DALAM PELUKAN TUJUH BIDADARI

DALAM PELUKAN TUJUH BIDADARI
Mengusir Para Pengecut


__ADS_3

"Kakek Sugi! keluar kamu!"


Suara teriakan yang cukup kencang dari luar rumah, membuat empat bidadari yang ada di dalam rumah tersebut sontak terperanjat. Mereka saling pandang satu sama lain, dengan tatapan penuh tanda tanya. Suara lantang yang jelas sekali kalau pemilik itu adalah seorang pria, membuat empat bidadari terlihat sangat panik.


"Kakek mau kemana?" tanya salah satu bidadari saat matanya menangkap sosok pria tua yang sedari tadi memilih istirahat di dalam kamar. Meski bidadari itu tahu kalau sang Kakek akan menemui orang yang memanggilnya, tapi dia memiliki maksud tersendiri, sampai melempar pertanyaan seperti itu. "Apa Kakek mau menemui orang itu?"


Kaki pria tua terhenti setelah baru melangkah sebanyak dua kali dari pintu kamarnya. Dia menoleh dan menatap ke arah empat wanita yang juga sedang menatapnya. Pria tua itu mengangguk. "Iya, Kakek harus menemuinya," jawabnya. Dari suaranya, para bidadari tahu kalau sang Kakek juga ketakutan dan dia terpaksa melakukannya.


"Tidak usah," salah satu bidadari langsung melarangnya. Dia bahkan bangkit dari duduknya lalu menghampiri kakek dan menggandeng tangannya agar Kakek ikut duduk dengan para bidadari itu. "Kakek disini saja. Memang kakek tahu mereka siapa?"


Si Kakek nurut. Dia duduk di lantai yang terbuat dari papan kayu dengan wajah yang cukup gelisah. Bahkan sampai sekarang suara teriakan itu terdengar dari beberapa orang. "Mereka anak buah Juragan Suloyo. Sepertinya mereka datang dengan juragannya."


"Yah, dasar manusia tidak tahu diri. Udah kaya raya, masih aja minta minta. Mereka sudah seperti pengemis saja," gerutu Dewi Merah terlihat sangat kesal. "KIta duduk disini saja, Kek. Biarin aja mereka teriak sampai suaranya lenyap. Biar mampus sekalian."


"Tapi Nanti kalau mereka ngamuk dan merusak rumah Kakek bagaimana?" tanya Kakek dengan wajah yang terlihat cukup khawatir.


"Kakek tidak usah takut. Semua akan baik baik saja. Mending kita diam saja di sini, pura pura tidak dengar," ucap Dewi merah lagi. Si Kakek akhirnya pasrah meski wajahnya sangat menunjukan kalau dirinya sedang tidak tenang.

__ADS_1


"Kakek Sugi! Keluar! Atau aku hancurkan rumah kamu!" teriak salah satu pria yang ada di depan rumah Kakek Sugi. Sudah berkali kali sejak kedatangannya ke rumah itu, pria tersebut dengan beberapa rekannya berteriak memangggil pemilik rumah. Namun yang mereka panggil, sama sekali tidak memberi tanggapan.


"Apa di rumah tidak ada orang?" tanya pemimpin dari gerombolan pria yang berada di halaman rumah Kakek Sugi. "Coba kalian periksa ke sekitarnya. Mungkin Kakek Sugi sedang berada di belakang rumah."


"Baik, Juragan," beberapa pria itu langsung menyanggupi. Mereka segera saja berpencar menglilingi rumah panggung tersebut. Hingga beberapa saat kemudian, beberapa orang itu kembali menghadap Juragan yang masih duduk di punggung kuda dan melaporkan kalau mereka tidak menemukan seorangpun di sana.


"Mungkin Kakek Sugi dan para wanita itu sedang pergi, Juragan," ucap salah satu anak buah.


"Sepertinya begitu," balas sang Juragan sambil memperhatikan rumah di hadapannya dengan otak yang sedang berpikir. "Kita kasih pelajaran saja sama mereka. bakar rumah ini, cepat!"


