Deal, Kita Nikah!

Deal, Kita Nikah!
37. Berhasil Pulang


__ADS_3

Sudah bermenit-menit Abir bernyanyi untuk seseorang yang tidur di pangkuannya, akan tetapi, orang itu malah masih berkedip-kedip dengan mata yang lebar.


"Kok lo nggak tidur?" tanya Abir seraya menatap sosok itu.


Alih-alih menjawab, Alara malah bangkit dan mendudukkan dirinya di sebelah Abir. "Gue kesetrum," akunya.


"Hah?" Abir ternganga tak paham.


"B-bir ...," Alara berdeham untuk mengondisikan suaranya yang malah terbata-bata, "kenapa gue dag-dig-dug gitu, ya, pas deket-deket sama lo? Apa gue mau kena serangan jantung?" tanyanya polos.


Abir langsung tertawa. Si Penyihir Kejam ini kenapa sepolos ini dalam urusan hati? Dan ... jujur sekali dia sampai Abir diberitahu tentang keadaan jantungnya yang katanya dag-dig-dug itu. Bukankah seharusnya orang normal menutupi itu, alih-alih dipamerkan pada seseorang yang menjadi tersangka utama penyebab hebohnya si jantung? Tapi ... astaga, Abir kadang lupa kalau kadar kenormalan Alara itu di luar batas wajar—makanya tidak punya malu dan dengan santainya pamer.


"Bir!" jerit Alara. "Kok malah ketawa-ketawa? Apanya yang lucu?!"


"Lo yang lucu," Abir kembali tertawa.


"Lo mau gue tendang dari atas sini? Ini tinggi, loh. Gue bisa pastiin tulang-tulang lo remuk pas sampe di bawah nanti!" sembur Alara. Kegugupan dan pesta di jantungnya seketika melenyap begitu saja.


"Itu yang dinamakan cinta, Alara. Lo kenapa bisa sepolos ini, sih, dalam urusan cinta? Perasaan mantan lo udah nggak keitung saking banyaknya, tapi rasanya jatuh cinta aja kagak pernah?" tutur Abir baik-baik—tidak tertawa lagi tentu saja—dia tahu sifat Alara yang jarang main-main dengan ucapannya.


Alara menatap datar Abir. "Lo kan tahu sendiri, gue pacaran juga cuma karena kegabutan, dan ... pengin bales dendam sama semua kaum laki-laki."


"Iya, tapi ... masa lo sama sekali nggak ada rasa sedikitpun sama salah satu dari mereka?"


"Sama sekali nggak," kata Alara santai. "Apa juga fungsinya suka ke mereka? Justru saat-saat yang paling gue tunggu itu ... ya pas mutusin mereka, trus mereka mohon-mohon buat nggak diputusin. Puas aja gitu liatnya."


Abir geleng-geleng. "Dasar cewek psycho."


"Lah, emang, kan? Kek nggak tau aja lo," Alara tertawa jahat.


"Oke, berarti sekarang jantung lo udah aman pas deket-deket gue?" Sekarang Abir bertanya dengan serius.


Alara pun menempatkan telapak tangannya tepat di mana jantung berada. Benar, sudah tidak dag-dig-dug lagi. Ini artinya ... dia sembuh? Dia tidak jadi kena serangan jantung, kan?


"Gimana, Ra?" tanya Abir tak sabar.


"Udah enggak," jawab Alara pelan. "Berarti tadi cuma kebetulan, atau mungkin ada makhluk halus di sini. Jantung gue yang sangat peka itu, nyoba kasih tahu gue dengan cara dag-dig-dug gitu."


Abir geleng-geleng sekali lagi. Fix, sekarang gadis itu mengantuk, makanya bicara agak melantur.


"Ya udah, kalau udah sembuh, sekarang mending lo tidur. Kita harus siapin tenaga buat pulang besok."


"Oke. Night, Bir." Alara lantas berbaring di sebelah Abir—bukan di pangkuan Abir lagi. Kemudian, tinggal menunggu kantuk datang.


***


Rombongan orang tua Abir dan Alara sampai juga di sungai. Sudah jelas, itu sungai yang sama yang Abir dan Alara datangi siang tadi, karena hanya ada satu sungai di daerah ini. Sungai yang memanjang mengelilingi hutan.


Lelah yang menyerang tak dirasa oleh mereka semua, lebih-lebih setelah mereka menemukan bekas pembakaran ikan di tepi sungai, dengan beberapa duri ikan bergeletakan di sana. Makin yakinlah mereka, bahwa dua orang yang mereka cari memang ada di sekitar sini. Lokasi pastinya masih belum tahu, tapi yang pasti: di sekitar sini.


"Kalian berdua ke mana, sih? Mama jadi khawatir banget," resah Miray. Memang, ia dan Afsana yang paling kentara tidak tenangnya.


