
Para bidadari pulang dengan hati yang sangat gembira. Selain karena mereka selamat dari para pria yang mengganggu mereka, kelima bidadari juga senang karena lima bulu angsa emas, kini sudah kembali kepada pemilknya. Jadi, sekarang tinggal mencari dua sisa bulu Angsa Emas yang keberadaanya masih menjadi misteri
Sesampainya di rumah, mereka tidak langsung masuk melalui pintu utama. Mereka lebih memilih lewat jalan samping rumah yang menuju ke arah belakang. Selain menaruh beberapa barang belanjaan, kalau lewat samping rumah, mereka bisa langsung menuju kolam atau kamar mandi untuk sekedar cuci muka dan buang air kecil, atau ke dapur untuk melepas dahaga.
"Kalian baru pulang?" Dewi merah yang saat itu sedang memetik daun singkong muda dari tangkainya, agak terkejut saat para bidadari yang lainnya datang. Entah kenapa, dia menjadi agak panik sendiri meski sekarang dia sudah berada di belakang dapur.
"Sudah," jawab Dewi Nila. "Kok daun singkongnya baru dipetikin? Kamu belum masak?" Dewi Nila jelas merasa heran dengan apa yang dikerjakan Dewi merah.
Pertanyaan yang keluar dari mulut Dewi nila tentu saja turut mengundang perhatian dan juga rasa heran, pada bidadari lainnya yang baru datang.
"Iya, tapi kalian tenang aja, nasi sebentar lagi matang kok. Kalau lauknya, kan cepat pengolahannya" sahut Dewi hijau dari dalam dapur.
"Emang dari tadi kalian ngapain aja, sampai siang gini baru masak?" Dewi ungu juga bertanya sembari duduk di atas dipan yang memang sengaja disediakan di belakang dapur oleh kakek sebelum para bidadari tinggal di rumah itu.
"Kami pikir kalian pulangnya agak sore, jadi kami sengaja masaknya agak siang. eh tahunya kalian malah pulang duluan," jawab Dewi merah.
Dewi merah dan Dewi hijau memang sudah merencanakan semuanya, begitu mereka selesai bercinta dengan pemuda yang saat ini masih berada di dalam kamar.
"Owalah, kan nenek sudah bilang, kita siang sudah pulang. Masa kalian lupa?" Dewi biru malah terlihat kesal. Sejak dihukum di atas bumi, keadaan para bidadari memang tidak beda jauh dengan para manusia. Mereka bisa merasakan lapar sampai emosi. Berbeda jauh dengan kehidupan para bidadari di langit.
__ADS_1
"Kan kita nggak tahu siangnya kapan. Orang mataharinya aja sekarang belum berada di atas ubun-ubun. Nenek juga tadi kan bilang, kemungkinan, Siang sudah pulang. Jadi tidak pasti bukan, siangnya kapan?" Dewi hijau keluar sambil membela diri.
"Sudah, sudah," Nenek yang tidak mau ada perdebatan berusaha melerai. "Kalian kalau sudah lapar, makan dulu buah-buahan yang ada. Sambil menunggu makanan matang, makan buah juga cukup mengeyanhkan."
Kelima bidadari menurut. Salah satu dari mereka masuk ke dalam untuk mengambil beberapa buah yang ada di keranjang, di atas meja yang terletak di dapur. Di sana ada beberapa jenis pisang, jambu, dan mangga yang sudah matang dari pohonnya. buah itu dibawa ke belakang rumah untuk dinikmati bersama-sama.
Wira sendiri saat ini masih tergeletak di atas ranjang. Pemuda itu masih terbayang percintaan yang baru saja dia lakukan dengan dua bidadari. Wira masih merasa tidak percaya dan juga takjub dalam waktu bersamaan.
"Kalau ada teman temanku di sini, mereka pasti bakalan iri jika mereka tahu aku dikelilingi tujuh wanita cantik yang mau aku nikmati, hihihi," gumamnya.
Cukup lama Wira berdiam diri di dalam kamar. Saat bosan dan lapar melanda, pria muda itu segera saja bangkit dari berbaringya, lalu mengenakan dua celana kolor. Setelah itu Wira keluar untuk meminta makanan.
"Loh, Kakek? Kakak sudah pulang?" bukannya menjawab, Wira malah melempar pertanyaan sembari duduk menghadap pria tua tersebut.
"Sudah, kamu baru bangun?" Kakek menjawab sekaligus kembali melempar pertanyaan yang sama.
"Sudah, Kek. Gimana tadi di pasar? Apa barang dagangannya laku semua?" Wira pun melakukan hal yang sama, menjawab dan melempar pertanyaan.
"Ya, barang jualan kakek semua habis dengan cepat. Makanya, kita sudah pulang siang begini," jawab Kakek. "Tapi tadi, kita hampir saja dapat masalah."
__ADS_1
Wira yang sedang menuang air putih ke dalam gelas bambu agak terkejut mendengar ucapan kakek. "Masalah apa, Kek?"
"Tadi ada lima orang yang akan menculik para wanita. Hampir saja mereka ketangkap. Untungnya Singa datang tepat waktu. Kalau nggak, mungkin lima wanita itu, saat ini sudah tidak bersama kita lagi."
Wira mengangguk beberapa kali lalu menenggak air minumnya. "Ya syukurlah. Ada yang terluka nggak, Kek?"
"Kita sih nggak ada. Cuma salah satu dari orang itu, tangannya kena terkaman singa. Untungnya tangannya nggak sampai putus."
"Lah, kok bisa Singa menerkam mereka?"
"Ya... soalnya tadi Kakek dalam bahaya. Hampir saja tubuh Kakek terkena sabetan senjata tajam. Makanya singa menerkam tangan orang itu, karena dia mengayunkan senjata tajam dan diarahkan ke Kakek."
"Owalah," Wira pun menjadi maklum. Tapi dia cukup senang karena Singa benar-benar menjalankan perintah darinya. Di saat mereka sedang asyik ngobrol, keduanya mendengar suara menyapa dari depan rumah. Wira pun memilih bangkit dari duduknya untuk menemui orang tersebut.
Ada beberapa pria yang menggunakan pakaian yang sama persis satu dengan lainnya, berdiri di depan rumah. Hal itu tentu saja membuat kening Wira berkerut dengan batin yang bertanya, "Siapa mereka?"
@@@@
Bagi yang ingin tahu karya saya di tempat berkoiin(GN) kunjungi saja nama pena rcancer ya.
__ADS_1