DALAM PELUKAN TUJUH BIDADARI

DALAM PELUKAN TUJUH BIDADARI
Masih Tidak Menyangka


__ADS_3

Wira, pemuda yang hampir menyentuh usia dua puluh satu tahun itu, kini sedang terbaring penuh keringat dengan senyum yang terus terpancar dari bibirnya. Kedua tangannya sedikit membentang dengan telapak tangan dan jari mengusap dua pundak milik dua bidadari yang terbaring di sisi kanan dan kirinya.


Meski permainan ranjang telah selesai dilakukan, Wira masih tidak percaya kalau detik ini dia bisa menghilangkan dua mahkota sekaligus. Sunggguh ini serasa lebih dari mimpi yang menjadi nyata. Jika dulu Wira sering membayangkan bermain dengan dua wanita sambil menonton video. Tapi sekarang, Wira tidak sekedar membayangkannya, malah melakukannya.


Yang membuat Wira semakin takjub adalah, dia tidak terlalu merasakan lelah dalam tubuhnya. Bahkan sepanjang permainan ranjang yang dia lakukan, Wira justru yang paling agresif karena harus membimbing dua wanita, yang memang belum mengerti semua, yang harus dilakukan dalam bercinta. Wira sangat meyakini, apa yang terjadi pada tubuhnya, merupakan efek dari mantra yang dibacakan dua bidadari dengan menggunakan bulu angsa emas.


"Gimsna, kang? Apa tubuh Kang Wira sangat lelah?" setelah tadi sempat hening sejenak, akhirnya sebuah pertanyaan keluar dari mulut Dewi merah, yang sedang mengusap benda berbulu milik pemuda itu.


"Tidak," jawab Wira sedikit lantang. "Tidak terlalu lelah. Apa kalian mau aku masukin lagi?"


Dua bidadari yang sedang meletakkan kepalanya di bahu Wira hanya bisa menggelengkan kepalanya. Bukan karena menolak, tapi lebih menunjukan rasa herannya atas ajakan pemuda itu.


"Ya ampun, Kang, baru juga kita selesai, Kang Wira udah ngajakin lagi," gerutu Dewi hijau. Hal itu sontak membuat Wira langsung terkekeh.


"Heheheh... ya, kali aja kalian mau. Apa lagi tadi kalian terlihat sangat menikmati sekali. Wajar, kan, kalau aku memberi penawaran," balas Wira tidak mau kalah. "Oh iya, fungsi bulu angsa emas itu sebenarnya apa saja sih? Apa hanya untuk terbang dan juga membuat punya laki laki lebih perkasa?"


"Ya banyak, Kang. Dengan bulu angsa emas, kami kembali memiliki kekuatan, yang bisa kita manfaatkan kalau sedang dalam posisi terpojok dan sangat dibutuhkan," balas Dewii hijau.


"Wah! Bagus dong kalau begitu?" puji Wira. "Tapi jika bulu angsa emas itu jatuh ke tangan orang yang salah, bagaimana?"


"Kami tidak perlu khawatir, Kang. Setiap bulu angsa, kan sudah memilki identitas sesusai dengan pemiliknya. Jadi bulu angsa emas tidak bisa digunakan secara sembarangan, Kang."


"Iya, Kang," sahut Dewi merah. "Aku aja yang jelas jelas bidadari, tidak bisa menggunakan bulu angsa emas milik dewi hijau ataupun milik yang lainnya. Apa lagi manusia biasa."

__ADS_1


"Oh... gtu ya?" sahut Wira. "Lalu, apa di dunia bidadari pernah ada yang berniat untuk menjadi penghianat?"


"Setahu aku sih belum pernah ada, Kang. Gimana mau jadi pengkhianat, kalau di dunia bidadari, kita bisa hidup enak tanpa memikirkan apapun. Kalaupun ada seorang pengkhianat, pasti akan cepat ketahuan dan si pengkhianat langsung dihukum tanpa adana persidangan para dewa."


"Wah, keren ya? Jadi pengin tahu kehidupan di langit seperti apa," sahut Wira dengan pikiran yang sudah menerawang.


"Kalau Kang Wira penasaran, Kang Wira harus mati dulu, lalu, nanti Kang Wira di proses para dewa. Jika beruntung, Kang Wira langsung masuk ke surga."


"Yah, kok gitu?" Wira berubah menjadi lemas mendengar jawaban seperti itu.


"Ya, kan memang itu prosesnya, Kang."


"kirain, kalian bisa ngajak aku terbang menggunakan bulu Angsa emas?"


Wira langsung mendengus. Sebenarnya dia ingin kembali melempar pertanyaan, tapi dia juga sudah membayangkan jawaban yang diluar dugaan, jadi Wira memilih diam sembari menikmaii tangan dua bidadari yang sedang memainkan batang yang sudah kembali menegang.


"Yang lain kok belum pulang ya? Apa terjadi sesuatu pada mereka?" tanya Dewi merah yang kini sedikit merasakan gelisah dalam benaknya.


"Jangan terlalu berpikiran buruk, mereka pasti aman. Apa lagi ada Leo yang mengawasi dan menjaga mereka. Mungkin sebentar lagi mereka pulang," balas Wira.


"Wah, kalau begitu, kita harus cepatan pakai baju dong. Takutnya nanti saat mereka pulang, kita ketahuan habis berhubungan badan, kan nggak enak," ucap dewi hijau.


"Loh, kok malah pakai baju? Aku kan pengin masukin lubang kalian lagi?" Wira langsung melayangkan protes.

__ADS_1


"Emang tadi masih kurang?" tanya dewi merah dengan kepala mendongak, menatap wajah Wira. Begtu juga dengan Dewi hijau. dia juga melakukan hal yang sama.


"Ya kuranglah," Wira menjawab cepat. "Minimal kita tuh bermain dua kali. Apa lagi tadi benihku masuk ke dalam lubang Dewi hijau. Yang kedua giliran masuk ke dalam lubang kamu."


Dewi merah langsung mendengus, sedangkan Dewi hijau malah tersenyum lebar.


"Ya udah, ayo, cepat kita lakukan," ajak dewi merah.


Wira langsung girang. "Ya udah, kalian berdua, mainan punyaku dengan mulut seperti tadi. Kalian sudah bisa kan?"


Dua bidadari saling pandang satu sama lain. Tidak butuh waktu lama, keduanya menggeser tubuhnya sampai wajah mereka tepat berada di hadapan benda berbulu Wira yang sudah sangat menegang.


"Akhh~ nikmatnya," racau Wira begitu mulut dua bidadari mulai berebut untuk menikmati benda menegang miliknya.


Semenmtara itu di tempat lain.


"Sepertinya kita ada yang mengikuti."


"Benar. Bagaimana ini?"


"Sudah, kalian tenang saja. Kita berjalan agak cepat sembari pura pura tidak tahu apa apa. Ayo!"


Mereka melanjutkan langkah kaki mereka sembari terus berbisik, menyusun rencana jika terjadi sesuatu kepada mereka saat ini.

__ADS_1


__ADS_2