Deal, Kita Nikah!

Deal, Kita Nikah!
46. Bertengkar?


__ADS_3

Terkesan bukan berarti berhenti melakukan KDRT dan perlakuan semena-mena pada Abir. Justru setelah drama terkesan ini, Alara makin menjadi. Sekarang, dia tidak mau mengurus rumah. Hanya Abir. Semua itu tugas Abir. Mulai dari memasak sampai bersih-bersih.


Terkadang Abir sampai menyesali keputusannya yang ingin mengesankan Alara. Karena dalam seminggu ini, dia lebih seperti pembantu daripada seorang suami. Keren sekali, kan? 


"Abir, besok kita jalan-jalan, yuk. Mumpung gue lagi libur," ajak Alara. Perempuan itu saat ini tengah rebahan malas di tempat tidur, sedang Abir berkutat dengan laptopnya di kamar yang sama.


"Nggak bisa, Ra. Gue sibuk banget besok," balas Abir tanpa mengalihkan pandangannya dari laptop. 


"Ish, katanya sayang istri, katanya cinta sama gue, tapi gue ngajak jalan-jalan aja kagak mau. Cinta macam apa itu?" cibir Alara. 


Abir menghela napas panjang, lalu memutar duduknya menghadap Alara. "Alara, istri gue yang paling cantik sejagad raya, mengalahkan seluruh penyihir yang ada di alam semesta ini, please, biarin gue kerja besok. Minggu depan, gue janji bakalan bawa lo jalan-jalan ke mana pun yang lo mau. Janji."


Alara menatap datar pria itu. "Cuma lo satu-satunya suami di dunia ini yang nyamain istrinya sama penyihir," katanya datar. 


Abir tertawa geli. "Ya udah, oke, ulangi." Pria itu berdeham. "Alara Aarunaya, anaknya Bapak---bapak lo namanya siapa?"


Bug! 


Alara langsung melempar guling dan tepat mendarat di muka Abir. Abir tertawa. Tentu saja, karena yang mendarat di wajahnya adalah guling, bukan ranjang. Kalau ranjang, sudah beda cerita. 


"Oke-oke, ulangi lagi." Abir sekali lagi berdeham, seolah menata suaranya. "Alara, istri gue yang paling cantik sejagad raya, yang galaknya ngalahin Macan Tutul Himalaya, please, izinin gue kerja besok. Minggu depan, gue janji bakalan ngajak lo ke Puncak Himalaya dan mempertemukan lo sama kembaran lo yaitu Macan Tutul Himalaya di sana, oke?" Pria itu menaik-turunkan alisnya dengan memasang wajah sok imut. 


"Udah, Bir, udah. Capek gue ngomong sama lo. Mending gue cari selingkuhan aja besok," kata Alara sembari bangkit ke luar kamar. 


Abir tetap tertawa. "Ya udah, puas-puasin deh sama selingkuhan lo."


"Oke, dan lo jangan nyariin gue kalau gue nggak pulang, ya! Juga jangan sok-sokan cemburu!" teriak Alara dari luar kamar. 


"Pasti, Ra. Emang siapa, sih, yang mau nyulik lo? Udah makannya banyak, galak lagi. Yang ada kena mental dah penculiknya," balas Abir. 


"DASAR SUAMI GAK ADA AKHLAK! AWAS YA LO, BIR! GUE SELINGKUH BENERAN BESOK!"


"Iya, Ra, iya. Gue udah ngasih restu, loh, ya. Selamat berselingkuh~"


Alara rasanya hampir tak percaya mendengar itu. Yang kemarin itu apa? Alara, aku mencintaimu. Apa ini yang dinamakan cinta? 


Oke, tidak masalah. Dan terserah. 


***


Pagi yang baru datang. Semenjak Alara membuka mata, tempat tidur di sampingnya sudah kosong tak berjejak. Jelas, Abir sudah berangkat ke kantor. Entah kenapa pria itu akhir-akhir ini jadi over-rajin dalam bekerja, tidak hobi traveling lagi seperti dulu, bahkan sering sekali lembur. 


Alara melangkah ke luar. Di meja makan, sepucuk surat beserta sarapan sudah Abir siapkan untuknya. Benar-benar suami yang baik, tapi entah mengapa Alara rasanya masih belum bisa membuka hatinya untuk pria itu. 


“Untuk Penyihirku; Macan Tutul Himalaya-ku; Alara-ku. 

__ADS_1


Sarapan sudah kusiapkan, ya. 


Sebelum kau pergi selingkuh, pertama sarapan dulu. 


Jangan sampai nanti malah merepotkan selingkuhanmu. 


Ingat, makanmu itu banyak. 


Nanti selingkuhanmu bisa-bisa ilfeel lagi. 


Hehe, bercanda. 


Dari suami yang masih belum kau cintai, 


Abir.”


Senyuman kecil terukir di bibir Alara ketika membaca pesan itu. Abir itu menyebalkan, payah, tetapi manis dan perhatian. Jika di luar sana selalu istri yang bangun pagi dan memasak sarapan, maka di sini justru Abir yang rela bangun pagi dan memasak sebelum berangkat bekerja. Di mana lagi Alara bisa dapatkan suami sebaik ini? Meski payah, ya ... tidak apa-apa. Yang terpenting juga dia tidak pernah menuntut apa-apa dari Alara. 


Ketika Alara membuka tudung saji, sepiring nasi goreng dan segelas susu sudah tersaji di sana. Sarapan yang seringkali Abir masak, katanya cara membuatnya mudah dan tidak memerlukan waktu lama. 


