DALAM PELUKAN TUJUH BIDADARI

DALAM PELUKAN TUJUH BIDADARI
Tamu Tak Diundang


__ADS_3

Sepertinya kita akan kedatangan tamu," ucapan Nenek sontak mengalihkan perhatian Wira dan tiga bidadari yang ada di luar rumah. Mereka langsung memandang ke arah yang sama, dengan arah mata Nenek memandang. Kening mereka seketika berkerut saat menyaksikan beberapa pria sedang berjalan ke arah rumah mereka.


"Sebaiknya kalian masuk, bawa Nenek juga," titah Wira. Tiga bidadari yang sempat terkejut langsung mengerti dengan ucapan pemuda itu. Mereka segera saja bangkit dari duduknya dan mengajak Nenek untuk segera masuk. Namun karena langkah beberapa pria itu memang sudah cukup dekat dengan halaman rumah mereka, salah satu dari pria itu sampai ada yang berteriak, memberi peringatan agar para bidadari tetap berada di tempatnya.


"Berhenti! Jangan masuk kalian!" dengan suara lantang seorang pria langsung memberi perintah. Wajahnya terlihat menyeramkan, mungkin sengaja agar orang itu terlihat menakutkan.


"Masuk saja, tidak perlu kalian hiraukan," Wira malah menantangnya. Ketiga bidadari pun menurut, dan mereka tetap masuk tanpa mempedulikan para pria yang sudah semakin mendekat dan beberapa dari mereka juga berteriak agar para wanita itu mau menuruti perintah mereka.


"Aku bilang keluar kalian! hei!" teriakan salah satu dari delapan pria yang sudah sampai di halaman, sama sekali tidak dihiraukan para bidari. "Kalian nantangin kita, hah!"


Sementara itu, di dalam rumah, para bidadari beserta Nenek dan Kakek menjadi panik. Mereka berkumpul dalam satu ruangan dan menghawatirkan keadaan Wira yang masih berada diluar sendirian.


"Siapa yang datang, Nek?" tanya Kakek yang sejak tadi sedang memotong kayu bakar di belakang rumah. Tapi karena mendengar teriakan yang cukup kencang, Kakek langsung menghentikan pekerjaanya. "Apa mereka anak buah Juragan Suloyo?"


Si Nenek menggeleng. "Bukan," jawab Nenek. "Tapi dari lambang yang berada di lengan kirinya, sepertinya mereka orang orang yang Nenek temui di pasar."


"Ah iya," salah satu bidadari yang ikut ke pasar berseru karena ucapan Nenek, seketika mengingatkan dia akan sesuatu. "Aku juga ingat, lambang itu sama persis dengan orang yang memberi pengumumanan tentang bulu Angsa emas."


"Owalah, jangan jangan, orang itu dari tengkorak iblis?" bidadari yang lain ikut menanggapi. "Bukankah pedagang yang menemukan bulu Angsa emas, bilang seperti itu."


"Tengkorak iblis?" Sang Kakek bertanya dengan wajah terlihat terkejut.


"Iya, Kek. Kakek tahu kelompok itu?" tanya Bidadari yang juga terkejut melihat reaksi pria tua di depan para bidadari.

__ADS_1


"Astaga!" Si Kakek malah memekik. "Mereka pasti mengincar kalian."


"Mengincar kami? Maksud Kakek?" tanya Dewi Kuning tidak mengerti.


"Mereka pasti tahu, di sini ada banyak wanita cantik. Mereka biasa menculik para gadis yang masih muda. Apa lagi jika gadis itu masih perawan. Biasanya mereka akan menggunakan darah perawan untuk melakukan ritual khusus. Mereka itu sangat berbahaya."


"Astaga! berarti Kang Wira sedang dalam bahaya sekarang," sahut bidadari Merah. "Kita harus bagaimana ini?"


"Kita lihat aja dulu, nanti kalau Kang Wira kenapa kenapa, baru kita ambil tindakan, mengerti?" usul Dewi Nila. Semua bidadari langsung setuju. Sedangkan Nenek dan Kakek hanya menatap mereka dengan tatapan bingung dan penuh tanya.


