
Eughh..." terdengar lenguhan panjang dalam satu kamar di sebuah rumah. Suara lenguhan itu keluar dari mulut seorang pria yang baru saja membuka matanya setelah dia terlelap sejak semalam. Pria itu perlahan mengerjapkan matanya dan ketika mata itu terbuka, pria itu langsung menoleh dan saat itu juga dia menyadari kalau wanita yang semalam tidur bersamanya telah tiada.
Pria muda yang akrab dipanggil Wira lantas mengembang senyumnya. Saat pikirannya mengingat wanita yang semalam tidur bersamanya, secara otomatis pria muda itu juga kembali teringat dengan semua yang terjadi semalam diantara mereka berdua. Wira masih tidak menyangka kalau semalam dia akan mendapat perlakuan yang sangat menyenangkan. Bahkan sampai Wira terbangun, celana kolor yang dia gunakan masih melorot gara gara ulah bidadari.
Entah sampai jam berapa, bidadari yang tidur bersama Wira, terus menggenggam isi celananya. Bahkan saat bidadari itu sudah terlelap, tangannya masih menggengam isi kolor Wira. Pemuda itu sungguh heran dan diliputi banyak pertanyaan, kenapa bisa bidadari melakukan hal seperti itu secara diam diam. Seandainya bidadari meminta lebih dari sekedar menggengam isi kolor, tentu, dengan senang hati, Wira akan mengabulkannya.
Di saat Wira masih asyik membayangkan kejadian semalam saat dirinya mengusap paha dan bukit kembar milik bidadari, ada sesuatu yang mendesak Wira, hingga dia harus segera bangkit dan mengeluarkan sesuatu itu di kamar mandi, Wira pun segera bangkit untuk menuntaskan rasa ingin buang air kecilnya. Namun di saat Wira keluar kamar, dia tercengang begitu melihat keadaan rumah yang dia tempati.
"Kok sepi? Orang orang pada kemana?" gumam Wira dengan mata yang mengedar ke seluruh ruangan. Sungguh Wira tidak melihat satu orangpun di rumah tersebut. Bahkan suara rumah sungguh terasa sepi, tidak terdengar siuara berisik sama sekali. Dengan segala rasa penasarannya Wira melangkah kakinya menuju ke arah belakang rumah.
Di saat baru saja langkah kakinya berada di ambang pintu rumah belakang, Wira seketika menghentikan langkahnya dengan mata agak membulat, saat mata wira menangkap sosok bidadari yang ada di kamar mandi. Entah sengaja atau lupa, di kamar mandi itu, bidadari yang sedang membasahi tubuhnya, tidak menutup pintu kamar mandi. Tentu saja pemandangan indah itu membuat Wira merasa kesusahan menelan salvanya sendiri.
Tempat mandi rumah itu letaknya terpisah dengan rumah utama. Di sisi kamar mandi ada kolam yang sengaja dibuat untuk menampung air dari sungai kecil yang letaknya tak jauh dari belakang rumah. Itu juga yang menjadi alasan Kakek dan Nenek bertahan di rumah itu, karena airnya yang jernih dan sangat mudah jangkau.
Wira terpaku dengan mata yang hampir tidak berkedip, menatap kemolekan tubuh bidadari yang sedang digosok dengan batu. Karena pintu kamar mandi terbuka lebar, Wira dengan tatapan jeli memperhatikan setiap inci dan lekukan tubuh bidadari tersebut sampai ke arah rerimbunan yang ada di bawah perut bidadari.
"Apa yang harus aku lakukan? Lama lama aku bisa gila jika kayak gini terus," gumam Wira dalam benaknya. Sebagai pria normal, pikiran pikiran nakal pun mulai berkeliaran. Hingga beberapa saat kemudian, "mending aku coba ngomong deh, daripada nyiksa gini."
Setelah menemukan ide yang cukup nakal, Wira perlahan melangkahkan kakinya menuju ke arah kamar mandi. Setelah langkahnya begitu dekat, "kamu cantik banget sih, Dek, kalau lagi tidak memakai baju."
Suara celetukan Wira yang tiba tiba terdengar, sontak membuat bidadari itu kaget bukan main. Begitu mata bidadari melihat sosok Wira sudah ada di dekat pintu, bidadari itu langsung membulatkan matanya dan dengan cepat pula dia langsung menutup pintu kamar mandi dengan kencang.
