DALAM PELUKAN TUJUH BIDADARI

DALAM PELUKAN TUJUH BIDADARI
Minta Lagi


__ADS_3

Tidak pernah terbesit dalam bayangan Wira akan mendapat kesempatan bagus seperti ini. Menikmati mahkota wanita di ruang terbuka dengan pemandangan yang begitu indah. Dulu, Wira hanya sering membayangkan berhubungan badan di kamar saja, meski video yang dia tonton juga banyak yang mengambil adegan di luar ruangan. Namun kali ini Wira sungguh melakukannya.


"Kang, pulang yuk?" ajakan bidadari sedikit membuat Wira terkejut. Pria yang masih asyik berbaring sambil memeluk pinggang bidadari dari belakang, sontak mengangkat kepalanya dan menatap wanita yang baru saja kehilangan mahkota olehnya.


"Pulang? Kok cepat banget, Dek?" protes Wira. Tentu saja Wira melayangkan protes karena masih dia ingin merasakan kenikmatan kembali berhubungan badan yang diiringi dengan gemuruh air terjun. "Aku pengin melakukannya lagi loh, Dek, Masa kamu ngajak pulang sih?"


"Astaga! Kan kita bisa mengulangnya di rumah, Kang?" dewi Ungu mencoba menolaknya.


"Di rumah banyak orang, Dek," Wira langsung melepas pelukannya. Tubuhnya Wira bergerak dan berpindah menjadi berada di atas tubuh Bidadari. "Sekali lagi, aku mohon," pintanya. Karena Dewi Ungu hanya terdiam, tanpa menunggu persetujuan, Wira langsung menempelkan bibirnya pada Leher bidadari berakli kali dengan beringas. Wanita itu tidak sanggup menolak, dan akhirnya ronde kedua terjadi.


Dalam ronde kedua ini, Wira kembali menguasai permainan. Wira juga mempraktekan segala gaya berhubungan badan yang dia ketahui. Wira sungguh memanfaatkan keadaan dengan sangat baik sampai bidadari sendiri cukup senang meski dia juga sedikit kewalahan mengabulkan setiap keinginan Wira saat berganti gaya bercinta.


"Sepertinya, Kang Wira banyak sekali pengalaman dalam berhubungan badan ya?" tanya Bidadari yang saat itu sedang dalam posisi berdiri. Badannya condong ke depan sembari tangannya bertumpu pada batang pohon besar. Sedangkan di belakangnya, Wira sedang melakukan penyodokan.


Wira hanya tersenyum tanpa mau memberi jawaban. Dia terlalu fokus menikmati setiap penyodokan yang sedang dia lakukan. Wira memilih menjawab semua pertanyaan sang bidadari, nanti saja pada saat mereka selesai melakukan hubungan badan.


Ronde kedua ini berlangsung lebih lama dari pada ronde pertama. Mungkin karena Wira sudah lebih siap dari sebelumnya jadi dironde kedua, benih Wira bisa keluar dalam wakttu yang cukup. Jika diberi waktu, mungkin ronde kedua hampir memakan waktu satu jam daripada ronde pertama.


Begitu ronde kedua selesai, Wira tersenyum dengan sangat puas. Meski lelah tapi lelah Wira kali ini adalah lelah yang membuatnya bahagia. Begitu permainan usai, mereka memilih berendam di air sungai untuk menghilangkan keringat serta membersihkan diri dari sisa carian kental yang membuat bagian inti mereka kotor.

__ADS_1


"Dek, maaf ya? Tadi aku nyemburin benih ke dalam rahim kamu. Karena terlalu enak, jadi aku enggan mengeluarkan diluar. Tapi kamu jangan khawatir, Dek, kalau kamu hamil, aku pasti akan tanggung jawab kok," ucap Wira penuh sesal sambil memeluk erat pinggang bidadari dan menaruh dagunya pada pundak wanita itu.


Bidadari itu lantas langsung tersenyum. "Kang Wira tidak perlu khawatir, aku nggak mungkin bisa hamil kok, Kang," jawab Bidadari dengan entengnya.


"Loh, kok bisa gitu?" Wira terlihat terkejut dengan jawaban yang keluar dari mulut bidadari.


"Ya emang gitu. Kami kan tidak ditugaskan untuk melahirkan anak manusia. Meski kami bisa memberi pelayanan pada pria tapi tidak untuk yang satu itu. Jadi Kang Wira jangan khawatir, mau sebanyak apapun benih Kang Wira masuk ke dalam rahimku, tidak akan mampu membuat aku hamil."


