
"Berhenti kalian semua!" suara teriakan lantang tiba tiba terdengar menggema, seakan memenuhi seluruh isi hutan. Suara lantang yang merupakan sebuah perintah, langsung menghentikan langkah kaki Wira bersama tujuh bidadari yang saat ini sedang menyusuri hutan. Arah pandang mereka seketika tertuju pada satu titik, dimana, di depan mereka, telah berdiri beberapa pria menghadang langkah kaki mereka.
Dari senyum yang ditunjukan beberapa pria itu, Wira yakin kalau mereka menghadang Wira pasti dengan niat yang tidak baik. Wira seketika langsung bersikap waspada. Meski dalam benaknya juga ada rasa takut. Biar bagaimanapun, Wira yang tidak pernah menghadapi situasi seperti itu, cukup merasa panik dengan segala pemikiran buruk yang mulai menggerogotinya.
Namun sebagai lelaki, Wira juga tidak ingin terlihat lemah dihadapan para wanita cantik yang bersamanya. Wira tidak mau harga dirinya jatuh jika dia tidak memberikan perlawanan kepada para pria yang menghadangnya. Meskipun nanti pada akhirnya Wira kalah dalam pertarungan, tapi Wira ingin meninggalkan kesan kalau dia pria yang jantan dan sangat bertanggung jawab. Apalagi saat ini para bidadari berkumpul menjadi satu dan berdiri dibelakangnya, membuat Wira yakin kalau para bidadari sedang dalam ketakutan.
"Kalian siapa?" tanya Wira mencoba bersikap setenang mungkin.
"Tidak perlu tahu kita siapa," jawab salah satu dari pria itu yang kemungkinan adalah pimpinan mereka. "Serahkan semua barang yang kalian bawa, cepat!"
"Barang apa? Kami tidak memiliki barang apapun?" tolak Wira yang memang kenyatannya mereka memang tidak membawa barang apapun selain kantung yang berisi koin emas, yang dipegang ketujuh bidadari.
"Jangan bohong!" bentak pria yang sama. "Cepat! Serahkan semua barang bawaan kalian, jika kalian tidak ingin nyawa kalian, kami hilangkan!"
"Kang, aku takut," rengek Dewi merah, begitu juga dengan bidadari yang lainnya. Mereka semakin erat menempel pada tubuh Wira.
"Tidak perlu takut," Wira mencoba menenangkan para bidadari. "Kita pasti akan baik baik saja," ucapnya meski dia sendiri juga sedang merasa ketakutan san kurang yakin dengan apa yang dia ucapkan.
"Cepat, serahkan barang kalian!" bentak pria itu lagi. "Sebelum saya melakukan sesuatu yang membuat kalian menyesal!"
"Sudah saya bllang, kita tidak membawa apapun, apa kalian tidak bisa lihat," suara Wira kini terdengar lebih tinggi.
"Cihh! Nantangin dia," balas pria yang sama. "Apa kamu sudah siap saya habisi, hah!"
"Udah ketua, serang aja langsung! Lumayan itu wanitanya, cantik cantik."
__ADS_1
"Benar, ketua. Serang aja!" Beberapa pria dari gerombolan tersebut mulai memprovokasi ketua mereka.
"Kalian, cari tempat buat sembunyi, cepat!" titah Wira lirih.
"Tapi, Kang ..."
"Tidak perlu pakai tapi tapi segala, cepat pergi!"
Dengan berat hati para bidadari menyetujuinya, mereka segera saja pergi menjauh. Melihat para wanita melarikan diri, para penjahat tinggal diam begitu saja. Beberapa dari mereka langsung bergerak untuk mengejar para bidadari. Namun dengan sigap Wira langsung menghalangi. Bersamaan dengan itu, pertarunganpun akhirnya tidak bisa dihindari.
"Hiyyat!"
Wira berusaha menahan semua serangan dari para penjahat dan juga berusaha memberi serangan kepada mereka. Dalam perkelahian yang sedang dia lakukan, Wira sebenarnya kembali merasa takjub dengan dirinya sendiri. Entah dapat kekuatan darimana, Wira begitu lincah mematahkan serangan para musuh dan juga menyerang mereka. Namun semakin lama dia berpikir, Wira semakin yakin kalau dia sekarang memiliki keahlian berupa ilmu bela diri.
