
Mendengar sebuah informasi tentang adanya wanita cantik di dalam wilayah kekuasaannya, Sang Raja, pemimpin tertinggi wilayah tersebut nampak senang dengan kabar yang dia dapat dari pengawalnya. Tapi rasa senang itu seketika pudar, kala para pengawal juga menyampaikan tentang larangan suami dari wanita itu untuk menemui para pengawal kerajaan.
Sang Raja memang paling suka dengan yang namanya wanita cantik. Sudah banyak wanita yang menjadi teman tidur pemimpin kerajaan tersebut, atau bahkan menjadi selir sang Raja.. Tidak peduli dia masih perawan maupun tidak, sendiri maupun bersuami, kalau sang Raja suka, tidak ada alasan untuk menolak keinginannya.
Maka itu, Raja tidak terima kala mendapat laporan dari para pengawalnya tentang penolakan yang dilakukan Wira beberapa saat yang lalu. Sang Raja justru terlihat murka karena Raja merasa ada yang berani menantangnya. Raja menatap tajam tiga pengawal kerajaan dengan dada yang gemuruh.
"Apa kalian tidak mengatakan kepada pria itu, kalau permintaan Raja itu mutlak?" dengan lantang, Sang Raja kembali melempar pertanyaan.
"Sudah, Yang mulia. Tapi pria itu malah seakan meremehkan kami," jawab salah satu dari tiga pria yang sedang berlutut di hadapan raja mereka. "Dia menantang semua yang kami ucapkan, Yang mulia."
"Lalu, kenapa kalian malah pulang? Harusnya kalian itu lawan orang itu! Kasih dia pelajaran dan peringatan yang keras, agar dia ingat kalau perintah Raja itu tidak bisa diganggu gugat!" bentak Sang Raja.
"Ampun, Yang Mulia, maafkan kami. Kami tidak bisa melawan pria itu karena dia memiliki binatang buas sebagai peliharaan, yang sangat patuh kepada pria itu."
"Binatang buas?"
"Benar, Yang mulia. Pria itu memelihara Singa. Bahkan singa itu juga habis menerkam salah satu penduduk karena menggangu istri dari pria itu."
Raja dan yang lainnya sontak terperangah mendengar penuturan salah satu dari tiga pengawal tersebut. Dari raut wajah yang mereka tunjukan, sepertinya mereka baru mengetahui ada manusia yang berani memelihara Singa.
__ADS_1
"Apa dia pria yang sangat hebat, sampai berani memelihara singa?" kini giliran Panglima kerajaan yang melempar pertanyaan.
"Tapi setahu saya, kalau orang yang bisa memelihara singa dan bisa akrab, berarti dia itu memang orang yang hebat," salah satu petinggi kerajan juga ikut bersuara.
Sang Raja nampak menganggukan kepalanya. Entah apa arti anggukan tersebut, Raja kembali melayangkan pandangan ke arah tiga pengawal, setelah tadi menatap dua petinggi kerajaan yang ikut berbicara.
"Dari pandangan mata kalian, apa pemilik singa itu merupakan pria yang hebat?" Raja kembali melempar pertanyaan, kali ini dengan suara yang tidak sekeras sebelumnya.
"Sepertinya begitu, Yang mulia. Apalagi pada beberapa tubuh pria itu dipenuhi gambar gambar aneh seperti sebuah simbol suatu kekuatan mistis."
"Apa! Benarkah? Gsmbar apa itu?" tanya Panglima mewakili yang lainya dengan wajah terlihat begitu terkejut.
"Banyak, Tuan. Ada gambar sayap di dadanya, gambar ular dan entah gambar apa lagi. Tersebar pada tubuh pria itu."
"Oh iya ada satu lagi, hampir kami lupa, Yang Mulia," salah satu pengawal yang memiliki rambut agak keriting kembali bersuara.
"Apa lagi?"
"Menurut penuturan warga yang diterkam singa milik pria itu, salah satu istri dari pria itu merampas bulu angsa emas dari warga tersebut."
__ADS_1
"Apa!"
****
Sementara itu di tempat lain, tepatnya di rumah yang dihuni oleh Wira, pemuda itu saat ini sedang bercengkrama dengan ketujuh bidadari dan sepasang nenek dan kakek. Karena hari sudah gelap, tidak ada kegiatan lain yang bisa mereka lakukan selain ngobrol sebelum tidur.
"Malam ini giliran siapa yang menemani Kang Wira tidur?" tanya Dewi kuning disela sela obrolan yang mereka lakukan.
"Setelah Dewi jingga, kan, seharusnya kamu, Dewi kuning. Tapi berhubung kamu sudah melakukannya, sekarang gliran dewi hijau," jawab Dewi merah.
"Aku?" Dewi hijau nampak kaget. "Kalau diganti bisa tidak?"
Semua seketika nampak heran dengan penolakan yang dilakukan Dewi hijau. "Loh, kenapa? Kamu nggak mau?" tanya Dewi ungu.
"Ya sebenarnya sih aku mau, tapi kan tadi pas kalian pergi ke pasar, aku sempat ikut tidur menemani Kang Wira. Jadi ya menurutku mending yang lainnya dulu yang sama sekali belum pernah tidur dengan Kang Wira sejak kita di sini," Dewi hijau berkilah. Saat matanya bertemu dengan tatapan mata Wira, Dewi hijau menjadi tersipu.
Seketika Wira jadi tahu alasan Dewi hijau menolak menemaninya tidur. Menurut tebakan Wira, Dewi hijau malu dan canggung kepada Wira karena hubungan badan yang mereka lakukan tadi pagi. Padahal kalau Dewi hijau mau bercinta lagi, dengan senang hati Wira akan mengabulkannya.
"Ya sudah kalau gitu, karena Dewi hijau menolak, kita ganti aja Dewi biru yang menemani kang Wira, gimana?"
__ADS_1
"Aku sih nggak masalah. Baiklah aku mau," jawab Dewi biru enteng.
Wira yang mendengarnya pun semakin senang dengan pikiran yang sudah mengarah ke arah mahkota milik Dewi biru.