DALAM PELUKAN TUJUH BIDADARI

DALAM PELUKAN TUJUH BIDADARI
Mulai Mencari


__ADS_3

Malam kini telah semakin larut. Namun entah kenapa Wira masih betah duduk di halaman rumah walaupun keadaan di sana sangat sepi. Bidadari yang tadi menemaninya, mungkin saat ini sudah nyenyak dalam tidurnya karena setelah ngobrol cukup lama dengan Wira, bidadari itu undur diri terlebih dahulu untuk bergabung dengan teman temannya.


Wira sendiri sebenarnya merasa aneh sejak beberapa waktu yang lalu. Entah kenapa malam ini sama sekali tidak terasa dingin. Padahal Wira hanya memakai celana kolor dengan panjang selutut dan baju seperti rompi yang dadanya terbuka karena tidak ada pengaitnya terus juga baju itu tanpa ada lengan. Tapi hal itu sama sekali tidak membuat Wira merasa kedinginan.


Karena merasa sudah cukup lama Wira berada diluar, akhirnya pemuda itu memutuskan untuk masuk dan beristirahat. Wira melangkah pelan memasuki rumah berdinding kayu dan anyaman bambu. Langkah kakinya menuju salah satu kamar yang memang sengaja digunakan sebagai tempat istirahat Wira.


"Kenapa kamarnya tidak dikasih tirai?" gumam Wira saat melihat tiga pintu kamar sama sekali tidak ada kain yang menutupinya. Padahal kamar itu juga tidak berpintu, jadi kamar itu benar benar terbuka tanpa ada sesuatu diambang pintunya.


Awalnya, langkah kaki Wira hendak langsung menuju ke kamar yang akan dia gunakan, tapi saat matanya kembali melihat kamar lain yang tidak berpintu, Wira mendadak ingin mengintip para bidadari yang sudah tidak terdengar suaranya. Dengan dada yang berdebar, Wira memberanikan diri melangkah menuju salah satu kamar yang digunakan para bidadari.


"Astaga!" pekik Wira lirih. Matanya sedikit membulat saat melihat keadaan para bidadari yang sudah terlelap. Para bidadari masih mengenakan pakaian yang sama saat mata mereka terlelap. Wira kembali merasakan kesusahan saat menelan salivanya. pemuda itu terus melangkah mendekat ke salah satu tepi ranjang kayu untuk memperhatikan tubuh para bidadari.


"Ntar dulu, apa mereka tdak memakai ..." Wira tidak melanjutkan kata katanya, tapi saat matanya memastikan dengan seksama apa yang dia lihat, Wira seketika tersenyum lebar. "Gila! Bulunya tidak terlalu rimbun tapi ... ah sial. Bikin ngiler aja."


Mata Wira seketika terpaku pada pemandangan indah yang dulu hanya bisa Wira lihat saat menonton film dewasa. Karena tidurmya telentang, kedua kaki para bidadari itu agak terbentang sehingga apa yang ada di bawah perutnya terlihat cukup jelas. Awalnya memang hanya terlihat remang remang, tapi Wira mengambi obor untuk menerangi bagian tersebut agar bisa dilihat dengan jelas.


"Aduh, bikin tegang aja," gumam Wira. "Sepertinya aku harus main pake tangan. Nggak kuat lihat beginian. Main disini aja ah," dengan tangan kanan kanannya, Wira mengeluarkan miliknya yang menegang dan mulai memainkannya dengan mata mempehatikan keindahan milik para bidadari.


Waktu terus berguliir dan kini pagi telah berganti. Wira dan ketujuh bidadari, sudah bersiap untuk meninggalkan rumah tersebut. Seperti yang sudah direncanakan, hari ini mereka akan menyusuri sungai untuk mencari bulu Angsa emas milik ketujuh bidadari. Di sana juga ada seekor Singa yang menemani mereka. Entah kenapa, Singa itu mendadak dekat dengan mereka sejak dia kalah bertarung dengan Wira kemarin.


"Apa semuanya sudah siap? Ada yang ketinggalan tidak? Tolong dicek lagi sebelum kita berangkat," ucap Wira.

__ADS_1


"Sudah kok, Kang. Kan kita memang tidak memiliki banyak barang. Cuma ada koin emas aja yang sudah kita bagi ke dalam tujuh kantung," ucap Dewi hijau.


