DALAM PELUKAN TUJUH BIDADARI

DALAM PELUKAN TUJUH BIDADARI
Malam Kembali Datang


__ADS_3

"Kek, Den Wira hebat loh, masa Singa aja nurut sama dia," cerita nenek begitu antusias, setelah dia melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana Wira memperlakukan Singa saat tadi mengusir gerombolan dari anak buahnya Suloyo. Meski Nenek merasa ketakutan, tapi wanita tua itu juga takjub dengan keakraban Wira dengan binataang buas yang banyak ditakuti makhluk hidup.


Wira dan ketujuh bidadari hanya saling tersenyum sembari menyaksikan sang Nenek yang sedang bercerita dengan semangat. Dari kejadian itu, kedua orang tua pemilik rumah tersebut berharap, setelah kejadian tadi, hidup mereka akan lebih tenang. Tidak ada orang yang mengusik sepasang manusia renta itu hanya untuk meminta upeti.


"Nenek dan Kakek tenang saja. Sepertinya kita akan tinggal di sini lebih lama kok," ucap Wira tiba-tiba, menyela obrolan Nenek dan Kakek tersebut. Tentu saja semua mata yang ada di sana langsung menatap ke arah Wira yang sedang menikmati teh campur gula batu serta singkong rebus yang disiapkan oleh para bidadari.


"Yang benar, Kang? Kita akan menginap di sini lebih lama lagi?" tanya Dewi Nila memastikan. pertanyaan tersebut juga mewakili semua yang ada di sana, karena mereka juga ingin tahu alasan Wira memutuskan seperti itu.


Wira dengan sangat yakin menganggukan kepalanya. "Iya, kita akan menginap di sini beberapa hari lagi," jawab Wira, "bukankah tadi aku sudah cerita kalau kemungkinan bulu angsa lainnya ada pada Raja dan ketua dari tengkorak iblis. Aku ingin kita menyelidikinya."


Kening para bidadari sontak berkerut dan mereka juga saling pandang satu sama lain. "Tapi, Kang, apa itu tidak bahaya? Nanti kalau terjadi sesuatu yang tidak diinginkan bagaimana?" tanya Dewi Nila dengan wajah yang sedikit merasa khawatir.


"Kalau bahaya ya, harus kita hadapi," jawab Wira dengan santai, "bukankah yang penting kita mengetahui dan memastikn kalau bulu yang kita cari ada pada mereka? Tapi itu semua terserah kalian juga sih. Bukankah yang sangat membutuhkan bulu Angsa emas itu kalian sendiri. Mau cepat atau lambat ditemukannya, tergantung usaha kalian juga, kan?"


Para bidadari dengan seksama menyimak ucapan Wira. Apa yang dikatakan anak muda itu memang benar, jika mereka ingin secepatnya kembali ke langit, mereka harus memanfaatkan segala kemungkinan yang ada. Apa lagi mereka juga berpikir dari mana Raja dan tengkorak iblis itu tahu tentang bulu angsa emas kalau mereka tidak memilikinya. Akhirnya para bidadari setuju dengan usulan dari Wira yang akan menginap di rumah itu lebih lama.

__ADS_1


Hingga tanpa terasa kini malam kembali hadir. Karena tidak banyak aktifitas yang dilakukan, semua penghuni rumah itu memilih beristirahat lebih awal setelah makan malam. Di salah satu kamar yang ada di rumah tersebut, Wira sedang terbaring sambil menatap ponsel yang terbawa olehnya. Ponselnya sama sekali tidak bisa digunakan karena tidak ada sinyal dan juga dayanya telah habis.


Di saat Wira sedang asyik melamun sembari menatap ponsel, dia dikejutkan dengan masuknya salah satu bidadari di kamar yang Wira tempati. Wira semakin heran dan tertegun saat bidadari itu duduk di tepi ranjang dan melepas kain warna yang menutupi dadanya dan dia bersiap untuk berbaring. "Loh, kamu tidur di sini?" tanya Wira dengan wajah yang nampak heran, "Dewi Kuning mana?"


Bidadari yang dipanggil Dewi Merah lantas tersenyum dan memiringkan tubuhnya menghadap Wira. "Mulai malam ini, kita itu tidur bergiliran. Sekarang giliran aku yang tidur dengan Kang Wira," jawabnya.


