Deal, Kita Nikah!

Deal, Kita Nikah!
28. Kebenaran Sara (2)


__ADS_3

Sejak Bibi Amira dan Alisha menginap hari itu, kehidupan Alara dan Abir berlangsung tenang. Bibi Amira tidak datang sekali lagi untuk menginap, Arshia juga pada akhirnya berhasil menikah dengan kekasihnya selama ini, dan yang terpenting adalah: teror itu sudah tidak ada lagi.


Alara dan Abir akhirnya menyimpulkan, paket-paket yang datang pada mereka adalah tak lebih dari kelakuan orang iseng. Alara bahkan sempat berpikir itu ulah bibinya sendiri, Amira, karena paket-paket aneh itu berhenti datang setelah bibinya itu menginap. Akan tetapi, terlepas dari perbuatan siapa pun itu, Alara tidak peduli. Biarkan saja, toh itu cuma ancaman kosong.


"Lara, gue pergi duluan, ya. Ada pekerjaan penting," pamit Abir sambil menata beberapa peralatan memotretnya.


"Tumben akhir-akhir ini lo sibuk?" tanya Alara sedikit heran. Soalnya Abir dan dirinya itu sebelas-duabelas dalam hal malas bekerja, sebulan terakhir ini Abir memang selalu sibuk, bahkan sampai sering pulang malam.


"Usia semakin bertambah setiap harinya, Ra. Mau sampai kapan malas-malasan? Kita ini juga harus bekerja yang giat, biar nanti di hari tua tinggal menikmati. Juga biar bisa memenuhi keingian anak-anak kita kelak," tutur Abir bijak.


Alara manggut-manggut. "Rencana lo kayaknya kejauhan, deh. Daripada buat punya anak, mending uangnya dipakai ke Bali lagi, kita kan punya rencana berkunjung ke makam Sara."


"Oh iya, gue lupa. Tumben-tumbenan lo nggak pikun juga?"


"Gue inget-inget ini terus karena masih merasa bersalah sama mendiang Sara. Mungkin, dia marah sama gue. Gara-gara gue, impian-impiannya nggak terwujud sampai dia pergi dari dunia ini," Alara menghela napas panjang, dengan wajah sendu. Selalu, ketika dia teringat semua ini.


"Udah, jangan nyalahin diri lo sendiri. Lagian Sara itu orangnya baik, dia pasti nggak bakalan marah sama lo. Btw, gue punya foto wishlist-nya Sara. Dia pernah bilang ke gue buat mewujudkan wishlist-nya ini setelah dia nggak ada. Dengan kita jalanin amanatnya, dia pasti bakalan bahagia di alam sana."


"Oh, ya? Serius lo punya wishlist-nya Sara?"


Abir mengangguk semangat beberapa kali.


"Kenapa lo nggak bilang dari dulu, sih, Syalan?! Tahu gitu gue nggak ngerasa bersalah banget-banget sama Sara!"


Abir cengengesan. "Elunya juga kagak nanya."

__ADS_1


"Guenya mana tahu. Dan lo juga sejak kapan punya rasa bersalah juga? Ah, udahlah. Yang ada gue nggak jadi berangkat kalau ngurusin lo terus."


Setelah Abir pergi, Alara termenung memandangi nasi goreng di piringnya yang tinggal seperempat. "Abir bener juga, sejak kapan gue punya rasa bersalah?"


***


Perjalanan kembali ke Bali diatur seminggu kemudian, dengan menggunakan uang hasil jerih payah mereka beberapa minggu ini. Alara tidak sepenuhnya menganggur di rumah, dia juga beberapa kali ada pemotretan dalam setiap minggunya. Semenjak menikah dengan Abir juga, Alara tidak semalas dulu dalam bkerja. Maksudnya, dia sebisa mungkin menerima setiap job yang ada. Dia teringat kata-kata Abir waktu itu.


“Selama ini lo jadi bahan omongan karena kemalasan lo dalam bekerja, kan? Makanya, mulai sekarang, lo jangan pernah malas-malasan lagi. Sebisa mungkin, lo harus bekerja keras; tunjukin ke mereka, kalau lo bisa, dan mereka semua itu salah.”


