
Dewi jingga tidak langsung menjawab. Dia hanya bisa diam dengan benak yang mulai dilanda gelisah. Sedangkan Wira sendri, tangannya mulai bergerak nakal. Pemuda itu terlihat bersungguh sungguh memannfaatkan keadaan demi mewujudkan keinginannya.
"Kenapa malah diam, Dek. kamu mau kan lubang kamu itu aku masukin? Mau dong, Dek" rayu Wira terus menerus, karena setelah beberapa detik berlalu, wanita yang sedang diraba bagian pahanya itu masih terdiam, tanpa ada tanda tanda untuk memberi tanggapan.
"Tidak lah, Bang. Kita tidak bisa melakukannya. Aku tidak mau mendapat tambahan hukuman lagi jika di bumi ini, aku berhubungan badan dengan manusia," kali ini Dewi Jingga berusaha memberi jawaban agar Wira tidak tersinggung dengan penolakan yang dia lakukan.
Wira memang sama sekali tidak tersinggung. Pemuda itu bahkan masih mengembangkan senyyum manisnya dengan tangan yang masih bergerak ke sana ke mari pada tubuh Dewi Jingga. Dilihat dari gelagatnya, sepertinya Wira memang tidak akan pernah melepaskan kesempatan malam ini.
"Jadi, kamu lebih memilih menjadi budaknya tengkorak iblis? Ya sudah, kalau itu memang kemauan kamu, aku sih tidak berebatan," Wira mulai memasang mude merajuk dan juga sedikit mengancam. Tapi apa yang dikatakan Wira cukup membuat Dewi Jingga tertegun kala nama tengkorak iblis disebut.
"Jadi budak tengkorak iblis? Maksud Kang Wira?" tanya Dewi Jingga menatap lekat kepada pemuda yang masih berbaring telentang di depannya.
Wira lantas tersenyum. Sebelum menjawab, pemuda itu meraih salah satu tangan Dewi jingga dan mengarahkan tangan tersebut ke arah bagian tubuh milik Wira yang dipenuhi bulu. Dewi Jingga diminta memijat benda menegang milik Wira secara pelan.
"Bukankah kamu dan yang lainnya itu lebih banyak yang mengetahui, kalau kalian sampai ada yang ketangkap oleh tengkorak iblis, Kalian akan menjadi budak mereka. Seumur hidup kalian hanya dijadikan tempat pelampiasan hasrat mereka, kan?"
Dewi Jingga kembali sukses dibuat tertegun mendengar ucapan Wira. Pikirannya seketika berkelana dan apa yang dikatakan Wira memang benar adanya. Dewi jingga sungguh lupa akan hal itu.
__ADS_1
"iya juga yah," cicit dewi jingga mendadak jadi dilema. "Kalau sampai ketangkap mereka, aku mana bissa kembali ke langit. Aku pasti juga akan dikucilkan. Karena semua masalah yang kami hadapi berawal dari kita juga."
"Nah, itu kamu tahu. Makanya, aku ngasih saran, lebih baik lubang kamu itu aku masukin. Daripada kamu ketangkap basah lalu jadi budak manusia pemuja iblis. Lagian, bukankah nanti saat kamu kembali ke langit, Mahkota kamu akan kembali merapat? Jadi, kamu tidak perlu takut akan mendapat hukuman tambahan karena melayani manusia di muka bumi. Jika alasananya masuk akal dan memang cukup membahayakan, pasti kamu akan diampuni dan diberi kesempatan bukan?"
Untuk sekian kalinya, Dewi Jingga dibuat terdiam oleh ucapan Wira. Lagi lagi dia membenarkan semua ucapan yang keluar dari mulut pemuda itu. Benaknya pun semakin resah dan dia juga semakin terjebak dalam dilema yang cukup besar.
"Tidak perlu bingung. Ayok kita lakukan sekarang," Wira terus berusaha memprovokasi. Melihat Dewi Jingga dirasuki rasa dilema, membuat Wira harus segera mengambil sikap dan tidak mau membuang begitu saja kesempatan yang ada.
"Kita melakukannya di kamar ini?" akhirnya sesuatu yang ditunggu Wira datang juga. Sebuah kalimat yang mengandung makna persetujuan membuat Wira ingin bersorak karena usahanya perlahan mulai menunjukan hasil.
"Kalau kita tidak melakukannya di sini? Terus kita akan melakukannya dimana, Sayang?" Wira sudah mulai gemas. Pemuda itu bahkan sampai bangkit dari berbaringnya.
"Nanti kalau yang lain dengar gimana?"
"Tidak perlu khawatir. Nanti kita usahakan jangan sampai mengeluarkan suara yang cukup kencang, oke? " Dewi jingga mengangguk pelan. "Ya sudah sekarang lepas semua pakaian kamu lalu berbaring. Kita pemanasan dulu. Nanti aku bimbing kamu."
Dewi Jingga kembali mengangguk. Dengan patuh wanita itu mulai melepas semua kain yang menutupi tubuhnya. Wira langsung terpana. Meski dirinya sudah pernah menyaksikan tubuh polos Dewi jingga, tapi Wira selalu menganggumi setiap lekuk tubuh mulus milik wanita itu.
__ADS_1
Begitu semua kain terlepas, Dewi Jingga langsung berbaring dengan posisi kaki agak terbuka dan lututnya juga sedikit menekuk seperti wanita yang hendak melahirkan. Wira langsung menyeringai, lalu dia bergerak perlahan sampai posisi tubuhnya tepat berada di atas tubuh Dewi jingga.
"Kamu sangat cantik kalau sedang tidak memakai baju, Sayang," puji Wira dengan lembut. Dewi Jingga hanya tersenyum canggung sembari membalas tatapan Wira.
bagian bawah tubuh Wira dan Dewi jingga sudah saling menempel meski belum mulai memasukkan. Wira ingin membuat wanita itu berhasrat terlebih dahulu agar permainan semakin menyenangkan. Tanpa membuang waktu lama, Wira langsung melakukan penyerangan bibir sebagai tanda kalau permainan sudah dimulai.
Sementara itu, di malam yang sama. Tepatnya tak jauh dari keberadaan rumah yang dihuni Wira, terrlihat ada beberapa pria.
"Loh, kok nggak ada," salah satu pria berseru dengan wajah terlihat kebingungan.
"Nggak ada apanya?" rekannya yang tidak tahu apa apa tentu merasa bingung dengan sikap pria itu.
"Rumah pemuda yang memelihara singa. Harusnya kan ada di sekitar sini. Tapi kenapa ini hutan semua."
"Yang benar kamu?"
"Benar lah! Aku masih ingat banget, ini tempatnya."
__ADS_1
"Lalu, kemana rumah itu? Tidak mungkin bukan rumah itu hilang begitu saja, kan?"
Pria tadi hanya terdiam tapi raut wajahnya masih menunjukan rasa herannnya.