
Setelah terjadinya pertarungan, Nenek dan Kakek serta tujuh bidadari, masuk ke dalam rumah. Sedangkan Wira tetap berada di luar rumah untuk melepas lelah. Pemuda itu merasa heran dengan fakta yang baru saja dia tahu di pagi ini. Ternyata, di jaman yang terbilang kuno, juga ada pejabat yang korupsi. Bahkan ini lebih parah, karena pejabat tersebut meminta langsung harta kepada rakyatnya dengan segala intimidasinya.
"Kang Wira kenapa tidak masuk?" sebuah suara wanita terdengar dan cukup mengusik telinga Wira. Pemuda itu lantas menoleh ke arah kanan, dan dia tersenyum kepada seorang bidadari yang baru saja melempar pertanyaannya kepada Wira. Orang itu lantas duduk di sebelah Wira sambil menyodorkan kain. "NIh, Kang, buat membersihkan keringat."
"Terima kasih," ucap Wira dengan tangan yang bergerak, menerima kain tersebut lalu mulai membersihkan keringat dari leher, wajah hingga ke bagian tubuh lainnya. "Kamu kenapa? Kok mandangin aku, kayak gitu banget?" tanya Wira disaat dia sedang membersihkan tubuhnya, saat itu pula Wira menyadari mata wanita disebelahnya terus menatapnya.
Bidadari yang diberi nama panggilan Dewi Jingga itu lantas tersenyum. "Kang Wira tampan sekali. Apa lagi saat berkeringat seperti itu, Kang wira seperti bukan manusia," jawab Dewi Jingga tanpa mengalihkan pandangannya.
Tentu saja, mendengar pujian secara langsung dan terus terang seperti itu, membuat Wira ingin terbang melayang. Seumur hidup baru kali ini ada wanita yang mengatakan dengan terus terang kalau pemuda itu tampan. "Hahaha ... kamu bisa aja," ucap Wira agak tersipu. "Eh aku panggil kamu pake sebutan dek aja ya? Bingung kalau ngobrol kayak gini mau nyebut kalian dengan kata apa. Dew, Wi, atau Jing. Kayak kurang pas gitu."
"Terserah Kang Wira aja," jawab Dewi Jingga pasrah. "Yang penting nyaman. Karena kita saat ini sedang bersama, setidaknya kita harus saling merasa nyaman bukan?" sambungnya. "Kang, Kang Wira belajar ilmu bela diri dimana sih? Kok bisa hebat gitu?"
Wira kembali tersenyum tipis sembari menghentikan gerakan tangannya yang sudah selesai membersihkan keringat. "Aku tidak tahu," jawab Wira jujur. Tapi sepertinya bidadari di sebelahnya kurang percaya, sampai kening bidadari itu berkerut dan menatap lekat kepada Wira.
"Masa tidak tahu?" ucap Dewi Jingga dengan rasa tidak percayanya. "Apa Kang Wira sedang hilang ingatan?"
Wira menggeleng dan membalas tatapan wanita cantik di sebelahnya. "Aku sungguh tidak tahu, Dek. Aku aja sampai saat ini masih bingung. Tapi ya, aku nikmatin aja sih. Biar bagaimanapun ilmu bela diri itu ada manfaatnya buat aku. Dengan aku bisa bela diri, aku bisa melindungi kalian semua."
Dewi Jingga langsung mengangguk lalu kembali tersenyum manis. "Kalau aku sih yakin, Kang Wira itu titisan Dewa atau malaikat," ucapnya sambil mengedarkan pandangannya ke arah depan.
__ADS_1
"Kenapa bisa seyakin itu?" tanya Wira masih menatap wanita cantik di sebelahnya.
"Karena berdasarkan ciri ciri yang aku lihat dan aku perhatikan, aku yakin kalau Kang Wira itu seebenarnya Dewa atau malaikat," jawab Dewi Jingga sembari kembali menatap lawan bicaranya. "Kang Wira tampannya luar biasa. Terus di dada dan juga beberapa tubuh Kang Wira juga terdapat simbol khusus yang tidak dimliki umat manusia. Bahkan, dewa dan malaikat pun tidak memilikinya. Dari sanalah aku yakin kalau Kang wira bukan manusia biasa."