Itu Abir ucapkan saat Alara tak sengaja mendengar bibi-bibinya sedang menggosip tentang dia di acara pernikahan Arshia. Mulai sejak itu, Alara tidak lagi jadi gadis konyol yang pemalas.


"Woy, jangan ngelamun aja mbaknya! Nanti lu kesambet hantu pesawat kan bahaya," tegur Abir. Memang benar mereka sekarang ini sedang dalam perjalanan mennuju ke pulau Bali.


"Gue nggak ngelamun, gue cuma mikir ... betapa rajinnya gue beberapa minggu ini," aku Alara.


"Iya," balas Alara lagi, "kita bukan lagi orang-orang kekanakan yang cuma bisa ngandelin keluarga."


"Haha, bener banget. Oh iya, gue ada tawaran dari kakak ipar gue untuk bergabung ke perusahaan keluarga. Gue emang nggak ngerti-ngerti amat soal bisnis, dan kak Aditya bilang dia yang bakalan bimbing gue. Soalnya kan, gue satu-satunya anak laki-laki di keluarga gue. Menurut lo gimana?"


"Gimana lagi? Ya mau aja, lah. Kak Aditya itu keren banget, loh. Biasanya kan kalau di sinetron-sinetron, dia bakalan menguasai perusahaan mertuanya, sementara kak Aditya? Dengan baiknya malah mau bimbing lo. Keren banget nggak tuh?" oceh Alara.


"Iya, iya, gue juga tahu. Keluarga gue semuanya memang baik-baik. Kebaikan yang mendarah daging," kata Abir bangga.


"Iya, gue tahu keluarga gue julid-julid. Sekarang lo puas?" Alara memutar bola matanya jengah.

__ADS_1


Abir tertawa. Rupanya Alara peka juga, ya.


***


Kedatangan kali ini tidak membuat mereka menyewa hotel yang mewah, apalagi sampai semahal saat bulan madu kemarin. Sungguh itu tidak perlu, karena mereka juga tidak ada tujuan lain kecuali mengunjungi makam Sara.


Memang, Alara dan Abir belum tahu betul di mana letak makamnya, tetapi mereka berencana menemui Deva untuk bertanya soal itu. Deva tidak bisa dihubungi, jadi, pertama-tama mereka akan pergi ke sana.


Alamat Deva yang Alara dapat setelah dipaksa dengan berbagai cara, mempermudah mereka menemukan rumah Deva di kota Denpasar yang luas ini. Ada banyak jalan, ada banyak gang, semua itu sedikit teratasi dengan bantuan Google Maps.


Setelah hampir setengah jam berkeliling, akhirnya mereka sampai di sebuah rumah yang dari luarnya terlihat sederhana. Tidak kecil, tapi tidak besar juga.


Alara langsung mengetuk pintu yang menjulang di hadapannya beberapa kali—karena memang tidak ada bel di sana. Hingga ketukan kesepuluh, pintu itu dibuka dari dalam dan muncullah sosok pria yang mereka cari.


Deva. Laki-laki berambut cepak, bertubuh sedikit berisi, serta berkaca mata itu tampak terkejut ketika melihat kedatangan Alara dan Abir tepat di depan rumahnya.


"Alara? Kamu beneran ke sini?" tanyanya terkejut.


"Lo nggak bisa dihubungi, Dev. Jadi kita harus ke sini, sekalian nanyain tentang Sara," jawab Alara.


"Em, oke, ayo masuk." Deva mempersilakan mantan pacar dan suami mantannya itu untuk masuk.


Rumahnya tertata rapi, padahal dia tinggal sendiri. Terlihat tidak seperti ruangan kebanyakan laki-laki yang hanya tinggal seorang diri.


"Langsung aja, Dev, lo tahu di mana makam Sara? Gue sama Abir mau ke sana soalnya," Alara to the point. Memang dia sama sekali tidak punya skenario untuk berbasa-basi.

__ADS_1


"Ponselku rusak, Ra. Makanya nggak bisa dihubungi. Dan selama itu, aku udah cari tahu apa-apa yang mau kamu ketahui dari Sara," tutur Deva. "Jadi, kalian nggak bisa datang ke makam Sara, karena Sara dikremasi, bukan dimakamkan."


***


__ADS_2