DALAM PELUKAN TUJUH BIDADARI

DALAM PELUKAN TUJUH BIDADARI
Tamu Di Pagi Buta


__ADS_3

"Kakek Sugi! keluar kamu!" teriak seorang pria di depan salah satu rumah warga, di saat hari belum terlalu siang. Pria bertubuh besar dengan perut agak buncit itu nampak begitu berang. Dari wajah seramnya, tergambar jelas kalau pria itu sedang menahan amarahnya. "Kakek Sugi! Kamu mau keluar atau aku dobrak pintu rumah kamu!" suara pria itu kembali menggelegar.


"Iya, iya!" terdengar sahutan dari dalam rumah, sahutan dari seorang pria tua dengan suara agak gemetar. Pria tua itu membuka pintu lalu keluar rumah dengan wajah terlihat panik dan ketakutan. "Ada apa, Warto? Pagi pagi sudah datang ke rumah saya?" tanya pria tua itu dengan suara yang agak tergagap.


"Ada apa, ada apa. Apa kamu sedang pura pura lupa apa gimana, hah!" bentak pria yang dipanggil Warto itu masih dengan suara lantang. "Gara-gara kamu, sepagi ini aku harus bangun hanya untuk datang kesini! Sekarang, cepat! Mana uang yang kamu janjikan, hah!"


Pria tua itu agak membunggkukan tubuhnya sembari menangkup kedua tangan dengan gematar. "Ampuni saya, Warto. Pagi ini uangnya belum ada. Bukankah saya kemarin bilang, uangnya baru ada nanti sore."


"Halahh, nggak usah banyak omong!" bentak Kang Warto dengan wajah yang begitu terlihat garang. "Kamu pikir aku tidak tahu kalau di rumah kamu ada tamu yang menginap! Pasti mereka kasih uang sama kamu kan?"


"Astaga!" pekik Kakek Sugi. "Mereka hanya tamu biasa, Kang. Mereka hanya numpang nginap. Siang ini juga, mereka akan segera pergi dari sini."


"Tidak perlu bohong!" bentak Kang Warto. "Cepat serahkan uangnya, atau senjata ini akan melukai tubuh kamu, Kakek Sugi!" ancamnya sambil mengacungkan senjata.


"Kakek tidak bohong!" seru istri dari pria tua dari ambang pintu. Wanta tua itu mendekat ke tempat Kakek dengan wajah yang juga sama ketakutannya. "Kami akan usahakan, uangnya ada nanti sore. Tolong, Kang, kasih kami waktu."


"Halah! Apa kalian pikir aku percaya? Tidak!" pria itu lantas mengacungkan senjata tajam ke arah leher kakek tua. "Cepat serahkan uang kalian, jika kalian tidak mau menanggung akibatnya."


"Hentikan!" terdengar suara teriakan lantang yang membuat pria bersenjata tajam langsung menoleh. Matanya menyipit dengan kening berkerut, saat menatap sosok pria muda yang sudah berdiri di ambang pintu. Pria muda itu langsung melangkah menghampiri sepsang nenek dan kakek. "Apa kamu tidak malu, pagi pagi buta sudah bikin ribut di rumah orang?" hardik pria muda bernama Wira.


"Apa urusannya sama kamu, hah! Kamu berani sama saya!" Warto tidak terima begitu mendapat sindiran dan hinaan dari pria yang usianya terlihat lebih muda darinya. "Ini bukan urusan kamu! Lebih baik kamu minggir, daripada kamu ..."


"Kamu apa!" Wira memotong ucapan Kang warto dengan tatapan yang menantang. "Paling orang kayak kamu bisanya cuma ngancam doang, kan!"


"Kamu nantangin, hah!" bentak Warto. "Benar benar harus dlkaasih pelajaran kamu ya?"


"Cihh! Pengecut! Beraninya sama orang tua," ejek Wira. Tentu saja ejekan tersebut makin menyulutkan emosi Kang Warto.

__ADS_1


"Lawan aku kalau kamu berani!" teriak Kang Warto lantang dan dia langsung melayangkan senjata ke arah Wira. "Hiyaaat!"


Dakh!


Dengan sigap tangan kiri Wira langsung menangkis tangan Warto yang mengayukan senjata, lalu tangan kanan Wira mengepal dan melayangkan kepalan tersebut hingga sukses mendarat pada dada lawannya. Warto berteriak kencang dengan tubuh yang hampir terhempaske belakang. Tidak mau terima dikalahkan, Warto kembali menyerang. Namun lagi lagi Wira berhasil menahan serangan dan juga menyerang balik pria bersenjata tersebut.


