
"Kang, mau makan tidak!" teriak salah satu bidadari memanggil pria yang saat ini sedang termenung di dalam salah satu kamar. "Keluar, kita makan sama sama, kang!" ajaknya.
Pria yang sejak beberpa saat lalu sedang termenung, sontak saja mendengus. Dia merasa kesal, saat dipanggil Kang oleh para bidadari yang bersamanya saat ini. Bagi pemuda bernama Wira, tentu saja panggilan tersebut sangat aneh untuk pria yang terlahir di jaman modern. Meski begitu, karena rasa lapar yang mendera, Wira mau tidak mau keluar dari dalam kamar.
Begitu keluar kamar, Wira kembali dibuat resah. melihat ketujuh wanita yang sedang berkumpul, ada sesuatu yang mulai mengeras dari dalam celana yang dia pakai Wira saat ini. Wira pun berusaha menutupi sesuatu yang sangat menonnol di bawah perutnya, dengan segera duduk di lantai di mana para wanita itu berada, mengitari makanan yang telah tersaji.
"Makanannya cuma ini?" tanya Wira saat melihat beberapa hidangan yang tidak pernah dia makan sebelumnya. Meskipun Wira tinggal di kampung, tapi hidangan yang dia makan sangat berbeda jauh dari yang ada dihadapannya saat ini.
"Iya, yang kami temukan di hutan hanya ini. Kenapa? Kamu nggak suka?" ucap salah satu bidadari. Wira terdiam, seketika matanya menatap hidangan berupa singkong, ubi, kentang dan pisang rebus serta beberapa buah seperti pepaya dan pisang yang sebagian tadi direbus, sebagian lagi tidak. Dalam benak pemuda itu berkecamuk dan disaat itu juga dia teringat akan emaknya.
Ketujuh wanita yang ada di sana hanya saling pandang sembari memperhatikan Wira yang terdiam. Sebenarnya saat tadi melihat Wira keluar kamar, ketujuh wanita itu terkesima, menatap penampilan Wira setelah berganti pakaian. Secara langsung, pakaian yang Wira kenakan, memamerkan tubuh atletisnya yang begitu sempurna. Mereka juga cukup tercengang saat melihat gambar yang ada di tubuh Wira. Gambar gambar yang ada pada beberapa bagian tubuh Wira itu terlihat seperti simbol. Hal itulah yang membuat para wanita bertanya tanya, siapa pemuda itu.
Namun tidak dipungkiri, selain penasaran dengan gambar gambar yang ada pada tubuh Wira, gambar tersebut juga membuat pesona Wira semakin bertambah tampan dan berbeda dari pria yang pernah dilihat para bidadari. Bahkan dimata para bidadari, para dewa yang sangat tampan, pesonanya kalah jauh dengan Wira yang memilkiki tubuh bergambar.
Karena rasa lapar yang sudah sangat mendera perutnya, mau tidak mau Wira menyantap makanan yang ada sembari matanya jelalatan mencuri pandang ke arah pakaian yang dikenakan tujuh bidadari. Yang penjadi pusat perhatian Wira tentu saja bagian paha dan bukit kembar yang seakan memberontak, ingin keluar karena tempatnya sangat kencang dan terlalu kecil.
"Kang, kami boleh tahu tidak, nama asli kamu siapa?" tanya salah satu bidadari yang duduknya ada disebelah kiri Wira.
__ADS_1
"Namaku Wira," jawab Wira dengan mulut yang mengunyah ubi rebus. "Sekarang kalian sudah tahu namaku, jadi jangan panggil aku kang kang lagi."
Kening para bidadari sontak saja saling berkerut. "Kenapa? Bukankah panggilan Kang itu memang sangat umum buat pria dewasa yang ada di bumi. Kang Wira, bukankah itu terdengar sangat bagus?" ucap wanita yang sama.
"Benar itu," sahut bidadari yang lainnya. "Kang Wira, bukankah panggilan itu membuat seorang pria lebih tampan dan nampak berwibawa dan dewasa?"