"Baik, Juragan!" jawab semua anak buahnya dengan kompak, lalu mereka bersiap diri untuk menyalakan api dengan peralatan yang mereka bawa. Sang Juragan terlihat menyeringai sembari menatap rumah tersebut.


Bugh!


"Akhh!" sang Juragan memekik dengan lantang. Semua langsung terkejut dan mata mereka seketika beralih ke arah juragan yang terjatuh. Sedangkan kuda itu langsung lari ke sembarang arah. Di saat para anak buah itu hendak menolong Juragan mereka, gerakan tangan mereka terhenti saat mata orang orang itu menangkap sosok mengerikan, tak jauh dari tempat mereka berada


"Singa?" seru salah satu anak buah dengan suara tercekat dan wajah yang sudah terlihat panik. Sang Juragan yang mendengar ucapan anak buahnya langsung menoleh ke belakang, dan saat itu pula matanya melebar. Di sana, tak jauh dari tempat keberadaannya sosok Singa sudah bersiap untuk menyerang mereka.

__ADS_1


"Ada Singa?" gagap sang Juragan. Jelas sekali kalau dia dan anak buahnya seketika sedang dalam kepanikan yang luar biasa. "Cepat usir Singa itu!"


Para anak buah hanya mampu saling pandang. Tentu saja mereka ragu untuk menyerang dan mengusitr binatang buas yang tubuhnya lebih bear dari mereka. Mereka bahkan tidak sadar kalau api yang mereka nyalakan sudah kembali padam.


"Kenapa kalian diam!" gertak sang Juragan dengan suara yang cukup lirih. "Cepat usir Singa itu!"


Para anak buah sontak menjadi dilema. Disatu sisi mereka tidak ingin kehilangan pekerjaannya, namun di sisi lain, mereka juga tidak mau mati sia sia karena melawan Singa. Mungkin saja mereka malah menjadi santapan Singa tersebut. Padahal Singa itu hanya diam dengan mata yang terus menatap para pria yang sedang ketakutan.


"Wahh! Leo hebat!" seru seorang pria dari arah lain. Suara seruan itu sontak membuat semua pria yang sedang ketakutan mengalihkan pandangan mata mereka ke arah sumber suara. Juragan dan anak buahnya menatap tidak percaya saat menyaksikan seorang pria dengan wajah riangnya malah mendekat ke arah Singa dan mengusapnya. Tak jauh dari pria itu, ada juga tiga wanita yang juga merasa senang meski mereka tidak mendekat ke arah Singa. Sedangkan wanita tua yang bersama tiga wanita itu malah terlihat ketakutan.


"Mau apa lagi kamu datang kemari, hah!" bentak Wira kepada pria yang menjadi lawan tandingnya di pagi tadi. Pria itu datang kembali dengan Juragan dan juga rekan satu profesinya. "Masih belum puas, aku hajar kamu tadi pagi? Pakai bawa pasukan lagi."


Pria itu tidak menjawab. Mungkin jika tidak ada Singa, dia bersama para rekan dan Juragannya sudah menunjukan kesombongannya. Namun berhubung ada binatang buas yang terlihat akrab dengan anak muda yang membuatnya babak belur, pria itu memilih diam dengan segala rasa takut yang mendera.


"Saya sudah peringatkan, jangan datang lagi kemari dan jangan usik penghuni rumah ini! Tapi kamu malah datang membawa rombongan para pengecut. Apa kamu mau, kamu dan teman teman kamu itu, menjadi santapan Singa saya, hah!" Wira kembali mengeluarkan suara lantangnya. Ucapan Wira semakin membuat Jurgan dan anak buahnya ketakutan.


"Sekarang lebih baik kalian pergi! Jika kalian masih masih menganggu penghuni rumah ini lagi, aku tidak akan segan segan, mengirim Singa ini untuk mendatangi tempat kalian, mengerti!"

__ADS_1


...@@@@@...


__ADS_2