
"Apa! Kamu serius, Dek?" seru Wira yang nampak terkejut dengan ajakan bidadari di depannya. Bukannya tidak senang, tapi Wira hanya merasa percaya saja dengan apa yang baru saja dia dengar. "Nanti kalau kamu dapat masalah lagi bagaimana? Apa kamu tidak takut?" tanya Wira sedikit khawatir.
Bidadari itu tersenyum. "Kang Wira tidak perlu memikirkan hal itu. Kang Wira hanya harus menjawab mau atau tidak? Jika tidak mau ya nggak apa apa."
"Pasti mau lah, Dek," Wira menjawabnya dengan cepat. Biar bagaimanapun ini adalah kesempatan yang Wira harapkan. Bukan hanya saat Wira bersama bidadari saja, tapi harapan untuk menikmati lubang wanita sudah ada sejak Wira mulai tertarik dengan lawan jenis dan memiliki hasrat kepada lawan jenisnya.
"Ya sudah, ayo kita lakukan. Tapi Kang Wira harus mengajariku ya, soalnya aku belum banyak pengetahuan tentang cara melayani pria," pinta Dewi ungu yang berbicara dengan menolehkan kepalanya karena posisinya masih sama yaitu, Dewi ungu memunggungi Wira.
"Siap! Aku akan ajarin kamu, Sayang," balas Wira antusias. Wajahnya benar benar berseri dan terlihat sangat bahagia. "Lebih baik kita melakukannya di sana aja yuk, biar lebih leluasa," ucap Wira lagi sambil menunjuk ke arah hamparan rumput di tepi sungai, dimana baju mereka tergeletak disana.
Bidadari langsung setuju. Mereka berdua sontak bangkit dan beranjak menuju ke tempat yang tadi ditunjuk Wira. Begitu sampai, Wira langsung berinisiatif menggelar kain milik bidadari untuk dijadikan alas, lalu meminta bidadari itu berbaring di atas kain tersebut.
Meskipun Wira belum pernah sekalipun berhubungan badan dengan wanita, tapi dia sudah cukup banyak pengalaman dalam menonton adegan seperti itu. Ditambah lagi jiwa liar pria itu yang sudah sering meronta, membuat Wira terlihat seperti seorang ahli dalam hal berhubungan badan.
Sebagai awal mula, Wira lebih dahulu mengajari bidadari melakukan perang bibir. Bidadari itu hanya menuruti apa yang Wira katakan. Bukan hanya bibir, Wira juga menjelajahkan bibirnya ke berbagai tempat di tubuh bidadari termasuk sasaran utamanya adalah bukit kembar yang menggantung indah.
"Langsung maasuk aja ya, Sayang. Aku sudah tidak tahan," pinta Wira dengan suara yang begitu berat. Bidadari lantas tersenyum dan menganggukan kepalanya sebagai bentuk jawaban. Wanita itu juga ternyata sudah berhasrat akibat sentuhan Wira di sekujur tubuhnya.
Wira tersenyum. Dia segera mengambil posisi untuk memasukan benda menegang miliknya ke dalam lubang yang sangat dia idamankan. Wira masih tidak menyangka akan mendapatkan kenikmatan seperti ini justru di alam lain dan juga langsung mendapatkannya dari bidadari.
"Akh~" Bidadari mengerang begitu batang Wira mulai memasuki lubangnya. Sebelumnya Wira juga sudah bilang, jika pertama kali lubang wanita mendapat penyodokan dari batang pria, pasti akan menimbulkan rasa sakit. Bidadari pun mengerti dan dia tetap mau melanjutkannya.
__ADS_1
Wira terus mendorong batangnya memasuki lubang yang masih sangat sempit. Sekarang Wira menjadi bertambah ilmu pengetahuannya, kalau apa yang dikatakan orang orang itu memang benar, lubang wanita yang masih bersegel, akan cukup sulit jika pertama kali disodok, dan Wira telah membuktikannya.
Namun Wira tidak menyerah karena ini juga suatu anugerah. Wira terus mendorong batangnya dan dia tidak mempedulikan rintihan kesakitan yang keluar dari mulut Bidadari. Hingga beberapa saat kemudian, Wira merasakan sesuatu di dalam lubang yang dia masuki. Wira merasa ada yang menghadang batangnya, dan Wira berpikir itu adalah mahkota milik wanita.
