
"Itu bulu Angsa Emas!" seru Dewi Nila saat matanya menatap ke arah salah satu lapak. Empat orang lainnya, yang sedang melangkahkan kaki bersamanya dengan tatapan mata ke berbagai arah, seketika langsung mengalihkan pandangan mata mereka ke satu arah yaitu tempat yang ditunjuk oleh Dewi Nila.
"Ah iya, benar!" Seru Dewi Biru yang tidak kalah terkejutnya saat matanya menangkap benda yang mereka cari ada diantara beberapa benda jualan. "Ayo kita ke sena, sepertinya bulu itu sedang dijual," ajak Dewi Biru, dan semuanya nampak setuju. Bahkan wanita tua yang bersama mereka, juga ikut saja meski dalam benaknya tumbuh beberapa pertanyaaan.
"Selamat datang, Nona nona manis," sapa seorang pria dengaan ramah saat para bidadari sudah berdiri di depan lapak jualannya. "Apa anda mau membeli sesuatu? Silakan dipilih." Dewi Nila langsung mengambil benda yang tadi dia lihat dan seketika benda tersebut mengeluarkan cahaya. Melihat tingkah Dewi Nila dan dua Dewi lainnya, kening penjual itu nampak berkerut dengan tatapan penuh tanya kepada tiga wanita di lapaknya.
"Bulu ini harganya berapa, Kang?" tanya Dewi Nila.
"Maaf, Nona cantik, bulu itu tidak dijual," jawab si pedagang. Jawaban dari pedangan sontak membuat para bidadari, Nenek dan juga Wira langsung menunjukan wajah terkejutnya.
"Kenapa tidak dijual?" tanya Dewi Biru. "Bukankah tadi bulu ini anda tawarkan?"
"Loh, saya kan menawarkan barang dagangan yang ini," si pedagang menjawabnya sambil menunjuk dagangannya yang berupa gerabah dari tanah liat. "Kalau bulu itu, memang sengaja saya letakkan di sini, hanya untuk pajangan, bukan untuk dijual."
"Mana bisa begitu?" sungut Dewi Hijau.
"Loh, ya bisa dong," pedagang tidak mau kalah. "Itu kan memang benda pribadi saya. Lagian bulu itu juga tidak sengaja saya bawa ke pasar. Sudah sini kembalikan bulu saya."
"Tidak bisa!" seru Dewi Nila sembari langsung menyembunyikan bulu angsa itu di belakang punggungnya. "Pokoknya saya mau beli bulu ini. Katakan saja, berapa harganya?"
__ADS_1
Kening pedagang sontak berkerut dan dia semakin merasa heran dengan sikap wanita di depan lapaknyaa. "Kenapa anda memaksa? Orang bulu itu tidak dijual. Tolong, kembalikan sama saya."
Dewi Nila semakin ngotot tidak mau kalah. Begitu juga dengan dua bidadari lainnya. Wira yang melihat akan ada keributan di depannya, langsung saja mengambil sikap. "Sudah, kalian jangan kekanak kanakan," ucapnya kepada tiga bidadari, lalu Wira mengalihkan padangannya ke arah pedagang. "Emang anda menemukan bulu itu dimana? kebetulan mereka juga baru kehilangan bulu yang sama seperti itu."
Si pedagang tidak langsung menjawab. Dia malah menatap lima orang di depan matanya satu persatu, dengan tatapan menyelidik. "Saya menemukanya di sungai. Lagian, kalau saya jual juga, tidak mungkin saya jual bulu itu ke kalian. Emangnya saya tidak tahu, keistimewaan bulu itu."
Wira dan tiga bidadari kembali terlihat terkejut begitu mendengar ucapan si pedagang. "Emang apa yang anda tahu tentang bulu ini?" tanya Dewi hijau.
"Ya tentu aku tahulah, semua orang di sini juga banyak yang tahu," jawab si pedagang tampak sedikit angkuh dan juga rasa kesal yang masih mendekapnya. "Konon katanya, bulu itu, adalah bulunya bidadari. Jika bulu itu dipegang bidadari, bulu itu akan menyala. Makanya, aku tidak mau menjualnya. Benda langka itu. Sini kembalikan."
