
Lima bidadari bersama sepasang nenek dan kakek nampak berjalan agak cepat saat dalam perjalanan dari pasar menuju rumah mereka. Karena merasa ada yang mengikuti, mereka harus segera sampai di rumah karena keadaan sangat tidak aman untuk sekarang ini.
Sedangkan di belakang mereka, memang terlihat lima pria yang mengikuti langkah mereka. Awalnya kelima bidadari tidak menaruh rasa curiga apapun hendak keluar dari pasar. Ramainya pasar, membuat mereka masih bisa berpikiran postif. Namun, saat langkah mereka memasuki area yang cukup sepi, baru para bidadari merasakan ada sesuatu yang janggal dengan beberapa pria di belakang mereka.
Semakin langkah kaki para bidadari dipercepat, semakin cepat pula langkah kaki lima pria yang mengikuti mereka. Bahkan saat memasuki daerah yang semakin sepi, kelima pria itu semakin menunjukan raut muka senangnya, karena tempat sepi adalah tempat yang tepat untuk menjalankan aksi mereka.
"Hallo, gadis gadis cantik," sapa salah satu pria dengan suara yang cukup keras. Karena jarak mereka memang tidak terlalu jauh, tentu saja suara pria itu terdengar jelas di telinga kelima bidadari. "Buru buru amat jalannya, mau kemana sih? Akang boleh ikut tidak?"
Para bidadari semakin panik. Mereka tetap saja melangkah, sama sekali tidak menghiraukan celetukan nakal pria di belakang mereka.
"Duh, kok nggak dijawab sih, cantik? Akang ngantar nyampai rumah boleh tidak?" pria itu kembali mengeluarkan jurus godaannya dengan diirngi gelak tawa sampai suara mereka membuat para bidadari bergidik.
"Jangan sombong gadis cantik, kalau sombong, nanti Akang culik dan Akang sekap di dalam kamar loh," celetuk pria lainnya.
Para bidadari tetap tidak peduli. Mereka terus melangkah semakin cepat. Entah kenapa, perjalanan menuju rumah kali ini terasa lebih jauh dari biasanya. Padahal jalan yang mereka lalui sama persis dengan jalan saat tadi pagi mereka berangkat ke pasar.
Sambil tersenyum nakal, kelima pria itu saling pandang. Dengan memberi kode mata satu dengan yang lainnya, kelima pria itu melangkah cepat menyusul para bidadari dan langsung menghadangnya.
Tentu saja para bidadari sangat terkejut termasuk kakek dan nenek, sampai langkah kaki mereka terhenti.
__ADS_1
"Apa yang kalian lakukan, hah! minggir!" sebagai seorang pria, kakek langsung memasang badan. Dia ingin menjadi pelindung para wanita yang bersamanya. Meski dilihat dari postur tubuh dan tenaganya kalah jauh, tapi kakek harus tetap menunjukan kalau dia bukan penakut maupun seorang pengecut.
"Waduuh, tenang dong, Pak tua, kita hanya ingin berkenalan dengan gadis gadis itu. Apa mereka putri anda?" salah satu pria bertanya dengan sikap santai dan tatapan yang cukup liar, memandangi satu persatu, kelima bidadari tersebut. Begitu juga dengan keempat rekannya, yang melakukan hal yang sama juga.
"Mereka tidak sudi berkenalan dengan kalian, mending kalian minggir, cepat!" kakek berusaha mengusir mereka.
"Hahaha... masa sih?" pria yang sama terlihat meragukan ucapan sang kakek dan dia langsung memandangi kembali para wanita yang berdiri menjadi satu di belakang tubuh sang kakek.
"Kalian tidak perlu takut, kami pria baik baik kok. Asal kalian nurut, kami pasti akan memperlakukan kalian dengan sangat baik, benar tidak, kawan kawan?"
"Benar, hahaha..."
"Sesuatu yang buruk? Apa itu?" pria itu malah terlihat sangat meremehkan ucapan sang nenek. Begitu juga dengan para rekannya. Bahkan senyum jahat mereka berkali kali terkembang, bertanda mereka memang sudah berniat jahat sejak melihat para bidadari masih di pasar.
"Kalian tidak perlu tahu. Sebaiknya kalian pergi, daripada kalian nanti menyesal!" Nenek kembali bersuara lantang.
Namun sayang, mereka sama sekali tidak terlihat takut. Kelima pria itu bahkan seperti menantang ucapan sang nenek.
"Menyesal? Hahaha... apa semenakutkn itu? Kalau begitu, cepat tunjukan sesuatu yang membuat kami bisa menyesal, wanita tua. Hahaha..."
__ADS_1
Kelima bidadari dan juga nenek saling pandang satu sama lain. Tentu saja apa yang mereka lakukan terus menjadi perhatian kelima pria yang sudah memandang tubuh mereka dengan jiwa laki laki yang telah bergelora.
"Mana? Katanya akan menunjukkan sesuatu yang membuat kami menyesal? Cepat tunjukan?" desak pria yang sama. Mungkin dia memang pemimpin dari kelima pria itu, sehingga dia yang lebih banyak bersuara. Yang lain hanya bisa menimpali dan juga ikut terbahak jika ada yang lucu menurut mereka.
Para bidadari mengedarkan pandanganya ke segala penjuru arah, seperti mencari sesuatu. Tingkah mereka juga masih menjadi perhatian kelima pria yang ada di sana. Bahkan mereka juga ikut mengedarkan pandangannya, seperti yang dilakukan para bidadari.
"Apa kalian sedang mencari bantuan?" tebak pria berambut panjang dengan badan yang cukup kekar. "Wah, bakalan seru nih. Coba panggil orang yang akan membantu kalian."
Salah satu bidadari langsung berteriak. "Leo! Kamu dimana!"
Teriakan bidadari kuning langsung disusul oleh bidadari lainnnya.
"Leo? siapa itu Leo?"
Bukannya menjawab, para bidadari dan juga kakek serta nenek terus terteriak memanggil Leo. Namun, sayang, setelah beberapa saat memanggil, Leo tidak kunjung muncul membuat para bidadari dilanda khawatir.
"Mana? Sepertinya Leo tidak akan datang," pria tadi terlihat semakin meremehkan.
"Udah, sikat aja. Nggak usah kelamaan. Sudah pengin ini," celetuk salah satu rekan yang sudah tidak tahan ingin sgera menikmati kecantikan wanita di hadapannya.
__ADS_1
Pria berambut panjang langsung menyeringai. "Bagaimana? Mau langsung ikut kita atau kita paksa kalian agar mau mengikuti kita?"