DALAM PELUKAN TUJUH BIDADARI

DALAM PELUKAN TUJUH BIDADARI
Selamat


__ADS_3

"Leo!" pekik Wira dengan mata yag sedikit melebar. Wajahnya terlihat begitu terkejut, tapi tak lama setelahnya, senyum anak muda itu terkembang. Dia melangkah cepat, mendekati Leo yang sudah bersama tujuh bidadari, sedang berkumpul bersama. "Kalian semua baik baik saja?" tanya Wira begitu jaraknya sudah lebih dekat dengan tujuh bidadari.


"Iya, kami baik baik saja," ucap salah satu bidadari. "Tadi kami hampir saja ketangkap, tapi untungnya Leo datang. Coba kalau tidak ada Leo, mungkin kita sudah jadi santapan para penjahat itu."


"Maaf, gara gara aku yang kurang hati hati, kalian hampir saja celaka," cicit Dewi kuning.


"Loh, kaki kamu kenapa?" Wira nampak terkejut begitu melihat salah satu kaki Dewi kuning terlihat merah dan ada sisa darah pada salah satu ujung jarinya.


"Kaki aku tadi kesandung batu, Kang," jawab Dewi Kuning. "Makanya, tadi kami hampir ketangkap gara gara kakiku ini. Untung Leo datang tepat waktu, jadi kami masih bisa selamat. Kalau tidak, entah nasib kami akan seperti apa."


Wira lantas tersenyum dan dia melangkah mendekat ke arah kepala Singa dan mengusapnya. "Aku pikir kamu pergi jauh, ternyata kamu diam diam mengawasi kami," ucap Wira diringi dengan senyuman. Sedangkan Sang Singa yang diajak bicara hanya mengaum saja. Wira lalu menoleh ke arah Dewi kuning. "Kaki kamu masih bisa buat jalan tidak?"


"Sepertinya susah, Kang," Dewi hijau yang menjawab. "Pasti itu sakit banget nanti kalau jalan."


Wira mengangguk lalu dia seketika terdiam dengan kening yang sedikit berkerut. "Kamu naik aja dipunggung Leo, gimana?" ucapnya setelah menemukan solusi.


"Naik punggung Leo, Kang?" tanya Dewi Jingga memastikan. Wira lantas mengangguk. "Berarti Leo ikut ke pasar dong? Nanti kalau para penduduk melihat Leo gimana? Yang ada mereka langsung pada lari."


"Aku tahu," jawab Wira. "Tapi kan yang penting kita keluar dari hutan dulu. Emangnya kalian mau kita bermalam di hutan? Sedangkan dewi kuning kakinya sedang terluka dan susah untuk jalan kaki. Bukankah lebih baik dia naik ke punggung Leo?"


"Benar juga," seru salah satu Dewi. Setelah melakukan kesepakatan, akhirnya mereka bersiap untuk kembali melanjutkan perjalanan mereka.


Sementara itu di tempat perkelahian antara Wira dan para penjahat.

__ADS_1


"Ketua, apa mungkin teman teman kita berhasil menangkap para wanita cantik tadi?" tanya salah satu dari empat pria itu saat mereka sudah bangkit dengan segala rasa sakit yang menderu tubuh mereka masing masing.


"Aku yakin, pasti mereka berhasil. Paling langsung dibawa ke markas," jawab sesama anak buah. "Bukankah sudah menjadi kebiasaan kita, kalau dapat mangsa wanita, langsung dibawa ke markas. Apa lagi pria yang tadi melawan kita, tidak muncul lagi dari dalam hutan, pasti dia lagi kebingungan mencari para wanita itu." Rekan yang tadi melempar pertanyaan mengangguk tanda sependapat.


"Ya sudah, sekarang kita kembali ke markas," titah sang ketua. "Aku sudah tidak sabar menikmati tubuh para wanita itu satu persatu." Ketiga pria lainnya sudah pasti langsung setuju. Dengan perasaan riang gembira, mereka bergegas pergi menuju ke salah satu arah dimana arah tersebut menuju ke markas mereka.


Tidak butuh waktu lama, keempat pria itu sudah sampai di dekat markas. Dengan wajah yang berbinar bersama pemikiran mereka yang sedang membayangkan akan bermain dengan tujuh wanita cantik, keempat pria itu mempercepat langkah kakinya dan segera masuk ke dalam markas.


