
"Astaga! Kang Wira dengan bidadari Jingga sedang berhubungan badan!" pekik seorang wanita dari celah tirai yang menutupi pintu kamar, dimana di dalam kamar tersebut, Wira dan Dewi jingga sedang larut dalam permainan ranjang. Sosok bidadari yang mengintip itu langsung membekap mulutnya dengan mata membulat, menyaksikan adegan ranjang di hadapannya.
Bidadari yang terbiasa memakai kain merah itu tidak menyangka, kalau suara berisik yang membuat dia terbangun dari tidurnya, berasal dari suara dua orang yang sedang merengkuh kenikmatan. Wajar jika bidadari itu tadi tidak terlalu takut saat mencari tempat yang menjadi sumber suara berisik itu.
Dewi merah hanya bisa menelan salivanya menyaksikan adegan tersebut secara langsung. Selama ini dia memang mengetahui tentang hubungan badan, tapi baru kali ini dia menyaksikan secara langsung hubungan badan itu terjadi.
"Kang Wira kenapa terlihat gagah banget ya? gumamnya saat matanya menatap Wira yang sedang berdiir di tepi ranjang dan mengerakan pinggangnya maju mundur. Dewi Jingga sendiri sedang salam posisi menungging.
"Apa hubungan badan seenak itu? Kok Dewi jingga bisa senyum senyum gitu sih?" gumamnya lagi dengan segenap rasa heran yang melanda benaknya.
Mungkin karena permainan yang terlalu nikmat dan juga cahaya kamar yang remang remang, Kang Wira dan Dewi Jingga tidak menyadari ada sosok yang sedang memperhatikan permainan mereka dari balik tirai pintu. Apa lagi sosok Dewi merah dalam posisi merangkak, sudah tentu kehadirannya semakin membuat dua orang itu tidak sadar.
Pluk!
Tepukan kecil sukses mengejutkan Dewi merah yang sedang fokus. Wanita itu sampai terperanjat dan dengan segera dia mengalihkan pandangannya ke arah dimana dia mendapat tepukan pada pinggangnya. Mata Dewi merah agak mendelik saat melihat sosok Dewi hijau sudah berdiri di dekatnya.
Melihat Dewi hijau yang menatapnya dengan penuh tanya, membuat Dewi merah langsung meletakan jari telunjuknya di depan mulut sebagai kode agar Dewi hijau jangan berisik. Setelah itu Dewi merah juga memberi kode agar dewi hijau mengikuti petunjuk yang dia tunjukan.
"Ya ampun!" pekik Dewi hijau begitu matanya menyaksikan apa yang terjadi di dalam kamar itu. Dia langsung membekap mulutnya sendiri dan keduanya segera menyelamatkan diri karena suara Dewi hijau yang agak keras membuat Wira dan Dewi jingga langsung menoleh.
"Suara apa itu, Kang?" tanya Dewi jingga mendadak agak panik. Gerakan tubuh keduanya bahkan terhenti karena suara yang mereka dengar secara samar.
__ADS_1
"Suara kucing mungkin," jawab Wira asal. Meski dia yakin kalau itu adalah suara seseorang tapi Wira tidak ingin mengambil pusing. Wira kembali menggerakan pinggangnya maju mundur karena sedari tadi benda menegang miliknya masih menancap dalam lubang Dewi jinggga.
"Coba lihat dulu, Kang. Takutnya ada yang lihat," rengek Dewi jingga.
"Nggak ada, Sayang. Orang cuma suara kucing," Wira menolaknya karena terlalu malas untuk menjeda permainan yang sedang asyik asyiknya itu.
"Lihat dulu sebentar, Kang."
Wira seketika mendengus. Dengan sangat terpaksa Wira menghentikan gerakan pinggangnya dan mencabut batang yang tertancap. Dengan malas pula pemuda itu melangkah menuju tirai, melongok keadaan di ruangan depan kamarnya untuk beberapa saat.
"Tu kan, nggak ada apa apa," ucapnya, lalu pemuda itu kembali melangkah mendekati Dewi jingga yang posisi sekarang duduk di tepi ranjang.
"Syukurlah," ucap Dewi Jingga lega. "Nggak enak aja kalau sampai ada yang lihat kita, Kang."
Dewi jingga mengangguk pelan sembari tersenyum tipis. Matanya memperhatikan tangan Wira yang sedang mengusap benda menegang miliknya. Kemudian Wira meminta kaki Dewi Jingga melebar, lalu diarahkannya benda menegang miliknya masuk ke dalam lubang Dewi jinggga.
"Akhhh~"
Sementara itu di ruangan gelap tak jauh dari kamar Wira, Dewi merah dan Dewi hijau merasa lega karena berhasil sembunyi di balik kursi dekat pintu masuk.
"Gila! Itu tadi yang aku lihat tidak salah kan?" pekik Dewi hijau dengan suara dibuat selirih mungkin agar tidak ada yang mendengarnya.
__ADS_1
"Ya tidak salah, mereka memang sedang berhubungan badan," Dewi merah malah menjawabnya dengan sikap santai.
"Iya, aku tahu. Tapi, yang membuat aku heran, kok Dewi jingga mau melayani manusia selama ada di bumi? Apa itu tidak berbahaya?" Dewi hijau berkata dengan wajah terlihat khawatir.
"Aku sendiri juga nggak tahu alasan dia mau melakukan itu. Apa mungkin dia mau melayani Kang wira karena rayuan kang Wira sendiri. Kamu sering lihat kan? Isi kolor Kang Wira sering menegang jika sedang bersama kita. Pasti Kang Wira berhasil merayu Dewi jingga itu."
"Ya ampun," Dewi hijau kembali memekik. "Nanti kalau Mahadewi tahu bagaimana? Kita bisa kembali mendapat hukuman besar," Dewi hijau nampak frustasi.
"Ya udah kamu jangan terlalu khawatir. Besok kita tanyakan langsung saja sama Dewi jingga. Tapi ingat, jangan sampai yang lain tahu akan hal ini."
"Apa Kang Wira tidak kita tanyain juga?"
"Ya sekalian keduanya saja. Tapi mending kita mencari tahunya di tempat terpisah, biar kita bisa tahu jawaban Dewi jingga sama atau tidak dengan jawaban Kang wira."
"Nah iya, ide bagus itu."
Di saat dua bidadari itu sedang bermusyawarah, keduanya kembali dikejutkan dengan suara lain. Mereka langsung terdiam sembari memperhatikan dengan baik suara yang berbeda dari yang tadi. Kali ini suara yang mereka dengar bukan berasal dari kamar Kang Wira melainkan berasal dari depan rumah.
"Sepertinya di depan rumah ada orang," gumam Dewi hijau liriih.
"Iya, sepertinya begitu. Ayo kita lihat," ajak Dewi merah.
__ADS_1
kedua bidadari itu mengendap menuju ke arah jendela. Mereka mengintip dari celah jendela dan betapa terkejutnya mereka saat melihat ada beberapa sosok yang sedang berdiri sembari berbincang tidak jauh dari rumah mereka.
"Mereka siapa? Apa orang orang dari tengkorak iblis?"