
"Kang Wira lagi ngapain?" sebuah suara terdengar lembut di tengah keheningan malam. Suara itu sukses membuat pria yang namanya baru saja disebut, tersentak kaget dan tersadar dari lamunan yang tadi sedang dilakukan pria itu. Wira lantas menoleh ke arah sumber suara lalu keningnya berkerut saat mengetahui si pemilik suara lembut tersebut.
Namun rasa terkejut tidak berhenti sampai di situ saja. Tubuh Wira bahkan menegang saat wanita yang baru saja menyapanya kini malah mendekatinya lalu mengambil duduk yang letaknya tepat di sebelah kanan Wira. Walapaun pada kenyataaannya di sana hanya ada satu bangku yang cukup panjang, tapi sikap wanita itu, membuat Wira jutsru merasa resah karena tubuhnya sedekat itu dengan wanita berpakaian seksi.
"Kang Wira lagi ngapain? Orang ditanya, malah bengong," sosok wanita itu kembali bertanya, diringi senyuman yang membuat Wira semakin merasakan debaran yang tidak biasa.
"Ya, seperti yang kamu lihat, aku sedang duduk saja, sama Singa," balas Wira dengan suara agak gugup. Pandangan mata Wira sekarang menjadi terbagi. Bukan hanya memandang wajah salah satu bidadari yang ada di sana, tapi juga memandang bagian leher ke bawah dari tubuh bidadari tersebut. "Yang lain kemana? Kok kamu sendirian?" tanya Wira untuk menetralkan perasaannya yang mendadak bergejolak.
"Yang lain sedang berbincang di dalam kamar. Aku keingat Kang Wira, jadi aku keluar," jawab Bidadari sambil menatap lekat pria disebelahnya. Bidadari itu tidak menyadari kalau tatapannya sedang menimbukan goncangan hebat dalam benak Wira. "Ini SInganya kembali lagi? Padahal tadi aku lihat, dia sudah tidak ada."
"Ehmm? Oh iya," jawab Wira agak gugup. Pikiran pemuda itu sedang tidak fokus karena pemandangan di sebelahnya jadi dia agak gugup saat memberi jawaban. "Sepertinya dia ingin menjadi penjaga kita," ucap Wira lagi sambil mengucap kepala Singa yang memang ada di sebelah kirinya.
"Tapi apa dia sudah jinak? Aku agak takut," rengek bidadari dengan tubuh bergeser sampai jaraknya semakin dekat dengan tubuh Wira. Kegelisahan pemuda itu semakin tak karuan. Apa lagi jika menatap bagian dada yang terbuka pada bagian atasnya. Sesuatu yang kembar itu nampak bergerak elastis, seakan menggoda Wira agar segera menyentuhnya.
"Ehm, sudah," jawab Wira masih dengan rasa gugup yang sama. Padahal, saat masih di rumah, setiap Wira nonton film dewasa atau sedang berkumpul bersama temannya, otak Wira selalu berpikiran nakal dan liar setiap kali melihat bentuk dada wanita yang besar. Namun sekarang, saat di depannya tersaji benda kembar yang terjerat kain sangat kencang, Wira malah gugup dan bingung dengan segala pikiran kotornya juga terlintas.
"Apa Akang tidak takut, Singa itu akan menyerang kita suatu saat nanti?" tanya Bidadari lagi.
__ADS_1
"Ya aku lawan. Kalau dia nekat ya, terpaksa aku habisi nyawanya," jawab Wira agar terlihat gagah dan pemberani. Di depan seorang wanita cantik, tentu saja Wira harus terlihat jantan dan hebat.
Bidadari kembali tersenyum dan hal itu membuat Wira semakin dilanda rasa gelisah. "Kang Wira memang paling hebat," puji sang bidadari yang langsung menumbuhkan rasa bangga pada benak pria yang mendengarnyya. "Kang Wira belajar ilmu bela diri di mana sih? Kok bisa hebat banget?"
"Ehmm," Wira langsung berpaling sembari berpikir cepat untuk menjawab pertanyaan sang bidadari. Wira sudah terlanjur bohong, jadi pria itu harus menyempurnakan kebohongannya. "Aku belajar sama seseorang yang ada di kampungku," jawabnya.
