
"Dek," panggil Wira dengan suara penuh permohonan. Dia masih berdiri di depan pintu kamar mandi, sembari membujuk dan merengek agar wanita yang berada di dalam kamar mandi mau mengabulkan keinginanan. Selagi rumah sedang sepi, Wira merasa tidak salah memanfaatkan keadaan untuk sekedar menyentuh tubuh bidadari tersebut. Untuk sementara mungkin Wira akan menyentuhnya pakai tangan terlebih dahulu.
"Dek, mau kan? Masa kamu tega sih, nolak permintaanku yang tidak berat ini?" Wira sungguh seperti anak kecil yang sedang merengek kepada ibunya. Meski bidadari itu sudah memberi penolakan beberapa kali, pria muda itu masih memohon dengan suara yang dibuat memelas, agar bidadari itu goyah dengan pendiriannya.
Bidadari sendiri sebenarnya memang penasaran dengan isi celana pria muda yang merengeknya. Namun jika tubuhnya disentuh oleh manusia dalam keadaan tidak berbusana, hal itu masih membuatnya canggung karena dia sendiri tidak pernah melakukannya. Maka itu dia sedari tadi menolak dengan berbagaai alasan.
"Aduh, Kang, jangan gitu sih? Aku tuh malu tahu. Nanti kalau ada yang lihat bagaimana?" lagi lagi hanya itu yang menjadi alasan bidadari itu untuk menolak permintaan Wira. "Nanti mereka pada marah sama aku."
Wira mendengus kasar. "Ya sudahlah, kalau tidak boleh. Padahal permintaanku tidak terlalu berat. Bilang sama yang lain, nanti malam tidak perlu ada tidur bergilir lagi, biar aku tidur sendiri aja. Kalau masih mengharap tidur bergilir, biar aku tidur di luar kamar," ancam Wira kesal.
Sontak saja apa yang dikatakan Wira membuat bidadari itu terperanjat. "Kang, jangan begitu," seru bidadari, tapi dia tidak lagi mendengar suara. Bahkan matanya melihat kain yang dia minta ditaruh di atas pintu kamar mandi oleh Wira. Setelah itu dia tidak lagi mendengar suara rengekan Wira. "Waduh, Kang Wira marah."
Wira sendiri terpaksa buang air kecil di sisi belakang yang lain. Dia hanya mengambil air dengan gayung yang terbuat dari tempurung kelapa dan membawanya ke semak semak untuk mencuci miliknya yang baru saja mengeluarkan air berwarna agak kuning tersebut. Setelah selesai, pemuda itu kembali masuk ke dalam rumah.
Bidadari yang sudah memakai kain panjang untuk menutupi tubuhnya, langsung keluar kamar mandi. Di saat itu juga dia melihat tubuh Wira yang memasuki rumahnya. "Kang," panggilnya, tapi Wira sama sekali tidak menoleh. Pemuda itu terus melangkah dengan perasaan kesal.
Wira kembali ke kamarnya dan terbaring di atas ranjang kayu. Dia sama sekali tidak menghiraukan panggilan bidadari yang menyuruhnya untuk sarapan dan sebagainya. Wira sudah terlanjur kesal karena menurutnya bidadari itu egois. Padahal Wira cuma ingin memegang dengan ijin tanpa harus sembunyi-sembunyi seperti dua malam sebelumnya.
Di saat Wira sedang sibuk merajuk, matanya menangkap sosok bidadari yang tadi mandi, masuk ke dalam kamarnya. Wira pun langsung menghindari tatapan mata sang bidadari, Dengan wajah cemberut, dia langsung memiringkan tubuhnya. Namun tak lama setelahnya mata Wira agak melebar kala melihat apa yang dilakukan bidadari tersebut, saat berdiri di hadapannya.
__ADS_1
Bidadari itu melepaskan kain yang menutup tubuhnya. Dengan sangat jelas, sekarang rerimbunan itu berada tepat di depan mata pemuda yang sedang merajuk. Antara pengin marah dan rasa senang, Wira tidak tahu apa yang akan dia lakukannya saat ini. Dia terpaku dengan mata yang hampir tidak bekedip, menatap rerimbunan di bawah perut bidadari yang semakin mendekat.
