
Alara duduk menyedihkan di salah satu kursi sementara Abir bergabung dengan rekan-rekan bisnisnya dan tampak mengobrol dengan seru. Ini sungguh tidak adil. Kalau tahu di dalam sini isinya hanya orang-orang yang sibuk membahas soal bisnis, Alara tidak akan mau ikut.
Melirik ke depan sana, ada lantai dansa dan DJ dengan beberapa orang yang asyik menari, tapi Alara tidak berminat menari. Di samping kirinya, ada bar, tapi dia malas ke sana sendiri. Oh ayolah, apa tidak ada orang lain yang akan menemaninya?
Alara mendesah panjang. Membosankan sekali. Dia jadi ingin pulang sekarang juga dan bergulung di balik selimut.
"Hai, boleh aku bergabung bersamamu?"
Alara mendongak menatap suara dari sosok itu. Seorang gadis cantik berambut cokelat dengan dandanan mencolok dan gaun biru selutut.
"Boleh saja, silakan," balas Alara ramah.
"Kenapa kau hanya duduk sendirian di sini? Tidak bergabung dengan yang lain?" tanya gadis itu.
Alara menggeleng pelan. "Aku malas bergabung dengan mereka semua."
"Memangnya kau ke sini sendirian saja?"
Alara menggeleng. "Dengan suamiku, itu dia," tunjuknya pada beberapa pria yang salah satunya adalah Abir.
Gadis itu manggut-manggut. "Mau ikut denganku? Oh, iya, namaku Natasha. Kau?"
"Alara."
"Mau ikut denganku, Alara?"
"Ke mana?"
"Ikut saja." Natasha menarik tangan Alara menuju ke sebuah tempat. Tidak terlalu jauh, hanya ke bar yang letaknya beberapa meter dari tempat Alara duduk tadi.
"Kau mau minum? Ehm—kau minum, kan?"
"Iya, kadang-kadang," Alara tertawa kecil.
"Oke, aku pesankan yang super enak untukmu."
Alara hanya menurut saat Natasha mulai menyebutkan minuman yang ia sebut sangat enak itu.
"Ini, Alara."
"Thanks," Alara menerima gelas berisi minuman berwarna agak cokelat yang hampir memenuhi gelas itu. "Ini ...."
"Kandungan alkoholnya hanya sedikit, kau tidak akan gampang mabuk," kata Natasha seolah paham yang akan Alara tanyakan.
Alara mengangguk dan langsung menenggak minuman itu hingga tandas. Abir pernah melarangnya minum-minum lagi, tapi Alara tak peduli. Toh Abir sekarang sibuk bersama teman-temannya, Alara kan bisa mati kebosanan kalau hanya menunggu.
"Bagaimana rasanya?" Natasha tiba-tiba bertanya dengan mata berbinar menunggu jawaban Alara.
Alara pun mengangguk. "Luar biasa," katanya.
__ADS_1
"Benar 'kan kataku," Natasha tertawa kesenangan. "Sekarang ayo kita ke dance floor."
Lagi-lagi Natasha menarik tangan Alara, hingga gadis itu tak sempat menolak. Musik langsung menggema memasuki pendengaran mereka ketika menginjakkan kaki ke tempat itu.
"Ayo menari, Alara," ajak Natasha yang mulai menggoyangkan tubuhnya.
Alara menggeleng sambil agak meringis. Menari memang hal favoritnya, tetapi tidak untuk sekarang. Alara lama-lama merasa kepalanya jadi agak pusing.
"Hei, are you okay?" tanya Natasha seraya menghentikan gerakan tarinya.
"I'm okay," balas Alara dengan tangan yang memegangi pelipisnya. "Emm, Natasha, aku kembali dulu. Kau tidak apa-apa di sini sendiri, kan?"
"Iya, tidak apa-apa. Sebaiknya kau kembali saja, istirahat sebentar."
Setelah mengucapkan terima kasih, Alara langsung kembali ke tempatnya semula duduk.
Sial, mungkin seharusnya dia tidak berterima kasih pada Natasha, karena kepalanya bertambah pusing saja. Alara malah yakin, dalam beberapa saat, dia akan pingsan kalau tidak mabuk.
"Ra," Seseorang menepuk pundak Alara dari belakang. Itu Abir.
"Gue pusing banget, Bir," kata Alara dengan suara yang mulai melantur.
"Pusing kenapa? Bukannya lo dari tadi duduk terus di sini, ya?"
"Gue habis minum sama Natasha," aku Alara.
"Natasha siapa?"
Abir berdecak, kemudian mendudukkan dirinya di sebelah Alara yang sibuk memijit-mijit pelipisnya. "Kan gue udah bilang sama lo, lo jangan minum-minum, lo gampang mabuk, Ra ...."
"Habisnya gue bosen, Bir! Lo enak-enakan ngobrol sama orang-orang, tapi gue sendirian di sini nontonin orang ngedance di depan sana," amuk Alara.
