
Kini, malam telah menjelang. Setelah selesai makan, Wira memilih duduk di bangku yang terbuat dari bambu, yang ada di bawah pohon halaman rumah. Meski ada sedikit takut karena suasana sekitar sangat gelap, tapi Wira memberanikan diri duduk di sana karena teringat dengan keadaan Singa. Namun saat Wira memutuskan keluar rumah, tidak ada sosok Singa di sekitar pohon itu.
Wira sebenarnya cukup terkejut dan kagum dengan semua yang dilakukan para bidadari. Mereka sungguh bisa memanfaatkan keadaan sekitar dengan sangat baik. Ketujuh bidadari itu terlihat begitu cerdas dan mereka memang mengunakan ilmu pengetahuan yang mereka miliki di dalam menjalani hidup mereka saat ini.
Seperti yang terlihat saat ini. Entah menggunakan cairan apa sebagai bahan bakar, para bidadari bisa memannfaatkan beberapa batang bambu yang tadinya bekas alat penerang rumah tersebut. Karena obor juga, Wira tidak terlalu takut duduk sendirian di depan rumah.
"Mak, apa kamu sekarang sedang mencariku?" gumam Wira dengan mata menerawang langit malam penuh bintang. Sosok pemuda itu tiba tiba diliputi rasa sedih, karena Wira sudah yakin, kalau dia sudah berada di alam yang berbeda, dan banyak kejadian yang membuatnya rindu akan suasana rumah dan kampungnya. Jika dulu Wira sering menggereutu dan bergumam lebih baik tinggal sendiri, hanya karena sering dimarahi orang tuanya. Tapi malam ini Wira jutsru merasa menyesal saat keinginan yang spontan itu malah terkabul.
Di saat Wira sedang tenggelam dalam pikirannya sendiri, telinganya dikejutkan dengan suara berisik dari arah pepohonan dan semak semak, yang ada di samping kirinya. Wira menoleh dan matanya sedkit menukik tajam saat melihat beberapa pohon yang bergerak. "Sepertinya ada yang datang," gumam Wira dan dia langsung bersermbunyi di balik pohon di dekatnya.
Untuk beberapa waktu, tubuh Wira menegang. Matanya terus mengawasi semak yang bergerak kian maju ke arah keberadaannya. Wira sudah bersiap diri untuk menyerang jika makhluk yang menyebabkan semak itu bergerak, muncul. Tak lama kemudian, sosok itu muncul. Wira yang sudah siap untuk menyerang, mendadak menghentikan gerakan tubuhnya saat mengetahui sosok yang datang ke tempat itu.
"Singa! Ngagetin aja," sungut Wira sambil keluar dari persembunyian. "Kamu habis darimana? Nyari mangsa?" tanyanya sambil kembali duduk diatas bangku. Singa sendiri kini meringkuk di atas tanah dekat dengan Wira. "Kamu kenapa kembali lagi? Apa kamu ingin menjagaku?"
Singa itu hanya bisa menjawab dengan auman. Entah kenapa Singa itu kembali lagi ke tempat itu. Lagi lagi banyak pertanyaan yang timbul dalam hati Wira. Tapi, walaupun Singa tidak menjawab pertanyaannya, Wira yakin dengn kesimpulannya sendiri, kalau Singa itu pasti ingin dekat dengannya setelah tadi Wira mengalahkannya.
"Teman teman aku pasti bakalan gempar kalau aku bisa akrab dengan Singa segede ini," gumam Wira.
__ADS_1
Sementara itu, di tempat lain. Tepatnya di salah satu kamar yang ada di rumah itu, para biadadari sedang duduk bersama, menghabiskan waktu sembari ngobrol satu sama lain.
"Kalian tadi memperhatikan tidak? Gambar gambar yang ada ditubuh Kang Wira?" tanya salah satu bidadari yang dipanggil Dewi Nila oleh Wira.
"Iya, aku memperhatikannya, kenapa?" balas Dewi Hijau mewakili Bidadari yang lainnya.