"Jadi nyentuh tubuhku tidak, Kang?" tanya bidadari dengan lembut. Wanita itu duduk di tepi ranjang sambil memamerkan gundukan yang rimbun. "Kalau mau sentuh ya silahkan. Selagi rumah masih sepi?"
"Tadi kamu nolak? Kenapa sekarang kamu jadi mau? Apa kamu terpaksa melakukannya?" Wira berkata dengan suara yang terdengar masih merajuk. Padahal hatinya sudah bersorak sembari melirik rimbunan hitam di depan matanya.
"Terpaksa atau tidak, yang penting kan Kang Wira senang. Lagian aku juga tidak boleh egois, Kang Wira kan sudah dua kali menyelamatkan nyawaku, lalu nggak salah kan kalau aku membuat Kang wira senang," balas bidadari dengan lembut.
Namun karena gengsi, Wira tidak langsung menyentuhnya. Padahal mangsa sudah menyerahkan diri, tapi karena terlanjur kesal, Wira berusaha menahan rasa ingin menyentuhnya. Diluar dugaan, bidadari itu malah meraih tangan Wira dan langsung menempelkan telapak tangan Wira pada rerimbunannya.
"Kang Wira pengin pegang ini kan? Ya udah pegang saja," ucap sang bidadari lembut. Wira ingin tersenyum, tapi dia menahannya karena terlanjur gengsi. Meski begitu, Wira sungguh takjub saat kulit tangannya merasakan gundukan daging terbelah yang penuh dengan rerimbunan.
Di lain tempat, Sang raja saat ini sedang menunjukan reaksi terkejutnya begtu mendengar kabar yang dibawa oleh panglimanya. Dengan kening yang agak berkerut, Raja yang terkenal dengan pangilan Raja Daha tersebut, menatap lekat kepada Panglima itu.
"Kamu yakin? Darimana mereka tahu tentang bulu Angsa emas ini?" tanya sang Raja dengan menunjukan bulu yang dia pegang.
"Kalau menurut saya, mungkin kelompok tengkorak iblis juga memiliki bulu Angsa emas, Yang mulia. Jika mereka sudah menyebarkan kepada warga, bisa saja bulu Angsa emas itu jumlahnya lebih dari satu," terang Panglima tanpa rasa takut seperti saat sebelumnya ketika dia menghadap tadi.
"Benar juga," seru sang Raja, "ini tidak bisa dibiarkan, Panglima. Kita juga harus gerak cepat untuk mengamankan para bidadari jika memang jumlahnya lebih dari satu. Kamu tahu kan, iblis itu pemuja setan. Bisa saja dia akan memanfaatkan para bidadari untuk kepentingan sesatnya."
__ADS_1
"Benar, Yang mulia. Aku juga sudah mendapat informasi akan hal itu," balas Panglima, "Aku dengar, ketua tengkorak iblis akan menggunakan darah perawan bidadari untuk mempertebal ilmunya dan juga menajadikan dia manusia abadi dan awet muda serta membuat tubuhnya tidak bisa terluka oleh senjata tajam. Itu akan sangat berbahaya jika keinginan ketua tengkorak iblis terwujud, Yang mulia."
"Astaga!" Raja Daha sangat terkejut mendengar informasi tersebut. "Ya sudah, sekarang suruh semua kepala kampung, untuk mengumumkan kepada warganya yang menemukan bulu angsa emas, agar lebih hati hati, dan juga suruh mereka untuk mencari wanita atau penduduk asing yang wajahnya cantik seperti bukan manusia. Tangkap, jika ada wanita seperti itu, paham!"
"Paham, Yang mulia."
"Ya sudah, kalau begitu, laksanakan sekarang juga!"
"Baik, Yang mulia. Saya permisi."
Masih di hari yang sama tapi di tempat lain juga.
"Ketua, ada seseorang yang ingin bertemu dengan anda," lapot seseoang kepada pria yang juga sedang memperhatikan bulu Angsa emas di tangannnya.
"Siapa?" tanya pria itu tatapan yang cukup dingin.
"Katanya dia anak buah dari Juragan Suloyo, ketua."
"Juragan Suloyo?" tanya sang ketua dengan kening yang berkerut.
__ADS_1
...@@@@@...