Kening Wira untuk beberapa saat sontak berkerut sembari mencerna ucapan wanita yang sedang dia tatap. Tak lama setelahnya, senyum pemuda itu terkembang dengan perasaan yang ingin terbang. Wira pun menjadi salah tingkah. "Kalian ini, bisa saja kalau ngomong. Semalam Dewi Kuning juga ngomong kayak gitu. Sekarang gilran kamu yang ngomong."
Dewi Jingga lantas terkekeh. "Hehehe ... kami kan memang sempat bertanya tanya, Kang? Lagian mana mungkin ada manusia yang mendadak muncul ditengah tengah kita, saat kita lagi mandi? Padahal sungainya juga tidak terlalu dalam, jadi mana mungkin ada manusia yang muncul secara mendadak seperti itu."
"Hahaha ... ya udahlah terserah kalian," ucap Wira pasrah. Lagian tidak ada ruginya kalau dia disebut titisan Dewa atau malaikat. Yang penting dia bisa dekat dengan tujuh wanita cantik sekelas bidadari. Syukur syukur, bisa mendapatkan hal yang lebih dari para bidadari itu, kan lumayan. "Oh iya, apa rencana kalian hari ini? Kita nginep lagi di sini loh."
"Tadi sih aku dengar, kita akan ke pasar, tapi kita khawatir kalau orang itu datang lagi terus buat rusuh gimana? Makanya kita bingung. kalau Kang Wira ikut ke pasar, gmana nanti keadaan rumah Nenek. Tapi kalau kami pergi sendirian. kami takut ada apa apa di sana."
Wira mengangguk tanda mengerti. Untuk sejenak pemuda itu terdiam sambil berpikir, mencari jalan keluar. "Gini aja, sebagian dari kalian mending ke pasar bersamaku. Lalu sebagian di rumah aja. Nanti aku minta Leo buat jaga kalian," usulnya.
"Ya nanti aku coba teriak nyari dia," ucap Wira. "Ya udah sana kamu masuk, kasih tahu yang lain. Aku mau pergi nyari Leo."
Dewi Jingga mengangguk. Dia lantas bangkit dan segera beranjak masuk ke dalam. Sedangkan Wira langsung beranjak ke area luar rumah lalu dia berteriak memanggil nama Leo.
Beberapa saat kemudian, Singa itu muncul. Dari keadaannya, sepertinya Singa itu belum lama ini habis menyantap mangsanya. Wira lantas memberi nasehat agar Singa jangan sampai memangsa manusia. Singa hanya bisa mengaum sebagai jawabanya. Wira lalu memberi tahukan tujuannya memanggil Leo. Sang sing pun kembali mengaum.
__ADS_1
Sementara itu di tempat lain, Warto baru saja sampai di tempat dirinya mengabdi sebagai anak buah. Pria itu tidak sabar, ingin segera memberi laporan tentang apa yang dia alami pagi ini. Dengan bukti tubuh dan wajah babak belur, Warto yakin, orang yang menjadi tuannya akan murka dan akan membalas kekalahannya yang memalukan.
"Warto, kamu sudah kembali?" tanya juragan Suloyo yang saat itu sedang duduk diapit dua wanita yang memanjakannya. Juragan itu menatap heran saat melihat keadaan Warto yang babak belur. "Tubuh kamu kenapa? Kamu habis berkelahi?"
"Benar, Juragan," jawab Warto sambil membungkukkukan dadanya dan bersimpuh di lantai.
"Tarung dengan siapa? Penduduk Kampung?" tanya Juragan Suloyo.
"Dengan pendatang yang ada di rumah Kakek Sugi, Juragan. Karena pendatang itu juga, saya gagal meminta upeti pada Kakek Sugi," jawabnya jujur.
"Apa! Kenapa bisa gagal!" Juragan Suloyo terlihat murka.
"Itu semua karena pendatang itu, Juragan," jawab Warto. "Tadi di sana, aku juga lihat, ada banyak wanita cantik, Juragan."
"Apa!" Juragan Suloyo kermbali mermekik. Tapi kali ini wajahnya agak berbinar. "Wanita cantik?"
"Benar, Juragan. Mereka cantik cantik sekali, seperti bukan kecantikan yang dimiliki manusia."
"Wahh! Kalau begitu siapkan pasukan Warto. Aku harus memiliki wanita wanita itu."
__ADS_1
"Baik, Juragan."
...@@@@@...