DALAM PELUKAN TUJUH BIDADARI

DALAM PELUKAN TUJUH BIDADARI
Melanjutkan Perjalanan


__ADS_3

"Kang Wira! pejamkan mata kamu! Kita mau naik!" seru salah satu bidadari. Mereka memang sudah cukup lama bermain air jadi ketujuh bidadari itu memutuskan untuk mengakhiri bermain airnya. Apalagi mereka juga tidak mau membuang waktu lebih lama, agar secepatnya mereka bisa menemukan keberadaan bulu Angsa emas.


"Ya!" Wira membalasnya dengan suara yang tidak kalah kencang. Dia lantas segera memejamkan matanya. Namun sebagai pria normal, Wira juga tidak mungkin membiarkan kesempatan bagus itu berlalu begitu saja. Dengan mata yang pura pura terpejam, Wira bisa menyaksikan secara langsung tubuh polos ketujuh bidadari yang sedang naik ke daratan.


"Sial! Sial! Sial! kenapa mereka mulus mulus banget sih? Jadi pengin merabanya tahu, sial!" Wira hanya bisa mengumpat sembari membayangkan yang tidak tidak. Agar para bidadari tidak curiga dia sedang mengintipnya, Wira sesekali mengusap punggung Singa yang dijadikan tameng agar tidak terlalu jelas kalau Wira sedang mengintip.


"Sudah, Kang! Ayo jalan lagi!" salah satu bidadari kembali berteriak tak lama setelah semuanya kembali mengenakan pakaian mereka. Tanpa membalas sahutan, Wira langsung membuka mata terus bangkit dari duduknya.


"Leo, Ayo jalan!" ajak Wira kepada Singa. Anehnya Singa itu langsung berdiri, seakan dia tahu kalau sekarang nama panggilannya adalah Leo. Sejak berangkat, Wira memang kerap sekali memanggil nama Leo kepada Singa. Apa lagi tadi saat menunggu para bidadari mandi, Wira berkali kali menyebut kata Leo saat dia ngobrol dengan Sang singa. Walaupun Singa tidak tahu apa yang diceritakan Wira, tapi setidaknya pemuda itu tidak kesepian karena ada teman ngobrol.


Setelah semuanya berkumpul dan siap untuk melanjutkan perjalanan, Wira kembali memberi aba aba sebagai tanda kalau mereka harus segera berangkat. Posisinya sama persis seperti yang tadi, Wira berada di depan dan Singa mengambil tempat paling belakang. Sedangkan para bidadari, berada diantara mereka.


Beberapa lama kemudian, saat kaki mereka sudah melangkah cukup jauh, mereka melihat dua pria yang sedang duduk di atas bebatuan yang ada di sungai. Mereka hanya saling pandang dengan benak yang berguman masing masing. Wira dan tujuh bidadari menyangka kalau dua orang itu hanya penduduk setempat. Sedangkan dua orang itu memandang aneh dan takut ke arah Wira dan yang lainnya karena ada Singa di sana.


"Apa mereka pengembara?" tanya salah pria yang duduk di atas batu sambil menikmati batang tebu. Entah pria itu menemukan batang tebu itu darimana, karena di sekitar sungai tidak ada area perkebunan tebu.


"Sepertinya iya," jawwab pria lainnya yang tidak melakukan akttifitas lainnya. Pria yang mengenakan celana kolor berwarna hitam itu masih menatap ke arah rombongan Wira sampai rombongan itu benar benar menjauh.


"Tapi pria tadi kelihatan gagah juga yah? Sampai menggunakan Singa sebagai pengawalnya. Apa mungkin, pria itu, orang hebat? Kamu tadi lihat bukan? Ketujuh wanita yang bersamanya? Cantik cantik sekali," ujar pria pemakan tebu.

__ADS_1


"Sepertinya begitu. Makanya dia dikelilingi banyak wanita cantik. Bukankah ketua kita juga sering dikelilingi wanita karena kehebatannya?" balas pria berkolor hitam. "Tidak seperti kita. Satu wanita aja, tidak ada yang mau mendekat."


"Hahahah ..." pria pemakan tebu terbahak cukup kencang. Bukan tertawa bahagia, tapi tertawa nelangsa karena apa yang dikatakan rekannya memang benar. Selama ini mereka selalu kesusahan untuk mendapatkan seorang wanita. "Sudahlah, mending kita lanjutkan tugas kita. Pasti bidadari itu sedang bingung mencari bulu Angsa Emas di tempat dia menghilangkan bulu itu."


