
Karena kecewa dengan peraturan baru yang sangat memberatkan, saya memutuskan akan menghentikan cerita ini. Kemungkinan jika kondisinya memungkinkan, cerita saya ini akan saya pindahkan ke aplikasi baca gratis di sebelah.
Kalaupun karya ini tidak bisa saja teruskan di tempat sebelah, kemungkinan saya akan menerbitkan karya baru di sana juga yang alurnya khas dengan semua cerita saya.
Jujur, sebagai penulis saya merasa dilematiis, ingin meneruskan cerita ini, tapi saya tidak mendapat apa-apa, bahkan menang lomba pun tidak. Beruntungnya karya ini belum di kontrak, jadi akan saya pindahkan.
Sekali lagi, saya mohon maaf ya, semoga bulan depan, saya bisa mengeluarkan cerita yang khas dengan cerita saya, di aplilasi baca gratis, tanpa buka kunci. Terima kasih, dan mohon maaf yang sebesar sebesarnya.
Di bawah ini adalah satu satu contoh cerita saya di tempat lain, tapi berbayar
*****
Jedder!
Suara petir menggelar begitu kerasnya, bersama air hujan yang turun dengan derasnya. Cahaya terang berwarna merah berkilat beberapa kali mengiringi suara petir dan juga gemuruh yang turut mewarnai derasnya hujan yang mengguyur bumi di malam ini.
"Mato! To!" teriak seorang pria dengan suara yang tidak mau kalah dengan suara petir yang baru saja menyambar. Pria itu memanggil seorang anak muda yang saat ini sedang bercengkrama di area dapur bersama beberapa orang di sana. Area tersebut merupakan bagian dari area rumah makan dimana tempat pemuda berusia dua puluh tahun itu bekerja.
"To, dipanggil bos tuh," ucap seseorang, begitu dia masuk ke area dapur dan melihat pria muda yang baru saja dipanggil bosnya sedang asyik bercengkrama dengan beberapa rekan kerjanya.
"Dipanggil bos? Mau ngapain? Bukankah tugas aku udah selesai?" anak muda yang akrab dipanggil Mato malah terlihat heran. Dia bangkit dari duduknya sembari melempar pertanyaan pada rekan kerjanya yang baru saja datang.
"Nggak tahu, ada tugas tambahan mungkin," jawab sang rekan. Mau tidak mau, Mato pun beranjak keluar untuk menemui sang bos yang telah menunggu di meja kerjanya.
"Bapak memanggilku?" tanya Mato begitu dia sudah menghadap sang bos.
__ADS_1
"Ini Kano kemana? Disuruh nganter makanan ke rumah saya, malah sampai sekarang tidak kelihatan anaknya," sungut pria berperut buncit dengan wajah yang terlihat sangat kesal.
"Aku nggak tahu, Pak. Perasaan, bukankah tadi Kano sudah balik, sejak ngirim orderan terakhirnya?" Mato menjawab dengan wajah yang terlihat sedikit bingung.
"Ya udah, kamu aja yang ngantar ini ke rumah saya, sekalian kamu istirahat di rumah saja. Kesininya besok sekalian," dengan sangat terpaksa Mato menerima perintah bosnya. Biar bagaimanapun dia tidak enak jika menolak perintah sang atasan. Mato pun mengambil makanan yang sudah dimasukkan ke kantung plastik dan diikat dengan cukup kencang.
Waktu sudah menunjukan pukul sebelas malam, tapi hujan masih mengguyur begitu deras, dengan diiringi suara gemuruh sejak petang tadi. Mato segera mengenakan mantel untuk bersiap pergi ke rumah sang bos, yang bisa memakan waktu sampai lima belas menit dari rumah makan tersebut, jika mengendarai motor dengan kecepatan sedang.
"Mau kemana, To?" tanya salah satu rekan Mato yang kebetulan melihat pemuda itu sedang bersiap siap.
"Mau ke rumah Bos, ngantar barang," jawab Mato sambil menunjukan barang yang terbungkus plastik tebal berwarna hitam.
"Hati hati, Ja, hujan deras," sang rekan memberi nasehat.
Mato hanya menjawab dengan acungan jempol disertai senyuman yang cukup lebar. Tak butuh waktu lama, Mato kini sudah melajukan motornya menuju rumah sang bos. Jalanan sudah terlihat cukup sepi. Hanya ada beberapa kendaraan yang melintas dan semuanya didominasi oleh kendaraan besar.
Setelah menunggu beberapa detik tiba giliran lampu hijau menyala dari arah Mato. Pemuda itu pun langsung menambah kecepatan motornya. Namun baru saja motor yang dikendarai Mato melaju beberapa meter, dari arah berlawanan ada mobil yang tiba tiba hendak menyalip sebuah truk melalui lawan. Karena kaget dan juga silau dengan cahaya mobil yang terpancar sangat terang, Mato langsung saja banting stir ke kiri. Tapi naas, karena kondisi jalan yang licin, Mato kehilangan keseimbangan saat itu juga.
Brak!
