
Setelah perdebatan panjang itu, Alara kembali pulang ke rumah Raisha. Keluarga Abir memang mengajaknya ikut, tapi dia tidak mau. Alara beralasan sampai masalah ini selesai, dia dan Abir tidak akan bersama dulu.
Sekarang ini, Alara tengah berjalan kesana-kemari memikirkan solusi untuk mengungkap yang sesungguhnya terjadi langsung dari mulut Alisha. Mungkin memaksa Alisha memang tidak akan sulit—karena perempuan itu cenderung penurut. Masalahnya adalah, Penyihir itu bersama Alisha. Jelas saja Alisha sudah dilarang dengan keras membuka mulut sedikit saja. Bahkan mungkin 24 jam Alisha dijaga oleh ibunya itu.
"Gimana kalau kita culik trus paksa si Alisha aja? Kayak kita culik kakaknya Raina dulu, lumayan ampuh lah itu," celetuk Raisha.
Alara seketika berhenti dari kegiatannya mondar-mandir tidak jelas. "Culik dia?"
"Iyaa. Culik dia. Kita nggak usah apa-apain dia, cukup diculik trus disekap aja, sambil diancem suruh bicara jujur. Agak kriminal, sih, tapi gue yakin cara ini akan berhasil. Toh dulu juga berhasil, kan?"
Alara terlihat memikirkan perkataan Raisha. Ada benarnya apa yang dikatakan sahabatnya itu. Dulu sekali, mereka berdua—sebenarnya bertiga dengan Abir—pernah menculik kakak dari sahabat mereka yang lain dari acara pernikahannya. Tidak hanya sekadar menculik, mereka menerapkan sistem 'culik ala kabur' dalam agenda mereka saat itu. Culik ala kabur maksudnya adalah sosok itu diculik, tapi tempat penculikan dibuat seolah-olah sosok itu melarikan diri, bahkan mereka tak segan membuatkan surat berisi permintaan maaf karena kabur. Dia dan Raisha termasuk orang-orang yang pandai menirukan tulisan tangan orang lain.
"Apa lo mau tobat karena sekarang lagi hamil? Tapi kalau tujuannya baik mah enggak apa-apa kali," celetuk Raisha lagi.
Alara masih terlihat menimbang perkataan Raisha. Iya, dia memang sedikit ingin bertobat dan tidak malakukan yang aneh-aneh dulu. Dia hanya takut saja nanti malah akan kejadian yang tidak-tidak.
"Lara, udahlah, nggak usah pake acara mikir lagi. Gue yang ketuain acara penculikan kita kali ini. Gue jamin, semuanya bakalan berhasil. Percaya, deh," bujuk Raisha.
"Ya udah, deh. Iya, gue setuju," pasrah Alara. Tidak ada salahnya mencoba, kan?
Raisha langsung sumringah. "Oke, oke, kita berdua atau cari tim lagi?" tanyanya.
"Kalau kita berdua aja kira-kira bisa, nggak? Tapi gue nggak bisa bergerak super bebas kayak biasanya, gue nggak mau anak gue kenapa-napa," kata Alara.
"Bisa aja, sih, tapi kalau bawa tim lagi kayaknya lebih enak. Kan lo nggak bisa bebas gerak, tuh, jadi lo yang berperan sebagai sopir, trus gue sama tim baru kita bagian nyulik Alisha. Gimana?" saran Raisha.
Alara manggut-manggut. "Boleh, boleh. Tapi siapa yang bisa kita jadiin tim? Yang pasti, dia harus sepenuhnya ngedukung kita, ya paling nggak dia nggak akan jadi mata-mata, lah."
Raisha tersenyum sok misterius. "Gue tahu siapa orangnya."
"Siapa?"
"Si Arshia, adeknya Abir."
***
Arshia, adik Abir itu langsung berbinar-binar ketika Alara dan Raisha menjelaskan soal rencana penculikan mereka terhadap Alisha. Otak gadis itu memang bisa dibilang agak geser, itu sebabnya dia tanpa perlu berpikir langsung menyetujui semua rencana ini.
"Kapan mulainya, Kak? Sekarang? Malam ini? Besok? Atau kapan?" cerocos Arshia semangat 45.
"Nggak bisa langsung gitu, Shia. Pertama kita harus cari kesempatan yang pas buat jalanin itu. Alisha harus terbebas dari pengawasan orang-orang biar rencana kita bisa berlangsung dengan mudah dan lancar," tutur Raisha dengan bijaknya, seolah yang dia susun ini adalah rencana bela negara.