Pria berkolor hitam mengangguk setuju. Mereka lantas bangkit dari duduknya lalu melangkah menuju tempat kuda mereka disembunyikan, setelah itu keduanya melanjutkan perjalanan tugas mereka.


Sementara itu di tempat lain.


"Sepertinya di sana ada perkampungan," tunjuk Dewi Hijau ke salah satu arah. Wira dan yang lainnya sontak mengedarkan pandangan mata mereka ke arah yang ditunjuk Dewi hijau. Benar juga, di salah satu sisi sungai terlihat beberapa genting yang tertata rapi sebagai atap rumahlh, serta asap yang membumbung ke langit.


"Wahh! Benar juga!" seru Dewi Merah. "Kang, kita mampir dulu ya? Kita cari pasar, aku butuh baju buat ganti."


"Baiklah," jawab Wira nampak sangat berwibawa. "Tapi singanya bagaimana? Apa ikut juga ke kampung?"


Mendengar pertanyaan Wira, langkah ketujuh wanita seketika berhenti, lalu mereka serentak menatap ke arah Singa. "Kita tidak tahu, Kang," jawab dewi Kuning. "Kalau Singa masuk ke kampung, yang ada nanti orang orang pada takut."


Wira mengangguk. Tentu saja dia mengetahui akan hal itu. Sembari berpikir, mencari jalan keluar, Wira melangkah, mendekati sang Singa. Dengan lembut, Wira mengusap kepala Singa jantan itu. "Leo, kita akan memasuki perkampungan. Kalau kamu menjaga kita dari jarak jauh, kamu mau tidak? Kita tidak mungkin membawamu memasuki kampung. Nanti yang ada kamu membuat penduduk kampung takut. Gimana? Mau ya?"


Singa itu terdiam. Dia seperti sedang mencerna ucapan Wira untuk beberapa saat, lalu tak lama setelah itu Leo mengaum dan dia segera saja pergi meninggalkan Wira dan para bidadari.

__ADS_1


"Singanya sangat patuh sama kamu, Kang," ucap Dewi Jingga dengan rasa takjub yang masih bersarang dalam benaknya.


Wira yang matanya menatap kepergian Leo, langsung menyunggingkan senyum tipisnya. Setelah sosok Singa hilang dari pandangannya, Wira memalingkan wajahnya ke tujuh bidadari. "Ayok kita ke sana." Dengan diiringai senyuman, para bidadari langsung mengikuti ajakan Wira.


Sesampainya mereka di kampung yang tadi mereka tuju, hampir semua mata penduduk kampung itu menatap Wira dan ketujuh bidadari dengan penuh banyak tanya. Karena tatapan itulah, Wira dan para bidadari menjadi canggung. Mereka pun hanya bisa menyapa dengan senyuman karena mereka bingung hendak melakukan apa.


"Coba tanya salah satu penduduk, dimana letak pasarnya?" bisik Dewi biru pada salah satu dewi yang bergandengan tangannya dengannya.


"Kamu aja yang tanya, aku malu," ujar Dewi Nila.


"Ngapain malu? Orang tinggal tanya."


"Ya coba kamu yang tanya? Berani tidak?" Dewi biru hanya mendengus. Lalu dia mengedarkan pandangannya. Di saat yang lain juga sedang berdebat, ketujuh bidadari itu dibuat terkejut dengan apa yang dilakukan Wira secara tiba tiba. Mereka menyaksikan sendiri, Wira yang menghampiri salah satu penduduk dan menanyakan petunjuk arah menuju ke pasar. Bukan hanya itu saja, Wira juga menanyakan sebuah penginapan.


"Kita ke arah sana! Katanya pasar dan penginapan berada di sana, tak jauh dari hutan itu!" tunjuk Wira setelah mendapat infromasi. Ketujuh bidadari mengangguk dengan perasaan yang tidak enak hati. Mereka pun melangkah ke arah yang ditunjuk Wira.


Ternyata, untuk menuju pasar, mereka harus melewati hutan. Mereka pun melangkah memasuki hutan dengan megikuti petunjuk berupa setapak yang mungkin sering digunakan penduduk sebagai jalan menuju pasar. Di saat fokus mata mereka memperhatikan arah jalan, mereka dikejutkan dengan suara yang tiba tba datang dengan sangat lantang.


...@@@@@...

__ADS_1


__ADS_2