DALAM PELUKAN TUJUH BIDADARI

DALAM PELUKAN TUJUH BIDADARI
Terjebak Keadaan


__ADS_3

Tercengang, itulah reaksi yang ditunjukkan oleh Wira dan ketujuh bidadari, saat mendengar pertanyaan dari sang Kakek. Untuk beberapa saat, mereka saling diam dan saling pandang satu sama lain. Bingung, apa yang harus mereka jawab dengan pertanyaan tersebut. Para bidadari sedang berada di dalam dilema yang cukup besar saat ini.


"Memangnya, yang boleh memiliki bulu Angsa Emas itu, hanya kaum bidadari saja, Kek?" tanya Wira dengan sikap yang dibuat setenang mungkin. Pikirannya sungguh bekerja dengan sangat cepat untuk menyangkal pertanyaan sang kakek yang menyebut soal hubungan bidadari dan bulu emas di tangannya. "Memangnya wanita biasa tidak boleh memiliki bulu seperti itu?"


Untuk sejenak, si Kakek tertegun begitu mendengar jawaban yang keluar dari mulut Wira. Namun tak lama setelahnya, Kakek mengulas senyum sambil mengalihkan pandangannya ke arah bulu yang dia pegang. "Yang kamu katakan memang benar. Kakek hanya ingin tahu saja, apakah mungkin ..."


"Sudah cukup lah, Kek," si Nenek tiba tiba bersuara, menghentikan ucapan suaminya, lalu dia dengan gerakan cepat merebut kembali bulu yang Kakek pegang. "Tinggal diberikan saja apa susahnya. Lagian yang menemukan juga Nenek, kenapa Kakek yang ceweret, tanya ini itu segala?"


Si Kakek terperangah. Dia tidak menduga istrinya akan bereaksi seperti itu. "Kakek kan cuma pengin tahu, apa salahnya sih, Kakek tanya?" protes Kakek dengan wajah cemberut.


"Ya salah," Nenek berkata dengan tegas dan tidak mau kalah. "Mereka itu tamu dan mereka juga bukan penjahat. Jangan membuat tamu kita tidak nyaman karena pertanyaan Kakek yang seperti sedang menyellidiki. Lagian kalau mereka bidadari, Kakek mau apa? Mau nikah lagi sama mereka? Iya?"


Kakek semakin ternganga tak percaya mendengar ucapan istrinya. Pria tua itu memilih diam dengan hati yang mengumpat. Sedangkan Wira dan ketujuh bidadari hanya mampu tersenyum tipis, menyaksikan sikap Nanek dan Kakek yang berdebat hanya karena bulu.


"Ya udah, kalau bulu ini memang milik kalian, Nenek akan memberikannya," ucap si Nenek sambil menyodorkan bulu itu kepada Wira yang memang paling duduknya paling dekat dengan sepasang kakek nenek tersebut. Dengan senang hati, Wira menerima bulu itu.


"Terima kasih, Nek," ucap Wira setelah bulu berada di tangannya. Wira lalu menolah ke arah tujuh bidadari dan menyerahkan bulu itu kepada mereka. "Apa benar ini bulunya?"


Salah satu bidadari menerima bulu itu dengan senang hati. Begitu bulu sudah berada di tangan bidadari, bulu tersebut tiba-tba mengeluarkan cahaya. Sayang sekali yang bisa melihat cahaya hanya para bidadari. Wira dan sepasang Kakek dan Nenek itu tidak bisa melihatnya.

__ADS_1


"Iya benar, bulu ini milik Dewi Merah," ucap Dewi hijau yang kebetulan memegang bulu angsa tersebut.


"Dari mana kamu tahu kalau itu adalah milik Dewi Merah?" tanya Wira yang tadi sempat terkejut dengan ucapan Dewi hijau. "Emang ada tandanya?"


Dewi hijau lantas mengangguk. Karena di sana ada manusia lain selain Wira, Dewi hijau tidak menjelaskan, soal tanda yang bisa menunjukan identitas pemilik bulu tersebut. Tanda tersebut terlihat dari cahaya yang terpancar, dan kebetulan tadi cahaya yang memancar dari bulu itu adalah berwarna merah.


"Ya sudah, urusan bulu sudah selesai," ucap Nenek. "Sekarang sudah malam, mending kalian tidur. Kalian, biasa tidur bersama atau bergiliran?"