"Kenapa anda yakin kalau bulu ini milik bidadari?" tanya Dewi Nila dengan suara yang tidak kalah kesal. "Ini kan hanya bulu biasa yang kebetulan warnanya seperti emas."
"Maksudnya?" tanya Wira. Wajahnya masih menunjukan rasa terkejut dengan ucapan pedagang barusan. "Memang ada yang membutuhkan bulu angsa itu?"
"Tentu ada," si pedagang menjawab dengan antusias. "Sebenarnya bukan membutuhkan sih, tapi menginginkan bulu ini. Dan kalian tahu siapa orangnya? Dia adalah Yang Mulia raja."
"Apa!" pekik tiga Dewi hampir bersamaan. "Mana mungkin Raja menginginkan bulu seperti ini?" tanya Dewi Nila tidak percaya.
"Benar! Mana mungkin seorang raja menginginkan bulu seperti ini? Sepertinya itu sangat tidak mungkin," Dewi Biru juga ikut meragukannya.
__ADS_1
"Loh, memang kenyataannya seperti itu," si pedagang tentu tidak mau mengalah. "Bahkan sebelum aku menemukan bulu itu, dari pihak kerajaan sudah memberi pengumuman, barang siapa yang menemukan bulu angsa berwarna emas, maka wajib menjualnya ke pihak kerajaan. Kebetulan aku juga menemukannya jadi aku tunggu aja orang dari kerajaan itu datang."
Mendengar penjelasan dari pedagang, sontak Wira dan yang lainnya menjadi penasaran. "Darimana Yang mulai raja bisa tahu, kalau di daerah kekuasannya ada bulu angsa emas? Sampai Yang mulia mengumumkan seperti itu?"
Si pedagang sontak menyeringai, bahkan terlihat menatap Wira dengan tatapan meremehkan. "Tentu saja Raja tahu, karena Raja kita sangat sakti. Jika Yang mulia berhasil mendapatkan bidadari dan menikahinya, maka Yang mulia akan menjadi penguasa langit dan bumi. Hal itu bisa membuat kami sebagai rakyatnya, bisa hidup semakin makmur."
"Hah!" lagi lagi tiga bidadari memekik hampir bersamaan. "Bagaimana mungkin manusia menikah dengan Bidadari? Tidak akan pernah terjadi itu. Memang manusia ingin merasakan murkanya kehidupan langit?" sahut Dewi Hijau lantang.
"Mana mungkin?" Si pedagang masih terlihat meremehkan. "Kalian itu kaum wanita, mana bisa mengerti. Udah, lebih baik, cepat kembalikan bulu itu, selagi aku masih bisa bersabar."
Ketiga Dewi saling pandang satu sama lain. Mereka juga hampir serentak menatap ke arah Wira dan Nenek yang sedari tadi memilih diam karena Nenek juga bingung melihat perdebatan di hadapannya, sehingga Nenek lebih memilih diam dengan segala pertanyaan yang menyerang benaknya.
Di saat itu juga, tiba tiba, mereka dikejutkan dengan kedatangan segerombolan pria berwajah garang yang menunggang kuda, dengan tatapan seakan ingin menerkam siapapun yang mereka lihat. Kedatangan segerombolan orang itu sontak saja membuat heran semua orang yang ada di pasar. Begitu juga dengan Wira dan tiga bidadari serta seorang wanita tua. Tiga bidadari langsung bergeser dan berdiri di balik punggung Wira karena merasa takut.
"Perhatian semua yang ada di sini!" teriak salah pria dari gerombolan tersebut. "Jika ada yang menemukan Bulu Angsa emas, kalian harus menyeerahkan kepada kami, mengerti! Jika ada yang sengaja menyimpannya, maka jangan salahkan kami jika nyawa kalian akan melayang, paham!"
Wira dan tiga bidadari sontak membulatkan matanya begitu mendengar apa yang diteriakan pria itu. Para bidadari saling lirik satu sama lain, sedangkan Wira menatap heran kepada semua orang yang ada di sana, terutama pedagang yang tadi berdebat dengan para bidadari.
"Kenapa mereka pada ketakutan? Siapa orang orang itu?" gumam Wira dalam benaknya.
__ADS_1
...@@@@@@...