Deal, Kita Nikah!

Deal, Kita Nikah!
45. Alara Terkesan?


__ADS_3

Lima menit lagi pukul 8, tapi Alara sudah siap dengan gaun yang dibelikan si Manusia Payah itu. Kini dia mematut dirinya di cermin. Ehm—bolehlah Alara sombong sedikit. Dia tampak cantik dengan dress navy blue ini. Alara sampai yakin, Abir akan lupa cara berkedip saat melihatnya nanti.


Tok.


Tok.


Tok.


Nah, ketukan itu pasti berasal dari sopir taksi yang tertulis dalam surat pagi tadi. Setelah mengambil tas, Alara bergegas melangkah keluar. Dan benar, seorang pria paruh baya dengan seragam khas sopir taksi berdiri di hadapannya.


"Mari, Nona Alara?" ajaknya ramah.


Alara mengangguk, kemudian berjalan di belakang mengikuti pria itu. Setelah menuruni beberapa lantai, sampailah mereka berdua di tempat parkir apartemen. Taksi berwarna kuning sudah menyambutnya di sana. Sopir itu bahkan sampai membukakan pintu untuk Alara.


"Ehm, Pak, kira-kira kita akan pergi ke mana, ya?" tanya Alara di tengah perjalanan.


"Nanti Anda akan tahu sendiri, Nona," ucap pria itu dengan senyum simpul.


Alara malah jadi ragu kalau ini sungguhan taksi itu. Benar ini taksinya, kan? Bagaimana jika pria ini ternyata adalah penculik?


"Nah, Nona. Sudah sampai. Mari saya antar ke sana."


Ternyata tempatnya tidak terlalu jauh. Padahal Alara sudah membayangkan dirinya akan dibawa ke tempat yang sangat jauh, menempuh perjalanan berjam-jam hingga ia ketiduran. Tapi ternyata, tidak sama sekali.


Sopir itu membawanya masuk ke sebuah gerbang. Sepuluh meter dari gerbang pertama, ada gerbang lagi. Sopir itu hanya mengantarnya sampai gerbang kedua dan lanjut pergi.


Begitu Alara memasuki gerbang kedua itu, pemandangan berupa rerumputan hijau dengan lampu kecil kelap-kelip ditaruh banyak sekali di rumput tersebut. Ada juga lampu yang menggantung di sana, bentuknya bintang, bulan, dan matahari. Kemudian sekitar 50 meter dari Alara berdiri, ada satu meja dan dua kursi yang berhadapan. Di dekat meja itu juga ada danau buatan yang tampak indah karena cahaya bulan serta kerlipan lampu di situ.


"Alara,"


Alara terlonjak saat suara itu tiba-tiba memanggilnya. Tidak tahu sejak kapan, Abir berdiri di dekatnya dengan pakaian yang sangat rapi dan ... tampan.


"Ini semua lo yang siapin? Apa maksudnya?" Alara bertanya tanpa lagi perlu basa-basi.


"Ikut dulu aja, deh." Abir menggandeng lengan Alara tanpa persetujuan gadis itu, menuju ke sebuah tempat di sisi kanan. Tempatnya juga penuh dengan hamparan rumput, juga ... lampion-lampion yang berjajar rapi di sana.


"Ini maksudnya ...?" Alara menatap Abir tak mengerti.


"Menerbangkan seribu lampion," ucap Abir. "Ya, kita akan melakukan itu, Alara."


"Wish-nya Sara?"

__ADS_1


Abir mengangguk. "Sekaligus kencan pertama kita sebagai suami-istri, karena kita yang nggak pernah pacaran," balasnya sambil terkekeh.


Senyuman haru terpasang di wajah Alara. Dia memandang ke sekeliling, dan tersenyum karena entah mengapa merasa sangat senang.


"Kita terbangkan lampionnya sekarang?"


Alara mengangguk semangat. "Ayo, ayo!"


Abir dan Alara masing-masing membawa 2 buah lampion di tangan mereka. Lalu, seorang pria berseragam hitam-putih datang dan menyalakan keempat lampion itu.


Dan ... terbang! Keempat lampion itu terbang bersama-sama ke langit malam yang cerah. Hal itu membuat senyuman lebar di wajah Alara makin tak pudar.


Selanjutnya, mereka dibantu dua pria lagi mulai menerbangkan lampion-lampion yang tersisa. Ada 1000 lampion, tentu saja butuh waktu yang lumayan lama.


Lampion terakhir berhasil terbang. Langit yang sudah cerah bertabur bintang dan bulan yang bulat penuh, kini terlihat semakin indah dengan seribu lampion yang berhasil Alara dan Abir terbangkan.


"Kita foto dulu, Ra," ajak Abir sambil mengarahkan ponselnya pada dirinya dan Alara.


Abir langsung mengklik sebanyak-banyaknya foto selfie mereka berdua. Tak cukup sampai di situ, pria yang tadi membantu menyalakan lampion juga memfoto mereka berdua dengan kamera. Rencananya, Abir nanti akan memajang foto itu di dinding apartemen mereka. Sebagai kenang-kenangan bahwa dirinya pernah berusaha membuat Alara jatuh cinta.


Selesai dengan lampion, mereka lanjut ke meja dan kursi tadi. Sudah ada makanan yang disiapkan di situ. Ada juga bunga, lilin, es krim, bahkan kue. Meja itu sampai penuh dengan beragam benda.


"Nggak usah. Gue suka, kok. Lagian pesen banyak-banyak juga nanti malah nggak habis," balas Alara.


Tanpa disuruh, perempuan itu langsung memakan es krim yang disiapkan di hadapannya. Memang es krim adalah salah satu makanan favorit Alara. Mau malam yang dingin atau siang yang terik, Alara tetap menyukai makanan lembut dan dingin itu.


