
Wira tertegun begitu mendengar ucapan bidadari yang terbaring di sisinya. Wira lupa kalau dia saat ini hanya memakai satu celana kolor yang begitu longgar. Jadi, jika isi kolornya menegang, sudah pasti akan terlihat jelas. Wira yang sedang pura pura tidur pun memilih terus diam meski dirinya agak malu karena tertangkap basah isi kolornya sedang menegang.
Sebagai pria normal, tentu saja sentuhan lembut yang dilakukan bidadari kepada tubuhnya, menghadirkan sensasi berbeda pada diri Wira. Apalagi seumur hidup sebagai pria, Wira sama sekali tidak pernah merasakan tubuhnya diraba raba oleh wanita. Tentu saja hasrat Wira sebagai pria langsung meronta. Sentuhan lembut dan berulang ulang yang dilakukan bidadari pada dada Wira, membuat jiwa liar pria itu langsung menggeliat.
Faktor lain yang membuat jiwa pria Wira meronta adalah, penampilan bidadari itu sendiri. Meski bidadari itu memakai pakaian, tapi kemolekan paha serta benda kembar yang tidak tertutup rapat oleh pakaian, membuat Wira selalu merasa resah dan ingin mengusapnya. Jadi wajar jika isi kolor Wira menegang sempurna pada malam ini.
Bukannya Wira tidak suka memakai underewear. Tapi tiap menjalang tidur, Wira memang lebih suka memakai celana kolor yang longgar. Ditambah lagi saat siang tadi pergi ke pasar, tidak ada satupun penjual underwear untuk pria. Kebanyakan mereka menjual kolor untuk pria dengan berbagai ukuran. Ada yang ketat, pendek, panjang dan longgar. Wira membeli beberapa kolor yang ketat dan pendek untuk dijadikan underwear di siang hari.
Wira masih terdiam, saat tangan bidadari masih mengusap dengan lembut dadanya secara bergantian. Namun tak lama setelah itu, Wira kembali dibuat tertegun, saat merasakan tangan bidadari merayap ke bawah hingga ke perut dan mengusapnya. Wira berusaha sekuat tenaga untuk terus pura pura terlelap meski jiwa lakinya terus meronta.
Tidak hanya itu saja, Wira semakin dibuat terkejut saat tangan bidadari kini sudah berpindah tempat. Wira merasakan tangan bidadari sudah meraba celana kolornya. Tidak berhenti sampai di sana, masih ada lagi yang lebih mengejutkan, yang sedang dilakukan bidadari tersebut. Bidadari itu perlahan menurunkan kolor Wira sampai isinya keluar dan hal itu cukup membuat Wira semakin tercengang.
"Apa yang akan dia lakukan?" gumam Wira dalam benaknya. Meski diliputi banyak tanda tanya dalam hati, Wira sangat senang diperlakukan seperti itu. Apalagi saat tangan bidadari mulai menggenggam dan membelai halus, benda miliknya yang sudah sangat menegang, Wira merasakan sensasi nikmat yang sama sekali tidak pernah rasakan.
"Gila! Ternyata disentuh dan dibelai tangan cewek rasanya enak banget. Gimana kalau masuk ke lubangnya ya?" ucap Wira dalam benaknya. Dia benar benar bahagia dan pasrah diperlakukan seperti itu oleh bidadari yang bersamanya.
__ADS_1
"Kata Dewi kuning, isi celana Kang Wira itu kecil? Tapi kok ini bisa gede banget kayak gini? Apa ini yang namanya menegang seperti yang diceritakan Dewi Kuning?" gumam Dewi merah sambil terus mengusap lembut milik Wira. Meski hanya bergumam, Wira juga mendengar dengan jelas, apa yang dikatakan dewi merah, dan hal itu kembali membuat Wira terkejut.
"Jadi, semalam Dewi kuning juga mainan isi celanaku? Pantas pas aku bangun, celanaku sudah melorot," Wira lagi lagi hanya mampu bergumam dalam hati. Dia tidak ingin kenikmatan yang sedang dia rasakan berakhir begitu saja.
