Deal, Kita Nikah!

Deal, Kita Nikah!
30. Hutan


__ADS_3

Hari sudah larut ketika Alara dan Abir kembali ke apartemen mereka. Alara sudah pusing memikirkan akan bagaimana dia memenuhi impian-impian Sara dalam wishlist gadis itu. Memang tidak wajib, tapi jika tidak diwujudkan, dia akan terus merasa bersalah pada gadis itu nantinya.


Sementara itu, Abir tengah memandangi layar ponselnya—lebih tepatnya mengamati tulisan demi tulisan Sara dalam buku diary yang ia potret waktu itu.


"Masa kecilnya si Sara ngapain aja, sih? Masa nerbangin layang-layang aja nggak pernah?" heran Alara.


"Gue juga nggak tahu. Gue kenal dia bukan sejak kecil kayak gue kenal lo," jawab Abir.


"Ya udah, berarti, kita besok penuhin wishlist-nya yang ini dulu?"


Abir mengangguk. "Tapi jangan cuma itu, sekalian juga sama beberapa yang lain. Inget, lebih cepat lebih baik. Soalnya kita juga harus kerja, kan kita udah bukan pemalas lagi," tutur Abir.


"Sama camping di alam bebas?"


Abir manggut-manggut. "Sama?"


"Menerbangkan lampion? Eh, tapi itu banyak banget, dah. Seribu lampion. Aslinya ini mah pemerasan secara halus," oceh Alara.


"Memangnya Sara minta lo wujudin semua impiannya dia? Enggak, kan? Ini kan juga inisiatif lo sendiri, Lara," timpal Abir.


"Iya, deh, iya. Selain nerbangin lampion, apa lagi?"


"Punya rumah pohon, main salju sama gue, melihat dunia bawah air, keliling dunia, nonton banyak film dalam sehari," sebut Abir.


"Oke, gini aja. Besok, kita nerbangin layang-layang, habis itu menyelam, habis itu bikin rumah pohon, terus besoknya nonton film seharian full, habis itu camping di alam bebas."


"Mending gini aja, deh, Ra. Di hari kita camping, sekalian aja sambil main layang-layang, menyelam, sama bikin rumah pohon. Menghemat waktu. Jadi, besoknya kita tinggal nonton seharian penuh sama nyari di mana merak nari di hujan pertama, sekalian juga sama tempat yang ada saljunya. Gimana?"


"Ya udah, gue mah nurut aja apa kata suami," kata Alara sok bijak. Pasrah pula.


***


Semua persiapan camping sudah Alara dan Abir masukkan dalam mobil mereka. Mulai dari tenda, perlengkapan tidur, perlengkapan memasak, juga beberapa makanan siap saji dan camilan, tak lupa juuga pakaian ganti.


Semua itu, menurut Alara sangat penting, itu sebabnya dia bawa tanpa terkecuali. Terutama makanan, dia paling tidak bisa hidup tanpa yang namanya makanan dan segala macam camilan.


"Hutannya aman, kan? Nggak ada singa, ular, atau buaya, kan?" tanya Alara sekali lagi sebelum mereka berangkat.


Abir menatap datar perempuan yang masih berdiri di luar mobil itu. "Buaya mana yang ada di hutan?"


Alara terdiam untuk beberapa saat. Di detik kelima, dia baru cengengesan. "Padahal yang mau camping sama gue kan juga buaya," tawanya.


"Nah, gitu masih khawatirin buaya," balas Abir. "Udah ayo cepetan naik, keburu siang, malah bubar rencana yang kita susun sejak kemaren."


"Siap, Boss!" seru Alara dengan tangan menghormat.


Di perjalanan, untuk pertama kalinya Alara diam saja. Tetapi, ya, dia diam karena tampak sedang berpikir. Perempuan itu kelihatan sekali saat tengah berpikir karena keningnya yang mengerut dan alis yang hampir bertaut.


"Emang kita bisa main layang-layang di hutan, ya?" tanya Alara setelah selesai berpikir.


"Di deket hutan itu ada lapangan, jadi nanti kita mainnya di sana," jelas Abir.


Alara manggut-manggut mengerti. "Deket pemukiman penduduk, nggak? Ada yang bakal ngeawain kita, nggak?"


Abir berdecak jengkel. "Memang sejak kapan, sih, lo peduli sama ejekan orang lain? Mau orang lain ngetawain lo, ngejek lo atau apa pun itu, sejak kapan lo jadi mikirin ini?"

__ADS_1


Alara garuk-garuk tak gatal tengkuknya. "Iya juga, sih. Yang penting kan gue nggak ngerugiin mereka."


"Nah!" Abir menjentikkan jemarinya. "Sekarang mending lo diam, makan atau tidur terserah. Biarin gue fokus nyetir biar kita juga cepet sampainya."


Alara hanya mengangguk-angguk, detik selanjutnya ia ambil headphone dari tasnya dan memakainya. Dengan mendengarkan musik begini, otomatis dia tidak akan mengoceh dan merepotkan Abir.


***


Hutan. Tempat yang nyaris tak pernah Alara kunjungi seumur hidupnya. Pohon-pohon yang menjulang tinggi, dengan berbagai bentuk dan rupa hewan yang bersembunyi di dalamnya, itu sudah cukup membuat Alara ngeri. Apalagi, dia punya phobia terhadap hewan-hewan melata, seperti ular. Dan hutan, bukankah rumah bagi hewan seperti cacing tapi dalam ukuran besar itu?


Dedaunan kering menyambut langkah mereka begitu memasuki kawasan hutan itu. Dari penampilan luarnya yang banyak papan-papan petunjuk arah, sepertinya hutan ini tidak semengerikan yang ada dalam bayangan Alara-dan mungkin fungsi hutan ini memang untuk berkemah.