Lain Alara lain Abir. Pria itu justru hanya terdiam sambil memandangi Alara yang sibuk makan. Abir bertanya-tanya dalam hati, apa Alara tidak terharu dengan semua ini? Atau minimal suka?


"Ehm, Ra ... lo suka sama semua ini, kan?"


"Suka, suka banget malah." Perempuan itu menjawab tanpa mengalihkan perhatiannya dari semangkuk es krim.


Lucu sekali, Abir yang menyiapkan semua ini sampai seharian, tapi Alara malah lebih tertarik pada es krim di mangkuknya.


"Btw, kenapa lo siapin semua ini? Maksudnya, buat apa? Oh, iya, deh. Kita kencan, ya? Tapi kenapa harus kencan segala? Kita kan udah jadi suami-istri," celoteh Alara, masih sama—tak mengalihkan sedikitpun perhatiannya dari es krim rasa cokelat di hadapannya.


Sekarang, Abir hanya bisa mengelus dada. Alara malah bertanya semua ini untuk apa. Perempuan itu tidak tahu, tidak peka, atau tidak mengerti, sih?


Oke, terserah saja. Abir punya satu hal lagi yang mungkin akan membuat Alara mengerti. Kejutan itu akan datang beberapa detik lagi.


"Ra, lihat, deh," Abir sengaja menepuk lengan Alara agar gadis itu menoleh mengikuti arah pandangnya ke danau buatan di samping mereka.

__ADS_1


"I love you, Alara Aarunaya," gumam Alara membaca tulisan yang terbentuk di atas air dari lentera-lentera yang mengambang di sana.


Sejurus kemudian, gadis itu menatap Abir seperti tak percaya. Abir dengan senyum simpulnya menunjuk ke atas.


Kembang api meletup-letup di atas langit sana, dan entah bagaimana, ada semacam asap yang membentuk tulisan yang sama dengan yang ada di air.


"Abir?" lirih Alara masih tak percaya. Hati gadis itu rasanya berkecamuk tak karuan melihat tulisan-tulisan itu.


Abir mengatakan mencintai Alara lewat dua hal itu? Apa itu artinya ... Abir sungguhan dengan pengakuan cintanya?


"Ya, Alara. I love you." Abir memperjelas lagi tulisan-tulisan yang sudah dibaca Alara.


Mendadak saja mata Alara berkaca-kaca. Rasanya terharu sekali. Manusia Payah di hadapannya ini kenapa jadi sangat romantis sekarang? Dan mencintainya? Alara merasa dia masih belum memercayai semua ini.


"Ra," sebut Abir, kata-kata itu berjeda sekitar 10 detik. "Gue tahu mungkin lo nggak suka sama gue, tapi ... gue cuma pengin bilang ke lo, kalau gue beneran cinta sama lo. Gue rasa gue nggak bisa hidup tanpa lo di sisi gue. Gue nggak sanggup, Ra. Iya, mungkin dengan bersama lo, lo selalu nyiksa gue atau apalah istilahnya, tapi dengan berpisah dari lo ... gue nggak sanggup."


Abir menjeda ucapannya. "Gue sempet berpikir buat mengakhiri semua ini, bahkan yang gue ngilang kemarin itu, juga biar lo khawatir sama gue dan nyariin gue. Tapi ... ternyata rencana gue gagal. Lo nggak mempan gue bohongi kayak gitu." Pria itu tertawa hambar.


"Alara, entah lo akan nerima cinta gue ini atau malah marah dan benci sama gue, gue nggak tahu dan nggak bisa ngendaliin itu. Tapi ... satu hal pasti, gue harus banget ngungkapin perasaan gue, apa pun akibatnya, gue harus bikin lo tahu."


Satu tetes cairan bening jatuh dari pelupuk mata Alara. Dia mungkin memang belum mencintai Abir, tapi melihat kesungguhan dari pria itu mengusahakan semua ini, bahkan ketulusannya yang rela diapa-apakan olehnya, Alara jadi sangat terharu.


"Ra, jangan nangis. Nggak pa-pa kok kalau lo nggak suka. Marah aja, tampar gue, tendang gue, ceburin gue ke danau itu, atau apa aja, gue nggak masalah. Yang penting lo jangan nangis," kata Abir panik sendiri. Tentu saja, istri sekaligus sahabatnya ini hampir tak pernah yang namanya menangis terharu.


"Lo bisa diem, nggak?" sahut Alara seraya mengusap lelehan bening di pipinya. "Lo seneng banget, ya, gue siksa?"


"Emm—enggak juga, sih," Abir tertunduk.


"Denger, ya, Bir. Iya, gue memang belum cinta sama lo, atau entahlah, gue nggak ngerti apa itu cinta, tapi ... gue janji, gue akan berusaha mencintai lo. Kita akan terus sama-sama, saat gue udah cinta sama lo dan seterusnya. Kita akan terus sama-sama, Bir, lebih lama, dan selamanya."


Abir menatap Alara terharu. Bahkan mata pria itu sampai berkaca-kaca.


"Sini, peluk gue," Alara merentangkan tangan, memberi isyarat agar Abir mendekat dan memberinya pelukan.


Dan tentu saja, kesempatan itu takkan Abir sia-siakan. Dia langsung beringsut maju dan memeluk Alara erat. Erat sekali, sampai-sampai seolah tak mau dipisahkan meski hanya satu detik.


"Makasih, Ra, makasih," ucap Abir di sela-sela pelukannya.


"Gue yang harusnya makasih. Lo selalu ada buat gue, lo mencintai dan mengerti gue lebih dari diri gue sendiri. Makasih untuk semuanya, Bir ...."


*****

__ADS_1


__ADS_2