Bidadari itu kembali berbaring dengan tangan yang masih mengusap lembut milik Wira. Mata bidadari itu juga terus menatap wajah Wira dan senyum sang bidadari kembali terkembang. Entah apa yang ada dalam pikiran bidadari tersebut, sepertinya dia sangat menikmati kegiatannya saat ini.
Hingga beberapa saat kemudian.
"Astaga! Kang Wira ngompol!" pekik bidadari dengan suara lirih. wanita itu terlihat kaget saat melihat dengan mata kepalanya sendiri, isi kolor Wira mengeluarkan cairan. Bidadari itu bahkan sampai bangkit dari berbaringnya.
"Astaga! Tanganku kena lagi. Tapi kok, air kencingnya beda ya? Kok bisa air kencing berwarna putih dan kental begini? Mana agak lengket lagi," gumam Dewi merah, "ternyata benar kata Dewi kuning, air kencing Kang Wira tidak bau. Lebih baik aku ke cuci tangan dulu. Ini sangat lengket." Bidadari itu segera bangkit dan kekuar dari kamar.
"Apa aku tanyakan saja kepada mereka? Aku sih tidak masalah, kalau tiap malam isi kolorku dimainin oleh mereka, tapi apa mereka tidak berhasrat ingin merasakan yang lainnya? Kenapa mereka nampak biasa saja ya? Apa mereka tidak memiliki hasrat untuk berhubungan dengan laki laki?" Wira kembali bergumam setelah tadi memperhatikan isi kolornya yang sudah mengecil dengan carian kental yang masih tergenang. Wira membiarkan saja karena takut Dewi merah curiga kalau dia terbangun dan membersihkan cairan kental tersebut.
Di saat Wira asyik dengan pikirannya sendiri, Dewi merah kembali ke kamar. Wira pun langsung memejamkan matanya kembali. "Wah, udah mengecil. Lucu banget!" seru Dewi merah saat menatap isi kolor Wira. Wanita itu mengambil sembarang kain yang ada disana untuk membersihkan cairan kental yang masih tersisa dan membasahi bulu rimbun Wira. setelah itu tangan bidadari itu kembali memainkan isi kolor Wira dengan gemasnya.
__ADS_1
Di lain tempat, di malam yang sama, Juragan Suloyo masih memikirkan kejadian yang menimpa dirinya tadi siang. Dia masih tidak percaya dengan apa yang dia saksikan saat mendatangi rumah Kakek Sugi. Selain terkejut saat melihat pria muda yang akrab dengan Singa, pria itu juga terpana dengan tiga wanita yang bersama pria itu. Tentu saja dia sangat tertarik dengan kecantikan para wanita tersebut.
"Malam, Juragan," sapa anak buahnya hingga membuat Juragan Suloyo yang sedang melamun, nampak terkejut. Seketika dia tersadar dari lamunannya lalu menoleh kearah anak buah yang baru datang.
"Ada apa, Juragan memanggil saya? Apa Juragan masih memkirkan kejadian di rumah Kakek Sugi?"
Juragan Suloyo mengangguk lemah. "Tentu saja aku masih mengingatnya. Aku tidak terima harga diriku diinjak injak seperti itu," sungut Juragan Suloyo nampak emosi.
"Lalu, apa yang harus kita lakukan, Juragan?" tanya anak buahnya lagi.
"Aku belum memilki rencana. Tapi yang pasti, aku ingin memiliki wanita cantik yang ada di sana," ujar sang Juragan dengan antusias.
Sang anak buah terlihat sedang berpikir, mencari ide untuk mewujudkan keinginan majikannya. "Juragan, bagaimana kalau kita meminta bantuan kepada tengkorak iblis saja? Bukankah mereka kelompok yang sangat hebat dan paling ditakuti?"
Juragan Suloyo nampak tertegun mendengar usulan anak buahnya. Tapi tak lama setelahnya wajah pria berperut buncit itu nampak berbinar. "Benar juga. Ya sudah, besok, kamu datangi markas tengkorak iblis. Aku akan membayar berapapaun yang mereka minta asal mereka berhasil memberikan para wanita itu kepada saya."
__ADS_1
"Baik, Juragan'"
...@@@@...