Awalnya Wira tercengang mendengarnya, tapi setelah dicerna baik baik ucapan bidadari, senyum Wira langsung terkembang. Tentu saja dari senyum lebar yang Wira tunjukan, menandakan kalau dia sangat senang dengan kabar tersebut. Meskipun dia berjanji akan tanggung jawab jika bidadari itu hamil, tapi disisi nakal Wira sebagai pria, untuk saat ini dia hanya ingin mendapatkan enaknya saja.


Di saat mereka sedang asyik ngobrol sembari bermain air, mata Wira tidak sengaja menangkap sesuatu yang terapung dari arah air terjun menuju aliran sungai dimana dia dan Bidadari sedang berendam. Sesuatu itu tertahan di antara bebatuan dan terombang ambing oleh gelombang sungai sehingga menarik perhatian Wira.


Bidadari yang sedari tadi terdiam karena menikmati pijatan lembut tangan Wira di dadanya, langsung menoleh memperhatikan benda yang ditunjuk Wira. Awalnya mata Bidadari agak menyipit, tapi tak lama kemudian, mata wanita itu melebar. "Benar Kang, itu bulu angsa emas!" serunya.


Tanpa pikir panjang lagi, Bidadari langsung bangkit dan beranjak ke tempat bulu berada. Dugaannya benar ternyata itu adalah bulu Angsa Emas. Bidadari pun terlihat senang karena kembali menemukan satu bulu angsa yang mereka cari.


"Kang kita pulang yuk," Bidadari langsung meminta pulang karena tidak sabar ingin memberi tahu kabar penemuannya kepada yang lainnya. Wira pun mengiyakan, dan mereka bersiap diri untuk pulang.


Selain karena menemukan bulu angsa emas, mereka juga cukup puas bermain air. Kebetulan waktu juga sudah menunjukan lebih dari tengah hari, maka itu Wira setuju saja saat bidadari meminta pulang. Sepanjang perjalanan, Wira terus berharap keenam bidadari yang ada di rumah juga akan menyerahkan mahkotanya untuk Wira nikmati. Membayangkannya saja, Wira sudah sangat bahagia, apa lagi jika benar benar terjadi, Wira pasti akan merasa bangga.

__ADS_1


"Kalian dari mana saja?" tanya Dewi hijau begitu Dewi Ungu dan Wira sampai di halaman rumah yang mereka tinggali. Dewi Hijau saat itu sedang duduk santai bersama Dewi Nila dan juga Nenek di depan rumah.


"Dari air terjun, kan tadi aku sudah bilang?" jawab Dewi ungu dengan wajah sumringah.


"Ke air terjun kok lama banget. Emang kalian ngapain saja di sana?" Dewi Nila juga ikutan melempar pertanyaan.


"Ya hanya main air terjun, kalian lihat kan rambut kita basah," jawab Dewi Ungu tidak sepenuhnya berdusta. Wira yang sudah duduk di tempat yang sama, hanya diam dengan senyum tipis terbesit dari bibirnya.


"Tapi kok pakaian kalian tetap kering?" celetukan Dewi hijau membuat Wira dan Dewi ungu langsung terkesiap. Mereka tidak menyangka para Bidadari yang lain akan seteliti itu.


"Oh iya, aku ada sesuatu buat kalian," Dewi ungu langsung mengalihkan pembicaraan. Dia mengambil sesutau yang dia sembunyikan di balik kain Ungu yang menutupi tubuhnya.


"Wah, Bulu angsa emas!" seru Dewi Hijau dan dewi Nila hampr bersamaan. "Kamu dapat darimana ini?" tanya Dewi Nila.


"Tadi saat kita mandi. Sepertinya bulu itu baru turun dari air terjun," jawab Dewi Ungu antusias, dan hal itu sukses mengalihkan perhatian dewi yang lainnya. Di saat mereka sedang asyik membicarakan bulu yang baru mereka temukan, nenek yang tidak sengaja mengedarkan pandangan ke arah lain nampak terkejut dengan apa yang dia lihat.


"Sepertinya kita kedatangan tamu,"ucap Nenek. Semua yang mendengar ucapan wanita tua itu langsung melempar pandangannya ke arah yang sama dengan arah pandang nenek.


...@@@@@...

__ADS_1


__ADS_2