
""Hah! Yang benar?" Wira nampak terkejut. Sedangkan kedua bidadari itu mengangguk.
"Aku sih yakin mereka orang orang dari Tengkorak iblis, kang," Dewi merah menimpali. "Kalau benar mereka orang orang tengkorak iblis, lalu kita harus bagaimana?"
__ADS_1
Mendengar kata bagaimana, membuat Wira yang tadi terkejut, tiba tiba mengembangkan senyum nakalnya.