
"Mereka siapa? Kenapa semua orang pada ketakutan?" gumam Wira sembari memperhatikan semua orang yang terlihat takut dengan kedatangan segerombolan pria berkuda itu. Mereka sama sekali tidak ada yang bisa membuka suara selain hanya patuh dengan titah yang baru disampaikan oleh salah satu pria berkuda tersebut. Setelah psukan berkuda itu pergi, semua penduduk yang ada di pasar merasa begitu lega.
"Apa mereka dari kerajaan?" tanya Wira kepada pedagang yang tadi berdebat dengan tiga bidadari. "Sepertinya anda tadi takut sekali dengan kedatangan orang orang itu? Harusnya ka, anda senang? Bukankah anda ingin menjual bulu Angsa emas itu kepada mereka?"
Mendengar rentetan pertanyaan yang tiba tiba Wira ucapkan, membuat pedagang itu mendengus kasar. "Mereka bukan dari kerajaan. Mereka itu orang orang dari kelompok tengkorak iblis."
"Tengkorang iblis? Apa itu?" tanya Wira yang akhirnya menjadi semakin ingin tahu banyak karena peristiwa yang terjadi di depan matanya.
"Tengkorangak iblis itu kelompok kejahatan yang bisa melakukan apa saja. Mereka berasal dari wilayah sebelah. Mereka sebenarnya pernah kalah saat melawan kerajaan, tapi entah kenapa, mereka masih saja membuat ulah. Harusnya sih tengkorak iblis sudah dibubarkan, tapi karena banyak orang dari kalangan bangsawan dan juragan yang menggunakan jasa mereka, jadi ya tengkorak iblis tidak akan pernah bisa dibubarkan," terang si pedagang.
Wira nampak manggut manggut tanda mengerti. "Terus, kenapa anda tadi tidak mengakui kalau anda memiliki bulu angsa yang mereka inginkan?"
Pertanyaan Wira kali ini membuat si pedagang terkesiap. "Tentu saja aku tidak sudi memberikannya kepada mereka. Mending memberikan bulu angsa kepada raja, aku sudah jelas akan mendapat imbalan. Kalau memberikannya kepada mereka, aku tidak akan mendapatkan apapun selain kekejaman mereka."
Mendengar jawaban pedagang yang nampak menggebu gebu, Wira sontak saja menyeringai. "Kalau ada yang melapor kepada tengkorak iblis tentang bulu yang anda miliki, sebelum anda menyerahkan keada Raja, bagimana?"
Deg!
__ADS_1
Si pedagang seketika terperangah. Matanya sedikit melebar, menatap tajam ke arah Wira yang sedang tersenyum licik. Dari tatapan tersebut, pedagang menyimpulkan kalau Wira pasti akan melaporkan hal itu kepada tengkorak iblis. Saat itu juga si pedagang merasa panilk. Sedangkan tiga bidadari dan juga Nenek hanya menatap heran kepada Wira, tapi mereka sama sekali tidak mengeluarkan suaranya.
"Apa anda sedang berusaha mengancam saya?" tanya si pedagang. Sepertinya dia tahu tujuan Wira mengatakan hal yang membuatnya panik dan cukup merasa takut. Biar bagaimanapun pria itu tahu, bagaimana sepak terjang orang orang dari Anggota tengkorang iblis. Bisa saja, nyawa si pedagang dan anggota keluarganya melayang secara mengenaskan.
"Loh, siapa yang mengancam?" Wira malah melempar pertanyaan dengan wajah tidak berdosanya. "Saya kan cuma memberi tahu. Apa lagi di sini, banyak orang yang melihat kalau anda memiliki bulu Angsa emas yang tadi dicari gerombolan tengkorak iblis. Bisa saja bukan, diantara mereka ada yang diam diam melapor?"
Si pedagang mendengus, sedangkan para bidadari tersenyum begitu mendengar ucapan Wira. Sepertinya mereka sudah menangkap maksud dari semua perkataan Wira kepada si pedagang.
"Maka itu, Tuan," Dewi Biru ikut membuka suara. "Daripada anda kehilangan sesuatu karena tengkorak iblis, bukankah lebih baik saya bayar bulu Angsa itu?" cetus Dewi biru antusias.