"Ya sudah, kalau semuanya sudah siap, kita berangkat," ucap Wira. Semua bidadari setuju. "Leo, kamu jalan dibelakang mereka ya? buat jaga jaga." Leo hanya mengaum sebagai tanda setuju. Setelah semuanya merasa yakin, akhirnya Wira dan tujuh bidadari berangkat untuk berpetualangan.


Mereka kembali menyusuri sungai. Namun kali ini mereka mengambil arah yang berbeda. Mereka mengikuti aliran sungai karena mereka yakin aliran sungai itu yang telah membawa bulu Angsa emas dan mereka juga meyakini, kalau mereka akan menemukan perkampungan. Biar bagaimanapun mereka juga tahu, yang namanya manusia pasti tidak bisa jauh dari air, makanya mereka menyusuri sungai untuk menemukan perkampungan.


"Airnya jernih banget, jadi pengin main air," celetuk dewi Nila.


"Iya, kelihatanya segar banget ya?" sahut Dewi kuning. "Kang, kita bisa berhenti sejenak tidak? Aku pengin mandi?"


Wira lantas menghentikan langkah kakinya lalu berbalik badan menatap ketujuh bidadari. "Emang kalian tadi belum mandi?" tanyanya. "Bukankah kalian bangun lebih pagi dari saya?"


"Ya belum, Kang. Kan tadi kami mencari bekal makanan dulu. Boleh ya? Kita mandi?" bujuk Dewi merah sembari tersenyum manis. Yang lain juga ikut memberi senyuman manis dengan tatapan memohon, membuat jantung Wira semakin berdebar.


"Sial, bisa bisanya mereka seenak hati buka baju di depan mataku? Apa mereka tidak sadar kalau aku laki laki?" gerutu Wira. Walaupun pandangannya ke arah lain, tapi tidak dipungkiri Wira sangat ingin melihat ketujuh bidadari yang nampaknya sudah berada di dalam aiir.


"Kang! Kang Wira tidak mandi?" teriak salah satu bidadari.


"Tidak!" jawab Wira juga dengan berteriak tanpa menoleh ke arah yang memanggilnya.


"Kalau mau mandi ya sini, Kang. Kita mandi bareng!" teriak bidadari yang sama.

__ADS_1


"Tidak! Tidak perlu," dengan terpaksa Wira menolak permintaan tersebut. "Sial, masa ngajakin mandi bareng? Mereka sudah gila apa gimana?" gumamnya. Karena bingung harus bagaimana, Wira lantas mendekati Singa yang memilih meringkuk di antara bebatuan sungai.


Di sana Wira ternyata bisa memperhatikan para bidadari yang sedang mandi. Dengan pura pura mengajak ngobrol Singa, mata wira sesekali mengarah ke arah para bidadari yang nampak bahagia dengan bermain air sungai. Berkali kali Wira menggerutu dan mengumpat sambil memegang bagian celana yang dia pakai.


"Masa iya, aku harus main tangan lagi? Sial!" gumamnya.


Sementara itu, tidak jauh dari keberadaan mereka, di sisi aliran sungai yang lain, nampak dua pria sedang berincang dan duduk santai menikmati suasana sekitar. Sepertinya mereka memang sengaja duduk si sana untuk melepas lelah yang mendera tubuh mereka.


"Benar tidak sih, yang dikatakan ketua tadi?" tanya salah satu darri mereka kepada rekannya.


"Tentang apa itu?" rekanya malah bertanya karena pertanyaan yang keluar dari pria bercelana kolor hitam tidak begitu jelas.


"Itu, tentang darah perawan bidadari yang bisa membuat ketua bisa kebal dan abadi," jawa pria berkolor hitam.


Sementara itu rekannya yang berkolor putih nampak menyeringai. "Bisa saja itu benar. Bukankah ketua kita pengabdi iblis? Sudah pasti, ketua tahu akan hal itu dari iblis pujaannya."


"Pantas, ketua begitu senang saat kamu menunjukan bulu angsa emas."


"Makanya, kita jangan sampai gagal menangkap bidadari itu. Nggak masalah kalau kita tidak bisa menikmati darah perawannya, yang penting kita bisa ikut menikmati tubuh bidadari."


"Benar juga!" keduanya lantas terbahak begitu keras.

__ADS_1


...@@@@@...


__ADS_2