Deal, Kita Nikah!

Deal, Kita Nikah!
38. Nasi Goreng Rasa Cinta


__ADS_3

Rasa kantuk yang tadi menyerang Alara, kini hilang tak berjejak. Pun Abir. Pria itu juga duduk di samping istrinya sambil bertopang dagu. Raut mereka sama-sama tak tenang. Tentu saja, hal yang mereka kira hanyalah omong kosong alias tidak ada, malah seolah menunjukkan eksistensinya yang sungguhan ada.


Kalau itu benar, apa hidup mereka nantinya akan tidak tenang? Apa yang kira-kira akan si peneror itu lakukan?


Dari teror pertama, 30 × 4, yang berarti 120. Jika 120 yang dimaksud adalah 120 hari, maka sekarang tinggal 60 hari lagi—karena usia pernikahan Alara dan Abir sudah 2 bulan, sedang teror itu didapat pertama kali saat mereka pergi bulan madu.


"Bir, tinggal 60 hari lagi. Kira-kira bakalan ada apa, ya, 60 hari lagi?"


Abir menggeleng pelan. "Gue nggak tahu."


"Kira-kira itu peneror ngincer nyawa kita, nggak, sih?"


Lagi-lagi Abir hanya bisa menggeleng sambil berkata, "Gue nggak tahu."


"Gini aja, deh. Daripada kita takut nggak jelas, mending lihat aja besok ada teror lagi apa nggak. Kalau nggak ada, berarti paket ini cuma salah alamat atau kerjaan orang iseng," tutur Alara. Ia rasa ini yang terbaik untuk membuat mereka setidaknya sedikit lebih tenang.


"Oke. Ya udah, sekarang mending lo lanjutin tidurnya," balas Abir.


Alara menggeleng. "Gue udah nggak mood."


"Kalau gitu makan?"


"Sama aja."


"Terus mau apa?"


"Tidur."


Abir menatap aneh perempuan itu. Yang bilang tidak mood tadi siapa? Dalam beberapa detik saja, Penyihir Kejam itu sudah berubah pikiran? Ah, dasar labil.


"Makanannya lo simpen, ya. Gue mau lanjutin tidur yang tadi sempet ketunda. Oke, Abir, dadaa~" Alara langsung berbaring, menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut, lalu pergi ke alam mimpi.


Abir geleng-geleng dibuatnya. Hingga ketika tak ada gunanya menunggui Alara yang sudah pulas, dia mengambil surat yang tadi ditempel ke mi instan itu. Dia amati seluruh sisi surat tersebut dengan seksama. Satu titik saja tak akan Abir lewatkan—jika bisa.


"Kata-kata pertamanya, 'kalian bersenang-senang sekali, ya?', itu berarti ... orang ini tahu kegiatan gue sama Alara. Terus, 'ingat, waktu kalian sudah mulai berkurang'. Waktu yang dimaksud jelas perkalian 30 kali empat itu. Kalau gitu ... berarti orang itu serius sama teror ini? Tapi kenapa? Dan orang itu siapa?" gumam Abir bertanya-tanya.


Pandangannya beralih menatap Alara yang pulas tidur di dekatnya. "Apa jangan-jangan ... orang di balik surat-surat ini salah satu mantannya Alara? Bisa jadi, mereka kesel karena diputus secara tidak hormat sama Alara, atau karena dipermainkan sama Alara yang nggak pernah serius?"


Abir menghela napas panjang. Kalau benar semua ini adalah ulah Alara, entahlah, harus ia apakan perempuan itu. Sudah berkali-kali dia bilang, agar Alara menyembuhkan penyakit gilanya yang memacari semua makhluk berjenis kelamin laki-laki. Akan tetapi, Gadis Kejam itu tidak pernah mau dengar. Justru, dia tambah semangat untuk membuat semua laki-laki berada dalam dekapannya.


Namun, sebelum berprasangka buruk, Abir harus memastikan sendiri; ia akan menanyai Alara tentang mantannya satu per satu, baru kemudian menyelidiki dan mendapat hasil yang pasti.


"Ya udahlah. Besok pagi aja gue tanya-tanyanya sama Alara. Kasihan juga dia kalau harus dibangunin lagi sekarang. Tidur yang nyenyak, ya, Ra."

__ADS_1


***


Pagi yang ditunggu-tunggu telah datang. Abir langsung menoleh ke sisi kiri, tempat seorang perempuan tidur semalaman. Namun, tempat itu malah sudah kosong. Hanya tersisa guling dan bantal, sementara orangnya sudah menghilang entah ke mana.


Abir pun bangkit, berjalan perlahan-lahan keluar kamar. Oh, rupanya Alara tengah memasak. Tapi tumben-tumbenan? Mimpi apa si Penyihir Kejam itu, sampai mau menginjakkan kaki ke dapur?


"Ra," panggil Abir.


"Eh, lo udah bangun. Sana duduk dulu, habis ini makanannya jadi," kata Alara sambil tersenyum manis.


Hal yang justru tampak sangat tampak aneh di mata Abir. Pertama, dia mau repot-repot memasak; kedua, dia menyambut kedatangan Abir seperti seorang istri yang baik. Oke, Alara memang bukan istri yang jahat—hanya kejam, itu saja.


"Nasi goreng datang~" Alara menghampiri Abir di meja makan dengan 2 piring berisi nasi goreng di tangannya.


"Itu ... beneran lo yang masak?" tunjuk Abir pada kedua piring berisi nasi goreng itu. Air mukanya seperti tak percaya kalau makanan itu buatan Alara.