"Mereka pasti ada di sekitar sini, Bu Miray," balas Afsana.


"Semoga aja," timpal Miray lagi.


Selanjutnya, mereka meneruskan pencarian. Mereka berteriak, menyerukan nama Alara dan Abir. Hari yang sudah sangat malam, tak ada artinya. Alara dan Abir yang paling penting untuk malam ini.


"Alara ...!"


"Abir ...!"


"Lara, kamu di mana, Nak?"

__ADS_1


"Abir, Mama ada di sini ...! Kamu denger Mama 'kan, Nak?"


Mereka sampai juga di sebuah tanah tandus yang mirip lapangan. Di sebelah tempat itu, ada semak-semak yang lumayan lebat dan tinggi. Ada juga pepohonan yang mengelilingi tempat ini, menjadikan tempat ini memang lebih mirip lapangan di tengah hutan.


"ALARA ... ABIR ... KALIAN DI MANA?" Miray berteriak sekencang yang ia bisa. Dan memang, suaranya jadi lebih jelas sebab ini sudah malam.


"ALARA ... ABIR ...!"


Seratus lima puluh meter dari situ, tepatnya di atas sebuah rumah pohon, pria ini mengerjap-ngerjap pelan kala mendengar namanya disebut. Iya, dia Abir. Dia sudah ketiduran beberapa menit setelah Alara.


"Abir ... Alara ... kalian ada di sekitar sini, kan?"


"Abir ...!"


"Alara ...!"


Suara itu terdengar lagi. Ini nyata, kan? Lagi pula, suara itu juga terdengar familiar di telinga Abir. Seperti suara ... ibunya?


"Abir ...! Abir ... kau di mana?"


Benar, Abir sedang tidak berkhayal. Suara itu memang nyata adanya. Bergegas ia menuju ke tangga rumah pohon ini berada, lalu menapak pelan-pelan ke satu demi satu anak tangga yang ada. Siapa tahu suara itu memang dari ibunya, dan jika benar, ini satu-satunya harapan agar dia dan Alara bisa pulang.


"Abir ...!"


"Alara ...!"


Jika berhalusinasi, maka suara itu tidak akan terdengar sampai berkali-kali. Itu memang nyata.


Cepat-cepat Abir berlari ke arah datangnya suara, tanpa membangunkan atau membawa serta Alara yang nyenyak tidur di atas sana. Kali ini yang terpenting bukan soal membangunkan Alara, tetapi mencari bala bantuan untuk mereka berdua.


"Mama ...!" teriak Abir. "Abir di sini, Ma!"


Selain berteriak, pria itu juga berlari-lari kecil sebisanya untuk mencari rombongan yang sudah meneriakkan namanya tadi. Abir yakin, asalnya dari sini, dan mereka pasti berada di sekitaran sini.


"Mama ...!"


"Papa ...!"


Lima belas detik kemudian, sorot terang beberapa senter mengarah pada Abir—yang refleks menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan.


"Abir!"


Tubuh Abir berguncang saat seseorang tiba-tiba memeluknya. Itu ulah ibunya, yang terisak mungkin saking terharunya.


"Kamu ngapain ada di sini? Para polisi ngiranya kamu sama Alara hilang atau dimakan macan, tapi alhamdulillah kalau kamu nggak kenapa-napa. Oh, iya, mana Alara? Kenapa kamu sendirian aja?" cecar Afsana penuh kekhawatiran.


"Alara ada, kok. Dia lagi tidur di rumah pohon di sana," jawab Abir seraya menunjuk ke arah yang ia maksud.


"Ayo kita ke sana sekarang," sahut Miray sambil berlari cepat-cepat ke tempat yang Abir tunjuk.


***


Abir tersenyum melirik Alara yang tertidur menyandar di pundaknya. Setelah banyak sekali drama, mereka berhasil keluar dengan bantuan tim penyelamat yang para polisi kirimkan. Kini, mereka sedang diantar pulang oleh para orang tua, sedang mobilnya yang terparkir di pintu masuk hutan, dibawa kembali oleh salah seorang polisi.


Kelegaan terpancar di wajah semua orang—khususnya para ibu. Sampai-sampai, saat ini mereka berdua sama-sama tertidur di kursi tengah—depan Abir. Sedang para ayah duduk menyetir di depan. Lalu di kursi terakhir ada Abir dan Alara.


Pulang ke apartemennya sendiri adalah pilihan Abir, sebab dia hanya bisa tidur dengan tenang di sana. Mau bagaimanapun kondisi dan rupanya, rumah sendiri adalah istana, bukan?


Lamunan Abir itu buyar saat mobil yang ia tumpangi berhenti mendadak. Rupanya, mereka sudah sampai. Hanya karena sibuk melamun sambil menatap wajah tenang Alara ketika tidur, Abir sampai tidak sadar waktu telah berganti.