"Bisa bikin tenda?"


Alara mengerjap beberapa kali. "Hah? Gue?"


Abir berhenti dan menatap datar Alara. "Memang di sini ada siapa lagi?"


Alara cengengesan sambil menggaruk tak gatal tengkuknya. "Hehe, gue tadi lagi fokus lihat-lihat hutan ini."


"Nanti kita dirikan tendanya di situ," tunjuk Abir ke sebuah tanah yang lapang yang dikelilingi pepohonan.


"Oke, lo bikin tendanya, gue mau makan dulu. Laper." Alara langsung mendudukkan dirinya di sebuah batu yang cukup lebar, mengeluarkan beberapa makanan di sana, lalu tentu saja mulai makan.


Abir hanya ternganga. Enak sekali hidup perempuan itu. Bukannya membantu dia mendirikan tenda, tapi malah enak-enakan makan.


"Jangan ngelamunn, Bir. Mendingan lu mulai diriin tendanya, keburu siang ntar panas. Kan kita juga masih punya banyak kerjaan," oceh Alara dengan mulut penuh makanan.


Abir hanya bisa geleng-geleng sambil mengelus dada. Syukurnya dia bawa tenda instan, jadi tidak perlu ribut memasang sendirian. Dan lagi, syukur dia orang yang sabar-atau kalau tidak pasti sudah ikut Alara makan.


Dulu, Abir selalu aktif ikut kegiatan-kegiatan kepramukaan, dan sekarang, semua ilmu yang dia dapat dulu sangat berguna. Tak peduli meski hanya mendirikan tenda itu seorang diri, hanya beberapa menit untuknya menyelesaikan semua itu. Tenda sudah berdiri dengan kokoh dan rapi.


"Lihat, meski gue ngediriin tendanya sendiri, tapi bisa cepet, kan?" kata Abir bangga.


"Halah, tendanya instan, jadi gampang. Coba aja manual pakai tongkat, kayu, bambu, dan tali kayak dulu, pasti belibet," balas Alara, mulutnya masih penuh oleh makanan.


Abir hanya menatap datar perempuan itu. "Masih mending tendanya jadi. Udahlah, cepet habisin makanannya, kita juga harus lakuin yang udah kita rencanain."


"Kita mau apa dulu?"


"Bikin rumah pohon, kan?"


"Di sini?"


Abir mengangguk.


"Lah, trus kalau kita pulang, gimana sama rumah pohonnya?"


"Eh, iya, ya," Abir garuk-garuk pelipis, seolah baru sadar akan dikemanakan rumah pohon yang akan mereka bangun di hutan ini.


"Lagian ini hutan, mana boleh bikin rumah pohon di sini?" tambah Alara.


"Terus di mana, dong?"


Alara mengetuk-ngetukkan jemarinya di pipi—berpikir. "Gimana kalau di rumah lu?"

__ADS_1


Abir mengernyit. "Rumah gue? Nggak ada pohon di sana."


"Di belakang rumah? Masa nggak ada?"


Abir menggeleng. "Ada juga cuma beberapa, kecil-kecil pula, mana bisa dijadiin rumah pohon?"


"Iya juga, sih. Terus di mana, dong?"


"Rumah lu? Halaman belakangnya kan luas tuh, seinget gue juga ada beberapa pohon besar di sana."


Alara manggut-manggut. "Oke, deh. Kita bayar beberapa orang buat bikin rumah pohon di belakang rumah kita, jadi pas kita balik, rumahnya udah siap, gimana?"


"Ide bagus," respons Abir sambil tersenyum. "Oke, masalah rumah pohon selesai. Sekarang, kita tinggal cari sungai atau apa buat menyelam. Sore nanti kita tinggal nerbangin layangan."


"Jangan sekarang, gue mau makan dulu," Alara kembali sibuk dengan makanannya yang banyak itu.


Abir menghembuskan napas lelah. "Ya udah, lo makan, gue mau cari sungai."


"Ya udah, pergi sana," usir Alara.


Abir menjulurkan lidah, kemudian menghilang perlahan dari hadapan Alara. Alara hanya geleng-geleng, lalu tentu saja, lanjut makan.


Beberapa menit kemudian, makanan nan banyak itu habis. Setelah minum dan membereskan bekalnya, Alara menyapukan pandangan ke sekeliling. Sepi. Tidak ada orang, satu atau bahkan setengah pun.


Mendadak saja, dia merasa ngeri. Bulu kuduknya terasa berdiri. Suara-suara yang timbul dari hewan-hewan di hutan itu terdengar menyeramkan. Mana sekarang ini sedikit mendung pula, meski pepohonan sedikit renggang, tapi hari yang mendung menjadikan suasana sedikit menyeramkan.


"Kok gue jadi merinding gini, ya?" gumamnya sambil menggaruk tengkuk tak gatal.


Kriett ....


Alara menelan susah payah salivanya. Suara apa itu?


Tap.


Tap.


Tap.


"Astagfirullah, itu jejak kakinya siapa?" gumam Alara yang tambah takut.


"Abir ...?" panggilnya, tapi tidak ada sahutan. Justru, terdengar suara-suara sepeeri harimau di film-film.


Eh, apa?


Harimau?


Fix, pasti itu kelakuan Abir. Jelas, Abir pasti mengerjainya.


"Bir, jangan bercanda, itu nggak lucu sumpah!" teriak Alara.


Namun ....


Deg!


Sosok yang kemudian muncul di hadapannya membuat jantung Alara berhenti mendadak. Itu ... itu bukan Abir, tapi harimau sungguhan!

__ADS_1


*****


__ADS_2