Alara tersenyum menatap piring itu, baru kemudian memakannya—tanpa memudarkan senyuman. 


***


Jalan-jalan sendirian memang tidak terlalu menyenangkan, tetapi itu sedikit lebih baik daripada gabut di rumah. Alara sudah berkeliling kota, belanja, makan-makan, tapi rasanya membosankan sekali karena sendiri. Mau mengajak Raisha, itu tidak mungkin sebab Raisha sama sibuknya dengan Abir. Dan selingkuh? Oh, tolong jangan percaya. Alara mengatakan itu hanya untuk memancing Abir. Dia tidak ada niatan sama sekali untuk itu. Karena, ya, siapa yang tega mengkhianati suami sebaik Abir? 


Sambil menunggu pesanan datang, bola mata Alara berkeliaran melihat ke sekitarnya. Tidak jauh dari sini, ada toko sepatu perempuan. Apa dia mampir sebentar beli sepatu, ya? Dia juga belum membeli sepatu meski hampir seharian berkeliling. 


Dengan cepat Alara menghabiskan makanannya. Hari semakin sore. Memilih sepatu bagi seorang perempuan juga butuh waktu yang lama. Pokoknya ia harus sampai di rumah sebelum Abir, biar dia bisa memasak makan malam untuk suaminya itu. 


Alara menuju rak sepatu keluaran terbaru. Semuanya cantik-cantik dan ingin Alara borong, tapi tentu saja itu hanya niatan. Uangnya mana cukup untuk semua ini? 


"Sha, ini kayaknya cantik banget kalau kamu yang pakai."


"Iyakah? Ah, tapi harganya sangat nggak bersahabat."


"Enggak apa-apa. Aku yang bayar, ya?"


"Seriusan? Aaa, makasih!"


Suara yang sedikit samar-samar tapi terdengar jelas itu membuat Alara mengenyit. Suaranya seperti tidak asing. Si laki-laki dan perempuan, keduanya terdengar familiar sekali di telinga Alara. 


Penasaran. Alara lantas berjalan menuju ke arah suara itu berasal. Semoga si pemilik suara masih berada di sana. Masalahnya, dia kalau sudah penasaran tidak bisa dicegah. 


"Alisha?" gumam Alara. 

__ADS_1


Pantas saja terdengar akrab, ternyata itu memang suara Alisha, sepupunya. Eh, tapi tunggu, kenapa Alisha ada di sini? Bukankah dia masih di luar negeri? 


Tidak mau terus menduga-duga, Alara ingin menghampiri sepupunya itu dan menyapanya—sekalian menanyakan tentang keberadaannya di sini. 


"Ini sepatunya, Alisha. Kamu mau beli apa lagi?"


Deg! 


"Abir?" 


Jadi ... suara laki-laki itu ternyata Abir? Abir yang katanya sibuk dan banyak pekerjaan, tapi nyatanya berada di sini untuk belanja dengan Alisha? Alisha sepupu Alara? Apa ini sungguhan? 


"Kurang ajar," Alara menggeram; kedua tangannya mengepal kuat; matanya memanas; dadanya bergemuruh naik turun, seolah siap menyemburkan lava kemarahan. 


"Jadi ini kerjaan lo sampe bikin lo sibuk banget dan nggak bisa temenin gue jalan?! JADI INI YANG LO LAKUIN, BIR?!" teriak Alara tanpa lagi basa-basi. 


Kedua orang itu langsung tersentak. Mereka tercengang, tampak tak percaya melihat kehadiran Alara yang sudah sangat emosi di depan mereka. 


"Lara, nggak gitu, lo salah---"


"DIEM! CUKUP!" jerit Alara. "Gue salah? Justru lo yang salah, Bir! Lo bilang lo sibuk banget karena ada pekerjaan, tapi nyatanya? Lo malah jalan sama Alisha! Alisha sepupu gue, Bir! SEPUPU GUE!"


"Lara, gue bisa jelasin---"


"Stop!" seru Alara ketika Abir beranjak maju hendak meraih tangannya. "Gue nggak butuh penjelasan dari lo!"


"Kak Alara, Kak Alara salah paham, kami nggak---"


"DIEM LO, ALISHA!" bentak Alara, sampai sebagian pengunjung menatap aneh ke arah mereka. 


"Bir, gue selalu bilang sama lo, kan? Lo mau selingkuh, nggak pa-pa. Gue izinin dengan senang hati. Tapi satu aja yang gue mohon banget sama lo, jangan sama sepupu gue! Masih ada jutaan cewek di luaran sana, tapi kenapa lo malah milih Alisha?" 


"Alara, bukan gini, gue sama Alisha---"


"Cuma selingkuh," potong Alara. "Jadi ini alasan kenapa lo ngizinin gue buat selingkuh juga? Karena lo juga mau selingkuh? Wah, Bir, wah," Gadis itu tersenyum kecut sambil bertepuk tangan. "Nikmati perselingkuhannya, ya. Have fun," pungkasnya, lalu berlari pergi dari situ. 


"Alara---" Panggilan Abir tercekat, sebab Alara sudah lebih dulu menghilang dari pandangan mereka berdua. 


"Gimana ini, Kak Abir?" tanya Alisha resah.


"Kamu di sini aja, aku mau kejar Alara sebentar," kata Abir seraya menyerahkan sepatu yang ia bawa pada Alisha. 


"Tapi, Kak, aku ikut," pinta Alisha cepat-cepat. 


"Oke, ayo."

__ADS_1


*****


__ADS_2