
Wira cukup terkejut saat salah satu pengawal kerajaan itu mengatakan tentang bulu Angsa emas. Pemuda itu tidak langsung menjawab, dan dia memilih fokus bercanda dengan singa yang sekarang berada di dekatnya.
Sedangkan tiga pengawal kerajaan merasa geram dan juga aneh dengan sikap Wira yang tidak langsung menjawab soal bulu angsa emas. Ingin rasanya mereka menghardik pemuda itu, tapi adanya singa di sana membuat mereka sama sekali tidak berani macam macam.
"Lebih baik kalian segera pergi dari sini, sebelum singa ini merasa kelaparan," Wira mengusir para pengawal kerajaan itu dengan sedikit memberi ancaman agar mereka takut.
Sudah pasti, ancaman Wira begitu ampuh. Tanpa pikir panjang, ketiganya segera pamit dan pergi dari sana. Wira dan kakek pun merasa lega. Mereka untuk sejenak memperhatikan singa yang terbaring santai di atas rumput, halaman rumah mereka.
"Wira, apa nanti tidak bahaya jika Raja tahu tentang istri istri kamu?" kakek bertanya sembari meletakan pantatnya pada teras kayu rumahnya.
"Bahaya kenapa, Kek?" tanya Wira yang hanya menoleh kepada sang Kakek karena sedang asyik membelai kepala singa.
"Jika Raja tahu wajah istri kamu, bisa saja dia ingin mengambil alih salah satu atau semuanya untuk dijadikan selir," jawab Kakek yang juga membalas tatapan anak muda itu.
Kening Wira berkerut, lalu dia bangkit dari jongkoknya dan melangkah mendekat ke tempat kakek. Wira pun duduk di dekat pria tua tersebut. "Emang Raja bisa bertindak sesuka itu, Kek?"
Kakek tersenyum tipis, lalu menatap Singa yang nampak tertidur di atas rumput. "Titah Raja itu mutlak, Wira. Apa yang menjadi perintah dan keinginannya, merupakan hal yang harus dipatuhi oleh semua warga yang berada di wilayah kekuasannya."
Wira terkejut. Alis mata pemuda itu sampai terangkat satu dengan mata masih menatap lekat pria tua di sebelahnya. "Masa ada Raja seperti itu sih, Kek? Arogan sekali."
__ADS_1
"Arogan? Apa itu?' tanya Kakek yang memang tidak mengerti kata yang diucapkan Wira.
"Arogan itu semaunya sendiri. Mentang mentang berkuasa, dia bertindak semau dia tanpa memikirkan perasaan rakyatnya," terang Wira, yang cukup membuat pria tua itu mengerti.
"Sebenarnya banyak kebijakan Raja yang berdampak baik untuk kesejahteraan rakyatnya, tapi banyak yang bilang kalau Raja itu sangat menyukai wanita cantik. Itu yang menjadi Raja terlihat buruk di mata rakyatnya. jika melihat wanita cantik, Raja tidak segan akan memberi titah agar wanita itu mau menjadi selirnya, tanpa mempedulikan keadaan atau alasan apapun."
Wira langsung mendengus. "Kalau sampai Raja melakukan itu pada istri istriku, lihat saja, aku tidak akan tinggal diam," Wira bertekad dengan sorot mata tajam menatap singa.
"Kamu akan melawannya?"
"Tentu saja!" jawab Wira tegas. "Aku tidak akan rela jika para wanitaku dipaksa menjadi selir Raja. Enak aja, aku aja mendapatkan mereka denganbsusah payah."
"Aku tidak takut, Kek. Meskipun itu Raja yang datang, aku akan tetap menghadapinya."
Kakek mengangguk percaya dan senyumk tipisnya kembali terkembang. "Ya sudah, lebih baik sekarang kita masuk, apa kamu tidak lapar? Kamu kan baru bangun tadi?"
Wira tersenyum lebar. Tentu saja apa yang dikatakan kakek memang benar, Wira sudah sangat lapar. Dua pria beda usia itu lantas beranjak masuk untuk menikmati hidangan yang mungkin memang sudah disiapkan para wanita untuk mereka.
Sementara itu, tiga pengawal kerajaan bergegas kembali ke istana untuk memberi laporan tentang informasi yang mereka dapat. Dengan menunggangi kuda yang mereka titipkan di rumah seorang warga, mereka sudah tidak sabar ingin memberi tahu raja semua yang mereka alami.
__ADS_1
Para pengawal kerajaan memang seperti itu jika sedang mendapatkan tugas dari kerajaan. Mereka akan menitipkan kudanya di rumah salah satu warga, dan memilih berjalan kaki untuk berkeliling memeriksa apapun, sebagai bahan laporan saat mereka kembali ke istana.
Menjelang petang, tiga pengawal itu telah sampai di tempat yang mereka tuju. Tentu saja tanpa membuang waktu, mereka langsung menghadap sang Raja untuk memberi laporan.
"Katakan, informasi apa saja yang kalian dapat dari kampung yang dipimpin juragan Suloyo?" tanya sang Raja begitu ketiganya selesai memberi hormat.
"Ternyata apa yang menjdi kecurigaan Yang mulia, terbukti. Juragan Suloyo meminta upeti yang sangat memberatkan kepada rakyatnya, Yang mulia. Dia bahkan tidak segan memberi hukuman bagi rakyat yang protes dan tidak patuh dengan perintahnya, Yang mulia."
"Kurang ngajar!" geram sang Raja sampai tangannya terkepal dengan erat. "Lalu infomasi apa lagi yang kalian dapat?"
"Kami mendatangi rumah penduduk, Yang mulia."
"Lalu?"
"Salah satu dari rumah penduduk yang kami datangi, katanya ada beberapa wanita yang sangat cantik, Yang mulia."
"Apa! Benarkah?" sang Raja bertanya dengan wajah yang berbinar.
"Benar, Yang mulia, tapi maaf, kami tidak bisa menemuinya karena kami dilarang oleh suaminya, Yang mulia!"
__ADS_1
"Apa! Kurang ajar!" Sang Raja kembali merasa geram.