Deal, Kita Nikah!

Deal, Kita Nikah!
01. Kompromi Gila


__ADS_3

Alara berpangku tangan di teras atas, menyaksikan beberapa orang wanita dan pria turun dari tiga buah mobil. Kedua matanya yang kehijauan memutar malas, mulutnya pun berkomat-kamit persis seperti dukun membaca mantra—hanya saja ini versi kesal.


"Kalian berdua aja? Mana Alara?"


Suara khas ibu-ibu sosialita dari arah bawah sampai ke telinga Alara.


"Mati, mabok lem tikus!" jawabnya sebal dan ketus.


Ketika melihat lagi ke arah orang-orang itu, tatapan sang ibu tepat mengenainya. Ya, ibunya itu memang tahu Alara minggat ke atas sini demi menghindari kedatangan para bibinya.


Wanita berketurunan Turki, berusia hampir setengah abad, yang wajahnya sangat mirip dengan Alara itu menggeleng pelan. Setidakpeka apa pun Alara, dia tahu itu artinya dia harus turun; menemui para tamu yang adalah keluarga besarnya sendiri.


Perjalanan dari teras atas yang sebenarnya tak sampai satu menit, Alara tempuh sepuluh kali lipatnya alias sepuluh menit. Dia tidak sekadar melangkah, tetapi juga menghitung dengan sepatunya, berapa meter jarak dari lantai atas ke halaman.


"Nah, itu dia anak bule Turki yang hidupnya malang dan nggak kaya-kaya dateng. Sini, sini, salaman dulu sana Aunty, nanti pasti Aunty kasih THR."


Alara mengepalkan kuat kedua tangannya saat mendengar celotehan itu, yang adalah suara Amira, bibinya yang pertama, yang mulutnya paling lemas seperti habis makan oli sepuluh liter ditambah minyak goreng satu bak truk.


Dia salami satu per satu ketiga bibinya itu, meski mulutnya hampir tak mengatakan 'maaf' atau 'selamat hari raya' saking dongkolnya pada ketiga perempuan itu.


"Kapan nikah, Ra? Umur kamu udah 25, udah seharusnya kamu nikah, daripada berkarier yang itu-itu aja dan nggak ada kemajuan. Mau jadi apa kamu nanti? Orang yang tinggal menengadahkan tangan nunggu suami ngasih uang?" celoteh wanita itu sambil melirik ibu Alara sekali.


"Suami memang seharusnya ngasih nafkah ke istri. Kalau bisanya cuma numpang tidur dan makan doang, lebih baik nggak usah sok-sokan ngawinin anak orang," balas Alara dengan suara datar. Pertanyaan yang entah model apa itu tadi berasal dari mulut bibi keduanya, Amrita.


"Eh, eh, eh, ngomong apa kamu?!"


Alara mengedikkan bahu cuek. "Cuma ngomong kenyataan."


Wanita berusia lebih muda beberapa tahun dari ibu Alara itu menggeram kesal. Apa yang Alara katakan bagai menyindir suaminya—yang memang tak bekerja.


"Meski nggak kerja, keluarga kita kan kaya tujuh turunan. Jadi, ya nggak apa-apa," bela bibinya yang satu lagi, Amira.


"Iya kalau untuk satu-dua hari, atau maksimal sebulan, lah. Nah, kalau bertahun-tahun? Ya auto bangkrut! Jangankan tujuh turunan, tahun depan aja jadi gembel," tangkas Alara, tapi dengan nada bicara yang teramat santai.


Terbelalak seketika kedua wanita dengan riasan tebal itu mendengar perkataan Alara. Dua detik selanjutnya, mereka bersungut-sungut pergi dari hadapan Alara; masuk ke rumah besar orang tua mereka yang juga adalah kakek-nenek Alara dari pihak ayah.


Alara bersorak. Wajahnya yang khas gadis Turki, tampak cerah karena kesenangan.


"Apa itu semua, Alara?" tegur Miray, ibunya.


Keceriaan di wajah Alara memudar kurang dari satu detik, berganti ke ekspresi kesal lagi.


"Ini Hari Raya, Nak, kenapa kamu malah bikin mereka kesal?" Miray bertanya baik-baik.