Brak!
__ADS_1
"Kang Wira!" serunya.
"Kenapa?" tanya Wira dengan susra yang cukup keras sambil cengengesan.
"Kang Wira dari tadi ngintipin aku?" sungut bidadari.
"Siapa yang ngintip?" bantah Wira, "orang pintu kamar mandinya terbuka dari tadi. Kamu sengaja nggak nutup pintunya apa gimana?"
"Ya harusnya Kang Wira jangan berdiri disitu dong! Nunggu aku selesai mandi!" bidadari itu tidak terima.
"Lah, aku kan nggak tahu. Orang aku bangun tidur memang ingin segera ke kamar mandi. Pengin buang air," Wira tidak mau disalahkan. Lagian ada pemandangan bagus mana mungkin Wira mau membiarkannya begitu saja. Kapan lagi ada kesempatan sebagus itu.
"Kang Wira mau pakai kamar mandi?" tanya bidadari, Wira lantas mengiyakan, "ya udah tolong ambilin dulu kain yang ada di tempat jemuran itu!"
"Tidak ada, aku sengaja menaruh di sana. Aku pikir Kang Wira bangunnya agak siang," jawab bidadsri.
Senyum Wira pun melebar mendengar jawaban tersebut. "Emang yang lain pada kemana? Kok rumah sepi?"
"Yang lain pada ke kebun buat ambil sayur dan ke hutan, nyari kayu bakar."
"Kamu nggak ikut? Kalau mereka ada bahaya gimana?" Wira tiba tiba merasa khawatir.
"Ada Singa yang jagain mereka. Aku tidak ikut karena Kang Wira nggak ada yang nemenin, jadi aku sengaja dtinggal. Udah cepat ambiln kain itu."
__ADS_1
Wira lalu melangkah mengambil kain yang dimaksud bidadari. Namun saat kain itu sudah ada ditangannya, Wira kembali mendadak menemukan ide yang lebih nakal lagi. Dia melangkah, mendekat ke depan pintu.
"Dek, kamu mau lihat isi kolorku tidak?" tanya Wira dengan senyum nakalnya. Mengingat tentang kejadian semalam dan juga gumaman yang diucapkan Dewi merah, Wira menyimpulkan alasan para bidadari itu sengaja tidur bergilir, pasti karena ingin diam diam melihat isi kolornya. Wira sangat yakin karena dua bidadari yang sudah tidur dengan Wira, melakukannya secara diam diam.
"Kalau mau lihat, ya ini Dek lihat sepuasnya, mumpung rumah sepi," Rayu Wira. "Tapi aku juga minta sesuatu sama kamu, Dek. Aku boleh dong pegang pegang tubuh kamu yang tanpa baju. Gimana, Dek?"
Bidadari yang masih berada di dslam kamar mandi itu terperanjat, mendengar penawaran Wira.
Sementara itu di tempat lain, tepatnya di dalam kerajaan, Raja sedang duduk sambil memandangi bulu Angsa emas di tangannya. Senyumnya sesekali terkembang dengan pikiran yang sudah melambung, membayangkan apa yang akan dia dapat jika berhasil memiliki bidadari dalam hidupnya.
"Permisi, Yang mulia? Apa Yang mulia memangggil saya?" seorang anak buah yang berpangkat panglima menghadap, dan membuat sang Raja mengalihkan pandanganya ke orang itu.
"Bagaimana, Panglima? Apa sudah ada tanda tanda tentang pemilik bulu angsa ini?" tanya sang Raja.
"Maafkan hamba yang mulia, sampai saat ini kami belum menemukan tanda tanda wanita yang dimaksud oleh Yang mulia. Tapi kami masih terus berusaha mencarinya, Yang mulia," jawab Panglima sedikit merasa takut jika jawabannya membuat Raja murka. "Saya juga mau melaporkan informasi penting, Yang mulai."
"Informasi penting? Apa itu?"
"Di salah satu kampung, ada yang melapor, orang orang dari komplotan tengkorak iblis juga sedang mencari pemilik bulu angsa emas, Yang mulia."
"Apa!"
...@@@@@...
__ADS_1