Wira jelas semakin tercengang. Meski begitu dalam hatinya, pemuda itu bersorak karena, kapan lagi dia memiliki kesempatan untuk tidur dengan wanita cantik yang berbeda beda. Wira pun akhirnya tidak melayangkan pertanyaan tentang alasan para bidadari bergiliran seperti itu. Menurut Wira mungkin itu dikarenakan mereka sudah terlanjur mengakui kalau ketujuh bidadari itu adalah istri Wira.


"Kang Wira tidak tidur?" tanya Dewi merah dengan mata menatap pemuda yang saat ini sedang menghadap langit langit kamar.


Dewi merah yang sedang memperhatikan Wira dengan lekat, tertegun mendengar pertanyaan tersebut. Dia lantas tersenyum dengan mata terus menatap pemuda yang sedang memamerkan bulu ketiaknya karena tangan Wira sedang dijadikan bantal oleh Wira sendiri. "Ya kan kita dihukumnnya sama sama. Masa aku dan Jingga pulang duluan? Itu namanya tidak setia kawan. Kita itu pergi ke dunia ini sama sama, jadi pulangnya harus sama sama juga."


Mendengar jawaban dari Dewi Merah, Wira jadi tersenyum. "Kalian benar benar sangat kompak," pujinya, "selain bisa membuat kalian terbang, fungsi dari bulu angsa emas itu apa lagi? Apa hanya itu kegunaannya?" Wira bertanya sambil menoleh.


"Ya banyak," jawab Dewi Merah, "Nanti Kang Wira juga bakalan tahu sendiri," sambungnya dengan senyuman yang penuh arti.

__ADS_1


Kening Wira sontak berkerut. Tapi tak lama setelahnya dia juga ikut tersenyum. "Baiklah, aku tidak akan cari tahu lagi. Lebih baik sekarang kita tidur. Udah malam. Besok kita cari informasi lagi," ajaknya.


Dewi merah mengiyakan. Meski dia sebenarnya belum ingin tidur, Dewi merah terpaksa harus mengiyakan agar Wira juga cepat teridur. Alasan lain yang membuat para bidadari tidur bergilir, tentu saja karena mereka penasaran dengan ketampanan Wira yang sedang tidur dan juga isi celana Wira. Maka itu, Dewi merah langsung mengiyakan saja saat diajak tidur dan berharap Wira lebih dulu terlelap.


Sedangkan Wira sendiri juga sebenarnya punya misi khusus, dibalik ajakannya untuk tidur lebih awal. Pemuda itu ingin mengulang perbuatannya yang sama seperti semalam kepada Dewi kuning. Melihat benda kembar yang ada di dada Dewi Merah, membuat Wira tidak sabar untuk mengusapnya secara diam diam seperti semalam.


Wira terlebih dahulu, berpura pura memejamkan matanya sambil mengawasi Dewi gerak gerik Dewi merah. Wira harus bertahan dalam sandiwaranya yang langsung terlelap agar bidadari di sebelahnya juga lekas tertidur. Namun, tak lama setelah Wira memejamkan matanya, Wira dibuat tertegun dengan apa yang terjadi kepadanya saat ini. Karena matanya hanya pura pura terpejam, Wira jelas melihat, apa yang dilakukan Dewi merah.


"Ternyata benar, Kang Wira sangat tampan kalau sudah terlelap," gumam Dewi merah. Meski lirih, tapi Wira masih mampu mendengar gumaman bidadari itu karena wajah Dewi Merah tepat di hadapan wajah Wira. Ingin sekali Wira tersenyum mendengar pujian tersebut, tapi pemuda itu menahan senyumnya dengan sekuat tenaga.


Wira semakin takjub saat tangan Dewi merah dengan lembut membelai wajahnya. Wira tidak menyangka akan mendapat perlakuaan seperti ini di dalam hidupnya. Wira pun terus berusaha terdiam agar peristiwa seperti ini tidak cepat menghllang. Rasa takjub Wira semakin bertambah saat dengan lembut, Dewi merah juga mengusap dadanya dan memuji semua tato yang membuat Wira semakin terlihat gagah dimata para bidadari.


Namun saat Wira sedang menikmati setiap sentuhan lembut tangan bidadari pada tubuhnya, pemuda itu dibuat terkejut saat mendengar ucapan Dewi merah.


"Loh, kok celana Kang Wira menonjol? Apa mungkin itu karena isinya yang menegang?"

__ADS_1


...@@@@@...


__ADS_2