
Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Mungkin itulah kata yang tepat untuk menggambarkan Alara dan ayahnya. Tak peduli lalu lintas yang ramai, Adi mengebut demi cepat sampai ke kantor polisi. Dia tidak peduli di sampingnya Miray berteriak-teriak karena diajak kebut-kebutan begitu. Tingkah gila yang tidak jauh-jauh dari yang Alara lakukan. Hingga akhirnya, mereka sampai ke tempat yang dituju: kantor polisi.
Ketika keduanya baru menapakkan kaki, mereka berpapasan dengan dua orang pria dan wanita seusia mereka yang sangat mereka kenal. Orang tua Abir.
Itu artinya ... Abir juga ada di sini? Kalau orang tua Abir juga dipanggil, berarti Alara tidak berulah sendiri—melainkan mengajak Abir?
"Loh, Bu Afsana, Ibu juga ke sini?"
"Iya nih, Bu Miray. Tadi ada polisi nelpon saya, katanya saya disuruh ke sini karena ada yang mau disampaikan soal Abir," tutur ibunda Abir itu.
"Saya barusan juga dihubungi polisi disuruh ke sini, katanya ada yang mau mereka katakan soal Alara," Miray menjelaskan hal yang ditanyakan oleh besannya itu.
"Loh, Alara juga? Ya udah, yuk langsung masuk aja," Wanita itu menarik tangan Miray untuk melangkah ke dalam sana.
"Pak, Pak, kami ini orang tuanya Abir dan Alara, salah satu teman Bapak tadi nelpon kami katanya suruh ke sini. Sekarang ke mana anak-anak kami?" Afsana langsung mencecar petugas polisi yang berjaga di depan.
"Oh, orang tuanya Abir Nanda dan Alara Aarunaya?"
Keduanya mengangguk cepat-cepat.
"Baiklah, ayo ikut saya."
---
Keempat orang ini tak bisa berkata-kata setelah beberapa polisi menjelaskan tentang apa tujuan mereka semua dipanggil. Tidak, bukan karena Alara dan Abir yang berulah macam-macam, tidak pula Alara dan Abir yang melanggar peraturan, atau Alara dan Abir yang mengganggu polisi. Tetapi, Alara dan Abir yang hilang di hutan saat berkemah.
Jejak perkemahan mereka masih tersimpan rapi di tempat semula, tetapi pemiliknya hilang entah ke mana. Besar kemungkinan, mereka dilukai atau dimangsa harimau yang kemarin terlepas. Kebetulan, hutan itu dekat dengan kebun binatang.
Tenda, makanan, ponsel, kamera, dan beberapa barang lainnya ada di kantor polisi—setelah ditemukan oleh pemadam kebakaran yang membantu mengevakuasi harimau itu.
"Saya yakin anak saya nggak kenapa-napa, Pak. Mereka pasti ada di suatu tempat," Miray kekeh dengan pendapatnya: Alara baik-baik saja.
"Semoga yang Anda katakan memang benar, Bu. Kami juga akan mengirim tim penyelamat ke hutan itu, karena siapa tahu anak-anak Ibu tersesat," balas Polisi itu.
"Baguslah. Kita harus cari sekarang juga," putus Afsana.
__ADS_1
***
"Bir, Bir," panggil Alara pada Abir yang berbaring di sampingnya. Mereka kini tengah menyaksikan bintang-bintang yang bertaburan di atas langit sana dari rumah pohon.
"Hmm?"
"Gimana kalau besok kita nggak bisa ketemu jalan keluar? Masa iya kita balik ke sini lagi?"
"Ya gimana lagi, mau nggak mau, kita harus mau balik ke sini," kata Abir tanpa mengubah posisinya.
"Aslinya gue pengen balik. Nggak nyaman banget tinggal di tengah hutan."
"Gue juga pengin balik kali, Ra. Siapa juga yang betah dilepas di tengah-tengah hutan kek gini? Mana nyari makanan susah pula, air pun jauh."
"Andai ada yang nyelametin kita. Kan kita hilang tuh, misal ada yang nyari kita ke sini gitu," oceh Alara.
"Impossible," kata Abir. "Siapa yang bakalan tahu kalau kita hilang? Kita dateng ke sini aja nggak ngasih tahu siapa-siapa."
"Ya nggak ada salahnya berharap, Bir. Siapa tahu gitu. Habisnya kalau nggak dicari, bakalan susah kita keluar dari sini. Kita aja nggak tahu ini ada di mana."
"Jangan berharap terus, harapan hanya membunuh lo," kata Abir datar.
"Enggak tahu," kata Abir asal. "Impian gue menuhin impian orang-orang mungkin," lanjutnya. "Lo sendiri?"
"Banyak aslinya," jawab Alara sembari mengukir senyum tipis—yang tentu saja tidak bisa dilihat Abir.
"Oh, ya?" Abir setengah mendudukkan dirinya memandang Alara.
"Iyalah. Lo kira cuma Sara aja yang punya banyak impian? Gue juga, kali!"
"Oke, kalau gitu, apa impian lo?" Abir memandang Alara serius.
"Salah satunya, trauma gue ilang. Gue pengin hidup normal kayak orang-orang. Kan nggak mungkin juga, kita selamanya hidup dengan menganut konsep rumah kos."
