
"Akhh!" Wira berteriak sangat kencang dengan mata terpejam dan tubuh yang seakan terpaku. Karena secara mendadak, tubuh Wira sama sekali tidak bisa bergerak akibat rasa takut dan panik secara berlebihan yang mendadak menyerang dirinya. Secara kebetulan posisi tubuh Wira yang lebih dekat dengan binatang buas, Wira tidak bisa berkutik saat binatang buas tersebut melompat ke arahnya. Dengan mata terpejam dan tangan terkepal, Wira berharap ada keajaiban saat itu juga.
Dezig!
Wira tercengang. Mata terpejamnya bahkan saat itu juga terbuka dan sedikit membulat serta tak berkedip, kala Wira menyadari telah melakukan sesuatu yang diluar dugaannya. Wira menatap Singa yang terlempar cukup jauh lalu memandang tangan kanannya yang terkepal dengan sidikit gemetar. "Aku ... menghantam Singa?" tanyanya dengan suara terbata dan tatapan tidak percaya.
Bukan hanya Wira yang tidak percaya dengan apa yang baru saja dia lakukan, ketujuh bidadari yang menyaksikan kejadian Wira menghantam rahang Singa sampai binatang buas tersebut terpental, seketika menatap Wira dengan tatapan takjub. "Kang, kamu ..." salah satu bidadari sampai tidak bisa mneruskan ucapannya.
Wira menoleh dan menatap ketujuh wanita yang sedang menatapnya. Namun di saat bersamaan, Singa itu kembali bangkit dan bersiap untuk kembali menyerang dengan segala amarah yang Singa itu rasakan. "Kang, singanya!" teriak bidadari berkain kuning.
Wira langsung menoleh dan menatap Singa dengan tatapan campur aduk. Singa itu bersiap untuk menyerang dan Wira kembali mengepalkan tangannya. "Semoga tadi bukan kebetulan," harap Wira dalam dengan segala permohonan lainnya yang dia kumandangkan dalam hatinya.
Hauummm!
Singa kembali mengaum, lalu dia kembali berrsiap diri untuk menerjang Wira. Tak butuh waktu lama, sang Singa langsung melancarkan aksinya.
"Akhh!" Wira berteriak sangat kencang. Bersamaan dengan itu, Wira kembali dibuat terkejut karena dia melakukan hal yang sama. Tangannya menghantam rahang Singa dengan tenaga penuh, sampai Singa itu kembali terpental. Mata Wira membelalak. Dia kembali menatap tangannya dengan perasaaan yang masih sama seperti tadi. "Sepertinya aku memang memiliki kekuatan tersembunyi," gumamnya.
"Awas, Kang, Singa itu menyerang lagi!" teriak bidadari berkain hijau.
Wira langsung menatap ke arah Singa dan kali ini pemuda itu sangat yakin kalau didalam tubuhnya memiliki kekuatan yang tersembunyi. Wira langsung mengambil ancang ancang layaknya pendekar yang siap untuk bertarung. Sungguh diluar dugaan, Wira ternyata bisa melawan serangan Singa yang tubuhnya lebih besar dan terlihat sangat buas. Dengan gerakan gerakan ala pendekar, Wira melawan setiap serangan yang dilancarkan oleh Singa jantan itu.
Bugh!
__ADS_1
Dakh!
Dezigg!
Sungguh pertarungan yang sangat seru. Wira bahkan terlihat seperti pendekar yang sangat hebat dengan banyak melakukan gerakan yang dinamis dan sangat bagus. Ketujuh Bidadari pun dibuat takjub. Mereka berkumpul menjadi satu, bersembunyi di balik semak semak sembari mengawasi jalannya pertarungan yang terjadi antara Wira dan sang singa.
"Wahhh, Singanya kalah!" seru beberapa bidadari begitu melihat singa terkapar dan tidak bisa berkutik. Singa itu tergeletak di bebatuan dengan darah yang mengalir di beberapa bagian tubuhnya. Singa itu sungguh sangat tidak berdaya. Wira sendiri terpaku dengan rasa yang tidak percaya kepada dirinya sendiri. Nafasnya tersengal menatap Singa yang terkapar di depannya.
"Aku, mengalahkan singa?" tanyanya pada diri sendiri dengan tatapan tidak percaya. Sungguh ini adalah kejutan yang luar biasa bagi Wira. Pemuda dua puluh tahun itu sangat sadar diri, kalau dia itu tidak bisa bela diri sama sekali. Meski dia gemar olahraga tiap sore untuk menjaga kesehatan tubuhnya, tapi untuk bela diri, tidak pernah Wira memimpikan untuk bisa melakukannya.
