
Alara dan Abir berkacak pinggang di hadapan Ritvik yang duduk dengan wajah datar memandangi keduanya. Tentu saja, begitu dugaan teror itu mungkin berasal dari Ritvik—salah satu mantan pacar Alara—mereka langsung mendatangi kediaman pria itu—yang syukurlah mereka satu kota.
"Nggak usah kebanyakan drama, Vik. Emang lo 'kan, yang neror kita?" tanya Alara untuk kesekian kalinya.
Namun, wajah Ritvik masih sama datarnya sejak pertama kali ditanyai dan diancam. Entah sebenarnya dia bersalah atau tidak, tidak ada yang mengerti sebab pria itu hanya berekspresi datar.
"Ritvik, jawab!" bentak Alara.
"Gue harus ngejawab gimana? Lo kira gue kegabutan banget sampai neror kalian berdua, ha?" Pria itu akhirnya membuka suara, setelah terus bungkam meski sudah diancam.
"Emang lo gabut, kan? Udahlah, ngomong aja kalau teror-teror nggak jelas itu emang ulah lo!" paksa Alara.
"Teror macam apa, sih, yang kalian omongin? Denger, ya, setelah malam itu, gue nggak lagi mau ngurusin hidup lo. Gue lupain kalau kita pernah punya hubungan, gue nggak mau ikut campur lagi, gue lanjutin kehidupan gue tanpa lo, Ra! Dan teror? Kalian gila, ya? Gue aja baru balik dari luar kota. Kalian bisa tanya ke bos gue kalau nggak percaya," jelas Ritvik panjang lebar.
Alara dan Abir saling pandang. Sekarang ini, mereka kompak; batinnya sama-sama mengatakan, 'halah, maling mana yang mau ngaku?'.
"Gue nggak percaya!" teriak Alara lantang.
Ritvik berdecak. "Oke, kalau lo nggak percaya, coba mana buktinya kalau teror itu ulah gue? Kapan teror itu pertama datang, apa aja bentuk terornya, kenapa kalian yakin kalau itu ulah gue. Coba jelasin?"
Alara menatap Abir yang juga tengah menatapnya. Mereka belum cari bukti, kan? Lalu bagaimana caranya membuktikan kalau memang ini ulah Ritvik?
"Ayo jawab, kapan teror itu pertama kali muncul?" ulang Ritvik.
"Pas gue sama Abir lagi honeymoon," jawab Alara.
"Kalian honeymoon ke mana?"
"Bali." Kali ini Abir yang menjawab.
"Nah!" seru Ritvik, yang mana itu menarik perhatian Alara dan Abir.
"Apanya yang 'nah'?"
"Dari situ aja udah kebukti, kalau itu bukan ulah gue. Pertama, tuh teror datengnya pas kalian bulan madu, kan? Sedangkan kita tahu, kalau gue nggak pernah dateng ke sana. Kedua, saat itu gue belum tahu soal pernikahan kalian. Kalau nggak percaya, coba lihat ponsel lo, Ra. Di tanggal itu kisah masih chattingan."
Alara menggaruk kepalanya yang tak gatal. Meski terkadang pelupa akut, dia masih ingat sekali, di hari dia pergi bulan madu, dia masih berhubungan dengan pacar-pacarnya—termasuk di dalamnya adalah Ritvik. Kalau misal iya teror ini ulah Ritvik, maka bagaimana mungkin? Di satu sisi, Ritvik tidak tahu apa-apa, jadi bagaimana mungkin teror itu berasal dari Ritvik?
Diamnya Alara yang tampak berpikir menarik perhatian Ritvik. Pria itu melipat tangan di depan dada sambil memandangi dan menunggu mantannya yang pikun ingat sesuatu.
__ADS_1
"Gimana? Lo inget? Apa perlu lo buka ponsel lo dan lihat sendiri? Lo belum ngehapus riwayat chat kita, kan?"
Alara menggeleng. "Belum," katanya pelan.
"Nah, jadi, gimana mungkin gue neror kalian, kalau gue sendiri bahkan nggak tahu apa-apa?" Ritvik memandangi sepasang suami-istri itu satu per satu.
"Jadi ... semua ini bukan ulah lo?"
Ritvik langsung menggeleng cepat. "Sumpah, gue emang bukan laki-laki baik-baik, tapi gue juga nggak minat kali ngerebut istri orang. Orang yang jomblo aja masih banyak, kenapa malah rebut yang udah jadi istri orang? Itu kan yang Abir bilang waktu itu? Dan, oke, gue jadiin ucapannya sebagai motivasi biar gue nggak kejar-kejar siapa pun yang udah bersuami."
Rasanya sangat aneh kalau ini bukan ulah Ritvik, tapi mau dituduh pun bagaimana? Tidak ada bukti yang mengarah ke dia.