"Kita harus bagi dua. Kalian, buat orang itu sibuk memberi perlawanan, sebagian, lagi tangkap para wanita itu, cepat," ucap sang ketua lirih di saat Wira sedang sibuk melawan dua orang. Para anak buah pun setuju. Mereka langsung berbagi tugas saat itu juga. Wira yang menyadari dan menyaksikan sebagian penjahat berlari ke arah para bidadari bersembunyi, segera saja berusaha untuk mencegahnya. Namun usaha Wira sia sia karena penjahat yang lain menghalangi gerakannya.
Nampak empat penjahat memasuki hutan dimana tadi mereka melihat para bidadari berlari ke arah yang mereka tuju. Keempat pra itu langsung berusaha mencari keberadaaan para wanita. Mata mereka berkeliling ke segala arah dan terus melangkah menyusuri hutan. Di saat mereka sedang sibuk dan fokus dalam pencarian, mereka dikejutkan dengan teriakan yang sangat kencang.
"Akhh!"
Teriakan itu tentu saja mengundang perhatian para penjahat. Mereka yakin kalau suara itu adalah suara wanita yang mereka kejar. Benar saja, karena salah satu dari tujuh bidadari tidak sengaja berteriak, mereka pun menjadi ketahuan. Ketujuh bidadari segera saja bergegas lari dengan segala rasa panik yang menyergap mereka.
"Hei! Berhenti!" teriak penjahat dengan lantang. Melihat para bidadari yang tidak mau menuruti perintah mereka, para penjahat segera saja ikut berlari mengejarnya. Para bidadari terus berlari tidak tentu arah dengan segala rasa takut yang mendera mereka. Di saat suasana sedang genting, mereka malah mendapat sial. Salah satu bidadari jatuh terungkur karena jarinya tidak sengaja tersandung batu.
"Akhh!"
__ADS_1
Bugh!
Salah satu bidadari tersungkur. Sontak saja bidadari yang lain langsung berhenti, "Kamu kenapa?" tanya salah satu bidadari sembari jongkok. "Astaga! Kaki kamu berdarah!"
"Aku tidak apa apa," jawab Dewi Kuning yang tadi tersungkur. "Kalian cepat, lari saja, penjahat semakin dekat!"
"Mana mungkin kami bisa terus lari tanpa kamu!' tolak Dewi hijau.
"Aku nggak apa apa. Biar saja aku yang tertanggkap. Yang penting kalian selamat!"
"Tidak! Kami tidak akan meninggalkan kamu!" Mereka pun akhirnya berbedat ditengah-tengah rasa panik yang melanda, sampai keempat penjahatp akhirnya semakin dekat.
"Hahaha ... akhirnya, kena juga kalian," seru salah satu penjahat. Para penjahat terlihat sangat senang karena akan mendapatkan mangsa yang sangat cantik. "Kenapa? Tidak kuat lari?" tanyanya sembari menyeringai.
"Mau apa kalian, hah!" salah satu bidadari langsung memasang badan.
"Hahaha ... tidak perlu galak galak, gadis cantik," ucap salah satu penjahat dengan santai. "Kamu tahu, semakin kamu terlihat galak, semakin membuat kami ingin segera memakan kamu, hahaha ..."
"Jangan macam macam sama kami! Atau kami ..."
"Atau apa?" penjahat memotong ucapan dewi hijau. "Kalian akan melawan kami, gitu? Apa kalian mampu?" para penjahat sungguh sangat meremehkan. "Ayok teman teman, kita bawa mereka semua. Malam ini kita akan pesta besar, Hahaha..."
Keempat penjahat tertawa dengan kencang penuh aura kemenangan. Mereka melangkah mendekat ke arah wanita. Namun, baru saja kaki mereka bergerak dua langkah, tiba-tiba langkah kaki mereka terhenti dan suara tawa mereka juga langsung lenyap saat itu juga. Keempat penjahat seketika teranganga saat mata mereka menangkap sosok mengerikan dibalik tubuh para bidadari.
Sementara itu, dengan pikiran yang tidak tenang, Wira terus memberi perlawanan kepada empat pria yang menyerangnya. Wira terus berusaha fokus agar dia tidak lengah. Hinngga beberapa saat kemudian, setelah perjuangan yang cukup berat, Wira berhasil membuat lumpuh para penjahat itu secara bergantian.
__ADS_1
Setelah memastikan keempat penjahat tidak berkutik, dengan sisa tenaga yang Wira miliki, dia segera saja pergi menyusul para bidadari. Dengan segala rasa panik Wira terus mengedarkan pandanganya mencari keberadaan para bidadari. Hingga tak lama kemudian, langkah kaki Wira terhenti saat matanya menangkap sesuatu di salah satu arah.
...@@@@@...