Sementara itu di halaman rumah tersebut, suasana begitu tegang. Meski Wira nampak tenang dalam menghadapi delapan pria berbadan kekar, tapi di dalam benaknya, dia sebenarnya sedang dalam sikap penuh waspada. Matanya sedikit tajam membalas tatapan tajam yang dilayangkan oleh para pria itu kepadanya.


"Hei kamu! Suruh mereka keluar, cepat!" salah satu dari mereka memberi perintah kepada Wira dengan tangan menunjuk ke arah pemuda itu.


"Cepat suruh mereka keluar, atau kami tidak akan segan melakukan tindakan! cepat!" pria yang sama, kembali memberi perintah. Sepertinya pria tersebut adalah pimpinan dari para pria itu, karena dari tadi dia yang selalu lantang mengeluarkan perintah.


Wira menghela nafasnya cukup panjang. "Kenapa kalian hanya bisa mengancam? Apa dengan mengancam seperti itu, kalian terlihat hebat?" ucapan Wira sungguh sangat meremehkan para pria itu.


"Kau!" geram pria yang tadi.


"Udah, kita serang aja langsung. Biar dia tahu rasa, sudah berani menentang kita!" pria yang lain memberi usulan karena dia juga geram dengan sikap santai Wira yang meremehkan mereka.


"Ya udah. Kalian, kasih dia pelajaran!"

__ADS_1


Dua orang yang berdiri paling depan dan jaraknya paling dekat dengan Wira langsung melangkah dan menyerang pemuda itu. Karena Wira memang sudah mengetahui perkelahian pasti akan terjadi, dengan sigap dia langsung menahan serangan dua orang yang menyerang sekaligus. Pertarungan satu lawan dua pun tidak bisa dihindari.


Enam pria yang menyaksikan pertandingan itu mengulas senyum penuh kesombongan. Dari tatapan mata mereka, seakan mengatakan jangan pernah main main sama mereka semua, jika tidak ingin mendapatkan hal yang burruk. Namun tak lama setelahnya keangkuhan mereka meredup saat menyaksikan dua dari mereka justru mengalami kekalahan.


"Sialan! Bantu dia!" pria yang sama kembali memerintahkan dua rekannya untuk menyerang Wira.


Pemuda itu kembali menerima serangan dari dua pria lainnya secara bersamaan. Awalnya Wira memang menang dan bisa mengatasi semuanya, tapi karena tenaganya sudah cukup terkuras habis, di tambah lagi sebelumnya dia berhubungan badan sebanyak dua kali, Wira nampak kehilangan tenaganya sampai dia tidak dapat menghindari sebuah serangan. Wira lantas tersungkur saat dia lengah dan mendapatkan tendangan dari arah belakang.


"Hajar! Buat dia mampus!" titah pria yang sama dengan wajah kembali berbinar penuh dengan rasa angkuh. keempat pria yang tadi menjadi lawan Wira, dengan senang hati melakukan perintah tersebut. Wira di hajar beberapa kali sampai dia tidak berdaya. Namun di saat mereka sibuk menghajar Wira, semua pria itu dikejutkan dengan suara yang membuat mereka merinding sampai tubuh mereka berhenti bergerak.


"Haumm!"


Delapan pria itu terperanjat seketika begitu mengendar suara mengaum beberapa kali. Suara itu terdengar begitu jelas.


"Leo, kamu datang!" seru Wira dengan sisa tenaga yang masih ada. Tentu saja sikap Wira juga membuat delapan pria itu terkejut dan mereka harmpir serentak menoleh ke arah sumbar suara dimana Wira juga sedang memandang ke arah suara itu dengan tersenyum senang.


"Singa!" delapan pria itu hampir berseru secara bersamaan. Mereka terperanjat, saat mata mereka manangkap sesosok Singa yang sudah siap untuk menerkam.


Dengan gagah Singa itu berjalan mendekat membuat mereka terdiam dengan wajah yang begitu ketakutan. Di tengah tengah mereka, Wira bangkit dengan sisa tenaga yang ada dan menyongsong kedatangan Singa itu. tentu saja, sikap Wira yang tidak takut sama sekali saat berada di dekat Singa langsung membuat mereka takjub.


Wira mengusap lembut kepala Singa, lalu dia menoleh, melemparkan pandangannya ke arah delapan pria. Wie langsung tersenyum sinis. "Leo apa kamu lapar?"


...@@@@...

__ADS_1


__ADS_2