"Biasanya juga mereka yang bikin aku kesel, Ma. Jadi, wajarlah kalau sesekali dibalas," jawab Alara.


"Tapi bagaimanapun juga, mereka itu bibi-bibi kamu, adiknya Papa kamu. Nggak seharusnya kamu begitu, Sayang," tutur Miray baik-baik.


"Mama juga kakak ipar mereka, seharusnya mereka bisa ngerti dan hormatin Mama. Bukannya malah di setiap kesempatan yang ada, nyindir-nyindir Mama. Oke, Mama memang bukan dari keluarga sekaya mereka, tapi itu bukan alasan untuk dibenci dan terus ngalah walau diapa-apain," Alara tak terima.

__ADS_1


Memang, inilah yang membuatnya malas sekali berkumpul di rumah kakek neneknya saat hari raya tiba. Para penyihir itu memang tidak ada akhlak. Sejak dulu jauh sebelum Alara lahir, mereka tidak pernah suka pada sang ibu. Jangan tanya kenapa Alara bisa berpikir begitu. Alara bukan gadis polos dan bodoh yang mudah dibohongi. Ia tahu, penyebabnya adalah 'derajat' yang katanya tidak setara; karena ibunya berasal dari keluarga sederhana, berbeda dengan sang ayah.


"Itu kan memang sifat mereka. Maklumi saja," tutur Miray.


"Arka, Kaira, Alisha, Zavier, di mana mereka? Kenapa nggak kelihatan?"


"Biasalah, Bu. Mereka itu kan sibuk."


"Sibuk apa? Lebaran-lebaran gini masih sibuk? Nggak bisa nyempetin datang ke rumah kakek neneknya, gitu?"


"Alisha dan Kaira masih sibuk sama tugas-tugasnya, Bu. Jadi nggak sempet pulang ke Indonesia. Arka dan Zavier sendiri nggak bisa dapat cuti. Maklumlah, mereka kan kerjanya di perusahaan besar, posisinya juga tinggi."


"Sampai segitunya. Tapi nanti ke sini, kan?"


"Iya. Itu pasti, dong, Bu. Mereka bakalan datang sama calon-calon mereka. Ibu sebentar lagi bakalan punya cucu menantu. Ya ... meski masih muda, tapi mereka cepet laku, dong. Pinter, karier bagus, kehidupan terjamin. Nggak kayak si onoh."


"Ya udah. Masa lebaran cuma satu cucu yang yang dateng. Lainnya malah pada sibuk sendiri-sendiri."


"Ya habis gimana lagi? Semua cucunya pada sibuk, kecuali satu itu kan emang nggak jelas pekerjaannya. Libur sama masuk banyak liburnya, haha."


"Iya, tuh. Gitu-gitu masih aja dibiarin sama emaknya. Padahal kerjaan anaknya nggak jelas. Keluyuran, jarang pulang. Hadeh. Atau emang itu ajaran emaknya kali, ya?"


Kedua tangan Alara mengepal kuat-kuat. Ketika kakinya hendak melangkah pada para penyihir—yang hanya berjarak tak kurang dari dua meter—, pergelangan tangannya ditahan oleh tangan seseorang. Ibunya. Miray menggeleng pelan, mengisyaratkan agar Alara tidak ke sana.


Alara menggeram kesal, sedetik kemudian berlalu pergi. Itu lebih baik, ketimbang dirinya dibuat darah tinggi terus-terusan saat berada di dekat mereka. Masih baik jika dia bisa menahan emosinya, bagaimana kalau tiba-tiba kelepasan dan baku hantam dengan mereka?


Maka, di sinilah Alara berada, kafe yang diliburkan hari ini, tapi masih bebas dia datangi. Aish' Caffe, milik sahabatnya yang lain, Raisha.


"Kenapa nyuruh gue ke sini?"


Alara mendongak. "Dari mana lo?"


"Bikin sarapan."


"Raisha nggak ke sini?"


Abir tergelak. "Lo lupa apa pikun, sih, Ra? Raisha pastinya lagi di rumah, halalbihalal sama keluarga besarnya, nggak kayak kita berdua."


