
"Apa yang kamu lakukan!" teriak Wira dengan tubuh mendadak kaku dan bergerak maju ke arah wanita cantik yang mengeluarkan cahaya aneh dari telapak tangannya. Wajah anak muda itu sedikit memucat dan terlihat sangat panik karena kedua tangannya sama sekali tidak bisa dia gerakan. Tubuh Wira semakin dekat dan saat itu juga matanya membelalak saat tiba tiba ada benda tajam yang teracung kepadanya. "Akhh!"
Wira sudah ketakutan setengah mati, tapi dia juga terkejut saat merasakan tubuhnya mendadak berhenti. Mata Wira yang tadi sempat terpejam, perlahan dia buka dan betapa terkejutnya Wira saat ujung senjata tajam tersebut berada tepat di depan lehernya. Wira sampai merasa kesusahan menelan salivanya sendiri dengan wajah yang sangat pucat.
"Kalau kamu tidak mau menjaga para bidadari ini, maka aku tidak akan segan untuk mencabut nyawa kamu, mengerti!" hardik wanita cantik yang dipanggil Mahadewi dengan ancaman yang cukup menciutkan nyali pemuda itu. Meski begitu, Wira juga cukup terkejut saat kata bidadari keluar dari mulut wanita yang mengancamnya.
"Bidadari?" tanya Wira dengan suara yang terbata.
"Ya, kamu harus menjaganya. Awas aja, aku akan mengawasi gerak gerik kamu dari langit. Kalau sampai kamu melarikan diri, akan aku kejar kamu sampai keujung dunia sekalipun," Wira tentu saja semakin bergidik takut.
"Tapi, bagaimana cara aku menjaganya? Aku sendiri tidak bisa menjaga diriku sendiri," Wira kembali berusaha menolaknya secara halus. Tapi sayang dari tatapan mata Mahadewi yang semakin melotot, membuat Wira mau tidak mau harus menyanggupi permintaan tersebut. "Iya, iya, aku mau."
Mahadewi mendorong tubuh Wira hanya dengan gerakan tangan dari jarak jauh sampai pemuda itu terduduk di atas rumput. Wira hanya bisa mendengus sambil mengatur nafasnya yang cukup tersengal karena terhempas begitu saja.
"Aku akan pergi, jaga diri kalian, dan ingat semua pesan aku tadi, mengerti," ucap Mahadewi begitu tegas. Sedangkan ketujuh bidadari hanya mengangguk pasrah sembari menitikan airmata yang mengalir semakin deras. Mereka tidak bisa melakukan apapun selain pasrah dengan keputusan mahadewi.
"Udah sih jangan nangis mulu," sungut Wira beberapa saat kemudian setelah mahadewi kembali terbang menuju langit. "Kita harus pergi dari sini, atau kalian mau tinggal di hutan?"
Ketujuh bidadari langsung menatap tajam ke arah Wira, tapi yang dipandang nampak acuh. Mereka lantas saling mengeeluarkan suara satu sama lain, membahas apa yang terjadi pada mereka, lalu bersiap untuk pergi dari tempat itu.
"Sekarang kita cari kampungku, kali aja aku tadi hanya terbawa arus," ucap Wira begitu ketujuh bidadari sudah mulai tenang.
"Emang kampung kamu dimana?" tanya salah satu bidadari yang memakai kain berwarna merah.
Kening Wira sontak berkerut, lalu dia memperhatikan aliran sungai. "Aliran sungainya ke arah selatan, berarti kampung aku berada di utara. Kita kesana," ucap Wira sembari melangkah terlebih dahulu. "Nggak mungkin dong kalau aku kepeleset tapi malah pindah alam?"
__ADS_1
Para bidadari tidak ada yang menyahuti karena mereka juga bingung dengan munculnya Wira yang tiba tiba, membuat mereka bertambah sial. Wira dan tujuh bidadari terus melangkah menyusuri sungai dengan mata berkeliling ke sekitar tempat yang mereka lalui. Namun sayang, sepanjang kaki melangkah, mereka tidak melihat satupun perkampungan atau rumah penduduk. Yang mereka lihat hanya pepohonan di sepanjang mata mamandang.
"Astaga! Ini aku pindah alam beneran atau gimana sih?" sungut Wira mengerutu. "Kenapa di sepanjang sungai tidak ada rumah satupun. Perasaan di kampungku tidak begini."