Beberapa saat setelah Wira berhasil menguasai dirinya sendiri, Mata Wira yang masih menatap Singa, secara mendadak tumbuh rasa iba, melihat Singa jantan yang terkapar di depan matanya. Dengan sedikit rasa takut yang masih dia rasakan, Wira malah mendekati Singa yang terkapar itu.
"Kang! Apa yang kamu lakukan?" teriak salah satu Bidadari saat mereka keluar dari persembunyiannya.
"Sepertinya Singa terluka cukup parah, Kang," ucap bidadari berkain ungu. "Kasihan dia, luka lukanya harus diobati."
Wira menatap iba pada Singa yang tidak berdaya dan memberanikan diri untuk mengusapnya. "Astaga! Sepertinya ada yang tidak beres dalam tubuhku? Kenapa aku jadi berani seperti ini?" gumamnya merasa lucu.
"Apa ada yang tahu cara mengobati luka?" ucap Wira tanpa menoleh ke arah tujuh bidadari karena dia tahu para bidadari sudah berada di dekatnya.
"Kami tahu," ucap salah satu bidadari. "Ayo teman teman, kita cari daun obat untuk luka," ajaknya, dan langsung disetujui oleh bidadari yang lainnya. Wira tersenyum tipis dengan tangan yang terus mengusap Singa.
Beberapa menit kemudian, ketujuh bidadari kembali dengan membawa benerapa daun yang dipercaya bisa mengobati luka. Dengan alat seadanya yang mereka temukan di sekitar sungai, ketujuh bidadari tersebut meracik obat sesuai yang mereka pelajari saat masih berada di langit.
__ADS_1
"Ini, Kang," bidadari berkain nila menyerahkan hasil racikan obatnya. "Yang ini dioleskan kelukanya dan yang ini diminumkan, Kang."
Wira tertegun, lalu dia menngambil racikan obat yang berada pada tempurung kepala. Wira sendiri cukup terkejut sebenarnya, karena para wanita itu benar benar memanfaatkan apa yang mereka temukan di alam sekitar. Dengan perlahan dan sedikit keberanian yang dipaksakan, Wira membimbing Singa untuk membuka mulut. Secara menakjubkan Singa itu menurutinya dan meminum racikan obat itu sampai habis. Setelah itu Wira mengolesi beberapa bagian tubuh singa yang terluka dengan tumbukan dedauanan yang dipercaya sebagai obat.
Setelah semua ritual pengobatan selesai, Wira dan tujuh bidadsri merasa lebih lega. Sang Singa juga seperinya sudah merasa lebih baik meski tubuhnya masih terbaring, dia tidak kelihatan kesakitan seperti beberpa waktu yang lalu.
"Sebentar lagi gelap, kita akan istirahat dimana?" ucap bidadari berkain Kuning. Mendengar hal itu, sontak semua mata langsung menatap langit dan saat itu juga rasa bingung melanda semuanya.
Di saat itu juga mereka dibuat terkejut saat Singa itu tiba tiba bangkit. Awalnya mereka takut, tapi tak lama setelahnya mereka dibuat heran dengan tingkah singa yang mengaum dan menolehkan kepalanya beberapa kali ke satu arah.
"Sepertinya singa itu ingin menunjukan kita sesuatu," ucap bidadari berkain Merah.
"Benar, dia seperti memberi kode agar kita mengikutinya," bidadari berkain hijau ikut menimpali.
"Apa kamu ingin menunjukan sesuatu pada kita?" tanya Wira yang memang jaraknya lebih dekat dengan Singa. Bahkan mereka saling berhadapan. Wira dan yang lain begitu terkejut saat singa itu mengangguk. Wira lalu menatap ketujuh bidadari. "Apa sebaiknya kita ikuti Singa ini?"
"Ikuti aja, Kang," sahut bidadari berkain Jingga setelah dia dan yang lain berpikir sejenak. Keputusan Jingga juga disetuujui oleh bidadari yang lainnya.
"Baiklah," Wira lalu kembali menatap singa. "Ayo kita pergi."
Sang Singa melangkah terlebih dahulu di susul Wira di belakangnya lalu para bidadari.
...@@@@@...
__ADS_1