"Lara, Lara, bangun, udah sampai," bisik Abir di dekat telinga Alara.


Namun, tentu saja tak ada respons yang berarti. Alara kalau sudah tidur, sangat sulit dibangunkan. Setidaknya itu satu hal yang harus Abir ingat-ingat terus.

__ADS_1


"Digendong aja Alara-nya," celetuk ayahnya.


"Eh?" Abir mengerjap beberapa kali. Digendong? Bisa saja dia lakukan, tapi unit apartemen mereka cukup jauh, sedang tubuh Alara ... sangat tinggi. Akan sulit nantinya—meskipun ada lift.


"Lara, bangun, Sayang." Miray menepuk-nepuk pipi putrinya yang tetap pulas menyandar di pundak Abir.


"Alara ..., bangun, Nak," Afsana ikut-ikutan apa yang dilakukan Miray.


Alara menggeliat, mengucek matanya sambil menguap, kemudian berkedip-kedip dan membelalak saat melihat di mana dia sekarang berada.


"Loh, gue di mana?"


"Di mobil. Ayo cepetan bangun, kasihan itu suamimu nungguin dari tadi," sahut Miray.


Alara tambah terkejut ketika mendengar suara mamanya. "Mama? Mama kok ada di sini? Dan ... Tante Afsana? Lah, loh? Gimana ceritanya?"


"Kambuh pikunnya," Miray geleng-geleng. "Coba kamu inget-inget habis dari mana dan kenapa."


Alara menggaruk kepalanya tak gatal. "Habis ...," Dia tampak serius berpikir. Hingga tiga detik kemudian, dia cengengesan, "Hehe, nyasar di hutan. Trus kalian datang dan kita pulang sama-sama," katanya sambil senyum-senyum.


Semua yang ada di mobil geleng-geleng antara heran, tapi gemas dengan tingkah pikun Alara yang terkadang over dosis.


"Ya udah, sekarang cepetan masuk, gih," suruh Miray. "Makan ini, terus nanti langsung istirahat, ya?" ujarnya seraya memberikan paper bag berisi makanan.


"Siap, Ma!" seru Alara dengan gerakan tangan hormat. "Yok, Bir," katanya sembari melangkah keluar.


"Kami permisi dulu, Semuanya," ucap Abir sopan sebelum melangkah keluar menyusul Alara.


"Iya, Nak. Jaga diri kalian, ya."


Abir mengangguk, detik selanjutnya membuka pintu dan melihat Alara yang sudah menunggu di depan gerbang sambil memeluk paper bag berisi makanan itu.


"Lama banget," dumel perempuan itu.


"Basa-basi dulu lah, yang sopan dikit sebagai mantu," jawab Abir.


"Ya udah ayo cepetan, gue udah laper banget, nih," Alara menarik tangan Abir agar mereka cepat-cepat pergi dari sini.


Beberapa menit kemudian, sampailah mereka di unit apartemen mereka. Pintu tempat itu tertutup tentu saja, tapi ... ada yang aneh. Sebuah kotak seukuran kardus mi instan tergeletak tepat di depan pintu.


Mereka berdua saling tatap dengan jantung berdebar-debar—yang jelas bukan karena jatuh cinta. Apa teror itu datang lagi? Atau ... orang tua mereka mengirim paket? Tapi paket apa? Makanan saja langsung diberikan tadi?


"Bir, coba ambil," suruh Alara sembari menepuk-nepuk lengan Abir.


"Kok gue?" protes Abir.


"Gue lagi bawa makanan, jadi nggak bisa," jawab Alara santai. "Lagian lo yang suami, pemimpin keluarga, jadi lo yang harus ambil!" lanjutnya ngegas.


Abir mendengus, tetapi menurut juga. Perlahan tapi pasti, kotak itu sudah berpindah tangan padanya. Mereka masuk dulu ke dalam sebelum mulai membuka paket itu.


"Cepetan buka!" suruh Alara tak sabar.


"Iya, ini juga lagi dibuka," kata Abir yang tangannya sibuk melepas lem yang menempel di kotak itu.


"Lah, isinya mi instan, mana satu doang lagi," Abir mengambil isi dari kotak besar itu dan menunjukkannya pada Alara.


Alara menghela napas panjang. "Pasti orang salah kirim."


"Pastinya," Abir membenarkan.


Ketika ia hendak menaruh kembali mi instan itu, sebuah surat yang menempel di belakang bungkus mi menarik perhatiannya.


“Kalian bersenang-senang sekali, ya? Ingat, waktu kalian sudah mulai berkurang.” Abir menatap Alara usai membaca surat itu.

__ADS_1


"Jadi ... teror nggak jelas itu ada lagi?"


*****


__ADS_2