
Alara tidak pernah segugup ini sebelumnya. Pergi berkencan dengan pacar-pacarnya, itu semua terasa biasa saja dan sama sekali tidak istimewa. Dan untuk pertama kalinya, ia merasa gugup menunggu Abir di sini. Ia takut kalau-kalau Abir malah mengatakan, "Iya, Alara, gue siap pisah sama lo". Uh, membayangkannya saja kenapa membuat Alara tidak ikhlas?
"Lara,"
Suara itu terdengar. Suara yang seminggu ini ingin sekali ia dengar. Suara yang berasal dari seorang pria yang sering dia sebut 'manusia payah'.
"Abir?" Senyum Alara merekah begitu saja tanpa bisa dicegah. Tolong, kenapa dia rasanya bahagia sekali melihat Abir tengah berjalan menghampirinya sambil memasang senyuman lebar.
"Gue kangen sama lo, Bir," Alara langsung memeluk Abir begitu pria itu hampir sampai di hadapannya, hingga si pemilik tubuh hanya bisa diam menegang.
"A-lara?" sebut Abir terbata-bata hampir tak percaya. Apa sosok yang sedang memeluknya erat ini sungguhan Alara? Atau hanya fisiknya saja yang sama?
Setelah hampir 2 menit, Alara melepas pelukannya dan menatap Abir sedikit berkaca-kaca. Abir lebih tak percaya lagi melihat itu. Rasanya seperti mimpi!
"Maafin gue udah nyebut-nyebut soal pisah. Sekarang, gue sadar, gue nggak bisa hidup tanpa lo, Bir," aku Alara. Ini adalah yang paling jujur dari dalam hatinya. Masa bodoh kata-kata ini mungkin tak seharusnya dia katakan duluan.
Namun, bukannya membalas, Abir malah berkedip-kedip dengan sangat polos. Alara yang geram pun mencubit pipi pria itu hingga sang empunya meringis kesakitan.
"Lo respons sesuatu, kek! Jangan melongo aja kayak patung!" omel Alara.
"G-gue ...." Abir menggantung kalimatnya. Bukan sengaja, dia hanya deg-degan.
"Gue-gue apa? Lo nggak kangen gitu sama gue? Udah seminggu nggak ada yang KDRT lo, loh. Beneran nggak kangen sama itu semua? Ih, kejam ya lo, Bir," rajuk Alara.
Abir tersenyum haru. "Kata siapa gue nggak kangen sama lo? Iya, meski sebenernya gue bisa hidup bebas seminggu ini, tapi rasanya kurang karena nggak ada lo. Nggak ada orang yang ngoceh dan bikin rame rumah, nggak ada yang berantakin rumah, nggak ada yang naroh sepatu di sembarang tempat, nggak ada yang lempar barang-barang dan ngamuk ke gue. Gue kangen semua itu, Ra. Gue sadar, itu semua adalah kehidupan gue. Kekejaman dan siksaan lo, itu pelengkap dalam hidup gue. Ya ... gimana, ya ... konyol mungkin. Tapi itu bener. Gue nggak bisa hidup tanpa lo."
"Shuttt," Alara menaruh telunjuknya ke bibir Abir. "Nggak usah ngomong lebih panjang lagi. Gue nggak mau lo kesannya jadi kayak buaya darat yang nyari mangsa," katanya setengah berbisik. "Dan asal lo tahu, Bir. Gue juga ngalamin hal yang sama."
Abir terkekeh pelan. "Lo kangen gue karena nggak ada yang lo siksa, kan?"
"Nah, itu tahu," Alara tertawa kecil. "Nggak ada korban yang bisa gue siksa di sini. Gue kangen KDRT ke lo."
"Jadi, kita lupain semua yang udah terjadi? Gue bersumpah, Ra, itu semua cuma kesalahpahaman. Gue dan Alisha nggak ada apa-apa. Lagian ya, mana mungkin gue selingkuh dari lo? Baru aja kemaren gue nyatain cinta, masa sekarang gue udah main selingkuh aja? Kan nggak lucu. Gue cuma cinta sama lo, Ra, bukan Alisha atau yang lainnya," tutur Abir.
"Iya, gue percaya, kok. Dan sekarang, gue juga," sahut Alara cepat-cepat.
Abir berkedip-kedip polos. "Juga apa?"
"Gue juga cinta sama lo ... kayaknya," papar Alara.
"Beneran?" Abir menatap Alara dengan mata membesar yang antusias.
__ADS_1
Alara mengangguk yakin. "Iyaaa, Abir. I love youuu!"
"I love you too, Alara Aarunaya!"
Mereka kemudian berpelukan erat. Saking eratnya, tubuh Alara sampai terangkat dan kemudian diajak berputar-putar oleh Abir. Senyum bahagia menghiasi wajah keduanya, begitu juga gadis yang berdiri beberapa meter menonton adegan mereka. Raisha. Dia malah yang merasa lebih senang lagi melihat kedua sahabatnya akhirnya bisa kembali bersama, dan khususnya Alara yang luar biasa kejam itu mengungkapkan cinta. Sungguh adegan termanis yang pernah Raisha saksikan dalam hidupnya.