Sang Bidadari menatap lekat pria di sebelahnya dengan kening sedikit berkerut. Dari jawaban dan rasa gugup yang ditunjukan. Dari sikap yang ditunjukan Wira, Bidadari menyimpulkan kalau Wira sedang berusaha menutupi identitas aslinya. Sang bidadari tersenyum dan menganggukan kepalanya sebagai tanda kalau dia percaya dengan jawaban yang keluar dari mulut pria di sebelahnya.
"Besok rencananya kita mau ngapaian, Kang," tanya Bidadari mengalihkan pembicaraan. Bahkan bidadari tersebut juga mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"Aku belum tahu apa yang akan kita lakukan, dan aku juga bingung kita harus kemana," jawab Wira sambil matanya melirik ke arah dada dan paha bidadari yang sangat menarik perhatian. Entah sudah berapa kali, Wira merasa susah menelan salivanya sendiri. Tangannya sudah gatal ingin menempel pada bagian tubuh wanita yang terlihat oleh mata. "Apa tidak ada ciri khusus, agar kita bisa lebih mudah menemukan ketujuh bulu Angsa emas milik kalian?"
"Oh, gitu?" balas Wira sambil mengangguk. "Apa mungkin, bulu emas kalian terbawa arus sungai?"
Kening bidadari sontak berkerut sembari menoleh menatap Wira. "Benar juga, kenapa aku baru kepikiran ke sana? Astaga!"
Wira lantas tersenyum. Meski matanya kini membalas tatapan bidadari yang bersamanya, tapi tetap, mata itu mencuri pandang benda kembar yang terlihat tersiksa oleh kain yang dipakai wanita itu. Karena sangat kencang, seakan benda kembar itu sedang meronta ingin dibebaskan dari kain yang menutupinya.
__ADS_1
"Tidak perlu khawatir. Bukankah kita bisa mencarinya sama sama?" ucap Wira mencoba menenangkan bidadari yang terlihat panik.
"Aku tahu," jawab bidadari. "Apa Singa ini akan ikut?"
Seketika Wira mengalihkan pandanganyya kepada Singa. "Singa? Kamu besok mau ikut berpetualang apa tidak?"
"Hahaha ..." suara tawa bidadari tiba tiba menggelegar membuat Wira terkejut dan kembali menatapnya. "Kamu ngajak singa pergi kayak ngajak orang aja, Kang, hahaha ..." Awalnya kening Wira berkerut begitu mendengar alasan Bidadari tertawa, tapi tak lama setelahnya Wira malah ikutan tertawa dengan suara yang lebih lirih. "Eh, Kang, kenapa Singanya tidak kamu kasih nama juga? Biar enak manggilnya gitu?"
Mendengar usul yang cukup bagus dari Bidadari, seketika Wira langsung berpikir sembari menatap Singa yang terus meringkuk sejak singa itu datang. "Nama untuk singa, emmm," Wira terus berpikir. "Baiklah, aku kasih nama Singa ini Leo."
"Leo? Nama apaan itu?" tanya Bidadari heran.
"Ya nama Singa. Leo itu bahasa inggris yang artinya Singa," jawab Wira enteng sambil mengusap usap kepala Singa tanpa menyadari kalau bidadari itu terlihat sangat heran dengan apa yang baru saja Wira ucapkan.
"Bahasa inggris itu bahasa apa?" pertanyan Bidadari sontak membuat Wira tertegun. Seketika Wira kembali berpikir, untuk memberi penjelasan.
"Udahlah, tidak penting bahasa apa," jawab Wira. Karena tidak mau terlalu ribet, akhirnya dia menjawab seperti itu.
__ADS_1
Sang bidadari pun mengangguk dengan banyak tanya dalam benaknya. "Sekarang aku yakin, kalau kamu memang bukan manusia biasa, Kang. Baiklah, aku akan membuat kamu, agar terus bersama kami sampai bulu Angsa kami dapatkan kembali," gumam bidadari.
...@@@@@...