
Wira dan ketujuh bidadari kini sudah memasuki rumah sepasang suami istri yang usianya sudah cukup tua. Mereka disambut ramah oleh sepasang nenek dan kakek tersebut. Terlihat dari sikap mereka, kalau dua orang tua tersebut merupakan orang yang sangat ramah. Wira dan tujuh bidadari sungguh merasa nyaman berada di rumah tersebut karena sikap dan suasana yang ada di sana.
Namun dari obrolan yang sedang terjadi, para bidadari sesekali saling bisik satu sama lainnya, sambil memperhatikan sesuatu yang ada di rambut nenek. Mereka juga cukup senang, melihat benda yang mereka cari ternyata ada pada nenek itu. Namun begitu, mereka juga penasaran, kenapa benda yang mereka cari ada di sana dan hanya ada satu saja. Ingin rasanya mereka bertanya, tapi entah dari mana mereka akan memulai darimana melempar pertanyaan yang berhubungan dengan benda tersebut.
"Apa Nenek sengaja merias diri untuk menyambut kedatangan kami?" tanya Wira disela sela obrolannya. "Perasaan tadi waktu saya kesini, Nenek belum mengenakan hiasan pada rambutnya." Para bidadari seketika terperanjat mendengar pertanyaan yang keluar dari mulut Wira. Namun tidak lama setelahnya, senyum ketujuh bidadari terkembang tipis dan mereka penasaran dengan jawaban dari sang nenek.
Wira memang sengaja bertanya seperti itu karena disaat dia sedang ngobrol dengan tuan rumah, Wira mendengar para bidadari saling berbisik sembari menyebut nama benda yang berada pada rambut wanita pemilik rumah itu.
Nenek itu juga tersenyum sembari mengusap rambutnya sendiri. "Kebetulan tadi saat kamu datang, Nenek baru saja selesai mandi, Memang kenapa? Apa nenek kelihatan makin cantik?" ucapnya dengan percaya diri.
"Hhahah..." Wira dan yang lainnya sontak terbahak mendengar ucapan sang nenek. "Iya, Nenek semakin kelihatan cantik. Maka itu Kakek cemberut, karena takut aku merebut nenek," ucap Wira bercanda.
"Hehehe ..." si Nenek malah terkekeh sembari menoleh kearah suaminya. "Tenang, Kek. Nenek akan selalu setia sama Kakek. Wira kan wanitanya sudah banyak itu, jadi Nenek tidak sudi berbagi laki laki sama wanita lain."
Si Kakek hanya mendengus, tapi tak lama kemudian, senyumnya terkembang sembari menatap Wira. "Bisa saja kalian kalau bercanda. Tapi Kakek senang, rumah ini jadi rame. Biasanya kalau malam sepi," ucap Kakek lagi. "Sebenarnya kalian itu darimana dan juga mau kemana?"
__ADS_1
Wira kembali tersenyum tipis. "Sebenarnya kami sedang mencari sesuatu, Kek," jawab Wira lalu dia menatap ke arah Nenek. "Itu hiasan bulu yang ada di rambut Nenek, apa Nenek membelinya?"
Kening sang Nenek seketika berkerut. Lalu tak lama setelahnya dia mengusap rambutnya dan mencabut bulu yang dia jadikan hiasan rambut sebagai konde. "Nenek tidak tahu bulu ini punya siapa. Nenek menemukannya saat Nenek dan kakek baru saja pulang dari kampung tetangga dan mampir sejenak di tepi sungai. Apa kamu kenal dengan pemilik bulu ini?"
Wira tentu saja langsung mengangguk. "Bulu itu mirip sekali dengan bulu Angsa para wanita ini, Nek. Kita memang sedang mencarinya," jawab Wira jujur. "Kalau Nenek berkenan, apa boleh saya memeriksanya?"
Tanpa ada pikiran yang macam macam, Nenek itu mengangguk dan dia menyodorkan bulu tersebut. Tapi diluar dugaan, Kakek dengan cepat menahan tangan Nenek dan mengambil alih bulu tersebut, hingga semua yang ada di sana, merasa sangat terkejut. Ditambah lagi pandangan Kakek kepada Wira nampak berubah. Tatapan sang Kakek bahkan terlihat seperti tatapan menyelidik.
