
"Kek, Kakek tadi perhatikan tidak, gambar sayap yang ada di dada Wira?" tanya seorang wanita tua yang kini tubuhnya sudah terbaring di atas ranjang. Ranjang yang terbuat dari papan kayu dengan alas kain yang cukup tebal. "Apa mungkin, Wira itu manusia istimewa, Kek?"
"Kakek juga mikirnya begitu," jawab pria tua yang juga sudah terbaring di sisi kiri wanita tersebut. "Mungkin Wira itu titisan seorang Dewa. Karena bukan hanya di dada, dibagian tubuh lainnya juga sepertinya ada beberapa gambar aneh. Kakek sih yakin, gambar itu merupaka simbol khusus. Atau mungkin juga Wira sebenarnya adalah malaikat yang sedang menyamar."
"Bisa jadi ya, Kek," sahut Nenek. "Bisa saja Wira itu memang titisan malaikat yang sedang mendapat hukuman. Jadi sayap yang harusnya berada di punggung, berpindah menjadi gambar di dada. Kek, bagaimana, kalau kita tahan mereka agar lebih lama tinggal disini?"
Kening Kakek sontak berkerut dan dia langsung menoleh kearah istrinya. "Kenapa begitu? Apa mungkin mereka pada akan mau?"
"Ya pasti mau lah, Kek," si Nenek menjawab dengan penuh keyakinan. "Nenek penasaran saja dengan Wira. Kan kalau ada Wira di sini, kita tidak akan takut lagi jika ada Juragan Soloyo datang kemari. Nenek lelah, Kek. Nenek pengin bebas dari lintah darat itu. Merasa tidak punya hutang, tapi disuruh bayar upeti."
Kakek menghembuskan nafasnya dengan kasar lalu kembali menatap langit langit kamarnya. "Baiklah, kita coba, besok pagi kita bujuk mereka," ucap Kakek setelah tadi terdiam sejenak sebelum mengambil keputusan. mendengar jawaban dari suaminya, sang Nenek pun terlihat sangat senang.
Sementara itu masih di dalam satu rumah yang sama dengan rumah yang yang dihuni sepasang Nenek Kakek tersebut, di kamar lain, terlihat pria yang tadi dibicarakan oleh sepasang orang tua itu sedang duduk di tepi ranjang. Pria itu sama sekali tidak merasakan kantuk, namun saat ini pria tersebut sedang dilanda perasaan yang sangat resah.
"Kang Wira kenapa? Kang Wira belum ngantuk?" tanya seorang wanita yang sudah terbaring di atas ranjang yang sama, di mana Wira sedang duduk di tepi ranjang tersebut. Wanita itu dengan polosnya malah melempar sebuah pertanyaan yang jawabannya adalah karena dirinyavlah, Wira belum bisa tidur sampai saat ini. "Kang," wanita itu kembali bersuara, membangkitkan desiran lembut dalam tubuh wira.
"Eh, egh, belum ngantuk," jawab Wira gugup tanpa berani menatap langsung ke arah bidadari yang tadi melempar pertanyaan. "Kamu tidur aja dulu, nanti aku nyusul," ucapnya lagi dengan sikap yang dibuat setenang mungkin. Lagian, bagimana mungkin wira bisa tidur jika disebelahhnya ada wanita cantik dengan pakaian yang sangat seksi. Bahkan benda kembar yang ada di dada bidadari itu seakan berteriak kepada Wira agar pemuda tersebut mengeluarkannya dari jeratan kain.
__ADS_1
Di saat Wira sibuk dengan resah oleh pikirannya sendiri, pemuda itu dibuat terkejut saat bidadari yang bersamanya bangkit dari tidurnya dan mencondongkan tubuhnya hingga hampir saja menyentuh bahu kanan pemuda itu. Keresahan yang Wira rasakan semakin membuncah dengan jantung yang berdetak lebih kencang dari biasanya.
"Apa Kang Wira, tidak senang, tidur bersamaku?" Dewi Kuning kembali bertanya dan pertanyaannya sukses membuat Wira terkejut. "Kalau Kang Wira tidak suka tidur bareng, ya udah aku akan pindah ke kamar lain saja."
"Jangan!" Wira langsung mencegahnya dengan lantang sampai Dewi kuning kaget mendengarnya. Wira bahkan langsung menatap Dewi kuning saat berkata demikian. Tapi itu hanya sementara, setelah itu, Wira kembali gugup dan salah tingkah. "Bukannnya aku tidak suka tidur dengan kamu, aku hanya belum ngantuk saja," kilahnya.