Wira tercenung untuk beberapa saat. "Ya sudah terserah kalian saja enaknya gimana," ucap Wira yang sebenarnya dalam hati pemuda itu melayang saat mendengar kata tampan, berwibawa dan dewasa. Julukan yang tidak pernah Wira dengar selama menjadi pria yang tumbuh dewasa. Meski ada yang memanggilnya dengan panggilan Mas atau Bang, tapi itu hanya dilakukan oleh saudara, teman atau anak tetangga. Tidak ada wanita yang memanggilnya Mas karena dia spesial.
"Kalian sendiri namanya siapa?" Wira kembali bersuara. Ketujuh wanita itu lantas menyebutkan namanya masing masing. Wira hanya mengangguk beberapa kali. "Nama kalian kenapa susah banget sih? Apa tidak ada nama yang lebih mudah untuk diingat? Mana wajah kalian hampir sama lagi. Bisa bisa aku salah panggil nama nanti."
"Lah terus, kita harus bagaimana?" ucap salah satu bidari. "Kita tidak mungkin merubah nama kita. Kan nama kita sudah ada sejak kita lahir."
"Merubah nama kami? Maksudnya, Kang?" tanya salah satu bidadari mewakili bidadari yang lainnya.
"Ya biar aku lebih mudah memaggil kalian saat kita ngobrol seperti ini," ucap Wira. "Aku akan memanggil kalian dengan nama Dewi dan juga warna kain yang kalian pakai tadi sebelum ganti pakaian, gimana?"
Tujuh bidadari kembali saling pandang sejenak. lalu mereka kembali menatap Wira dengan tatapan menuntut sebuah penjelasan. Wira lantas kembali memberi tahu apa yang diminta ketujuh bidadari.
__ADS_1
"Begini, begini, tadi kan saat kita bertemu pertama kali, kalian memakai tujuh warna yang berbeda. Ada yang hijau, kuning, Nila, jingga, merah, biru, dan ungu. Aku memanggil kalian dengan warna warna itu, misalnya bidadari yang memakai kain ungu, aku memanggilnya Dewi Ungu. Bidadari yang memakai kain Hiaju akau memanggilnya dewi hijau, gimana? Biar aku lebih mudah mengingatnya?"
Ketujuh bidadari kembali saling pandang dan sepertinya mereks sedang berdiskusi melalui tatapan matanya. "Baiklah, terserah Kang Wira saja enaknya bagaimana? Lagian tujuh kain itu memang simbol wajib yang harus kami pakai, untuk membedakan kami saat dilangit bersama bidadari yang lainnya." Akhirnya kesepakatan pun tercipta dan mereka kembali berbincang dengan menikmati hidangan yang ada.
Sementara itu, di tempat lain, tempatnya disebuah istana, Raja dari istana tersebut, sedang memandangi bulu yang baru saja dia dapat, dari panglima kerajaan. "Apa bulu angsa emas ini hanya ada satu, Panglima?"
"Iya, Yang mulia, saya hanya menemukan satu helai bulu Angsa emas saat saya mengambil air di tepi sungai," jawab Panglima.
"Baiklah, berarti di bumi ini, ada satu bidadari yang tidak bisa kembali ke langit karena kelihangan bulu Angsa ini," ucap Raja. "Cari dia, Panglima! Aku Harus mendapatkannya dan berhasil menjadikan dia sebaga istriku."
"Baik, Yang mulia."
Panglima segera pergi. Sedangkan sang Raja menyeringai sambil menatap bulu Angsa emas di tangannya "Dengan menikahi bidadari, berarti impianku sebagai raja langit pasti akan terwujud, hahaha ..." suara tawa Raja langsung menggelagar dan suara tawanya terdengar sangat menakutkan.
Masih di waktu yang sama tapi di tempat yang berbeda, sehelai bulu emas juga sedang dipandangi oleh seorang pria. Sesekali pria itu menyeringai dengan segala pemikiran yang sedang dia rasakan saat ini.
"Apa yang akan ketua lakukan dengan bulu Angsa Emas itu?" tanya seoang pria yang berada satu tempat dengan pria yang dipanggil ketua.
__ADS_1
Pria itu tersenyum sinis dan menatap pria yang tadi melempar pertanyaan. "Tentu saja saya harus mendapatkan pemilik bulu Angsa emas ini, karena kalian tahu bukan jika darah perawan dari pemilik bulu angsa emas, akan membuat saya, bisa menjadi manusia yang paling kuat dan abadi."
...@@@@@@...