Abir tak bisa berkomentar dengan kata-kata Alara yang satu ini. Dia tahu betul, apa trauma yang dialami sahabatnya itu. Menghilangkannya bukan hanya sulit, tapi hampir mustahil.
__ADS_1
Tapi ... tunggu. Jika Alara ingin traumanya bisa hilang, apa itu artinya ... Alara ingin pernikahan mereka menjadi pernikahan yang sebenarnya? Pernikahan yang bukan bertujuan agar terbebas dari todongan pertanyaan 'kapan nikah?', dan pernikahan yang tidak lagi menganut konsep rumah kos?
Ah, terlepas dari apa pun motivasi Alara untuk menghilangkan traumanya, Abir tidak mau ikut campur. Dia hanya akan membantu Alara menghilangkan trauma itu sebisanya. Ya, itu saja, tidak lebih.
"Bir, selama ini gue kejam banget, ya, sama lo? Kalau gitu, maafin gue, ya? Gue juga nggak niat jadi orang kejam terus-terusan, ya tapi gimana lagi, lo cocok banget sih dikejamin. Udah payah, penurut banget, ya pokoknya sesuai, lah."
Abir tersenyum tipis. Antara ia harus senang atau sedih, kesal atau malah terharu. Kalimat pertama dan kedua Alara, masih bisa diterima akal sehat dan cukup membuat orang terharu, tetapi kalimat selanjutnya? Itu sebenarnya ejekan berkedok permintaan maaf.
"Iya, Ra. Nggak apa-apa, kok. Terus aja jadi Penyihir kejam, atau kalau enggak, dunia bakalan kehilangan sesuatu." Kata-kata ini meluncur tulus dari bibir Abir. Dia baik 'kan, karena tidak mengejek Alara dengan kedok permintaan maaf juga?
"Nggak usah lo suruh," Alara tertawa. "Oh iya, gue sekarang mau serius, nih. Salah satu penyebab kita nikah, yaitu Arshia yang udah kebelet nikah, kan udah tercapai, tuh. Jadi, kita lanjutin pernikahan ini atau gimana? Gue nggak mau nyegah cinta sejati lo datang, Bir. Dengan terus jadi suami gue, sama aja gue nyegah cinta sejati lo datang. Sara, misal. Dia mau deketin lo, nggak bisa karena ada gue yang statusnya istri lo. Dan gimanapun juga, orang-orang nggak berani deketin lo yang notabene suami orang. Jadi ... lo ngerti maksud gue, kan?"
Abir Mengangguk-angguk paham. "Gue ngerti, kok. Tapi ... boleh nggak, gue kasih tahu sesuatu sama lo?"
"Apa itu?"
"Lo sama sekali nggak menghalangi cinta sejati gue untuk datang. Lo sama sekali nggak bikin para cewek ketar-ketir kalau mau deketin gue. Sama sekali enggak, Ra. Karena ...."
"Karena apa?" sahut Alara tak sabar.
"Karena ... gue udah menemukan cinta sejati gue. Iya, Ra. Gue udah bertemu sama sosok yang gue yakini cinta sejati gue."
Alara berkedip-kedip beberapa kali. "Oh, ya? Serius? Siapa itu? Ih, kenapa nggak kasih tahu gue, sih? Gue kan juga pengin tahu. Lo lupa, apa? Kalau lo mau selingkuh, lo harus kasih tahu gue dulu! Biar gue bisa nilai gimana selingkuhan lo itu! Lo ngeselin, deh, Bir," omelnya setengah merajuk.
Abir yang biasanya datar dan kesal saat Alara sudah merepet ke mana-mana, kali ini malah tertawa. "Udah selesai ngomelnya?"
"Belom! Ntar lanjut lagi, tapi pertama-tama, lo harus bilang ke gue, siapa cewek itu? Ketemu di mana, tinggal di mana, kerjanya apa, kalian jadian kapan, dia cantik atau enggak, dan semuanya. Sekarang ayo katakan?"
"Oke," Abir berdeham seraya mengubah posisi duduknya menghadap ke depan dengan lebih nyaman, "cewek itu ... ketemu di sekolah, kita temenan sejak SD—sahabatan lah lebih tepatnya. Dia tinggal di apartemen, di kota ini juga. Soal cantik ... nggak cuma cantik, sih, tapi cantik pake banget. Terus, dia kerjanya seorang model freelance. Dulu dia males banget, kerja cuma kalau lagi mood, selebihnya? Ditolak semua project-project yang ada. Tapi sekarang, dia jadi rajin—dia udah sadar soalnya."
Demi Tuhan, Alara jadi ketar-ketir mendengar ciri-ciri yang Abir sebutkan soal sosok itu. Pertanyaannya, kenapa semuanya mirip dengan dirinya? Dari yang Abir kenal sejak SD bahkan berteman, tinggal di apartemen dan juga kota ini, bekerja sebagai seorang model freelance, lalu pemalas, dan berubah rajin akhir-akhir ini. Semua ciri-ciri itu mirip Alara, kan? Apa Abir naksir teman Alara? Tapi sahabat sejak SD? Sahabat perempuan Abir kan hanya dia, Raisha, dan Raina. Raina sudah tiada, sementara Raisha ... dia bukan seorang model. Jadi siapa?
"Lo nggak mau tanya dia itu siapa?" tanya Abir seraya menatap Alara.
Alara mengangguk. "Siapa dia?"
__ADS_1
"Dia namanya ... Alara Aarunaya."
*****