"Gue juga ngobrol karena bahas proyek, Ra, bukannya karena gabut."
"Ya tapi sama aja!" sentak Alara.
"Ya udah, sekarang lo mau gimana? Kita pulang?"
"Nggak pa-pa kita balik sekarang?"
"Ya nggak pa-pa ... daripada lo juga sakit gini."
"Ya udah, ayo." Alara berdiri lebih dulu. Dia berkedip-kedip sambil menggeleng saat pandangannya sedikit mengabur.
"Bisa jalan sendiri, kan?"
"Bisa." Detik selanjutnya dia mulai melangkah dengan diikuti Abir di belakangnya. Mereka menuju ke tempat parkir di mana mobil mereka berada.
Tepat setelah masuk, Alara langsung menunduk menyembunyikan wajahnya di balik lengan. Mendadak juga ia jadi mengantuk. Mungkin setelah tidur nanti, pusing di kepalanya hilang.
__ADS_1
Selama perjalanan pun, Abir membiarkan Alara tidur. Dia mencari aman saja, membangunkan Alara sama saja membahayakan dirinya sendiri.
Sekitar lima menit kemudian, Alara mengangkat wajahnya dan menatap Abir dengan tatapan yang membuat Abir heran.
"Lo kenapa, Ra?"
"Sayang, kita mau ke mana malam-malam begini?"
Abir membelalak. Itu Alara? Alara memanggilnya 'sayang'? Dan suaranya ... kenapa beda sekali? Jangan-jangan Alara tertukar dengan orang lain yang mirip dengan dia?
"Sayang, kenapa diam? Oh, kita mau kencan, ya? Manis sekali. Kencan ke mana? Kau pasti sudah mempersiapkan kejutan untukku, kan?"
Abir hampir tersedak mendengar kalimat itu dari mulut Alara. Oke, mungkin gadis itu sedang mabuk, tapi kenapa mabuknya seperti ini? Waktu Alara mabuk di Bali waktu itu, dia cuma jadi sangat polos dan kekanakan, tapi mengapa sekarang tidak begitu lagi?
"Sayang!" jerit Alara. "Kenapa kau diam saja? Katakan sesuatu?"
"B-bilang apa? Sesuatu apa?" tanya Abir kikuk.
Bukannya menjawab, Alara malah mendekati Abir. Dia memasang senyuman sambil membelai lembut pipi Abir. "Kekasihku yang nakal, kau kira aku tidak tahu rencanamu?"
Abir menelan ludah susah payah. Oh Tuhan, tolong selamatkan Abir. Ini bukan Alara! Alara tidak pernah berbicara dengan nada menggoda seperti ini. Dan, oh, sial! Perempuan itu malah beringsut maju hendak memeluk Abir.
"Lara, lo mau ap---"
Ucapan Abir terpotong saat Alara tiba-tiba mendaratkan bibirnya pada bibir Abir. Serangan yang sangat mendadak itu membuat Abir menghentikan mendadak mobilnya. Syukurlah tidak ada kendaraan lain di belakang mereka, atau tabrakan pasti sudah tak terelakkan.
Alara melepas tautan bibir mereka saat merasa napasnya habis. Dia menatap Abir yang terengah-engah dengan tatapan tak terbaca. Benar-benar bukan seperti Alara, tapi itu memang Alara.
"Lara, lo kenapa?" Abir sebisa mungkin mengeluarkan pertanyaan itu, berusaha tak mengacuhkan dadanya yang hampir meledak karena berdetak luar biasa kencang.
Alih-alih menjawab, Alara kembali menyerang bibir Abir dengan bibirnya, hingga pria itu tak bisa lagi berkutik, selain hanya mengikuti apa yang perempuan itu lakukan.
***
"Hei, Babe," Wanita ini memeluk sekilas pria di hadapannya. Dua ciuman di pipi pria itu dia daratkan usai puas dengan pelukan.
"Bagaimana? Kau sudah lakukan perintahku?" tanya pria itu.
"Tentu saja sudah, Sayang. Mereka sudah pergi sekarang. Gadis itu langsung merasa pusing dalam beberapa detik saja," katanya sambil tertawa.
"Bagus. Aku memang tidak pernah salah mengandalkanmu," balas pria itu.
Wanita itu mengukir senyum di bibir tebalnya. "Omong-omong, Zavier, kenapa kau sangat membencinya, sampai-sampai memintaku meracik obat perangsang yang dicampur dengan minuman?"
"Karena dia memang pantas menerima semua itu setelah semua yang dia lakukan pada kakakku," kata pria bernama Zavier itu sambil menatap tajam ke depan. Kilatan matanya penuh dengan kebencian.
"Memang apa yang dia lakukan?" tanya wanita itu lagi dengan penasaran.
"Kau tidak perlu tahu, Natasha. Intinya, semua ini memang harus dilakukan. Mereka berdua harus mendapat balasan yang setimpal atas perbuatan mereka."
__ADS_1
*****