Dengan batang yang masih berada di dalam lubang, Wira menghentikan sejenak gerakan pinggangnya. Dia mengatur nafas dan memberi tahu Bidadari agar menahan rasa sakit yang sebentar lagi akan dia rasakan. Setelah Wira merasa yakin, pemuda itu bersiap diri untuk kembali melanjutkan penyodokannya. Dengan menghitung sampai tiga di dalam benaknya, Wira langsung menghentakan pinggangnya dengan kencang.
"Akhh!" suara Bidadari langsung melengking. Mungkin kalau tidak ada suara air terjun, suara lengkingan bidadari akan membahana memenuhi hutan. Wira tersenyum saat batangnya dikeluarkan dari dalam lubang, Wira melihat ada darah diujung batangnya.
Hingga beberapa puluh menit kemudian, permainanpun telah berakhir. Wira langsung ambruk di sisi tubuh Bidadari setelah berhasil menyemburkan carian kental ke dalam lubang milik wanita cantik itu. Untuk beberapa saat, keduanya saling diam dengan nafas yang menderu. Mereka sangat kelelahan, namun juga mereka sangat senang.
"Makasih ya, Sayang. Kamu sudah mau memberi kesempatan aku untuk menikmati lubang kamu," ucap Wira setelah nafasnya sudah kembali normal. Dia langsung melingkarkan tangannya pada pinggang bidadari yang kembali memunggunginya.
"Kenapa memangnya? Kok kamu yang berterima kasih?" tanya Wira jadi tumbuh rasa penasaran.
"Kang Wira tadi dengar, kan, kalau kami baru saja bertemu dengan Mahadewi?" tanya Dewi Ungu sebelum menjawab pertanyaan dari Kang Wira.
"Iya," jawab Wira. "Memang ada hubungannya?"
"Jadi begini, Mahadewi memberi tahu kami kalau keberadaan kami saat ini juga sedang diincar oleh orang orang yang yang memuja iblis. Jika mereka menangkap kami, maka kami akan dinodai oleh mereka."
"Loh, kok bisa gitu? Memang apa hubungannya orang orang pemuja ibilis dengan kamu, Sayang?" Wira begitu terlihat takjub mendengar informasi tersebut. Rasa semakin penasaran, jelas sekali terlihat dari wajahnya.
__ADS_1
"Jadi begini, darah perawan bidadari itu, bisa membuat para pemuja iblis menjadi semakin kuat dan bisa menjadikan hidup mereka lebih abadi jika melakukan ritual secara benar. Hal itu tentu saja bisa membahayakan kehidupan para bidadari. Maka itu sebelum kita menemukan bulu angsa emas, kami harus lebih hati hati lagi untuk menjaga darah perawan kami."
Kening Wira berkerut. Saat itu juga Wira langsung mencerna ucapan Dewi ungu. "Apa itu alasannya, sampai kamu mau menyerahkan lubang kamu untukku, De?"
"Iya," jawab Dewi Ungu tegas. "Kalau aku sudah kehilangan darah perawan, berarti aku sudah aman."
"Aman bagaimana? Bukankah kamu bisa dapat masalah jika Mahadewi tahu?"
"Ya kan aku melakukan hal ini dengan alasan yang kuat. Lagian Mahadewi juga pasti akan memahami dan sangat mengerti. Kan memang Mahadewi yang menganjurkannya. Terus nanti kalau aku kembali ke langit aku akan kembali mendapat mahkota wanita lagi, jadi aku tidak perlu khawatir."
"Oh gitu," meski terkejut Wira cukup lega begitu mendengar alasan Dewi Ungu. Namun saat itu juga dia jadi teringat dengan Dewi yang lainnya. "Lalu para bidadari yang lain bagaimana? Apa mereka juga akan melakukann hal yang sama seperti kamu?" tanya Wira dengan penuh harap.
"Aku tidak tahu," jawaban Dewi ungu kembali membuat Wira terperangah.
"Kok tidak tahu? Bukankah tadi kalian sudah membahasnya?" sungguh, dari sikap yang ditunjujukan Wira, dia berharap para bidadari lainnya juga mau menyerahkan mahkotanya kepada pemuda itu.
"Ini kan inisatif aku sendiri, menyerahkan lubangku kepada Kang Wira. Kalau yang lain, aku tidak tahu, Kang. Ya, Kang Wira coba aja tanyakan sendiri."
"Astaga!"
...@@@@...
__ADS_1