Kening Dewi kuning sontak berkerut dan menatap Wira dengan tatapan penuh selidik. "Bagaimana mungkin Kang Wira bisa ngantuk, kalau Kang Wira sedari tadi duduk saja. Harusnya Kang Wira merebahkan tubuhnya agar rasa ngantuk itu datang. Kang Wira sedang tidak berbohong kan? Sedari tadi aku perhatikan, Kang Wira seperti gelisah sekali."
Seketika Wira terkesiap. Ternyata sikap dia sedari tadi diperhatikan oleh Dewi kuning. "Siapa yanag bohong? Baiklah kalau kamu tidak percaya, aku akan berbaring," karena tidak mau berdebat, Wira memilih mengalah daripada terus dicurigai. Jika boleh jujur, sebenarnya Wira sangat senang, tapi Wira tidak mau para bidadari menganggapnya Wira sebagai pria mesum, jadi dia bersikap seperti itu, berusaha menahan diri.
Lagi lagi Wira dibuat tertegun. Dia memang sengaja mengambil posisi miring dan memunggungi Dewi kuning agar dia bisa meredam isi kolornya yang sudah menegang dengan sempurna. Karena tidak memakai segitiga bermuda di dalam kolornya, Wira tidak ingin Dewi Kuning melihat tonjolan dari balik kolor Wira.
"Sudah, lekas tidur? Apa kamu tidak ngantuk? Aku sudah berbaring ini loh," ucap Wira dengan posisi tubuh yang masih sama.
Dewi Kuning lantas tersenyum tipis. "Belum ngantuk, Kang," jawabnya, lalu wanita itu mengalihkan pandangannya ke atas langit langit kamar yang terbuat dari anyaman bambu hitam. "Kang, apa Kang Wira itu titisan malaikat?"
Kening Wira kembali berkerut. "Titisan malaikat? Apa maksudnya?" tanyanya dengan posisi masih memunggungi Dewi Kuning.
__ADS_1
"Di dada kang Wira, ada gambar sayap malaikat," ucap Dewi kuning. Saat itu juga Wira langsung menatap dadanya dengan persaaan yang masih cukup terkejut. "Dibagian tubuh lainnya juga, ada tulisan aneh dan juga simbol simbol khusus. Terus dengan mudah, Kang Wira bisa menaklukan Singa. Kalau Kang Wira manusia biasa, aku rasa itu tidak mungkin."
"Aku tidak tahu," hanya itu yang bisa Wira katakan. Dia sendiri juga tidak mungkin jujur kalau dia hanya manusia biasa, karena para bidadari memang tidak percaya kalau Wira berasal dari dunia lain. Maka itu Wira menjawab seadanya saja yang terlintas dalam pikirannya. "Sudah, mending sekarang kamu tidur."
Dewi kuning menoleh dan menatap lekat punggung Wira lalu mengembangkan senyum tipisnya. Tanpa membalas ucapan Wira, Dewi Kuning langsung memejamkan matanya.
Beberapa saat kemudian, begitu merasakan keadaan sunyi, Wira yang sedari tadi terbaring miring, secara perlahan menggerakan tubuhnya dengan mata yang mulai memandang ke arah bidadari yang sudah terpejam matanya. Wira terlihat lega, begitu memperhatikan Dewi Kuning sudah terlelap.
Karena jiwa liarnya masih membara, mata Wira langsung saja memandang ke arah benda kembar yang nampak tersiksa. Wira seakan kesusahan menelan salivanya saat matanya menatap lekat sebagian benda kembar yang tidak tertutup kain dan tertekan. Benda kembar yang ada di dada Dewi Kuning seakan menggoda agar Wira menyentuhnya
"Aku boleh mengusap dada kamu tidak?" ucap Wira lirih nyaris tidak terdengar. "Boleh? Makasih," padahal Dewi Kuning tidak bereaksi apa apa, tapi Wira dengan segala rasa pensarannya, memberanikan diri berbuat seperti itu. Perlahan tangan Wira bergerak maju, menyentuh bagian benda kembar yang tidak tertutup kain. "Astaga! Mulus dan kenyal euy!"
Beberapa saat sebelum pagi menjelang.
"Kang Wira kenapa? Kok celananya basah? Apa dia ngompol?"
...@@@@@...
__ADS_1