"Malem-malem mungkin? Alisha kan nggak mungkin tidur sambil ditemenin emaknya, tuh," saran Arshia.
__ADS_1
"Eh, iya juga, ya? Berarti nanti malem? Masih ada seharian penuh buat kita siap-siap dulu," ucap Alara.
"Iyaaa, Kak. Seharian penuh siap-siap cukup, kan? Jadi nanti malem kita tinggal langsung meluncur ke TKP. Btw, kita susun sekalian sekarang bagian-bagian kita masing-masing, ya? Sama pikirin juga mau di mana kita nanti nyekap Alisha-nya. Pokoknya kita harus cari tempat yang aman dan nggak terduga, biar dia nggak bisa kabur," celoteh Arshia panjang lebar.
"Aku bagian sopir yang nunggu kalian di mobil aja, ya? Soalnya aku lagi nggak bisa lari-larian dan banyak tingkah dulu," tutur Alara.
"Iya, Kak. Kakak mah nggak ikut juga nggak apa-apa, nanti biar aku minta bantuan Zafar buat misi ini. Eh, gimana kalau kita ngajak Zafar? Kita kan juga pastinya butuh laki-laki dalam misi ini," usul Arshia.
Alara dan Raisha saling tatap. Zafar sendiri adalah suami Arshia, pria yang jelas akan menurut apa pun yang istrinya itu perintahkan.
"Ya udah, kalau gitu kamu ajak Zafar. Dia pasti mau, kan?"
"Pasti, Kak. Nggak usah khawatir, dia nggak akan nolak," kata Arshia dengan yakinnya.
***
Malam yang ditunggu pun akhirnya tiba. Keempat orang itu—Alara, Raisha, Arshia, dan Zafar—sudah siap sedia mengintai di depan gerbang rumah keluarga Alisha. Meski ini rumah bibinya, Alara tidak hafal dengan denahnya. Memang Alara jarang sekali berkunjung ke sini, tidak pernah, lebih tepatnya.
"Kamar Alisha ada di lantai 2," bisik Alara. Inilah satu-satunya informasi besar yang dia ketahui dari rumah ini, dan syukurlah tahu, karena kalau tidak sudah pasti pekerjaan ini akan bertambah banyak.
"Trus nanti kita masuknya gimana? Panjat pipa?" tanya Zafar.
"Kalau ini posisinya lagi ada acara kayak di rumah Raina, pasti bakalan lebih gampang sedikit," kata Raisha.
"Nggak perlu itu. Udah, ayo masuk. Ra, lo tunggu sini, ya? Nggak usah ikut masuk, biar yang bawa Alisha ke sini kita bertiga aja," ujar Raisha.
Alara mengangguk. Lantas ketiga rekannya itu turun satu per satu dari mobil dan mulai mengendap-endap masuk. Ada gerbang utama yang cukup lebar, lalu di samping juga ada gerbang kecil yang lebarnya tak sampai satu meter. Ketiga orang itu akan lewat sana. Kebetulannya pintu gerbang itu tidak dikunci, entah disengaja atau memang lupa.
Mereka bertiga pun berhasil memasuki gerbang dengan selamat dan tanpa tertangkap. Kini langkah kedua adalah memasuki rumah berlantai dua yang sudah tampak sepi itu. Mungkin karena ini sudah pukul 23.30 malam, itu sebabnya semua penghuninya sudah tidur.
"Pintunya pasti udah kekunci, gimana cara kita masuk?" tanya Raisha berbisik. Posisi mereka bertiga saat ini berlindung di balik tanaman yang ada tepat di depan rumah itu. Tanamannya cukup besar, lebat, dan panjang.
Arshia mengeluarkan sesuatu dari dalam tas ransel kecil yang dia bawa. "Ini ada kumpulan kunci, dan ini, ada linggis. Biasanya orang mau bobol rumah orang pake ini, kan?" ucapnya polos.
Raisha hampir tertawa, tetapi segera menutup mulutnya agar tak terjadi keributan yang memancing kecurigaan. "Dari mana kamu dapat kunci-kunci ini, Shia?"
Arshia menggaruk rambutnya yang tak gatal sama sekali. "Ini aku buat di tukang kunci, biasanya dulu aku pake waktu mau ketemu Zafar diam-diam," akunya.