"Nah, benar itu!" Dewi Hijau ikut bersuara. "Lagian ya, Tuan, kalau ada juragan yang tahu anda memiliki bulu angsa emas dan itu bisa membuat Raja senang, bukankah anda juga tidak akan beruntung? Jika juragan yang meminta upeti, memaksa anda menyerahkan bulu angsa itu? Yang untung siapa? Pasti juragan bukan? Dia pasti akan cari muka kepada raja dengan bulu Angsa itu."
"Sudahlah, Tuan, tidak perlu banyak berpikir," sekarang gantian Dewi Nila yang ikut memprovokasi. "Lebih baik, anda serahkan saja bulu Angsa ini kepada kami. Setidaknya dengan menyerahkannya kepada kami, anda dan keluarga anda akan aman, baik dari tengkorak ibllis maupun dari juragan yang memaksa meminta upeti."
Ucapan Wira dan tiga bidadari, sukses membuat pedagang dilema. Dalam benaknya, pedagang itu mengakui, kalau apa yang datakan orang orang itu adalah kebenaran. "Baiklah, berapa harga yang berani kalian keluarkan untuk membayar bulu angsa emas itu?" pertanyaan dari pedagang seketika membuat senyum tiga bidadari terembang dengan sangat lebar.
Beberapa saat kemudian.
__ADS_1
"Akirnya, bulu kedua berhasil kita dapatkan," seru Dewi Biru disela sela perjalannya pulang menuju rumah. Dia dan bidadari yang lain terlihat sangat senang karena berhasil mendapatkan bulu angsa emas.
"Memang ada berapa bulu Angsa emas, yang harus kalian temukan?" akhirnya satu satunya wanita tua yang bersama mereka, mengeluarkan suaranya setelah tadi lebih banyak terdiam.
"Tujuh, Nek," jawab Dewi Hijau. "Masing masing dari kita, memiliki satu bulu ini."
"Oh ...." jawab sang Nenek. "Memang kalian bisa membedakan bulu itu punya siapa? Nenek perhatikan, bulu itu dengan bulu yang nenek temukan tidak ada bedanya sama sekali. Darimana kalian tahu kalau bulu itu milik salah satu diantara kalian?"
Pertanyaan nenek sontak membuat ketiag bidadari tertegun, dan mereka saat itu juga saling pandangs satu sama lain. Mereka tentu saja tidak bisa mengatakan yang sebenarnya kalau bulu itu mengeluarkan cahaya sesutai warna pemilikinya.
"Itu kan barang milik mereka, Nek, pasti mereka lebih tahu, dengan barang pribadi mereka. Yang jelas tahu ada bedanya atau tidak, ya mereka sendiri," ucap Wira tiba tiba. melihat para bidadari kebingungan dalam memberi jawaban, dengan sigap Wira langsung berpikir, mencari jawaban yang tepat untuk menjawab pertanyaan dari sang Nenek.
Melihat Nenek mengangguk tanda mengerti, ketiga bidadari sontak merasa lega. "Sepertinya bulu itu memang barang penting," ucap sang Nenek. "Kalau tidak penting, mana mungkin Raja dan ketua tengkorak iblis menginginkannya. Mungkin saja mereka juga memiliki bulu angsa emas yang kalian cari. Jika tidak, darimana Yang mulia dan ketua tengkorak iblis tahu adanya bulu angsa emas?"
Ucapan sang Nenek kembali membuat para bidadari tertegun. Begitu juga dengan Wira. "Benar juga ya? Jangan jangan, mereka juga menemukan bulu angsa kalian," gumam Wira.
Sementara itu di rumah, empat bidadari yang tidak ikut ke pasar, saat ini sedang menyiapkan makanan untuk makan siang. Meskipun mereka berasal dari langit, tentu saja mereka juga tidak melupakan kodratnya sebagai wanita. Apa lagi mereka saat ini sedang menjalani hukuman, menjadi manusia biasa di muka bumi. Di saat para bidadari sedang duduk melepas lelah, mereka dikejutkan dengan suara yang sangat lantang.
__ADS_1
"Kakek Sugi! Keluar kamu!"
...@@@@...