"Semoga kalian berdua selalu bahagia dan saling mencintai begitu," harapnya.
***
"Sayang," Abir merengkuh Alara dari belakang, lalu menempelkan kepalanya di antara kepala dan pundak Alara, "Kok belum tidur?"
"Sekali lagi lo panggil gue sayang, gue potong itu mulut. Minggir!" Alara menghentakkan kasar tubuh Abir yang enak-enak memeluknya.
Abir cemberut. "Masa manggil sayang aja nggak boleh. Terus maunya dipanggil apa?"
"Ya apa aja, kek. Jangan sayang. Jijik gue dengernya," ketus Alara.
Abir geleng-geleng heran. "Biasanya orang saling cinta panggilannya emang gini, loh, Ra. Sayang-sayang. Tapi lo malah jijik? Heran gue. Lo tuh aslinya manusia apa bukan, sih?"
"Penyihir!" ketus Alara. "Udah, jangan main peluk-peluk gue lagi. Gue mau tidur." Dia menarik selimut dan menutupi seluruh bagian tubuhnya, kecuali wajah tentu saja.
"Padahal kan bisa tidur sambil pelukan," dumel Abir.
"Ra, sesekalilah kita bucin, kayak orang-orang gitu," pinta Abir.
"Enggak! Jijik gue!"
Abir menghembuskan napas panjang. Memang susah ya memiliki pasangan berjenis penyihir setengah macan tutul. Diajak seperti manusia lain malah jijik-jijik terus.
Tapi tidak masalah. Yang terpenting adalah, dia dan Alara tidak jadi berpisah, dan mereka malah saling mencintai sekarang. Soal yang lainnya, bisalah dipikir nanti-nanti.
***
Abir mengerjap beberapa kali, lalu mengucek matanya. Tidak puas hanya melakukan itu sekali, dia ulangi lagi berkali-kali. Pemandangan yang berada di hadapannya ini sungguh langka dan luar biasa.
"Lo ngapain kedip-kedip di situ?" tegur Alara dari dapur.
Iya. Kalian tidak salah dengar. Dari dapur! Alara sedang memasak. Sungguh pemandangan yang membuat Abir keheranan sekaligus senang.
"Gue niatnya waktu itu mau masakkin lo, tapi lo malah kepergok lagi jalan di mall sama Alisha. Kan jelas gue ngamuk," papar Alara.
__ADS_1
Abir tersenyum tipis, kemudian mendekati Alara dari belakang. "Maafkan aku, Say---"
"Jangan manggil sayang!" sahut Alara sambil menodongkan kacang panjang pada Abir.
Abir yang hendak memeluknya pun mengurungkan niat itu. "Terus dipanggil apa? Masa Lara-Lara terus, sih? Nggak aesthetic, ah."
"Ya apa, kek. Jangan sayang. Panggilan itu terlalu umum. Yang lainnya aja," kekeh Alara.
"Tapi lainnya itu apa? Baby? Darling? Sweetheart? Honey? Bunny? Sweety? Kelinci?" cerocos Abir.
"Lu kira gua apaan dipanggil kelinci?" sungut Alara. "Panggilan yang lain kan pasti ada. Cari, lah!"
"Cintaku? Sayang---eh iya selain sayang. Jiwaku?"
"Jiwa-jiwa, lo kata gue sakit jiwa?! Udahlah, Bir, panggil kayak biasanya aja. Nggak usah ribet jadi orang." Alara kembali memfokuskan dirinya memotong kacang panjang itu.
"Istriku? My wife?"
"Iya, gue emang istri lo," kata Alara datar.
"My Jaanu?" usul Abir dengan mata berbinar-binar. "Jaanu artinya sayang, kan? Panggilan itu nggak umum dipakai di Indo. Iya, kan?"
Alara merespons dengan senyuman lebar. "Ya! Boleh, tuh. Lo tahu dari mana soal panggilan itu?"
"Dari film yang lu tonton sama Raisha," jawab Abir ceria.
"Oalah, inget juga ya lo ternyata," Alara tertawa kecil.
"Inget, dong. Gue gitu," kata Abir sombong. Dia selanjutnya ikut Alara memotong sayuran. "Nanti kita jalan, kita habisin waktu berdua hari ini seperti yang lo mau. Oke? Itung-itung gue nebus kesalahan gue waktu itu."
"Oke. Dan lo harus nurut apa pun kemauan gue, sama nggak ada waktu buat pekerjaan untuk hari ini. Pokoknya lo harus full cuti," kata Alara memberi syarat.
"Ok Jaanu." Abir mengedipkan sebelah matanya.
"Tapi gue sebenernya geli dipanggil gitu, Bir. Udahlah, panggil Lara aja kek biasanya."
Senyuman Abir langsung luntur. "Kita jadi pasangan nggak ada romantis-romantisnya masa?"
"Kan bisa dengan hal lain, masak bareng misal."
Sekarang senyuman Abir kembali hadir. Kali ini lebih lebar dari sebelumnya. "Hayuk, sekalian sambil romantis-romantisan kayak di film."
__ADS_1
"Nggak ada romantisan! Gue laper! Cepet bantuin!"
*****