Raisha geleng-geleng. "Ya udah, apa pun itu, siniin kunci-kuncinya."
Arshia menyerahkan koleksi puluhan kuncinya yang disatukan dengan sebuah kawat itu pada Raisha, lalu gadis itu mengendap-endap berjalan ke belakang rumah. Sementara linggis yang Arshia bawa diambil suaminya sendiri untuk berusaha membuka jendela.
Benar saja. Di belakang, ada pintu dan jendela yang lain. Kelihatannya ini sedikit lebih aman daripada pintu dan jendela utama. Halaman belakang rumah ini juga cukup luas dan ada lumayan banyak pepohonan. Mereka yakin, di tengah malam seperti ini tidak akan ada yang keluar.
__ADS_1
Sementara Raisha sibuk mencoba satu per satu kunci di pintu, Zafar berusaha mencongkel jendela dengan linggis. Arshia hanya diam melihat sekaligus mengawasi sekitar. Barangkali tiba-tiba ada yang datang.
Clek.
"Berhasil," seru Zafar dengan bisikan. Satu jendela panjang yang letaknya tepat di samping pintu berhasil dibuka. "Masuk, masuk," ajaknya.
Raisha sedikit tertawa. "Kayaknya lo berbakat banget jadi pencuri, Far."
Zafar meringis. "Ya gimana, aku juga sering dulu keluar diam-diam lewat jendela buat ketemuan sama Arshia," katanya.
Selanjutnya mereka bertiga pun masuk secara bergantian. Mereka sampai di dapur, tempat yang ada di paling belakang rumah ini rupanya adalah dapur. Kebetulan sekali lampunya sudah dimatikan dan keadaan sangat sepi.
"Kita berpencar," titah Raisha yang langsung diangguki sepasang suami-istri itu.
Zafar langsung ke kamar yang ada di lantai atas, sementara Raisha dan Arshia mengecek satu per satu ruangan yang ada di lantai bawah ini.
"Kak Raisha ... Arshia ...."
Panggilan berbisik itu membuat Raisha dan Arshia menoleh. Mereka berdua terbelalak saat melihat Zafar sudah menggendong Alisha yang tak sadarkan diri. Bagaimana bisa? Kenapa cepat sekali? Rupanya Zafar ini berbakat jadi penculik juga, ya.
Kedua perempuan itu tak mau terkejut lama-lama. Mereka bergegas menuju pintu belakang tadi. Niatnya mau lewat jendela lagi, tetapi sepertinya keberuntungan berpihak pada mereka. Kunci pintu belakang saat ini menempel di pintunya. Mereka tinggal memutarnya sedikit dan terbukalah pintu itu.
Setelah berhasil keluar, Raisha kembali mengunci pintunya, tetapi dari luar. Biarkan saja jika besok bibi Alara itu tidak bisa keluar dan terkunci di dalam, toh yang dia kunci itu bukan pintu utama juga.
Selanjutnya mereka bertiga berlari cepat-cepat keluar gerbang di mana Alara sudah menunggu di pinggir jalan. Zafar segera memasukkan Alisha yang tak sadarkan diri ke mobil, lalu dirinya sendiri disusul dengan Raisha dan Arshia masuk. Langsung saja Alara melajukan mobilnya cepat-cepat pergi dari sana.
Mereka berempat tertawa-tawa puas dan bahagia. Alara sempat mengira rencana ini akan gagal, tapi ternyata tidak sama sekali. Malah berhasil dan butuh waktu yang sedikit lebih cepat.
"Gimana tadi kalian nyulik Alisha?" tanya Alara ketika tawanya sudah berhenti.
"Tau tuh si Zafar," jawab Raisha yang masih tertawa.
"Gimana, Far?"
"Jadi tadi aku asal masuk aja ke kamar yang paling dekat tangga. Ternyata pintunya nggak dikunci, trus bagian yang paling bikin kaget sekaligus seneng, Alisha lagi tidur nyenyak banget. Langsung aja aku bius dia dari belakang dan angkat bawa keluar," cerita Zafar.
"Ah, Sayang, kau memang hebat," puji Arshia sembari memeluk suaminya itu dari samping.
Alara dan Raisha geleng-geleng. Tidak salah mereka mengajak Zafar, pikir mereka.
"Nanti bantuin juga bawa dia ke gudang rumah Raisha, ya, Far," pinta Alara.
"Siap, Kakak Ipar!"
__ADS_1
*****