"Udahlah, kalian pasti salah tebak. Beneran, itu bukan ulah gue," kata Ritvik sekali lagi.
Mungkin pria itu mengatakan hal yang sebenarnya, dan mungkin juga tidak. Memang, setelah putus dari Alara, Ritvik hanya fokus bekerja. Berangkat pagi, pulang malam, bahkan bosnya pun habis mengirimnya ke luar kota.
Dari sini, sebenarnya sudah bisa ditarik kesimpulan, kalau mustahil teror-teror itu dilakukan Ritvik. Karena ... bagaimana caranya? Sementara pria itu hanya sibuk kerja setiap harinya.
"Terus siapa, dong, kalau bukan lo?" ucap Alara setelah beberapa saat.
"Ya ... mungkin musuh kalian."
"Bisa jadi juga orang yang sakit hati karena tingkah kalian berdua. Maksud gue, mungkin aja 'kan, kalian pernah bikin orang lain sakit hati, sedih, kecewa, pokoknya gitulah."
Yang dikatakan Ritvik memang ada benarnya, tapi ... siapa? Oke, Alara memang kejam, tapi Rasa-rasanya dia tidak punya musuh. Mungkin kecuali beberapa dari mantan-mantannya.
"Atau mungkin, gini, deh. Tuh orang pasti salah kirim paket, atau kegabutan, atau cuma iseng. Nggak usah dipikirin udah. Palingan cuma orang iseng," hibur Ritvik.
"Salah kirim mah sekali, tapi ini udah berkali-kali," timpal Abir.
"Ya udah, kalau gitu, kalian hati-hati aja, waspada terus, dan semoga nggak ada apa-apa," tutur Ritvik sembari tersenyum, menghibur sekaligus menenangkan keduanya agar tidak perlu terlalu memikirkan sesuatu yang kejadiannya masih belum pasti.
"Okelah. Kalau gitu kami pamit dulu. Maaf udah asal nuduh lo, ya, Vik," ucap Alara merasa bersalah.
Ritvik mengangguk. "Iya, nggak apa-apa. Santai aja. Emang hubungan permantanan itu nggak ada yang akur banget," candanya.
Alara dan Abir balas tersenyum—paksa. "Kami pergi."
"Iya, silakan, hati-hati, ya." Ritvik mengantar keduanya sampai di depan pintu, kemudian melambai-lambaikan tangan pada sang mantan dan suami mantannya itu, yang kini mulai menghilang dari pandangannya.
__ADS_1
Setelah keduanya tak lagi terlihat, pria bertubuh jangkung seperti Abir itu masuk kembali ke rumahnya. Dia mendudukkan diri di sofa panjang di ruang tamu. Ia meraih ponsel yang digeletakkan di meja depannya, mencari nomor seseorang, lalu menghubunginya.
"Halo, Zav?"
"Bagaimana? Mereka percaya?"
"Pastinya. Lo nggak perlu raguin akting gue."
"Baguslah. Biar mereka terus-terusan khawatir, nggak bisa hidup dan bernapas dengan tenang."
"Bener banget. Tuh cewek sesekali emang harus dikasih pelajaran, biar nggak seenaknya aja jadi orang."
"Memang. Alara yang bikin gue terpisah dari seseorang yang paling gue sayangi di dunia ini. Dia pergi gara-gara Alara! Lihat aja, hidupnya nggak bakal bisa tenang habis ini."
"Bagus itu, Bro. Btw, apa rencana lo habis ini?"
"Masih sama kayak biasanya."
"Neror mereka?"
"He'em. Lihat Alara si cewek sok pemberani itu takut, sumpah keren banget rasanya."
"Mau lu teror setiap hari apa gimana?"
"Seminggu sekali aja, biar mereka nganggap remeh semua ini."
"Terus, rencana terbesar yang kata lo itu kapan? Teror mulu perasaan dari kemaren."
"Udah gue lakuin, kok. Tenang aja. Apalagi si Alara dan Abir sekarang ini udah saling cinta, kan? Nah, pas banget. Nyes-nya makin kerasa nanti. Gue yakin seyakin-yakinnya, tuh cewek bakalan depresi berat nanti. Hahaha!"
Ritvik tertawa. "Gila banget lo, ya!?"
"Orang gila kan emang harus dihadepin sama yang sesama gilanya. Biar imbang."
"Ya udahlah, apa pun itu, inget, gue selalu ada di tim lo dan ngedukung elo. Kalau ada apa-apa lagi, tinggal ngomong aja. Di mata Alara Aarunaya, gue mantan yang baik." Ritvik mengukir senyum sinis.
"Oke, ntar gue kabarin rencana selanjutnya."
*****
__ADS_1