Namun, seetelah saat persatu masuk ke dalam markas, mereka terdiam dengan kening yang berkerut. "Kok sepi? Tidak ada orang?" ucap salah satu dari mereka. "Apa mereka belum pada kembali?"


Dua pria lainya langsung saja memeriksa seluruh ruangan yang ada di tempat itu. "Tidak ada siapapun," ucap salah satunya. "Apa mereka belum pada berkhianat?"


Di saat mereka sedang diliputi banyak pertanyaan, keempat pria tersebut dibuat terkejut saat mendengar suara gaduh. Mereka serentak melayangkan pandangan mata mereka ke arah suara gaduh tersebut, dan mereka kembali dibuat terkeejut.


"Bagaimana kami tidak panik? Kami hampir saja diterkam oleh singa," jawab salah satu dari empat pria yang baru saja datang. Dia berkata sembari meletakkan pantatnya di atas tikar. Secara otomatis yang lainnya pun juga ikut duduk di tempat yang sama sampai mereka membentuk lingkaran.


"Singa! Mana mungkin?" sang ketua terlihat kaget dan merasa tidak percaya dengan apa yang dikatakan anak buahnya.


"Tanya aja itu sama yang lain. Kalau tidak ada singa, kita tidak mungkin pulang dengan ketakutan seperti ini. Padahwl tadi kita hampir saja menangkap mereka," ucap orang yang sama, dan langsung dibenarkan oleh yang lainnya.


"Astaga! Lalu para wanita itu gimana? Apa mereka juga berhasil kabur dari Singa?" tanya anak buah yang lainnya. Yang jelas anak buah yang tidak sempat bertemu dengan singa.


"Tidak tahu, mungkin salah satu dari mereka sudah menjadi santapan Singa karena jarak mereka tadi begitu dekat. Singanya tadi muncul di belakang tubuh para wanita yang kita kejar."

__ADS_1


"Hah!" Mereka langsung ternganga, dan saat itu juga mereke serentak bergidik ngeri sembil membayangkan Singa yang sedang menyantap tubuh manusia.


Selang beberapa waktu kemudian, Wira dan tujuh bidadari kini sudah keluar dari hutan. Mereka berhenti sejenak untuk melepas lelah. Mata mereka memandang ke tempat sekitar untuk beberapa saat sampi salah satu dari mereka melihat sesuatu.


"Sepertinya, di sana ada rumah," ucap Dewi Nila sambil menunjuk ke salah satu arah, dan ucapannya, mampu mengalihkan pandangan Wira dan dewi lainnya.


"Ah iya, tapi kok rumahnya sendirian ya? Kayak tidak ada tetangga gitu," sahut Dewi hijau.


"Lebih baik salah satu dari kalian ikut saya. Kita datangi tempat itu," ucap Wira. "Kali aja kita dapat informasi tentang tempat menginap yang paling dekat dari sini."


Ketujuh dewi saling pandang sejenak. "Ya udah, aku aja yang ikut," cetus dewi Biru. Dia langsung bangkit dan tak lama setelahnya, Dewi biru dan Wira melangkah menuju ke rumah yang tadi ditunjuk Dewi Nila. Hingga beberapa waktu kemudian, mereka sudah kembali ke tempat semula. "Malam ini kita nginep di rumah itu," seru Dewi biru dengan girang.


"Serius? Memang itu penginapan?" tanya Dewi merah.


"Bukan," jawab Dewi biru. "Di sana hanya ada sepasang kakek dan nenek. Mereka hanya tinggal berdua. Makanya tadi saat kita mencari tempat yang mungkin bisa untuk menginap, mereka malah langsung menawarkan rumahnya. Ya udah, qku dan kang Wira mau menerimanya."


"Ya baguslah," seru Dewi Hijau. "Jadi kita ke pasarnya besok saja ya? Lagian sepertinya ini sudah terlalu sore. Terus ini, si Leo gimana?"


"Ya Leo tetap berada di sekitar kita, cuma dia harus bersembunyi," ucap Leo. "Kamu setuju kan, Leo?" Sang singa langsung mengaum dan semua sontak tersenyum.


Mereka pun langsung beranjak menuju ke tempat yang tadi Wira datangi. Namun di saat langkah mereka sudah dekat dan disambut oleh si pemilik rumah, para bidadari dikejutkan dengan apa yang mereka lihat saat ini.


...@@@@@...

__ADS_1


__ADS_2