"Kalian merasa aneh tidak, dengan gambar di tubuh Kang Wira? Gambar gambar itu seperti sebuah simbol khusus bukan sih?" tanya Dewi Nila lagi.
"Iya juga," sahut Dewi Jingga. "Entah kenapa, gambar gambar pada tubuh Akang Wira seperti memiliki kekuatan yang sangat besar. Kalian pasti masih ingat kan? Saat Kang Wira bertarung melawan Singa. Aku yakin gambar gambar itu ada hubungannya dengan kehebatan yang dimiliki Kang Wira."
"Aku juga mikirnya sama," Dewi Ungu ikut bersuara. "Aku malah berpikir apa dia juga sebenarnya titisan seorang dewa. Karena menurutku, tidak mungkin seorang manusia biasa memilki tanda tubuh seindah itu. Kalian tadi lihat kan? Gambar sayap yang ada di dada Kang Wira? Bukankah sayap itu seperti sayap malaikat?"
"Wahh, benar juga ya?" sahut dewi biru. "Kalau langsung turun ke atas tanah, pasti akan banyak orang yang melihatnya dan hal itu bisa menimbulkan kekacauan. Tapi kalau lewat air, pasti lain ceritanya. Mungkin Kang Wira juga lagi kurang beruntung, jadi ssat dihukum turun ke bumi, waktunya sama ddengan datangnya kita ke sungai."
Keenam bidadari lainya kembali terdiam setelah mendengar perkataan Dewi biru. Apa yang dikatakan Dewi biru, menurut mereka sangat masuk akal. "Kalau dia memang seorang dewa yang sedang dihukum menjadi manusia, berarti kita termasuk beruntung ya? Kita tidak perlu terlalu takut selama kita mencari bulu Angsa emas," ucap Dewi merah.
"Iya juga sih, tapi, kalau suatu saat hukuman Kang Wira telah habis dan kita belum juga menemukan bulu Angsa emas, bagaimana? Kita tidak mungkin, menahannya jika dia akan kembali ke langit setelah hukuman dia selesai?" ucap dewi ungu.
__ADS_1
"Waduh, iya juga ya? Bagaimana ini? Apa yang harus kita lakukan?" tanya dewi Nila, yang saat itu juga, wajahnya menunjukan rasa khawatir. Bukan hanya dia, bidadari yang lainnya juga jadi ikut khawatir jika apa yang dikatakan Dewi Ungu benar benar menjadi kenyataan. Kemungkinan mereka akan selamanya menjalani hidup sebagai manusia.
"Gini aja, selagi ada kesempatan, kita selidiki saja dulu apa yang terjadi pada Kang Wira," usul dewi Hijau. "Tapi, saat kita menyelidikinya, sebisa mungkin, jangan sampai sikap kita membuat Kang Wira curiga."
"Nah, ide bagus tuh," seru Dewi merah. "Kalau perlu, kita buat Kang Wira jatuh cinta pada kita. Kalian pasti tahu sendiri kan? Kalau sudah ada cinta, seseorang pasti akan merasa tidak sanggup untuk berpisah."
"Nahh, benar juga," seru Dewi kuning. "Bagaimana kalau mulai malam ini kita selalu mendekati Kang Wira? Kita harus melakukan apapun agar Kang Wira jatuh cinta sama kita."
"Setuju!" Jawab para bidadari kompak.
Sementara itu di tempat lain.
"Sekarang fokus kita adalah mencari keberadaan pemilik bulu Angsa emas ini. Aku harus menjadi orang yang pertama menangkapnya," ucap seorang pria berwajah seram.
"Kita mencarinya kemana, Ketua? Kita sama sekali tidak tahu seperti apa wajah bidadari itu?" tanya salah satu anak buah yang menemukan bulu emas tersebut.
Sang ketua menyeringai. "Cari dia di sepanjang aliran sungai. Aku yakin bidadari itu menyusuri aliran sungai untuk mencari bulu yang terbawa arus sungai. Aku tahu seperti apa bidadari itu."
__ADS_1
...@@@@@...