Wira dan para bidadari kembali dibuat tertegun, begitu mendengar ucapan Neneknya. "Maksudnya, Nek?" tanya Wira. Wajahnya jelas sekali menunjukan kalau diaa bingung dengan apa yang dikatakan wanita tua di rumah itu.


"Loh, kok malah tanya maksudnya?" si Nenek malah terlihat heran dengan pertanyaan Wira. "Kalian kan suami istri. Tidurnya bareng satu kamar atau bergantian. Masa gitu aja tidak maksud."


"Tidak usah malu," kini si Kakek kembali bersuara, dan sepertinya si Kakek salah paham dengan sikap para tamunya yang terlihat salah tingkah. "Karena di sini ada kamar tiga yang akan kalian gunakan, mending dibagi. Yang kakinya terluka, lebih baik tidur dengan suaminya."


Wajah Wira seketika memerah. Dan saat itu juga Wira jadi merasa resah. Bukannya Wira tidak senang berada dalam satu kamar dengan wanita. Apa lagi wanita itu memang wanita yang sangat cantik berpangkat bidadari, Wira jelas tidak ingin menolak kesempatan itu. Tapi yang jadi pertanyaan besar dalam benak Wira adalah, apa dia mampu menahan diri melewati malam dalam satu kamar dengan wanita cantik.


"Yang dikatakan Kakek benar itu," Nenak malah mendukung sang Kakek. "Sebagai suami, memang harus merawat istri yang sakit. Udah sana, kalian tidur. Nenek sama Kakek juga mau tidur."


"Baik, Nek," ucap Wira dengan suara agak tergagap. "Kalau begitu Nenek dan Kakek lebih baik masuk dulu aja ke kamar. Kami belum ngantuk, dan masih ingin ngobrol," kilah Wira. Sepasang Nenek dan Kakek itu sontak mengiyakan. Mereka berdua beranjak lalu masuk ke salah satu kamar yang sering digunakan oleh Kakek dan Nenek tersebut. "Kalian juga tidur sana," ucap Wira kepada tujuh bidadari.

__ADS_1


"Lah kamu sendiri gimana, Kang? Kamu tidak tidur?" tanya Dewi Jingga.


"Ya tidur," jawab Wira. "Tapi aku tidur di sini saja."


"Loh!" para bidadari nampak terkejut. "Kenapa Kang Wira malah tidur di sini?" tanya Dewi hijau.


"Lah, emamg aku harus tidur dimana? Nggak mungkin, kan? Kalian setuju aku se kamar dengan Dewi kuning?"


Untuk sejenak ketujuh bidadari saling pandang. "Tapi kan Nenek dan Kakek tahunya kita suami istri, Kang. Nanti kalau mereka curiga gimana?" ucap Dewi Biru.


"Udah sih, Kang, jangan terlalu banyak mikir," ucap Dewi Kuning. "Kan kita cuma tidur bareng, tidak melakukan hal yang lainnya. Daripada kita ketahuan membohongi mereka. Nenek dan Kakek sudah baik loh sama kita. Kita diberi makan dan tumpangan untuk istirahat. Kalau mereka tahu, kita bohong, pasti mereka akan kecewa."


Wira semakin bingung harus menunjukan ekspresi seperti apa untuk saat ini. Meski jiwa laki lakinya girang bukan main, tapi ada sisi hati yang lain dari Wira yang masih tidak menyangka, akan tidur dengan wanita cantik. "Baiklah. Coba kalau Dewi merah tadi nggak ngomong kalau kalian itu istri aku, pasti ..."


"Udah," Dewi merah langsung bersuara sampai ucapan Wira terhenti begitu saja. "Jujur aja deh, sebenarnya Kang Wira juga senang kan bisa sekamar sama bidadari? Ngaku." Wira langsung celingukan sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Dih, tinggal ngomong iya gitu, pakai protes segala. Dahlah, aku ke kamar dulu. Kang Wira, bantu Dewi kuning jalan ya? Kan kalian sekamar."


Wira kembali ternganga. Di saat dia melayangkan protes, keenam bidadari malah melenggang begitu saja sambil menahan senyum dengan sikap Wira yang agak frustasi. Sekarang di ruang tengah rumah tersebut tinggal Wira dan Dewi kuning saja.


"Ayo, kang kita ke kamar," ajakan yang begitu lembut dari wanita cantik, membuat Wira gugup dan salah tingkah.

__ADS_1


...@@@@...


__ADS_2