Semakin sering menerima serangan dari Wira, Warto semakin emosi. Dia tidak mau kalah dari anak yang usaianya jelas terlihat jauh dari dia. Warto lantas memberi serangan dengan membabi buta. Namun sayang, usahanya selalu gagal dan dia berkali jali jatuh tersunggkur. Beberapa bagian tubuhnya sudah terlihat lebam dan ada juga yang mengeluarkan darah.


Dakh!


Bugh!


Dezig!


"Akhh!" Warto memekik panjang dengan tubuh terhempas ke tanah. Wira langsung mengambil tindakan. Dia mendekat lalu telapak kakinya dia arahkan ke leher Kang Warto. Pria yang terkapar itu berusaha memberontak, tapi sayang tenaganya yang sudah habis, Warto hanya berusaha menahan kaki Wira agar tidak terlalu menekan lehernya.


"Ampuni saya, Tuan. Ampun," pria itu memohon dengan suara agak bergetar dan juga terbata.


"Apa alasannya, aku harus mengampuni kamu? Bukankah kamu tadi juga tidak mau mengampuni Nenek Kakek itu?" balas Wira. Pria itu terdiam dengan segala rasa takut yang semakin mendera. "Sekarang kamu akan aku lepaskan. Jika kamu masih mengganggu Nenek dan Kakek itu lagi, aku tidak akan segan segan menghabisimu, paham!" ucapnya sambil mengangkat kaki yang menginjak leher Kang Wira.


"Terima kasih, Tuan, terima kasih," dengan segala rasa sakit yang mendera sekujur tubuhnya, Kang Wira berusaha bangkit.


"Pergi dari sini! Dan jangan berani berani kamu mengusik Kakek Nenek itu lagi!" bentak Wira. Pria itu langsung saja pergi dengan segala rasa takut dan juga dendam karena tidak terima dengan kekalahan.


"Wuihh, kang Wira hebat!" seru salah satu bidadari dengan wajah yang begitu ceria. Ketujuh bidadari tadi memang menyaksikan langsung perkelahian Wira sembari menenangkan Kakek dan Nenek. Mereka semua berada di depan teras dekat pintu saat Wira bertarung melawan penjahat.


"Terima kasih, Den Wira, terima kasih," ucap Nenek dengan mata yang sudah basah. Wanita itu langsung mendekap tubuh Wira begitu pemuda itu berada di hadapannya.

__ADS_1


"Udah, nggak apa apa, Nenek tidak perlu takut, mereka sudah pergi," ucap Wira sembari mengusap punggung Nenek agar bisa lebih tenang.


"Tapi dia pasti akan datang lagi, Den. Nenek takut," rintih Nenek masih diiringi dengan isakan.


"Emang dia siapa, Nek?" tanya salah satu bidadari.


"Dia adalah Warto, anak buahnya Juragan Suloyo," sang Kakek yang menjawab. "Juragan Suloyo selalu meminta upeti dengan jumlah yang sangat besar."


"Loh, dia kan juagan? Kok minta upeti?" tanya Dewi hijau terlihat begitu heran.


"Dia bukan hanya jugaran, tapi sekaligus menjabat pemimpin kampung, Neng. Sejak dia memimpin kampung ini, warga menjadi sangat menderita, karena permintaan upeti yang sangat mencekik, Neng?"


"Astaga!" pekik para bidadari. "Lalu, apa sudah ada warga yang berani lapor ke kerajaan?" tanya dewi Ungu.


"Tidak ada yang berani," jawab Kakek. "Kita semua diancam. Jika ada yang berani lapor ke penguasa paling tinggi, kami akan dibunuh."


"Ya ampun!" pekik Wira. "Harusnya kalian bersatu, melawan pemimpin yang kejam seperti itu."


"Kami tidak memiliki keberanian. Jika ada yang berani melawan, maka nyawa akan melayang," ucap Nenek yang masih berada dalam dekapan Wira.


Wira pun menggeleng tidak percaya dan tidak menyangka dengan nasib yang menimpa Nenek Kakek tersebut. "Apa sudah pasti, mereka akan kembali lagi kesini?"


"Sudah pasti, Den Wira. Pasti dia kan datang dengan gerombolan lainnya nanti."


"Baiklah, jika begitu, kita menginap disini lagi, gimana?" ucap Wira kepada ketujuh bidadari.


"Setuju!"

__ADS_1


...@@@@@...


__ADS_2