"Memang kalian darimana? Kenapa kalian jauh-jauh mencari bulu ini? Bukankah ini hanya sekedar bulu?" cecar sang kakek dengan pertanyaan yang cukup membuat Wira dan ketujuh bidadari kembali dibuat terkejut.
Meskipun terkejut, Wira mencoba untuk tetap bersikap tenang, demi menghadapi sang kakek yang seperti menaruh curiga kepadanya dan tujuh bidadari. "Kami berasal dari kampung yang cukup jauh dari sini, Kek. Kami sengaja berkelana, karena mereka kehilangan benda berharga mereka. Ibaratnya, bulu itu adalah bulu kesayangan mereka semua. Kakek pasti tahu kan? Bagaimana rasanya kalau kita kehilangan sesuatu yang kita sayangi? Begitu juga dengan para wanita ini, Kek."
Seketika Wira dan ketujuh bidadari menunjukan reaksi wajah yang berdeda dari sebelumnya. mereka terperangah, lalu Wira menoleh ke arah para bidadari. Dari tatapan mata yang ditunjukan oleh Wira, jelas sekali disana terbaca kalau saat ini Wira cukup bingung dan tidak tahu harus menjawab pertanyaan Kakek dengan jawaban seperti apa.
"Kebetulan, kami semua istri Kang Wira, kek," tiba tiba Dewi Merah bersuara. Tentu saja hal itu sangat mengejutkan bagi Wira dan bidadari yang lainnya. Dewi merah seketika langsung menjadi pusat perhatian semua yang ada di sana. Dari tatapan mata yang mereka tunjukan jelas sekali terlihat kalau mereka menuntut penjelasan.
__ADS_1
"Oh, gitu," ucapan Kakek seketika mengalihkan pandangan semuanya. "Ya wajar kalau kamu sampai rela pergi sejauh ini. Sama istri memang harus seperti itu," ucap Kakek, lalu dia mulai berkisah tentang segala pengorbanan yang dia lakukan demi membahagiakan istrinya. "Tapi sayang sekali, Kakek cuma berani menikah dengan satu wanita saja. Apa kalian belum punya anak?" Wira menggeleng sambil cengengesan. Mau tidak mau dia harus ikut bersandirawa juga, gara gara ucapan Dewi merah. "Pantas, kalian mau pergi jauh karena kalian belum memiliki anak. Kalau sudah, mungkin kalian tidak akan sudi pergi jauh demi mencari sehelai bulu ini," ucap kakek lagi.
"Maka itu, Kek, apa boleh kami melihatnya?" tanya Wira. "Kalau itu bukan bulu yang sama dengan milik kami, pasti akan kami kembalikan kok, Kek."
Kakek mengangguk dengan mata menatap bulu yang sekarang ada di tangannya. "Kalau dilihat dari ciri cirinya sih, bulu ini seperti bulu angsanya para bidadari."
Deg!
Wira dan ketujuh bidadari kembali terperangah. "Bulu Angsa bidadari? Maksud kakek?" tanya Wira lagi.
"Apa kamu tidak tahu tentang cerita bidadari dan bulu Angsa emas?" tanya Kakek dengan tatapan menyelidik dan juga heran. "Ini cerita sudah lama dan juga turun temurun dari nenek moyang kita loh."
"Emang ceritanya gimana, Kek?" kini gantian Dewi Biru yang mengeluarkan suaranya.
Si Kakek terlihat menghela nafasnya dalam dalam dan menghembuskannya secara perlahan sembari memperhatikan bulu di tangannya. Entah sudah berapa kali pria tua itu memandang bulu itu, tapi reaksinya terlihat kalau dia sepertinya tahu tentang hubungan bidadari dengan bulu Angsa emas.
__ADS_1
"Entah benar atau tidak, katanya bulu Angsa emas adalah sumber kekuatan yang dimiliki para bidadari. Dengan bulu Angsa emas ini, para bidadari bisa terbang sesuka hati kemanapun yang mereka inginkan. Apa mungkin istri istri kamu itu, juga bidadari? Sampai kalian rela pergi jauh hanya untuk mencari bulu ini?"
...@@@@@...