DALAM PELUKAN TUJUH BIDADARI

DALAM PELUKAN TUJUH BIDADARI
Hari berganti Lagi


__ADS_3

"Mereka siapa? Apa mereka orang orang dari gerombolan tengkorak iblis?" gumam salah satu bidadari saat mata mereka mengintip dari celah jendela dan menangkap dua sosok pria yang berdiri tak jauh dari halaman rumah, yang mereka huni. Dua sosok pria itu terlihat menolehkan kepalanya ke kiri dan ke kanan beberapa kali, nampak sedang mencari sesuatu.


"Apa mungkin, mereka sedang mencari rumah kita dan ingin menyerang kita saat malam begini?" sekarang gantian Dewi hijau yang bergumam. Dilihat dari gerak gerik pria itu, memang mereka nampak sedang kebingungan mencari sesuatu. Salah satu dari pria itu bahkan terlihat beranjak berpindah tempat.


"Sepertinya begitu. Untungnya bulu Angsa emas masih bisa kita gunakan dengan baik. Nggak sia sia kita menggunakan kekuatan bulu kita untuk menghilangkan rumah ini," sahut dewi merah. Merke lantas bergeser sedikit dan merubah posisi tubuhnya menjadi duduk bersandar pada dinding kayu.


"Tapi kan kekuatan bulu angsa emas hanya bertahan sampai pagi. Kalau mereka tetap berada di tempatnya bagaimana? Bisa bisa kita malah ketahuan karena menggunakan kekuatan bulu Angsa emas," Dewi hijau tiba tiba kembali diserang rasa khawatir. jika beberapa waktu yang lalu dia panik karena menyaksikan Dewi jingga melayani manusia di dunia, sekarang Dewi hijau panik karena di depan ada pria yang mengawasi tempat tinggal mereka.


"Ya semoga saja kita tidak ketahuan. Tapi kalau orang itu berani mendekat ke daerah ini, berarti Singa tidak ada dong ya? Terus dimana singa itu? Apa dia pergi jauh?"


Dewi hijau sontak menggeleng. Dia sendiri malah tidak kepikiran tentang keberadaan singa. "Ya sudah lah mending kita ke kamar. Semoga saja besok pagi orang orang itu sudah tidak ada dan singa juga sudah kembali."


"Sepertinya, malam ini aku tidak akan bisa tidur lagi," keluh Dewi merah sembari melayangkan pandangan matanya ke arah kamar dimana ada sepasang manusia yang masih melakukan hubungan badan.


"Kenapa?" tanya Dewi hijau seperti orang bingung.


Dewi merah menoleh, menatap sejenak wajah Dewi hijau. "Emang kamu tidak dengar, suara yang ditimbulkan oleh Kang Wira dan Dewi jingga? Bagaimana aku bisa tidur kalau mereka terus terusan ngeluarin suara keenakan kayak gitu."


Awalnya kening Dewi hijau berkerut, tapi tak lama setelahnya tawa bidadari itu pecah tertahan. "Hihihi... benar juga. Eh tapi, apa berhubungan badan bisa seenak itu?"

__ADS_1


"Mungkin memang enak banget. Tuh, Dewi jingga buktinya. Tadi malah aku sempat melihat wajah dia tersenyum senang gitu."


"Benar juga, jadi penasaran aku, hihihii..."


"Sama... hahaha..."


Kedua bidadari itu terbahak pelan karena takut suaranya terdengar oleh Wira dan Dewi jingga. Begitu suara tawa mereka reda, keduanya memutuskan untuk kembali ke dalam kamar, melanjutkan tidur mereka.


Sesaat sebelum pagi menjelang, kekuatan bulu angsa emas yang mengelabui kediaman nenek dan kakek, perlahan memudar. Beruntung di saat rumah itu kembali terlihat, para penjahat dari tengkorak iblis sudah pergi dari sana karena mereka tidak menemukan tempat yang pas untuk melakukan pemantauan.


Meski begitu, orang orang itu tidak akan menyerah begitu saja. Sudah bisa dipastikan, mereka akan kembali menyambangi kediaman rumah tersebut sampai mereka bisa membawa pergi para wanita yang berada di rumah itu.


Karena tidak mau terjadi keributan, Dewi hijau dan Dewi merah juga memilih bersikap biasa saja, seolah olah tidak tahu apa yang dilakukan Dewi Jingga semalam. Kedua bidadari itu menunggu waktu yang tepat untuk berbicara dengan dewi jingga.


Selang beberapa jam kemudian, Wira pun nampak terbangun dari tidurnya. Pemuda itu bangun dengan suasana hati yang begitu senang akibat permainan ranjang yang dia lakukan semalam. Sudah dua bidadari yang berhasil dia jebol mahkotanya. Dan Wira terus berpikir, mencari cara, agar bisa menikmati mahkota kelima bidadari lainnnya.


"Apa sisa kambing kemarin sudah diberikan kepada singa?" tanya Wira disela sela menikmati sarapan paginya.


"Masih di belakang, kenapa, Kang?" tanya dewi kuning.

__ADS_1


"Oh, ya udah nggak apa apa. Nanti biar aku aja yang ngasih makan Leo," jawab Wira.


"Ya terserah Kang Wira, lagian aku dan beberapa dari kami nanti akan ke pasar bersama Nenek dan Kakek untuk menjual hasil kebun dan juga buah yang kami temukan di hutan kemarin. Apa Kang Wira mau ikut?" ucap Dewi Nila.


"Nggak lah, aku di rumah aja. Tapi kalian harus hati hati, nanti setelah Leo menyantap kambingnya, aku akan nyuruh dia mengawasi kalian."


Semua yang ada di sana nampak mengangguk setuju.


Setelah acara sarapan bersama selesai, semua penghuni rumah tersebut langsung melakukan kegiatan seperti yang tadi mereka bahas. Saat ini, Wira sedang mengikat kambing pada batang pohon di tengah hutan tak jauh dari rumah, dan dia juga berteriak memanggil Leo.


"Leo! Kamu dimana? Leo!" teriak Wira dengan suara yang sangat kencang.


Begitu namanya disebut beberapa kali akhirnya yang dicari Wira datang juga. Tanpa banyak basa basi, Singa itu langsung menerkam kambing sampai membuat Wira yang menyaksikannya agak bergidig.


Karena merasa jijik dan tidak tega melihat kambing yang diterkam Leo, Wira memutuskan untuk pulang. Sebelum pergi, Wira juga memberi pesan kepada Leo agar setelah makan, Leo diminta menyusul para bidadari di pasar.


Di saat langkah kaki Wira hendak menuju rumah, pemuda itu dikejutkan dengan suara teriakan yang cukup kencang.


"Akhh!"

__ADS_1


Wira langsung menoleh dan mencari sumber suara itu berasal.


__ADS_2