"Beneran pindah alam kali," celetuk bidadari berkain kuning. "Pakaian kamu aja aneh gitu, tidak menunjukan pakaian manusia."
Wira tercengang, lalu dia memperhatikan keadaan dirinya. "Sembarangan kalau ngomong," sungutnya. "Ini tuh pakaian kebanggankku saat mau mancing, tahu."
Para wanita hanya saling mencebik, tidak ada niat untuk membalas ucapan Wira kembali. Mata mereka kembali menyusuri sekitar sungai, mencari perkampungan. Sampai beberapa saat kemudian, salah satu dari mereka melihat sesuatu dan betapa terkejutnya dia sampai langkah kakinya terhenti.
"Berhenti, berhenti, berhenti!" seru bidadari berkain hijau. Tentu saja semua orang yang mendengarnya langsung menoleh ke arah bidadari itu.
"Ada apa?" tanya bidadari lainnya.
"Tidak ada apa apa," sahut bidadari berkain nila dengan mata yang terus mengedar ke arah depan. Sepanjang mata memandang, mereka hanya melihat aliran sungai dan rimbunan pepohonan.
"Itu, dekat batu yang agak besar, perhatikan baik baik," semua kembali menatap ke arah yang ditunjuk bibidari berkain hijau. begitu semua mata menatap ke satu arah dan memperhatikan baik baik, mata mereka langsung membelalak.
"Astaga, itu Singa!" seru Wira lantang. "Bagaimana ini?" Wira langsung panik.
"Diam, jangan ada yang bersuara, kita mundur pelan pelan, sepertinya Singanya sedang tidur," ucap bidadari berkain ungu, yang langsung di setujui, oleh bidadari lainnya dan juga Wira.
Dengan langkah yang begitu pelan, mereka mundur dan matanya terus menatap ke arah singa. Perassan mereka tentu saja sudah tidak karuan saat ini. Namun disaat mereka sedang fokus mundur dengan penuh hati hati, tiba tiba ada batang pohon yang jatuh tepat di dekat keberadaan sang Singa.
Bukh!
__ADS_1
Suaranya begitu keras sampai singa itu terbangun. Wira dan ketujuh bidadari langsung menahan nafas dengan mata tak berkedip. Begitu melihat Singa itu bangkit, mereka semakin dibuat panik saat mata sang singa menatap ke arah mereka.
"Gawat! Dia melihat kita, bagaimana ini?" ucap bidadari berkain jingga.
"Aku tidak tahu," sahut bidadari berkain biru tak kalah paniknya.
"Waduh, gimana ini, sepertinya dia tahu keberadaan kita," ucapan bidadari berkain kuning membuat kepanikan mereka semakin bertambah. "Kang, cari jalan keluar dong. Jangan diam aja."
"Kang keng kang keng, namaku bukan kang," sungut Wira. "jalan keluarnya, paling, ya, kita harus kabur."
"Apa kita bisa kabur? Singa kan larinya sangat cepat? Kalau salah satu dari kita tertangkap gimana?" sahut bidadari berkain ungu.
"Ya terus kita harus bagaimana? Pasrah aja gitu?" balas Wira lagi.
"Udah jangan berdebat, Singanya bergerak itu, astaga!" bidadari berkain kuning bersuara, dan itu membuat semuanya menjadi semakin panik.
"Mending kalian diam. Kali aja dengan diam, Singa itu tidak menyadari keberadaan kita," ucap bidadari berkain nila. Semua dengan sangat terpaksa setuju usulan tersebut. Untuk laripun tidak mungkin karena jarak mereka dengan Singa hanya beberapa meter saja.
Diluar dugaan, Singa itu bergerak dan malah mendekat ke arah mereka. Secara otomatis Wira dan tujuh bidadari semakin panik. Dengan segala rasa takut yang mereka miliki, mereka berusaha tetap diam dengan nafas yang mereka tahan juga. Di saat suasana begitu tegang dan jarak Singa semakin dekat dengan tempat Wira berdiri, tiba tiba ada sesuatu yang melompat dar semak semak di sisi kanan Wira.
"Akhh!" Wira langsung berteriak karena sangat terkejut, dan teriakan Wira langsung mengundang reaksi makhluk buas yang jarak keberadaanya hanya empat meter dari tempat Wira berdiri. Sang Singa langsung mengaum dan dia mengambil ancang ancang, lalu melompat ke arah Wira, untuk menerkam pemuda itu.
Namun tiba tiba, "Dezig!"
...@@@@@@...
__ADS_1