
Wira keluar dengan kening yang berkerut, memperhatikan tiga pria yang juga sedang menatap dirinya. "Iya,ada perlu apa ya?" tanya Wira dengan sikap yang biasa dia tunjukan jika ada tamu di rumahnya.
Tiga pria yang mendapat pertanyaan dari Wira tentu saja sontak merasa heran secara bersamaan. Mereka bahkan saling pandang satu sama lain untuk sejenak sebelum menjawab pertanyaan yang di lempar Wira. Apa lagi sikap pemuda tersebut terlihat sangat sangat cuek, membuat para pria berbaju kembar tumbuh rasa geram.
"Apa seperti itu, sambutan seorang penduduk biasa, kepada utusan dari kerajaan?" salah satu pria bersuara agak sinis, karena tidak suka dengan cara Wira dalam menyambut mereka.
"Dari kerajaan?" Wira malah kembali bertanya sekaligus menunjukan ketidak tahuannya. "Mana saya tahu jika kalian dari kerajaan. Yang saya tahu, kaliaan itu tamu, dan sudah sewajarnya saya bertanya ada perlu apa kepada tamunya, bukan?"
Tiga pria berpakaian seragam itu nampak tercengang dengan apa yang dikatakan Wira. Anak muda itu bahkan dia bersikap lebih santai sampai Wira duduk di depan rumah.
Bentuk rumah yang dihuni Wira adalah rumah panggung yang tingginya tidak lebih dari satu meter. Bagian depan, di buat teras dari kayu yang panjangnya sampai ke ruang tamu. Maka itu, lantai kayu itu bisa digunakan untuk duduk dengan kaki yang menggantung, sama seperti yang Wira lakukan saat ini.
"Kamu itu seharusnya bersikap sopan kepada kami," salah satu tamunya kembali bersuara. Kali ini suara orang itu terdengar lebih lantang daripada rekannya yang tadi bersuara. "Kami itu orang-orang kerajaan, jadi sudah selayaknya kami mendapat sambutaan yang baik. Bukan sambutan tidak sopan seperti itu."
Sekarang gantian Wira yang tercengang. Tapi itu tak berlangsung lama. Wira terseyum agak mengejek setelahnya dan senyuman Wira sukses membuat ketiga tamunya ternganga.
"Memang kalian di kerajaan sebagai apa?" Wira kembali bertanya. "Apa kalian menjabat posisi penting? Atau, apa kalian menteri?"
__ADS_1
"Jaga bicara kamu, anak muda!" bentak salah satu pria yang memiliki rambut pendek agak keriting. Pria itu menunjukkan emosinya karena sikap yang ditunjukan anak muda di hadapannya. "Jika kamu tidak ingin terjadi sesuatu sama kamu, lebih baik jaga sikap kamu baik-baik."
Di saat itu juga, Kakek pun keluar. Karena mendengar suara teriakan dari halaman depan rumahnya, Kakek menjadi penasaran, siapa yang datang sampai berteriak seperti itu.
"Loh, ada pengawal kerajaan," seru kakek sampai suaranya mengalihkan pandangan Wira dan tiga pria ke arah kakek tersebut. Si kakek langsung saja memberi hormat kepada tamunya. "Maaf, Tuan. Apa Tuan ada perlu dengan saya?" tanyanya.
"Saya ada pesan dari sang raja, untuk penghuni rumah ini. Tapi sayang sekali, penghuni di rumah ini sangat tidak sopan dalam menyambut kedatangan kami," pria yang rambutnya lurus dan agak panjang langsung menjawab sembari menyindir Wira dan melirik sinis kepada pemuda itu.
Wira yang menyaksikannya tetep terlihata acuh. Berhubung Wira bukan orang dari jaman tersebut, jadi dia merasa kalau sikapnya wajar. Wira sama sekali tidak tahu kalau pengawal kerajaan harus disambut dengan segala hormat jika mengunjungi rumah warga, seperti yang sedang dilakukan Kakek.
"Oh iya, sebaiknya kita masuk dulu, Tuan," karena terlalu penasaran, Sang kakek lupa kalau dia belum mempersilahkan tamunya untuk masuk ke dalam rumah.'
"Tidak perlu, kami di sini saja," pria berambut agak keriting yang menjawab. "Kami tidak akan lama berada di sini."
"Baik, Tuan," jawab kakek tak enak hati. Wira juga sebenarnya agak tidak enak begitu melihat sikap sang kakek, tapi pemuda itu terlalu gengsi untuk menunjukan rasa hormatnya pada pengawal kerajaan tersebut. Dimata Wira, pengawal kerajaan itu terlalu sombong. Itu yang Wira rasakan sejak tadi dia keluar rumah.
"Apa benar, Juragan Suloyo memaksa kakek untuk memberikan upeti dalam jumlah yang banyak?" tanya pria berambut agak lurus.
__ADS_1
Dengan pelan kakek mengangguk. "Benar, Tuan, apa ada yang sudah melaporkannya kepada Yang Mulia?" balas Kakek.
"Sebenarnya tidak ada yang lapor. Cuma beberapa waktu yang lalu ada pengawal kerajaan yang melihat beberapa orang dari tengkorak iblis datang kemari. Setelah diselidiki, pengawal tersebut melaporkannya kepada Panglima hingga kabar itu sampai ke telinga Raja. "Kalau boleh tahu, apa benar, di sini ada beberapa wanita yang tinggal di rumah ini?"
"Benar, tuan, mereka ada di belakang," jawab Kakek jujur.
"Kalau begitu, panggilkan mereka sekarang," perintah sang pengawal kerajaan.
"Jangan mau, Kek," Wira langsung memberi larangan, sampai kakek yang hendak beranjak melaksanakan perintah, terperanjat mendengar hal itu. Begitu juga dengan tiga pria yang mengaku pengawal Raja.
"Nak Wira," Kakek bersuara lirih dengan memberi kode dari matanya agar Wira mau menuruti perintah pengawal kerajaan.
"Kenapa anda melarangnya? Anda tidak berhak melarang apapun yang menjadi perintah kami!" dengan lantang pria berambut agak kriting langsung meninggilkan suara.
"Loh, ya suka suka saya dong," Wira malah menanggapinya dengan santai. "Mereka itu istri saya, jadi saya juga berhak memutuskan mereka bisa menemui kalian atau tidak, paham!"
"Apa! Istri?"
__ADS_1