Kecelakaan pun tak bisa dihindari. Mato yang awalnya berniat menghindari mobil, dia malah terseret motor yang terpeleset hingga tubuhnya menghantam beberapa drum yang ada di depan sebuah toko. Seketika Mato langsung mengerang dengan suara yang begitu kencang.
Tak jauh dari tempat kejadian tersebut, ada sosok yang mengenakan pakaian serba hitam, tersenyum ke arah pemuda yang sedang meregang jawa. Sosok itu berdiri di seberang jalan dengan senyum penuh kepuasan.
Tak lama waktu berselang, datang dua sosok yang mengenakan pakaian yang sama persis, menghampiri sosok yang sedang tersenyum penuh dengan rasa senang. "Sepertinya kamu menjalankan tugas terakhirmu dengan baik, Jasuke," ucap salah satu dari sosok yang baru saja datang. Pandangan mata mereka tertuju pada satu arah dimana seroang pemuda sedang ditolong oleh beberapa orang.
__ADS_1
"Tentu, ini adalah saat yang aku tunggu," jawab sosok itu dengan seringai jahatnya yang sejak beberapa waktu lalu terkembang di bibirnya.
"Selamat, Jasuke, akhirnya kamu akan menuju ke tingkat yang lebih tinggi, mendahului kami," ucap rekan sosok yang dipanggil Jasuke.
"Hahaha ... terimakasih," balas Jasuke dengan diiringi tawa penuh rasa bangga. "Baiklah, aku harus memastikan dulu kalau manusia itu sudah mati dan kita bisa kembali untuk memberi laporan."
Kedua rekan Jasuke pun setuju. Mereka mendekat kepada pemuda yang sedang dilarikan ke rumah sakit. Anehnya kedatangan tiga sosok itu tidak ada satupun mata manusia yang melihatnya. Hanya sosok Mato yang tiba tiba matanya melotot begitu melihat tiga sosok tersebut. Namun tak lama kemudian mata Mato berubah perlahan menjadi terpejam.
"Selamat, Jasuke, nyawa dia sudah terlepas dari tubuhnya," ucap sang rekan.
Jasuke tersenyum senang sembari menatap arwah Mato yang menatapnya dengan penuh tanda tanya. "Sudah saatnya kamu berada di alam keabadian, pergilah kamu mengikuti cahaya itu," ucap Jasuke kepada sang arwah. Setelah arwah Mato mengangguk lalu pergi mengikuti cahaya terang, Jasuke bersama kedua rekannya segera saja menghilang.
Jasuke kembali ke dunianya, yaitu dunia para dewa. Kedatangan Jasuke disambut meriah oleh dewa dewa lainnya, terutama para dewa kematian. Ya, Jasuke adalah sosok dewa kematian yang baru saja menyelesaikan tugas terakhirnya. Saat ini Jasuke masih berada di tingkat dewa yang terbilang rendah. Setelah tugas terakhirnya ini sukses dia jalankan, Jasuke akan segera naik pangkat menjadi Dewa ditingkat yang lebih tinggi.
Itulah alasan kenapa Jasuke sangat senang saat tugas terakhirnya sukses besar. Dengan kata lain kesuksesannya adalah simbol kalau dia akan naik tingkat sebentar lagi. Maka itu rekan sesama dewa kematian yang tingkatannya sama dengan dia, menyambut kedatangan Jasuke dengan penuh keceriaan karena naik ketingkat yang lebih tinggi adalah impian semua dewa termasuk dewa pencabut nyawa.
"Jasuke, kamu disuruh menghadap Mahadewa, sekarang," ucap salah satu dewa menyampaikan pesan yang dia bawa.
"Benarkah?" tanya Jasuke memastikan pendengarnya. "Kenapa secepat ini, aku disuruh menghadap Mahadewa?"
"Aku tidak tahu. Cepatlah, kamu menemuinya, Mahadewa sudah menunggumu."
Mendengar kepastian dari si pembawa pesan, Jasukeblangsung saja bergegas pergi menuju ke tempat Mahadewa, Pimpinan dewa tertinggi dari para dewa yang ada. Sepanjang kaki melangkah, senyum Jasuke tidak surut sama sekali dari bibirnya. Pikirannya sudah membayangkan kalau dia akan berdiri sejajar bersama para dewa dengan tingkat yang lebih tinggi.
"Permisi Mahadewa, saya Jasuke, saya dengar anda memanggil saya?" ucap Jasuke begitu sampai di tempat tujuan.
__ADS_1
"Masuklah!" terdengar suara tegas nan dingin dari arah dalam ruangan. Dengan segala rasa tenang yang dia kumpulkan, Jasuke pun membuka pintu dan memasuki ruangan tempat Mahadewa berada. Namun saat mata Jasuke melihat keadaan di dalam sana, dia dibuat tercengang. Di dalam ruangan yang luas tersebut, tidak hanya ada Mahadewa yang duduk disinggasananya, tapi sosok dewa lain yang menatapnya dengan tajam.
"Dewa kehidupan? kenapa dia ada disini?" benak Jasuke bertanya tanya.