"Iyalah, bikinan gue. Masa Alisha?!" balas Alara ketus.


Oke, kalau sudah ketus begini, itu berarti benar—nasi gorengnya murni buatan Alara.


"Oh. Wah. Keren. Hebat. Pasti enak," kata Abir kikuk.


"Pastilah!" seru Alara. Mungkin ini memang debutnya memasak, tapi dia yakin kalau rasanya enak.


"Ya udah, gue cobain, ya." Abir menyendok nasi goreng itu ke dalam mulutnya dengan pelan-pelan. Jujur saja, dia senang dengan perubahan baik Alara, tetapi ia masih tidak yakin nasi goreng ini rasanya berperikemanusiaan. Katakan saja ini jahat atau keterlaluan, tapi memang wajar, kan? Alara tidak pernah memasak.


Nah, benar 'kan. Rasanya asin. Kalau dia katakan ini pada Alara, gadis itu pasti akan mengamuk. Tapi, sungguh! Lama-lama ini asin sekali. Bagaimana caranya dia habiskan?


"Gimana? Enak?" tanya Alara semangat.


Abir mengangguk kaku sambil meringis. "Hehe, iya, enak."


"Iya, kan? Gue bilang juga apa! Ini tuh nasi goreng rasa cinta, pasti enak!" kata perempuan itu bangga. "Gue juga mau cobain, ah."


"Eh, jang---" Kata-kata Abir terhenti karena kalah cepat dengan Alara yang sudah memasukkan nasi goreng ke mulutnya.


Sial, kalau begini, Alara akan tahu bagaimana rasa masakannya, dan juga tahu kebohongan Abir. Penyihir Kejam itu pasti akan menghabisinya karena sudah berbohong. Ya, itu pasti.


Setelah beberapa kunyahan, muka Alara berubah seperti menahan sesuatu. Jelas, itulah rasa asin yang membara seperti cinta Abir.


"Gimana? Enak?" tanya Abir hati-hati.


"Enak, kok," kata Alara angkuh. "Kan gue juga bilang, ini nasi goreng rasa cinta. Tambah asin, berarti tambah banyak cintanya. Lo jangan nyinyirin ini, ya! Atau gue goreng lo sekarang juga jadi lauk ini nasi!"

__ADS_1


Abir langsung mengangkat kedua tangannya di depan dada. "Gue nggak nyinyir, kok. Sama sekali enggak. Kan kata gue juga, nasi gorengnya enak banget. Rasa cinta dari istri Kejam gue yang tecinta," katanya takut-takut.


"Bagus," timpal Alara, masih dengan muka garang.


Sekarang Abir menelan susah payah ludahnya. Oh, Tuhan, tolong bantu Abir kali ini saja. Buat nasi goreng yang asin ini menjadi enak, *please ....


"Hoekk*!"


Alara berlari-lari ke wastafel. Bisa Abir dengar, perempuan itu sedang memuntahkan isi perutnya. Gara-gara nasi goreng kah? Atau karena masuk angin?


Abir bergegas menyeret langkahnya menyusul sang istri di dalam kamar mandi sana. Mungkin saja Alara butuh bantuan, kan?


"Lara, lo nggak apa-apa?"


"Udah tahu gue muntah-muntah, pake nanya gue nggak apa-apa, ya gue kenapa-napa, lah!"


Ya Tuhan, sekarang apa lagi salah Abir? Pertanyaannya itu tadi wajar, kan?


Ketika Abir membuka mata, Alara tiba-tiba sudah berdiri di depannya dengan keadaan bersedekap dada.


"Kenapa muntah-muntah?" Semoga pertanyaan ini pas dan tidak membuat si Kejam itu marah-marah lagi.


"Yang pasti gue nggak hamil," jawab Alara datar, detik selanjutnya menerobos pundak Abir dan kembali ke meja makan.


"Udahlah, gue nggak mood lagi buat makan." Alara mendorong piring berisi nasi gorengnya ke tengah-tengah meja.


"Mau gue masakkin yang lain?" tawar Abir. Dia tahu, Alara pasti muntah-muntah karena nasi goreng buatannya sendiri yang sangat asin itu.


"Enggak."


Abir kemudian mendudukkan dirinya di sebelah Alara. "Kalau gitu ... gue boleh tanya sesuatu?"


"Nggak usah ngelawak, itu namanya tanya juga, kan?"


Abir tersenyum paksa. "Gue boleh minta daftar mantan lo, nggak?"


Alara membelalak. "Daftar mantan gue? Mau apa, lo?"


"Ya ... gini, jadi, gue kepikirian soal teror yang dateng ke kita itu ulah salah satu dari mantan lo yang lo putusin secara nggak terhormat. Bisa aja, kan? Mereka dendam, terus neror kita, kayak di film-film gitu. Iya, kan?"


"Nggak mungkin!" balas Alara cepat. "Mereka mana berani neror gue?"


"Ya siapa tahu aja 'kan, Ra? Mereka itu mantan, mantan yang tersakiti lebih tepatnya. Jadi, mereka bisa lakuin apa aja buat ngebales lo. Inget Ritvik? Dia kan juga marah-marah ke sini gara-gara lo putusin waktu itu."

__ADS_1


Alara langsung memutar duduknya, menatap Abir dengan sorot mata serius. "Apa jangan-jangan … ini ulah si Ritvik lagi?"


...****************...


__ADS_2