"Gue juga udah habis halalbihalal sama keluarga gue kali," gerutu Alara.


"Iya, deh, iya. Jadi, kenapa sekarang lo ada di sini?" tanya Abir seraya menarik kursi dan mendudukinya.


Alara mengembuskan napas berat. "Para Mak Lampir itu bikin gue darah tinggi. Daripada gue mati muda, mendingan gue minggat dari sana."


"Sudah gue duga," Abir tertawa renyah.


Alara memutar bola mata malas. "Lo sendiri, kenapa nggak pulang?"


"Kek nggak tau aja. Arshia terus-terusan neror gue biar cepet-cepet nikah. Sialan emang tuh anak. Dia yang kebelet nikah, tapi gue yang diteror."

__ADS_1


Kali ini Alara yang tergelak. "Kayaknya, menjadi tua adalah kesalahan terbesar di muka bumi ini, ya, Bir."


"He'em. Bener banget itu. Padahal mah, baru aja dua puluh enam tahun, berasa tua banget gue."


"Gue juga tadi ditodong pertanyaan kek gitu," aku Alara.


"Baru tadi?" Abir tertawa. "Gue, dong, hampir tiap hari."


"Sebenernya tiap tahun, sih. Soalnya ... ya, itu, katanya daripada gue kerja nggak jelas, karier gitu-gitu aja, mendingan nikah. Ditambah lagi, anak-anaknya para penyihir itu udah laku katanya. Udah kek barang dagangan aja pake laku-lakuan segala."


Abir terdiam selama beberapa detik. Kening pria yang rambutnya cukup panjang itu mengerut, seperti tengah berpikir sesuatu. "Eh, Ra, kok gue baru sadar masalah kita sama, ya?"


Alara mengerjap beberapa kali. "Sama? Sama gimana?"


"Ya ... sama. Sama-sama diteror, ditodong, diancem terus-terusan disuruh nikah."


"Lah, iya juga, ya." Alara garuk-garuk tak gatal rambutnya.


"Bibi-bibi lo kan mempermasalahkan semua hal, terutama tentang karier lo, sama lo yang katanya nggak laku-laku. Misal ... lo nikah duluan, pasti mereka bakal kebakaran jenggot, tuh!"


Sekali lagi, Alara mengerjap beberapa kali. "Iya, ya. Kenapa gue nggak kepikiran? Tapi ... nikah sama siapa, dong? Nggak mungkin kalau sama salah satu pacar gue."


"Sama gue aja," celetuk Abir sambil tertawa.


"Nah! Boleh juga, tuh!"


Sekarang Abir yang mengerjap beberapa kali. "Gimana, gimana?"


"KITA NIKAH, ABIR!"


"Eh, seriusan?" Lelaki itu berkedip-kedip polos.


"Gini, ya," Alara berdeham, "kalau kita nikah, manfaat yang akan didapat: 1) lo bakal terbebas dari todongan adek lo yang kebelet kawin itu, 2) gue bisa bikin para penyihir itu kesel karena laku duluan dari anak-anak mereka, 3) kita bisa bebas, Bir! Bebas! Kita bisa ke sana, ke sini, tanpa ada yang ngelarang."


"Tapi kita kan sahabatan, Ra."


"Kompromi, Bro! Pernikahan ini sebagai kompromi. Gue masih bebas lakuin apa pun yang gue suka, begitu juga dengan lo. Intinya, 'pernikahan' itu cuma status, biar kita bebas dari tuntutan orang-orang. Kita nggak perlu bertingkah kayak suami-istri. Lo nggak punya hak dan kewajiban ke gue, begitu juga sebaliknya. Gimana?"


"Trus, pacar-pacar gue gimana?" tanya Abir polos.


"Alah, gampang itu mah." Alara mengibaskan tangan. "Lo bebas pacaran sama siapa pun, selingkuh sama siapa pun, gue nggak bakal cemburu, apalagi ngelarang, begitu juga sebaliknya."


Abir manggut-manggut paham. "Jadi ...?"


"Kita nikah?"


"Deal, kita nikah!"


***

__ADS_1


__ADS_2