DALAM PELUKAN TUJUH BIDADARI

DALAM PELUKAN TUJUH BIDADARI
Keperkasaan


__ADS_3

Wira agak tergelitik dengan ucapan yang diajukan oleh dua bidadari tersebut. Hatinya bahkan berdegup cukip kencang dengan pikiran yang sudah berkelana ke salah satu arah yang penuh kenikmatan. Wira sedikit tidak percaya kala dia di hadapkan dengan situasi seperti ini.


"Kalian serius? Lubang nikmatnya boleh aku masukin?" Wira kembali bertanya untuk sekedar memastkan kalau dia memang sedang tidak bermimpi. Bagi Wira, ini adalah suatu keajaiban yang pantang untuk dia tolak. Bahkan terbesit sedikit harapan dalam hati anak muda itu. Wira ingin selamanya berada dalam keadaan seperti ini selamanya.


"Ya mau bagaimana lagi, Kang, kita tidak punya pilihan lagi yang bisa kami ambil selain pilihan itu. Tapi, apa Kang Wira mampu berhubungan badan dengan kami berdua?" meski canggung karena ucapannya terlalu terbuka, Dewi hijau tetap berusaha dengan tenang saat mengatakan hal yang tidak pernah dia pikirkan sama sekali.


"Apa kalian meremehkan keperkasaan saya?" bukannya menjawab, Wira malah melempar pertanyaan yang seakan menantang karena ucapan Dewi hijau agak menyindir dan cukup melukai harga dirinya sebagai pria sejati.


"Bukannya kita meremehkan, Kang. Sebagai penghuni langit, kita itu tahu, kalau kaum lelaki yang masih di bumi tidak seperkasa kaum lelaki yang ada di langit," terang Dewi hijau agar Wira tidak tersinggung.


"Benarkah?" Wira malah bertanya dan nampak terperangah mendengarnya.


Dewi hijau dan Dewi merah mengangguk serentak. "Iya, Kang. Kalau di langit, kaum laki laki itu bisa berhubungan badan seharian masih kuat. Kalau kang Wira kan semalam sudah bercinta dengan Dewi jingga dalam waktu yang cukup lama, apa hari ini masih kuat berhubungan badan dengan kita?" ucap Dewi merah.


Untuk beberapa saat, Wira terdiam sembari mencerna ucapan yang baru saja dia dengar. Jika bolej jujur, Wira memang agak lelah karena dalam sehari kemarin, dia sudah bercinta dua kali. Siang hari bersama Dewi Ungu dan malam harinya bersama Dewi jingga. Jika hari ini dia melawan dua bidadari, apa dia masih kuat?


"Kalau aku nggak kuat, ya udah kita mainnya dibagi saja, siang ini aku sama Dewi merah, malamnya aku main sama Dewi hijau, gimana? Adil bukan?"


Dua bidadari saling pandang satu sama lain untuk sejenak, lalu mereka kembali menatap Wira. "Nanti kalau ada yang lihat gimana? Terus mereka juga meminta berhubungan badan dengan Kang Wira, apa Kang Wira sanggup?" ucap Dewi merah.

__ADS_1


"Ya sangguplah, asal dibagi waktunya," Wira menjawabnya dengan sangat yakin.


"Gini aja deh, daripada bingung dan juga ragu, mending kita pakai ini aja gimana?" Dewi merah memberi saran sambil menunjukkan bulu angsa emas miliknya.


"Mengggunakan bulu Angsa emas? Untuk apa?" Wira tentu saja heran dengan usulan dari dewi merah itu.


"Daripada dijelaskan, lebih baik Kang Wira lepasin celana dulu, nanti Kang Wira bakalan tahu kita mau ngapain?" sahut Dewi hijau.


"Lepasin celana?" Wira makin nampak terkejut.


"Iya, lepasin aja," ucap Dewi hijau yakin yang juga sudah memegang bulu angsa emasnya.


Rasa canggung pun menyelimuti dua bidadari tersebut. Secara pelan, mata mereka mulai melihat bagian tubuh Wira yang sudah menegang entah sejak kapan. Ini adalah pertama kalinya mereka menyaksikan benda milik laki laki sepenuhnya.


"Udah itu, tinggal diapakan," ucap Wira pasrah. Bibirnya bahkan tidak ada hentinya menunjukan senyum malu dan juga senang.


Dua bidadari hanya mengangguk. Mereka kembali saling pandang untuk beberapa saat, lalu tak lama setelahnya keduanya saling mengangguk. Tentu saja apa yang mereka lakukan, terus diperhatikan oleh Wira.


Salah satu tangan Dewi merah bergerak perlahan sampai tangan itu menyentuh benda menegang milik Wira. Dengan hati yang diliputi rasa cangggung, Dewi merah perlahan mencoba menggennggam benda yang bentuknya lumayan gede tersebut.

__ADS_1


Setelah tergenggam, benda menegang milik Wira langsung ditegakkan. Setelah itu kedua bidadari menggerakan tangan mereka yang memegang bulu Angsa emas. Bulu itu lalu diputarkan mengeliingi benda menegang milik Wira sampai pemuda itu dibuat terkejut, ketika Wira tiba tiba merasakan benda menegang miliknya terasa dingin.


Wira ingin melayangkan pertanyaan tapi melihat dua bidadari yang sedang nampak fokus melakukan sesuatu pada benda miliknya, pemuda itu memilih mengurungkan niatnya dengan tetap memperhatikan semua yang dilakukan kedua bidadari.


"Sudah, selesai," ucap Dewi hijau beberapa saat kemudian. Keduanya langsung menghentkan kegiatan mereka lalu senyum dua bidadari itu terkembang.


"Apa yang kalian lakukan pada batangku?" tanya Wira sambil memperhatikan benda miliknya.


"Kami hanya memberi sedikit kekuatan, agar Kang Wira lebih perkasa dalam berhubungan badan. Meski nanti tiap hari Kang Wira berhubungan badan, Kang Wira tidak akan terlalu kelelahan," terang Dewi hijau.


"Wahh, benarkah?" Wira nampak berbinar. Melihat dua bidadari itu mengangguk, Wira pun malah semakin senang. "Kalau begitu, bagaimana kalau kita langsung mencobanya sekarang bagaimana?"


"Sekarang?"


"Iya, sekarang, mumpung rumah sepi. Ayo!"


Kedua Dewi pun akhirnya pasrah. Dengan semangat yang sangat membara, Wira langsung mengajak mereka beranjak ke kamar untuk melakukan penjebolan.


Sementara itu di pasar, para bidadari yang sedang asyik melakukan berbagai transaksi bersama Nenek dan Kakek nampak sedang diawasi oleh seseorang dari jarak jauh.

__ADS_1


"Mereka siapa? Kenapa cantiik cantik sekali?"


__ADS_2